Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Harus Selesai


__ADS_3

George tidak terima, karena dibentak oleh kakaknya. Tanpa tahu kesalahan yang dilakukannya saat ini.


"Ayo ikut!"


Thomas Bryan menarik tangan adiknya, supaya ikut bersama dengannya. Tapi dengan cepat, George menepis tangan kakaknya itu.


"Apa-apaan ini?" tanya George dengan sorot mata yang tajam.


Bahkan, tak lama kemudian.


Bugh!


George memukul kakaknya dengan cepat.


Tentu saja king Black terkejut dengan sikap adiknya yang arogan dan semuanya juga. Padahal sudah jelas, jika George bersalah atas semua kejadian yang terjadi pada kios Giordano dan Mirele miliknya Gavino.


Akhirnya, king Black tidak bisa menahan diri, untuk tidak memberikan pelajaran kepada adiknya.


Dengan tangan terkepal, king Black melayangkan tinjunya dengan tenaga penuh.


Bugh!


George, yang sudah dikuasai oleh alkohol dari anggur yang sedari tadi dia minum, langsung tumbang ke lantai.


"Hai brengs3k! apa Kamu ini? siall_lan..." bentak George, sambil mengoceh tidak jelas.


Akhirnya king Black meminta pada anak buahnya, yang berada di tempat ini, untuk meringkus George.


"Tangkap dan bawa dia!"


"Siap king Black!"


Tak lama kemudian, suasana rumah yang tadi sempat sedikit gaduh. Sekarang langsung terasa sepi. Sebab, semua anak buahnya king Black, yang sebelumnya ditugaskan untuk berjaga di rumah George ini. Di minta untuk ikut ke markas besar mereka.


Hanya ada dua orang yang tugaskan dan berjaga di depan rumah.


Di dalam mobil, saat perjalanan.


George masih terus melawan dengan mengoceh tidak jelas, dan bergerak tidak beraturan di dalam mobil.


Dia ada di mobil yang berbeda dengan king Black. Sebab, king Black tidak mau sampai gelap mata dan mencelakai adiknya itu. Karena dia sudah berjanji untuk menyerahkan keputusan hukuman untuk adiknya itu pada Gavino.


King Black tidak ingin merasa iba, jika harus dirinya yang memberikan hukuman untuk adiknya itu. Dia juga tidak mau jika, ada anak buahnya yang lain, menganggap dirinya pilih kasih. Sebab George merupakan adik semata wayangnya.


Itulah sebabnya, dia ingin Gavino sendiri yang akan memberikan menghukum bagi George.


Tak lama kemudian, king Black bersama dengan anak buahnya tiba di markas besar. Dengan menyeret George secara paksa.


George masih melawan dan tidak mau turun dari mobil, karena dia tahu bahwa tempat ini adalah markas besarnya king Black. Tempat di mana orang-orang yang menjadi tawanannya, akan mendapatkan penyiksaan.


"Aku tidak mau! Buat apa kalian membawaku ke sini!" teriak George dengan berusaha untuk bisa melepaskan diri.


Tapi tentunya dia tidak bisa bergerak dengan bebas, sebab ada banyak anak buah kakaknya yang berjaga dan menahan dirinya.

__ADS_1


Sedangkan dari lantai atas, ada Gavino yang sudah berdiri di atas balkon kamarnya. Memperhatikan bagaimana cara George melakukan perlawanan.


"Lepaskan Aku! Aku tidak mau ikut kalian semua!" teriak George lagi.


Plak!


Tiba-tiba, tangan king Black menampar wajah adiknya itu. Supaya bisa diam dan tidak terus mengoceh tidak jelas.


Dia tidak mau, jika ocehan George akan menjadi pusat perhatian orang-orang. Yang bisa jadi, kebetulan lewat di depan rumah mereka ini, kemudian memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi.


Padahal, letak rumah utama sangat jauh dari jalan sebab pintu gerbang ke rumah ini, masih sekitar 30 meter.


Tapi king Black sudah sangat malu pada semua anak buahnya, atas sikap dan kelakuan adiknya itu.


"Aku akan memberitahu Tuan Muda terlebih dahulu. Kalian bawalah George ke ruang tahanan yang tadi!"


"Siap king Black!"


Setelah selesai memberikan instruksi kepada anak buahnya, king Black berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke lift khusus, yang ada di rumah ini.


Dia akan menemui Gavino secara langsung, dengan memberikan kabar bahwa sekarang ini, George sudah ada di ruang bawah tanah.


Ting!


Pintu lift terbuka, tepat di depan pintu kamar yang biasa digunakan Gavino beristirahat.


Tok tok tok!


