
Kesibukan Verdi di laboratorium mini miliknya, benar-benar tidak bisa di ganggu.
Dia begitu bersemangat, untuk bisa menciptakan satu buah topeng wajah lagi. Untuk menambah tidak topeng yang kemarin sudah selesai dia buat.
"Aku akan membuat rencana ini begitu sempurna, hingga Gavino tidak akan bisa keluar dari lingkaran rencana ini."
Senyuman miring terbit di bibirnya Verdi, menandakan bahwa dia sedang merasa senang. Karena membayangkan tentang keberhasilan rencana yang sudah dia susun.
Hal yang menjadi keinginan utamanya selama ini. Dengan bisa membuat Gavino bisa dikalahkan.
Drettt drettt drettt!
Ponsel Verdi yang ada di atas meja, dekat dengan dinding bergetar. Dia memang sengaja tidak memegang atau menaruh ponselnya dalam kantong baju, karena itu bisa mengganggu kegiatannya.
Dia juga tidak pernah memberikan nada dering, supaya suara notifikasi ponselnya tidak mengganggu konsentrasinya juga.
Drettt drettt drettt!
Ponselnya masih bergetar, menandakan bahwa panggilan telpon tersebut masih berlangsung.
Dengan malas, Verdi berjalan pelan ke arah meja berada. Untuk mengecek, siapa yang saat ini ingin berbicara dengannya, melalui panggilan telpon.
Saat Verdi melihat ke layar ponselnya, ada nama Dante yang melakukan panggilan.
"Dante?"
Verdi mengerutkan keningnya, melihat nama Dante yang sedang memanggilnya. Karena selama ini, jika Dante ada keperluan atau apa, Dante akan menyampaikannya melalui Cardi. Karena Cardi adalah teman kencannya Dante.
Selama ini, antara Dante dengan Verdi, tidak pernah ada komunikasi.
Jadi jika Verdi tahu tentang Dante, itu dari Cardi. Begitu juga sebaliknya. Jika Dante tahu tentang Verdi, itu juga karena dari Cardi.
Oleh karena itu juga, Verdi sedikit penasaran. Kenapa sekarang dante menghubunginya sendiri, padahal dia tidak pernah memberinya nomor handphone miliknya pada siapapun. Kecuali Cardi, yang memang menjadi partnernya saat ini.
Dengan demikian, Verdi menerima panggilan telpon dari Dante dengan sangat hati-hati. Dia tidak mau jika, terjadi sesuatu pada hubungan kerjasama dirinya dengan Cardi. Karena bisa saja Cardi salah paham, seandainya tahu jika Dante menghubunginya sendiri.
Bisa jadi, Cardi akan merasa cemburu. Dan berpikir bahwa, dirinya ada hubungan khusus dengan Dante.
Akhirnya Verdi menerima panggilan tersebut, tapi berpura-pura tidak mengenal Dante. Karena selama ini, dia memang tidak pernah menghubungi Dante dengan nomor ini atau nomor manapun, meskipun nomornya Dante dia simpan di dalam ponselnya juga.
..."Halo. Siapa ini?"...
__ADS_1
..."Verdi. Ini benar Aku bicara dengan Verdi temannya Cardi?"...
..."Siapa sebenarnya yang Anda cari saat ini? Aku tidak tahu siapa Kamu."...
..."Aku Dante. Mungkin Kamu lupa siapa Aku. Tapi Aku tahu siapa Kamu Verdi!"...
..."Apa maksudnya? Apa anda sedang mengancam saya?"...
..."Tidak usah basa-basi. Aku hanya ingin memperingatkan mu saja. Sebaiknya Kamu berhati-hati dengan Cardi. Dia itu telah menipu mu demi ambisinya sendiri."...
..."Apa maksudnya?"...
..."Berpikirlah sendiri. Aku tidak perlu memberikan banyak penjelasan tentang hal ini. Karena Aku yakin, jika Kamu sangat paham. Dengan apa yang Aku bicarakan sekarang ini tentang Cardi."...
..."Hai! Aku benar-benar tidak tahu, apa yang Kamu maksudkan! coba jelaskan, supaya Aku bisa mengambil kesimpulannya sendiri. Tapi jika Anda tidak bisa memberikan penjelasan, Anda hanya ingin mencari musuh saja rupanya. Bukankah itu benar?"...
..."Terserah Kamu, mau percaya atau tidak. Yang penting, Aku sudah memberikan peringatan kepadamu. Jadi berhati-hatilah mulai sekarang!"...
..."Tapi kenapa..."...
Klik!
Panggilan telpon tersebut diputus oleh Dante secara sepihak, sebelum Verdi sempat menyelesaikan kalimatnya. Dengan mengajukan pertanyaan untuk Dante lagi.
"Apa jangan-jangan... Cardi dan Dante bertengkar, kemudian Dante mencurigai Aku ada hubungan dengan Cardi?"
"Hhh.... aneh-aneh saja mereka berdua!"
