
"Apa yang Aku pikirkan?"
Gress justru balik bertanya pada Gavino, yang baru saja mengecup bibirnya dan memberikan pertanyaan tersebut.
Kepala Gavino mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Gress padanya. Karena dia juga tahu, ada banyak pertanyaan yang saat ini bersarang di dalam hatinya Gress.
"Sayang. Aku hanya ingin tahu, apa yang membuatmu ke sini lagi? Padahal nanti malam, Sayang ada jadwal untuk pergi ke Paris bersama dengan paman."
Cup!
"Apa Aku tidak boleh ke sini lagi?"
"Sayang mengusirku dan tidak memperbolehkan datang ke sini lagi?"
Dengan cepat Gress mengelengkan kepalanya, mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Gavino padanya.
"Bukan begitu Sayang. Aku..."
"Apa Kamu punya rencana untuk pergi? atau ada janji dengan seseorang?" tebak Gavino dengan menatap ke netra Gress tajam.
Dia mulai tidak suka, jika membayangkan Gress pergi keluar bersama dengan orang lain. Meskipun itu baru membayangkannya saja. Belum melihatnya secara langsung.
"Aku tidak mau ke mana-mana Sayang... Aku kan sudah bilang, mau beristirahat juga."
Dengan berkata demikian, Gress mengurai pelukannya pada Gavino. Kemudian mengajak kekasihnya itu agar duduk di pinggir tempat tidur.
"Duduklah. Aku ambilkan air minum untukmu." Gress memegang kedua lengan Gavino, kemudian beranjak ke arah dapur.
Gavino hanya menurut saja, kemudian membiarkan Gress untuk mengambilkan air minum untuknya.
'Apa Aku yang terlalu posesif terhadap dirinya?' tanya Gavino dalam hati.
"Sayang, minumlah dulu!"
Gress datang ke tempat Gavino duduk, dengan membawakan satu gelas air putih.
Gavino menerima gelas yang diberikan Gress padanya, kemudian meminumnya hingga habis tak tersisa. Sehingga membuat Gress mengelengkan kepalanya, melihat tingkah laku kekasihnya yang ternyata posesif juga.
"Sudah lebih tenang?" tanya Gress, saat mengambil gelas kosong dari tangan Gavino.
Gress pergi untuk meletakkan gelas ke atas meja, kemudian kembali ke tempat duduknya Gavino lagi.
Sekarang, dia duduk di samping kekasihnya itu. Di pinggir tempat tidur, sambil menyandarkan kepalanya di lengan Gavino dengan pasrah dengan apa yang akan dilakukannya nanti.
"Jangan menggodaku Gress. Aku bisa menerkam mu nanti!" eram Gavino memperingatkan Gress, supaya tidak bersikap manja padanya saat ini.
"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa Sayang," elak Gress, yang memang tidak melakukan apa-apa pada kekasihnya itu.
"Hahhh... sudahlah. Aku mau beristirahat. Tapi Aku tidak bisa melakukannya di rumah. Itulah sebabnya, Aku datang ke sini. Mungkin dengan memelukmu, Aku bisa terpejam walau hanya sesaat saja."
__ADS_1
Mendengar perkataan Gavino yang seolah-olah sedang mencari kenyamanan, akhirnya Gress menarik tangan Gavino, supaya berbaring di tempat tidur.
"Tidurlah. Aku akan memelukmu di sini."
Gavino segera menarik tubuh kekasihnya itu, ke dalam pelukannya, sama seperti biasanya. Jika mereka sedang tertidur setelah lelah bercinta dengan hebatnya.
Meskipun tempat tidur ini kecil, dan seharusnya hanya muat untuk satu orang. Tapi dengan berpelukan seperti ini, membuat mereka berdua nyaman untuk memejamkan mata. Agar bisa mengistirahatkan tubuh dengan cara saling berpelukan.
Dan benar saja. Tak lama kemudian, setelah menciumi pucuk kepalanya Gress berkali-kali, Gavino bisa memejamkan matanya dengan tenang tersenyum.
Begitu juga dengan Gress, yang justru tertidur lebih dulu dibandingkan dengan Gavino.
Sekarang keduanya sama-sama terdiam tertidur dengan damai. Dalam posisi yang membuat mereka sama-sama nyaman.
Mereka berdua tidak tahu, jika ada seseorang yang terus memantau kamar ini. Orang yang sama seperti yang memperhatikan George dan juga Robert.
..."Dia tidak ke mana-mana Tuan."...
..."Apa yang mereka lakukan?" ...
..."Saya tidak tahu Tuan. Mungkin, sama seperti kegiatan anak muda pada umumnya."...
