
( Ting )
( Pencarian peta dan lokasi hotel BIG STAR )
1%
10%
20%
30%
40%
50%...
Dan seterusnya, hingga selesai menjadi sempurna 100%.
( Ting )
( Peta dan denah hotel BIG STAR ditemukan )
Gavino dengan jelas bisa melihat semua informasi peta dan denah hotel yang dimaksud, kemudian dia menyalinnya di lembaran kertas. Supaya bisa dia tunjukkan pada George esoknya.
Buat George yang akan mempelajari tentang keadaan hotel tersebut, sehingga bisa digunakan untuk melakukan rencana dan strategi yang tepat bagi mereka.
Sayangnya, pagi hari Gavino tidak bertemu dengan George. Karena orang kepercayaannya itu sudah pergi terlebih dahulu, sebelum dua bangun tidur. Sehingga dia harus bersabar, mengunggu hingga malam hari lagi. Untuk memberikan kertas yang tadi dia buat, pada George.
*****
Selesai makan malam, Robert ingin berbicara dengan Gavino dan George sebentar.
"Aku sebenarnya ingin ikut kalian ke Paris. Tapi pekerjaan di sini juga sangat penting dan menurut George tidak ada yang bisa melakukannya tanpa ada Aku. Karena dia sudah ikut ke Paris juga."
Gavino dan George menganggukkan kepalanya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Robert.
"Tapi Aku meminta pada kalian berdua, jika ada sesuatu, cepat hubungi Aku."
"Aku pastikan jika Aku akan segera berangkat, bagaimanapun caranya."
"Pokoknya jangan sampai kalian kenapa-kenapa di sana. Karena lawan kalian ini adalah king Black. Bukan sembarang orang, yang bisa dipermainkan dengan mudah. Karena dia punya segalanya, termasuk keamanan di negara lain."
__ADS_1
Gavino dan George, paham dengan maksud perkataan Robert. Yang mengkhawatirkan keadaan dirinya di Paris nanti.
Apalagi di negara orang, dan hotel yang digunakan untuk acara tersebut juga miliknya king Black. Bisa dipastikan, jika semuanya ada dalam kendali orang-orang king Black juga. Sama seperti para pemimpin yang berkuasa tentunya.
"Jangan khawatir Robert. Kami pasti akan selamat, dan meskipun taruhannya adalah nyawaku sendiri, Aku tetap akan pastikan bahwa Gavino pulang lagi ke rumah ini."
Robert mengangguk dengan keyakinannya, bahwa apa yang dikatakan oleh George adalah benar adanya.
"Kalian berdua ini pada bicara apa? Sudahlah. tidak perlu banyak berpikir untuk belum tentu terjadi. Lebih baik, kalian berdua beristirahat. Besok masih ada kerja kan di kios?"
"Aku juga mau beristirahat. Besok adalah hari terakhir Aku berangkat kuliah sebelum liburan semester. Dan... oh ya Robert, temanku ada yang mau kerja part time selama liburan semester di kios. Jadi usahakan dia dapat tempat yang baik, tapi jangan pernah bilang. Jika kios itu adalah milikku!"
"Cewek?"
George dan Robert bertanya bersamaan, kemudian saling pandang saat sadar. Jika pertanyaan mereka adalah sama. Yaitu soal teman yang sedang dibicarakan oleh Gavino.
Mereka berdua berpikir bahwa, teman tersebut pastinya seorang cewek. Sehingga Gavino tidak mau jika identitas dirinya diketahui oleh cewek tersebut.
Tapi ternyata Gavino tidak menjawab pertanyaan kedua orang yang begitu dekat dengannya selama ini.
Dan ini tentunya membuat keduanya, George dan Robert, menyakini bahwa apa yang tadi mereka curigai adalah benar.
Plok!
"Ternyata Tuan Muda kita ini sudah pintar ya!" sindir George, sambil menaikkan satu alisnya ke arah temannya, yaitu Robert.
"Hahaha... Kamu pikir hanya Kamu saja George, yang bisa bermain-main dengan cewek manapun?" Robert justru meledek teman sekaligus atasannya di kantor.
