
Di rumah Thomas Bryan.
Gress menerima pesan dari seseorang yang tidak dikenal, sehingga dia mengerutkan keningnya. Melihat pesan yang disampaikan orang tersebut untuknya.
Padahal nomor handphone tersebut, tidak diketahui memiliki siapa. Sehingga membuat Gress merasa penasaran.
Akhirnya, dia memutuskan untuk membalas pesan tersebut dan bertanya siapakah yang telah menghubungi. Karena dia berpikir, jika nomor tersebut adalah temannya. Mungkin saja pakai nomor baru atau setidaknya mengenal dirinya.
Tak lama kemudian, Gress justru tersenyum tipis. Karena yang mengirim pesan untuknya tadi memang teman kuliahnya.
"Huhfff... dia pikir bisa ngerjain Aku. Hehehe... ketahuan kan!" Gress bicara sendiri, sambil tertawa-tawa kecil. Di saat membaca ulang pesan-pesan tersebut.
Bahkan di saat dia mengiyakan temu janji dengan temannya itu, dia juga memberengut kesal. Kemudian mengerutu sendiri. "Apa dia pikir Aku biasa ingkar janji. Dasar!"
Setelah itu, Gress mengirim pesan pada Gavino. Jika besok dia akan pergi ke kampus sendiri. Jadi Gavino di minta untuk tidak usah menjemputnya ke rumah. Dan jika ingin bertemu dengannya, di minta untuk langsung pergi ke kampus saja.
Setelah selesai, Gress bersiap-siap untuk tidur. Sebab jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Apalagi pesan yang dia kirim untuk Gavino, belum terbaca.
"Hemmm... biar besok dia baca dan balas. Lebih baik sekarang Aku tidur," gumam Gress, bersiap untuk naik ke atas tempat tidurnya.
*****
Siang hari, di kampus.
Gress menemui temannya terlebih dahulu, sesuai dengan janji temu yang disepakati bersama semalam. Di saat berkirim pesan dengan temannya.
Dia tidak langsung pergi ke kelas, tapi menuju ke aula teater. Karena temannya itu berada di sana, untuk pertunjukan yang akan dilakukan dua minggu lagi. Dan Gress memang tidak mengikuti pertunjukan tersebut sebagai pemerannya, karena dia merasa tidak berbakat pada bidang teater.
"Hai Gress!"
"Hai Jill!"
Mereka berdua berpelukan, layaknya teman yang biasa bertemu. Dengan saling sapa dan berpelukan secara singkat
Setelah itu, cewek yang dipanggil dengan nama Jill, mengajak bianca untuk duduk di kursi yang ada di aula tersebut. Karena dia merasa tidak nyaman, jika harus berbincang-bincang dengan posisi berdiri.
"Yuk duduk sana!"
Gress tersenyum dan mengangguk mengiyakan ajakan tersebut.
Dan tak lama kemudian, mereka berdua tampak terlibat dalam perbincangan yang cukup seru. Karena keduanya kadang-kadang tampak tertawa, membelalakan mata. Dan mengangguk-anggukkan kepala.
"Aku haus nih. Kamu mau Aku ambilkan minum sekalian?" tanya Jill pada Gress.
"Boleh, jika tidak merepotkan."
"Ok!"
__ADS_1
Jill beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan ke arah lemari pendingin, yang ada di pojok ruangan aula.
Tak lama kemudian, Jill sudah kembali ke depannya Gress. Dan menyodorkan satu botol air mineral. "Ini buatmu!"
"Thanks Jill!"
Sekarang, keduanya meminum air mineral tersebut, masing-masing dari botol sendiri-sendiri. Karena Jill membawa dua botol air mineral.
Setelah beberapa menit kemudian, Jill ada bagian yang dia perankan, dan harus kembali berlatih. Sehingga dia pamit pada Gress. "Aku ada take ini, Kamu di sini apa ke kelas?" tanya Jill pamit.
"Aku pergi ke kelas aja deh! Kamu latihan biar tapi tenang," ujar Gress, yang tidak mau mengganggu kegiatan temannya tadi.
"Ok. Aku ke sana ya! End thanks ya, udah mau datang ke sini untuk nyamperin!"
Gress mengacungkan jari jempolnya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Jill padanya. Dan setelah itu keduanya berpisah, Jill kembali ke atas panggung. Dan Gress keluar dari aula, untuk menuju ke kelasnya sendiri.
"Sebenarnya Aku pengen lihat gimana keadaan teater sebelum pagelaran dimulai. Tapi, Aku ada kelas lima belas menit lagi." Gress bergumam seorang diri, saat berjalan keluar dari aula teater.
Dia ada kelas untuk satu jam ke depan, kemudian ada istirahat setengah jam. Lalu ada kelas lagi, baru setelah itu dia akan bertemu dengan Gavino. Sesuai dengan pesan balasan, yang disampaikan oleh kekasihnya itu tadi pagi. Pada saat dia mau berangkat ke kampus.
Sekarang, dia sudah hampir sampai ke gedung kelasnya. Tapi dia melihat keberadaan Gavino, yang berada di taman samping kelasnya.