..."Pastikan bahwa dia tidak tahu apa-apa, dan juga tidak tahu jika dalam pengawasan. Termasuk pemuda itu dan juga kedua orang yang ada bersamanya juga. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada gadis kecilku." ...
..."Apa perlu membuat dirinya tidak lagi menemui Nona?" ...
..."Baik Tuan."...
Selesai menghubungi seseorang, yang memberinya tugas, orang tersebut kembali ke tempatnya berada. Di mana dia bisa dengan leluasa melakukan tugas dan pekerjaannya.
*****
Pukul dua siang, Gress membuka matanya perlahan-lahan. Dia tidak menemukan Gavino yang tadi memeluknya.
Dia berbalik, mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya yang tidak seberapa besar ini. Tapi kenyataannya dia tidak menemukan siapapun.
Setelah menajamkan pendengaran, ternyata Indra pendengarannya menangkap suara gemericik air.
'Ternyata dia berada di kamar mandi. Apa yang Aku khawatirkan ini?' batin Gress merutuki dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Gavino keluar dari dalam kamar mandi. Dia tersenyum melihat gadisnya itu sudah terbangun, dan menatapnya dengan mata yang tidak berkedip sedari tadi.
"Hai! Ada apa dengan matamu Sayang? Apa Kamu lupa caranya untuk bisa berkedip?"
Pertanyaan Gavino yang sedang menyindirnya, hanya ditanggapi oleh Gress dengan senyuman tipis. Kemudian berkata untuk memuji kekasihnya itu tanpa malu-malu lagi, "Tidak ada yang bisa melarangku untuk memandang kekasihku sendiri. Dan siapa yang berani melawan kekasihku itu?"
Gavino mengacak rambut Gress yang sedikit ikal dan mengembang. Kemudian mengecupnya sekilas.
"Pergilah mandi. Kita akan pergi makan siang." titah Gavino yang hanya diangguki juga oleh Gress.
__ADS_1
Sambil menunggu Gress selesai mandi, Gavino mengaktifkan sistem mafia, untuk mengetahui apa yang seharusnya dia lakukan terhadap Gress sekarang ini.
( Ting )
( Selamat pagi Good Father )
'Aku ingin bertanya padanya, tapi kenapa Aku merasa jika dia tidak tahu apa-apa tentang Thomas Bryan.'
( Ting )
( Dia tidak tahu apa-apa Good Father )
'Tapi, kenapa dia bisa ada hubungannya dengan Thomas Bryan itu?'
( Good Father mau cari tahu sendiri atau menunggu pencarian dilakukan oleh sistem )
'Apa membutuhkan waktu yang lama?'
( Ting )
( Sepertinya seperti itu )
'Aku akan coba mencari tahu dari dia sendiri. Tapi tolong carikan juga ya!'
( Ting )
( Siap Good Father)
( Ting )
Layar transparan sistem mafia menghilang dari pandangan mata Gavino, seiring dengan terbukanya pintu kamar mandi. Kemudian Gress keluar dari dalamnya.
"Apakah Aku terlalu lama?" tanya Gress bingung, saat melihat Gavino yang menatapnya dengan tatapan mata yang tidak bisa dia artikan sendiri.
"Tidak. Aku hanya tidak sabar untuk mengajakmu makan siang sayang."
"Oh Aku tahu. Sayang sudah kelaparan ya? Maaf, Aku tidak menyediakan makanan tadi."
"Tidak apa. Ayolah cepat sedikit!"
Gress mengangguk saja, kemudian pergi ke depan meja riasnya yang kecil. Bukannya merias wajah, Gress hanya menyisir rambutnya dengan cepat. Kemudian menyambar sweater untuk menutupi bagian tubuhnya yang atas, karena hanya mengenakan pakaian yang lumayan ketat.
Gavino tersenyum tipis, melihat bagaimana Gress yang berpakaian lebih baik daripada saat hanya berada di dalam kamar.
"Ayok!" ajak Gress dengan mengulurkan tangannya, agar Gavino segera bangkit dari tempat duduknya di pinggir tempat tidur.
Gavino juga menyambut uluran tangan dari Gress, kemudian mengandeng tangan kekasihnya itu untuk keluar dari dalam kamar. Mereka berdua, beriringan turun menuju ke tempat sepeda motor Gavino diparkir.
Dari tempat yang biasa, orang yang mengintai segala sesuatu tentang mereka, kembali melapor pada seseorang lewat panggilan telpon. Sama seperti yang biasanya dia lakukan untuk melaporkan pekerjaannya.
__ADS_1