Verdi justru membuat kesimpulan bahwa, antara Dante dengan Cardi ada suatu kesalahpahaman, dan dia dijadikan sebagai orang ketiga atas kesalahpahaman tersebut.
Hal ini membuat Verdi merasa tidak perlu untuk memikirkannya lebih jauh, karena masalah cinta mereka berdua adalah urusan mereka sendiri. Apalagi dengan hubungan keduanya yang memang tidak wajar, antara Cardi dengan Dante akhir-akhir ini.
"Ck! Bikin orang jadi pusing dan malas berpikir ini!" gerutu Verdi, begitu selesai membuat kesimpulannya sendiri.
Akhirnya dia memutuskan untuk menyudahi kegiatannya di laboratorium mini miliknya ini. Karena dia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, setelah mendapatkan telpon dari Dante barusan.
Verdi akhirnya pergi ke balkon kamarnya. Dia juga membawa sebuah sampanye, untuk bisa dinikmati sendiri. Sambil melihat-lihat jalanan yang ada di depan rumahnya sana.
"Ini benar-benar kacau. Aku yang tidak tahu apa-apa, tentang mereka berdua, mendapatkan telpon dari Dante soal Cardi. Tapi Aku yang akhirnya tidak bisa bekerja lagi di laboratorium. Ck, siall4n!"
Dengan masih menggerutu, Verdi meminum sampanye yang dibawa tadi.
__ADS_1
*****
"Bagaimana hubunganmu dengan Gavin?" tanya Dante pada Bianca, disaat mereka punya kesempatan makan malam bersama di rumah Dante.
"Baik," jawan Bianca singkat.
"Ck! Bukan begitu maksudku Bi. Apa kamu tidak sakit hati, jika dia bersama dengan Gress?" tanya Dante lagi, dengan memperjelas arah pertanyaannya.
Bianca tidak langsung menjawab pertanyaan sepupunya itu, tapi meneruskan makannya.
Dante juga tidak membuat pertanyaan lagi, karena dia tahu, sepupunya itu malas untuk menjawab pertanyaan darinya. Apalagi saat ini mereka berdua sedang makan.
Tapi begitu mereka selesai dengan urusan makanan, Dante kembali mengulang pertanyaannya soal hubungan antara Gavino dengan Bianca.
Hal ini membuat Bianca jengah sendiri, karena merasa jika sepupunya itu sedang mencari informasi terkait Gavino.
"Sebenarnya, apa yang ingin Kamu ketahui tentang Gavino Dante?" Akhirnya Bianca balik bertanya pada sepupunya itu.
"Aku hanya tidak mau, jika Kamu merasa kecewa. Karena Kamu juga tahu sendiri kan, bagaimana hubungan Gavino dengan Gress selama ini?"
Bianca tidak membantah, karena sebenarnya dalam hatinya memang ada rasa kecewa juga pada Gavino. Terkait hubungan mereka yang menjalani cinta segitiga, bersama dengan Gress juga.
Tapi Bianca juga tidak bisa memutuskan hubungannya dengan Gavino, karena sudah terlanjur mencintai kekasihnya itu. Apalagi saat ini, Gress juga tidak mempermasalahkan dirinya jika sedang bersama dengan Gavino.
Bahkan kemarin malam, mereka menghabiskan malam yang panjang bertiga. Di rumahnya Gavino sendiri.
Tapi hal ini tentu saja tidak diceritakan Bianca pada sepupunya itu. Dia tidak mau jika Dante ada kesalahpahaman lagi dengan Gress maupun Gavino juga.
Akhirnya dia hanya bisa mengatakan pada dante, "Aku baik-baik saja bersama dengan Gavino dan juga Gress. Kami bertiga tidak mempermasalahkan apapun, jadi tolonglah Dante! Kamu tidak perlu mencampurinya."
Dante menyipitkan matanya, mendengar jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh Bianca untuknya.
"Maksudnya, Kamu... kalian bertiga sudah saling terbuka dengan hubungan ini?"
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Dante lagi, Bianca hanya mengangguk sambil tersenyum saja. Karena keadaan yang seperti itulah, yang sebenarnya sekarang ini terjadi di antara dirinya dengan Gavino dan juga Gress.
Melihat anggukan kepala Bianca, Dante akhirnya bernafas lega.
Tapi tetap saja dia merasa aneh, karena sepupu perempuannya ini, bisa menerima keadaan Gavino dan Gress secara baik. Karena setahu Dante, setiap perempuan tidak ada yang mau jika, kekasihnya dengan terang-terangan memiliki berhubungan dengan perempuan yang lainnya juga.
Hal ini membuat pertanyaan yang di hati Dante, karena temannya, Gavino itu, bisa membuat dua gadis menjalani satu hubungan bersama dengannya saja. Tanpa ada perselisihan di antara dua gadis tersebut.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu tertarik padanya?" tanya Dante sekali lagi, pada Bianca.
"Apa Aku harus memberikan penjelasan terkait itu?" Bianca justru balik bertanya pada Dante, tanpa bermaksud untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh sepupunya itu.