"Itu kan Gavin? Katanya dia mau datang siang nanti, kok sekarang sudah ada di sini," tanya Gress pada dirinya sendiri, karena melihat keberadaan Gavino yang tidak memberikan kabar terlebih dahulu.
"Gavin!"
"Hai!"
Gavino hanya membalas sekilas, panggilan yang dilakukan oleh Gress. Tapi Gavino tampak tersenyum senang, melihat kedatangan gadisnya itu, yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Katanya mau datang nanti siang, kok sekarang sudah ada di sini?" tanya Gress cepat, karena merasa penasaran.
"Iya. Aku gak tahan lagi, untuk bisa melihat wajahmu Sayang," sahut Gavino, yang di senyumi Gress. Karena jawaban yang diberikan oleh Gavino kali ini, membuatnya berbunga-bunga.
"Kamu gak salah sarapan pagi kan?" tanya Gress memastikan.
"Hai, apa Aku harus sarapan lagi?"
Cup!
Dengan cepat, Gavino mengecup bibir Gress. Setelah bertanya balik, tanpa harus menunggu untuk bisa mendapatkan jawaban dari gadisnya itu. Karena Gress sesudah tahu apa yang dimaksud dengan sarapan pagi lagi.
Gress tersipu mendapati perlakuan Gavino yang manis padannya pagi ini.
"Apa Kamu mau ikut masuk kelas?" tanya Gress memastikan, jika Gavino datang pagi ini untuk mengikuti kelas.
"Tidak. Aku justru ingin mengajakmu pergi."
__ADS_1
Sekarang Gress menyipitkan matanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Gavino padanya. Karena dia tidak pernah berpikir, jika kekasihnya itu justru ingin mengajaknya untuk bolos kelas.
Tapi karena Gress tahu, jika Gavino sedang ingin berdua dengannya. Dia menyetujui ajakan kekasihnya itu. Untuk tidak mengikuti kelas pagi ini.
Akhirnya mereka berdua justru pergi meninggalkan gedung kelas, kemudian menuju ke tempat parkir truk.
"Kamu tidak bawa mobil yang biasa?" tanya Gress, begitu melihat Gavino menuju ke mobil yang tidak biasanya digunakan oleh kekasihnya itu.
"Mobilnya sedang di bawa ke bengkel, karena ada sesuatu yang tidak beres. Jadi, Aku menggunakan mobil yang ada saja."
Gress akhirnya mengganggukan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Gavino padanya. Kemudian dia masuk ke dalam mobil, di saat Gavino membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih," ucap Gress, setelah dia masuk dan duduk di kursi samping supir.
Gavino menganggukkan kepalanya, kemudian menutup pintu mobil. Dan berjalan memutar untuk menuju ke bagian setir.
Tak lama kemudian, mobil keluar dari area parkir kampus. Meninggalkan tempat yang seharusnya menjadi tempat untuk Gress belajar pagi ini.
*****
Siang harinya, motor yang dikendarai oleh Gavino masuk ke area kampus. Kemudian menuju ke arah parkir, di mana biasanya dia memarkirkan sepeda motornya.
Setelahnya, dia berjalan dengan cepat menuju ke gedung kelasnya. Yang sudah dijadikan tempat untuk bertemu dengan Gress.
Dia menunggu gadisnya itu di taman samping gedung, karena biasanya, mereka memang bertemu di sana. Jika Gavino tidak masuk kelas, tapi ingin bertemu dengan Gress saja, untuk sekedar berbincang atau karena memang sudah ada rencana kegiatan untuk selanjutnya. Yang akan mereka lakukan.
Setelah menunggu beberapa saat lamanya, Gavino tidak melihat keberadaan Gress. Padahal temannya yang keluar dari kelas, sudah tidak ada lagi.
Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya pada salah satu orang yang melintas di depannya, "apakah Gress masih ada di dalam kelas? mungkin saja dia masih ada harus dikerjakan di sana."
"Tidak. Tidak ada Gress yang masuk kelas pagi ini." Orang tersebut justru memberikan jawaban yang membuat Gavino mengeryit heran. Karena dia yakin, jika Gress mintanya untuk menunggu di sini.
"Tidak ada Gress di kelas?" tanya Gavino sekali lagi. Memastikan bahwa orang tersebut tidak salah mendengarkan pertanyaannya yang tadi.
Tapi anggukan kepala temannya itu, membuat Gavino curiga. Kemudian segera berlari ke dalam kelas, untuk memeriksanya sendiri.
"Tadi bukannya Gress Kamu ajak pergi?"
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh temannya itu, Gavino berhenti, kemudian berbalik arah untuk mendekat kembali ke temannya itu.
"Apa Kamu bilang tadi?" tanya Gavino, memastikan jika pendengarannya tidak salah.
"Kamu ajak Gress pergi."
"Aku?" tanya Gavino, dan menunjuk ke arah mukanya sendiri. meyakinkan pertanyaan temannya itu.
"Ya," jawab temannya pendek.
__ADS_1
"Tapi, Aku baru saja datang siang ini?" Gavino bertanya dengan bingung, tapi temannya itu tidak bisa memberikan jawaban. Dan hanya mengangkat kedua bahunya. Tanda jika dia tidak tahu apa-apa.