
"Lalu, kenapa Kamu tidak memberikannya?" tanya Gavino pada Thomas Bryan.
"Memberikannya bagaimana? dia tidak punya hak Tuan Muda!"
Thomas Bryan akhirnya menceritakan tentang kejadian di masa lalu, yang tidak diketahui oleh George.
Ternyata, ibu mereka tidak menyukai sifat George, yang sangat arogan.
Meskipun mereka sama-sama menjadi seorang mafia, dan berada di dunia hitam tersebut. Tapi keserakahan ternyata ada pada sifat George, yang diketahui oleh ibunya.
George yang dulu, tidak suka bekerja dan hanya berfoya-foya menghabiskan waktu dan uang di club-club.
Bahkan, George masuk keanggotaan geng mafia juga awalnya karena ingin kebebasan, sehingga bisa berbuat sesuka hatinya.
"Itulah sebabnya, ibuku memberikan hak kepengurusan garmen padaku, bukan pada George." Terang Thomas Bryan pada Gavino.
"Tapi Tuan besar, sekarang adikmu sudah lebih baik daripada dulu. Kenapa Kamu tidak memberikan hak nya juga?"
"Tidak-tidak. Dia tidak berubah. Dia hanya sedang menyembunyikan dirinya yang sebenarnya. Sifatnya yang asli, tidak dia perlihatkan pada orang-orang, untuk mengambil simpati, supaya orang-orang percaya dan memberikan segala sesuatu yang dia inginkan. Itulah yang tidak disukai oleh ibuku darinya."
Thomas Bryan kembali memberikan penjelasan kepada Gavino, tentang kelakuan adiknya yang belum diketahui oleh Gavino selama ini.
"Lalu, kenapa Kamu tidak membimbingnya, dan terlihat seperti dia orang yang saling bermusuhan?" Gavino tidak habis pikir dengan pemikiran dua saudara tersebut.
"Maaf Tuan Muda. Saat ini Saya tidak bisa menceritakannya, karena selain dia adalah adikku, ini adalah privasi George. Aku tidak mau membuatnya merasa Aku sedang membuangnya."
"Apa maksudmu Tuan Besar? apakah Aku tidak mengenal adikmu dengan baik?"
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Gavino, Thomas Bryan tersenyum tipis. Kemudian menjawabnya. "Kamu mengenalnya belum lama ini Tuan Muda. Sedangkan Aku mengenalnya sedari kecil, bahkan sedari bayinya."
Sekarang, Gavino menganggukkan kepalanya, paham dengan apa yang dikatakan oleh Thomas Bryan padanya.
"Tapi setidaknya, jika Kamu tidak ingin menguasai garmen itu sepenuhnya, berikanlah dia hak nya. Mungkin saja dengan begitu, dia akan menjadi lebih baik daripada saat ini."
__ADS_1
Tapi ternyata Thomas Bryan hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan Gavino yang memberinya saran.
"Aku belum yakin. Apalagi saat ini dia sedang mengejar-ngejar Aku. Itu tandanya, dia memang masih serakah. Justru jika dia tidak mencari-cari, Aku akan memberikannya. Padahal sebenarnya nama pabrik garmen itu sudah Aku atas namakan dengan namanya. Hanya saja kepengurusan masih aku pegang."
Gavino jadi berfikir bahwa, sebenarnya Thomas Bryan masih punya sisi kemanusiaan terhadap saudaranya sendiri, meskipun dia terkenal kejam di dunia gelap.
Nyatanya dia sebenarnya memiliki sisi baik, dengan memikirkan nasib adiknya, tanpa sepengetahuan adiknya sendiri.
"Apakah Aku bisa membantu?" tanya Govino menawarkan diri.
"Tidak perlu Tuan Muda. Biarkan saja dua dengan segala macam rencana yang ingin dia lakukan padaku."
"Tapi setidaknya berbicaralah dengan baik pada adikmu. Siapa tahu, dengan kalian berbicara baik-baik, dia akan mengerti dan tidak lagi mengejar-ngejar dirimu juga."
Gavino masih berusaha untuk mempengaruhi Thomas Bryan, agar bisa berbicara dengan George sebagai seorang Kakak yang baik.
"Aku tidak yakin dia kan menerimanya dengan mudah. Dia sudah membenciku sejak dulu, bahkan sejak masih ada ibu."