"Sial_lan Kamu Robert. Tidak usah buka kartu napa! Aku kan laki-laki dewasa yang bebas. Dan banyak cewek yang mau denganku. Apalagi, menurut mereka, wajahku ini juga masih tampan." George justru membanggakan dirinya, sebagai donjuan yang masih laku.
"Hahaha... iya lah, cewek-cewek itu tertipu dengan tampilan wajahmu. Mereka mengira Kamu masih empat puluh tahun. Padahal sudah hampir enam puluh tahun!"
"Tapi jujur George, Aku iri dengan keberhasilan dirimu yang bisa menggaet cewek. Aku..."
Robert terdiam, setelah sedari tadi meledek George. Yang memang tampak lebih muda dari pada umur yang sebenarnya.
Apalagi penampilan George juga selalu rapi, tidak sama seperti preman jalanan.
"Bersabarlah. Tidak usah memikirkan cewek itu! cari yang lebih cantik dan lebih muda. Kamu itu tak kalah tampan denganku. Apalagi umurmu juga masih muda. Yakinlah, pasti ada cewek yang suka. Kamu saja yang tidak tahu dan tidak sadar."
Mendengar penuturan George, Gavino tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
Dia baru menyadari, jika Robert sudah pernah menikah. Tapi gagal dalam satu tahun usia pernikahannya, karena istrinya itu pergi dengan laki-laki lain.
Dan di saat Robert ingin mendekati cewek lain, trauma itu selalu datang. Membuatnya merasa rendah diri, dan takut jika akan diremehkan oleh cewek lagi.
Pluk!
Gavino menepuk pundak Robert, kemudian memberikan semangat baru padanya.
"Kamu pasti akan mendapatkan cewek yang lebih baik dari istrimu yang dulu. Atau... Kamu mau menjadi penganut free... sama seperti George?" tanya Gavino, sambil melirik ke arah George. Yang tersenyum miring mendengar sindiran dari Tuan Muda nya itu.
"Lebih baik kayak Aku gini. Gak pakai perasaan. Gak ada sedih-sedih, jika selesai... ya udah gak ada urusan!"
George mengemukakan pendapatnya, mengenai perasaan hatinya yang sudah beku sedari dulu.
Apalagi dia adalah mantan senior, dari sebuah kelompok mafia terbesar. Yang juga pernah menjadi ketua mafia di Norwegia.
Tentu saja, jika hanya untuk menaklukkan seorang wanita tidaklah sulit baginya.
Semua bisa dilakukan oleh George, dengan segala kepiawaiannya bermain. Tidak hanya sekedar urusan senjata api dan berkelahi. Tapi juga urusan bercinta di tempat tidur.
"Tidak usah bersedih hati. Besok Aku kenalkan cewek, yang pastinya bisa membuatmu lupa dengan segalanya. Di jamin, setelah itu, cara pandang yang Kamu pakai selama ini tidak akan berguna lagi. Hahaha..."
Gavino mengelengkan kepalanya, mendengar suara George yang tampak sangat yakin. Jika Robert akan bisa mengikuti jalan pikiran dan juga kelakuannya.
Tapi Gavino tidak ambil pusing.
Dia berpikir bahwa, mereka berdua sudah sama-sama dewasa. Yang pastinya tahu, mana yang harus dilakukan atau tidak.
"Aku pergi ke kamar dulu. Kalian beristirahatlah!" pamit Gavino, kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Dia pergi meninggalkan George dan Robert, setelah keduanya sama-sama menganggukkan kepala.
Sebenarnya Gavino tidak ingin beristirahat, sama seperti yang dia katakan tadi.
Dia hanya ingin menghubungi Gress, karena tiba-tiba saja dia merasakan rasa yang berbeda. Di saat George dan Robert membicarakan tentang cewek-cewek tadi.
"Hhh... apa yang Aku rasakan ini? kenapa tiba-tiba Aku ingin bertemu dengan Gress?"
Clek!
Pintu kamar dibuka Gavino, kemudian kembali dia tutup. Setelahnya, dia mengambil ponselnya, dan segera menghubungi Gress.
__ADS_1
Cewek cantik yang sudah menjadi teman dekatnya. Bahkan sudah memberikan segalanya. Kebahagiaan dan kehangatan yang selama ini belum pernah dirasakan oleh Gavino, dengan cara yang sebenarnya.