King Black mengetuk pintu kamar tersebut.


Pintu kamar terbuka, dan muncul Gavino dari balik pintu tersebut.


"Apa dia masih tidak mau diam?" tanya Gavino pada king Black, yang datang sendiri ke kamarnya ini.


"Maaf Tuan Muda," ucap king Black, dengan sedikit membungkuk.


Dia sadar jika, Gavino mengetahui sendiri, bagaimana kelakuan adiknya yang tadi baru saja tiba, dan berteriak-teriak di depan rumah.


"Apa Kamu yakin Tuan Besar?"


"Yakin apa Tuan Muda?"


Gavino menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh king black badannya.


"Menyerahkan semua keputusan hukuman, yang akan Aku berikan pada George, atas semua yang sudah dilakukannya pada kios Giordano dan Mirele."


King Black mengangguk pasti, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Gavino padanya.


Dia tidak mungkin menarik ucapannya sendiri, setelah tadi dia memberikan kebebasan kepada Gavino. Untuk memberikan hukuman kepada adiknya itu.


"Baiklah. Aku siap!"


Setelahnya, keduanya berjalan menuju lift. Mereka berdua, akan turun langsung ke ruang bawah tanah.

__ADS_1


Ting!


Pintu lift terbuka. Mereka berdua, sudah sampai di ruangan bawah tanah. Tempat di mana eksekusi akan dilaksanakan.


*****


Di kios Giordano dan Mirele, semua karyawan membereskan kertas-kertas yang sudah dibacakan oleh lima orang tadi.


Robert juga ikut membantu, menata kembali berkas-berkas yang berhamburan di ruangan meeting dan ruangannya sendiri. Di tambah lagi dengan sebuah ruangan, yang biasanya gunakan sebagai ruang kerja George.


"Sebenarnya, apa tujuan orang-orang tadi?"


"Apa yang mereka maksud dengan surat berharga? Dan kenapa mereka tahu tentang surat berharga di kios ini?"


Robert terus menerus bertanya, tentang sesuatu yang tidak diketahui. Padahal dia juga tahu jika, pertanyaannya itu tidak akan ada yang bisa menjawabnya. Sebab, dia bertanya pada dirinya sendiri, karena hanya ada dirinya saja, yang ada di ruangan berkasnya George saat ini.


"Apa ini ada kaitannya dengan George ya?"


Sekarang, Robert kembali berpikir bahwa temannya itu adalah dalang dari kekacauan yang terjadi tadi. Dengan meminjam tangan orang lain, alias memberikan perintah kepada para preman tadi, dengan diberikan imbalan sesuai kesepakatan bersama.


Robert semakin banyak tahu tentang George, yang dulu dianggapnya sangat baik.


"Aku tidak pernah menyangka, jika dia ternyata lebih jahat dibandingkan dengan king Black sendiri."


"Apa mungkin, dunia mafia yang kejam ini tidak pernah ada kata baik untuk orang-orang seperti George? Apalagi rasa kecewanya terhadap king Black, yang ternyata adalah kakak yang sendiri."


Robert kembali mengambil kesimpulan tentang sikap George yang mengecewakan.


Tring... tring...


Ponsel Robert berdering. Dia berpikir bahwa itu adalah Gavino. Tapi ternyata dia salah besar. Sebab, yang menghubunginya kali ini adalah Gress.


"Gress, ada apa dia?"


Tapi Robert tidak mau menunggu hingga ponselnya kembali berdering. Karena itu, dia langsung menekan tombol hijau, untuk menyambungkan panggilan telpon tersebut.


..."Halo Gress! Ada apa?" ...


..."Paman. Paman Robert tahu, di mana Gavin sekarang berada?" ...


..."Kenapa Kamu tidak menghubunginya sendiri Gress?" ...


..."Sudah Paman. Tapi... ponsel Gavin tidak aktif sedari tadi."...


..."Paman, Paman juga tidak tahu Gress. Tapi jika Aku bertemu dengan Gavin, Aku pasti akan menyampaikan pesan darimu. Apa yang ingin Kamu pesankan padanya."...


..."Tidak ada Paman. Gress hanya ingin tahu keberadaannya saja. Karena sejak kemarin, setelah ada kelas siang, dia tidak pernah masuk lagi untuk kelas sore atau malam."...


..."Oh, begitu ya. Baiklah. Nanti akan paman sampaikan, jika kebetulan dia datang ke kios." ...


..."Iya Paman. Terima kasih." ...


..."Sama-sama Gress."...

__ADS_1


Klik!


Robert masih melihat ke layar handphone, meskipun sambungan teleponnya bersama dengan Gress sudah terputus.


__ADS_2