Gavino kembali berpikir bahwa, ini adalah salah satu jawaban yang ada dalam misi tentang apa yang sebenarnya George sembunyikan darinya.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Tapi setidaknya Kamu sudah tahu, apa yang seharusnya dilakukan dan tidak. Aku hanya bisa memberimu saran. Tapi jika itu tidak baik, lakukan saja seperti apa yang kamu rencanakan sebelumnya."
Akhirnya Gavino tidak lagi memaksa Thomas Bryan untuk menerima sarannya.
"Terima kasih Tuan Muda atas perhatiannya. Aku juga baru tahu, jika adikku ada bekerja sama denganmu. Yang penting, dia tidak pernah menyakitimu dan tidak pernah merepotkan bukan?"
"Tidak, dia tidak pernah merepotkan. Tapi..."
"Tapi apa" tanya Thomas Bryan cepat.
"Tadi dia menelepon, jika dia pindah dari rumahku ke apartemen. Sayangnya dia tidak memberitahuku, di mana apartemennya itu. Dia hanya meninggalkan kunci kamar dan mobilku, pada kepala maid di rumah. Sehingga aku tidak bisa melacaknya saat ini."
Thomas Bryan terdiam, memikirkan apa yang baru saja dia dengar Gavino.
__ADS_1
"Sepertinya dia sudah memulai rencananya. Biarkan saja, Aku hanya ingin tahu, seberapa besar di dendam denganku."
Gavino tidak menanggapi dan juga memberikan komentar. Dia membiarkan Thomas Bryan mengatakan apa saja tentang George, sedangkan Gavino sendiri berpikir dan menyambungkan, antara misi dan apa-apa yang dia dengarkan kali ini.
Sepertinya semua sudah terhubung, dan Gavino bisa menyimpulkan bahwa, sesuatu yang dirahasiakan oleh George adalah sebuah rencana, untuk merebut kembali warisan dari ibunya. Karena selama ini, George berpikir bahwa, kakaknya itu tidak memberinya hak.
Padahal pada kenyataannya, pabrik garmen tersebut sudah menjadi milik George tanpa George ketahui.
Menurut Gavino, sejahat apapun manusia, ternyata kalah dengan darah persaudaraan. Karena nyatanya, Thomas Bryan alias king Black, masih punya rasa sayang dan peduli terhadap adiknya. Yang jelas-jelas dalam keanggotaan mafia telah mengkhianatinya.
Namun nyatanya, Thomas Bryan masih memikirkan nasib adiknya itu.
Berarti pada waktu anak buah king Black mengejar-ngejar George, bukanlah untuk membunuhnya. Tapi ingin membawanya kembali, agar Thomas Bryan bisa mengajari atau memberitahu segala sesuatu tentang apa yang diinginkan oleh George.
Sayangnya George salah paham, dan justru membuatnya nekad untuk balas dendam, dengan memberikan cerita yang berbeda kepada Gavino dan juga Robert.
Setelah urusannya dengan Thomas Bryan selesai, Gavino pamit pulang.
Begitu juga dengan Thomas Bryan sendiri, yang akhirnya kembali ke kantornya juga, bersama dengan dua pengawal dan supir.
*****
Siang ini Gavino pergi ke kios suntuk melihat Gress. Dia ingin mengajak kekasihnya itu untuk makan siang.
"Hai Sayang! apakah ini sudah jam istirahat?" tanya Gavino pura-pura tidak tahu aturan jam kerja dan istirahat ditempat ini.
"Sepuluh menit lagi Sayang. Kamu mengagetkanku saja," cicit Gress dengan memukul lengan Gavino pelan, karena terkejut atas pertanyaan yang diajukan oleh kekasihnya itu.
"Oh baiklah. Aku akan menunggumu di luar. Aku ingin mengajakmu makan siang."
"Baiklah tunggu sebentar ya. Oh ya, apa Kamu tidak masuk untuk bertemu dengan paman Robert atau paman George?"
"Tidak-tidak! Aku tidak mau kedalam. Nanti jika bertemu dengan mereka, Aku justru tidak akan kembali lagi, karena ditahan dan diberi pekerjaan oleh mereka. Hahaha..."
__ADS_1
Gavino justru tertawa, karena dia akan lupa waktu, jika sudah berbincang dengan Robert maupun George.