Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
King Goldblack


__ADS_3

Kriettt...


Suara pintu dibuka memekakkan telinga. Bahkan terdengarlah sedikit mengiris, karena sudah lama terkunci.


Bau debu dan aroma tidak sedap, langsung tercium oleh indera penciuman, di saat pintu rumah tersebut terbuka dengan sempurna.


"Hei! Ini rumah siapa?" tanya George penasaran.


Dia berpikir bahwa, tidak mungkin anak muda ini, dengan semua penampilan yang terlihat, rumahnya terkesan reyot dan tidak layak untuk dijadikan hunian.


Gavino hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Georgia. Dia pun masuk ke dalam rumah, di mana tempat tinggalnya dulu, sewaktu masih kecil.


Tak ada yang berubah dari bentuk dan isinya. Hanya karena banyaknya debu dan sarang laba-laba, yang membuatkan terkesan berbeda.


Srakkk... srakkk...


Gavino membersihkan kursi dan dipan tua, yang di ruangan depan. Dengan mengunakan kain, yang tadi dipakai untuk menutupi kursi tersebut. Sehingga lebih bersih dari pada tadi. Jadi, sekarang ini kursi tersebut sudah layak untuk diduduki.


Dia juga membuka kamarnya, kamar orang tuanya dan membuka satu pintu lagi. Yaitu pintu dapur, yang di dalamnya ada kamar mandi juga.


Rumahnya ini memang sangat sederhana. Tidak ada barang-barang berharga lain, selain perabotan rumah tangga yang sudah tua di makan usia. Bahkan, mungkin sudah tidak bisa digunakan lagi sekarang ini.


Rumah teman papanya, yang menjadi satu-satunya tetangga baiknya, juga sudah kosong. Mereka sekeluarga, meninggalkan kota ini.


Tapi Gavino tidak tahu, ke mana mereka pergi.


Setelah di rasa rumahnya ini cukup bersih, Gavino berniat untuk pergi mandi.


Dia mulai menimba air di sumur, yang ada di belakang rumahnya.


Untungnya, tali yang digunakan untuk mengambil air, masih ada. Lengkap dengan ember tuanya juga.


Kreket... kreket...


Suara gesekan tali dengan alat bundar di atas sumur, terdengar memekakkan telinga.


Suara tersebut, menganggu telinga George yang dalam keadaan mengantuk di kursi tamu rumah Gavino.


Akhirnya, dia pun berjalan menuju ke arah belakang rumah. Dia ingin melihat, apa yang sedang dikerjakan oleh anak muda tadi.


"Hai! Apa yang Kamu lakukan?" tanya George, saat melihat Gavino menimba air sumur.

__ADS_1


Tapi yang ditanya hanya diam saja. Ini membuat George semakin jengkel dengan sikap dingin Gavino.


"Ck! Dasar anak muda sialllan!"


Gavino tetap acuh. Dia tidak menggubris perkataan dan makian orang tua yang terus saja mengekornya.


Mata George terus memperhatikan bagaimana Gavino menimba. Dia berpikir bahwa, anak ini cukup cekatan dalam pekerjaan kasar. Yang tidak biasa dilakukan oleh anak-anak kota pada umumnya.


'Siapa dia? Dari penampilan dan mobil yang dikendarai, tidak mungkin dia anak miskin. Tapi rumahnya ini, terlihat jelas, jika dua juga bukan anak orang kaya.'


George masih terus memperhatikan bagaimana cara Gavino melakukan semua pekerjaannya.


Bahkan, di saat Gavino mau masuk ke dalam kamar mandi, dia juga mengekornya.


"Apa Kamu adalah pria tua yang me_sum?" tanya Gavino dengan tatapannya yang tajam.


"Eh..."


George tersadar, kemudian undur diri dan pergi ke tempat duduknya yang tadi.


"Sialllan! Dia pikir Aku doyan dengan sosisnya yang belum tentu kenyal."


Tangan George mengacak-acak rambutnya sendiri, menyadari kesalahannya itu.


Beberapa saat terdiam, George kembali mengamati keadaan ruang tamu di rumah ini. Dari mulai dindingnya yang sudah retak di sana sini. Cat tembok yang sudah pudar. Dan juga beberapa bingkai foto yang sudah roboh, ada di atas meja kecil. Di sudut ruangan, tak jauh dari pintu masuk ke kamar Gavino.


Sekarang, George berdiri. Dia penasaran dengan bingkai foto tersebut. Mungkin dengan begitu, dia akan tahu. Siapa anak muda tadi, beserta keluarganya juga.


Sayangnya, foto-foto tersebut juga sudah susah untuk dikenali. Karena sudah rusak di makan usia.


Tapi samar-samar, George mengenali foto. Yang menampilkan tiga orang berbeda generasi. Karena perbedaan usia yang cukup jauh.


Foto gadis kecil, yang sedang dipangku seorang wanita. Sedangkan laki-laki yang lebih dewasa, berdiri di belakang mereka yang duduk di kursi.


"Aku seperti tidak asing dengan foto ini?"


George terus berpikir, dengan melihat foto itu terus menerus. Hingga Gavino keluar dari dalam kamar mandi.


Celana pendek dengan kaos hitam ketat membalut tubuhnya, membuat penampilan terkesan berbeda dengan yang tadi. Wajahnya juga terlihat lebih segar. Karena baru selesai mandi.


"Hai, siapa orang yang ada di dalam foto ini?" tanya George, dengan menyerahkan bingkai foto yang dia bawa. Karena sedari tadi dia mengamatinya.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu memegang barang-barang di rumah ini?" tanya Gavino dengan cepat.


Dia merebut bingkai foto tersebut, kemudian mengembalikan ke tempat semula.


"Aku bertanya padamu. Siapa orang yang ada di foto tersebut? Apa Kamu mengenalnya? Atau Kamu salah satu kerabatnya?"


"Kamu bukan polisi atau seseorang yang sedang melakukan wawancara dan penyidikan bukan?"


"Dan Aku tidak suka, Kamu terus mengikutiku. Pergilah, sebelum Aku mengusirmu," kata Gavino dengan ketus.


Dia enggan untuk memberikan jawaban atas semua pertanyaan yang diajukan oleh orang asing ini. Apalagi, di awal pertemuan mereka berdua tidak ada kesan yang baik.


"Maaf. Tapi Aku serius anak muda. Dia seperti pernah Aku lihat. Aku mengenal laki-laki, bersama dengan anak istrinya itu."


Sekarang, Gavino menyipitkan matanya. Mendengar perkataan yang diucapkan oleh George.


Laki-laki dewasa yang terus menerus mengekornya ini, mengenal siapa orang yang ada di dalam foto tersebut. Sedangkan orang-orang yang ada di dalam foto itu adalah mamanya.


Gadis kecil yang ada di pangkuan seorang wanita itu adalah Mirele. Yang sedang berfoto bersama dengan kedua orang tuanya.


"Jika benar Kamu mengenal siapa orang yang ada di dalam foto tersebut, sebutkan, siapa namanya?"


Perkataan Gavino jelas dan penuh tekanan. Karena saat ini, jika laki-laki dewasa ini mengenal siapa orang-orang yang ada di dalam foto tersebut. Bisa dipastikan bahwa, dia bisa membantunya untuk menemukan keberadaan orang yang menjadi pembunuh neneknya. Mama dari Mirele, istrinya William Henry. Yaitu kakeknya Gavino.


George tampak terdiam sejenak. Dia berpikir untuk mengingat kembali nama orang yang tadi dia lihat di bingkai foto.


"Aku lupa nama aslinya. Tapi aku mengenalnya sebagai seorang King Goldblack."


"King Goldblack..." Gavino mengulang kembali nama yang tadi sebutkan oleh George.


"Iya. Dia king mafia, pemimpin Kami."


"Sayangnya, dia harus pergi bersama dengan keluarganya ke luar negeri. Itu yang Aku dengar dari pemimpin yang sekarang."


"Lalu, siapa pemimpin mu yang sekarang?" tanya Gavino ingin tahu, bagaimana cerita selanjutnya.


Akhirnya, George tanpa ragu menceritakan tentang kejadian di masa lalu. Di mana kepemimpinan Goldblack digantikan oleh tangan kanan sang king mafia.


Dan setelah itu, tidak ada lagi kabar dari dari sang king Goldblack.


Kabar yang mereka terima, para anggota mereka, mengatakan bahwa, king Goldblack tidak lagi ada di negara Italia ini. Karena memilih untuk hidup menyendiri bersama dengan keluarga kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2