Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Benarkah Sudah Selesai?


__ADS_3

Dua hari kemudian, kabar yang pasti tentang papanya Madalena diketahui oleh Gavino. Meskipun semuanya dibuat serapi mungkin, agar tidak diketahui oleh orang lain, Gavino tetap saja bisa tabu. Karena ada sistem informasi yang dia miliki.


Papanya Madalena, akhirnya dijemput oleh pihak rumah sakit. Untuk perawatan dirinya yang sedang dalam keadaan depresi. Dan ini melibatkan pihak kepolisian juga, demi keamanan.


Ini dilakukan untuk keselamatan papanya Madalena sendiri. Karena selama mengurung diri di dalam kamar, semua orang tidak akan ada yang tahu. Apa dan bagaimana keadaannya di dalam kamarnya tersebut.


Mamanya Bianca, diberitahu Bianca. Dengan bukti video yang telah dikirimkan oleh Gavino ke ponselnya. Sehingga dia harus bergerak cepat.


Itulah sebabnya, mamanya Bianca yang awalnya tidak percaya. Akhirnya menjadi percaya. Karena menyaksikan sendiri bagaimana keadaan yang ada di rumah Madalena.


Sebenarnya, Madalena juga kaget, saat ada ambulance dan pihak rumah sakit. Serta beberapa anggota polisi, yang datang secara tiba-tiba ke rumah. Meskipun sirine tidak dinyalakan.


Apalagi mereka juga ingin bertemu dengan papanya. Madalena tidak bisa menjawab, dan memberikan ijin. Sebab dia juga merasa takut juga.


"Kamu tidak usah takut. Kami akan merawat papamu."


Mendengar perkataan mereka, Madalena mengerutkan keningnya, memikirkan apa maksud dari perkataan tersebut.


Belum selesai dengan rasa kaget, bingung dan takut, Madalena lebih kaget lagi, di saat melihat keadaan papanya yang baru saja keluar dari dalam kamar. Papanya tidak lagi sama seperti dulu, waktu masih ada mamanya.


Papanya keluar dari kamar, saat tim khusus memintanya untuk mau membukakan pintu kamarnya sendiri. Dengan cara yang halus, mamanya Bianca mempengaruhi dengan kata-kata seorang spikiater.


Akhirnya, papanya Madalena mau juga keluar dari dalam kamar, dengan mengunakan pakaian kebesaran sebagai ketua laboratorium dan ahli jantung. Lengkap dengan masker, yang biasa digunakan untuk dokter yang sedang melakukan operasi.


Kedua tangan papanya Madalena, juga mengunakan sarung tangan karet, untuk para medis.


Hampir saja Madalena tidak percaya, jika dia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri. Jadi, sekarang dia baru percaya, jika papanya memang perlu pertolongan khusus. Bukannya malah dituruti, dengan semua aturan yang baru di buat di rumah ini kemarin-kemarin.


'Tapi siapa yang sudah melaporkan semua ini pada pihak rumah sakit?'


Tapi Madalena pun bersyukur, karena dengan begitu, papanya akan mendapatkan perawatan medis. Untuk kesehatan mentalnya, yang saat ini sedang terganggu.


'Siapapun dia, Aku tetap berterima kasih dan juga bersyukur. Semoga, papa cepat sehat. Sama seperti dulu lagi.' Madalena membatin.


Dan malam itu, di rumah Madalena tidak ada lagi suara-suara keras, yang dilakukan oleh papanya.

__ADS_1


Semua penghuni rumah, kembali tenang. Sama seperti saat masih ada mamanya Madalena setahun yang lalu.


Tapi kekhawatiran Madalena adalah untuk para maid dan pengurus rumah. 'Bagaimana aku harus membayar dan mengaturnya nanti?'


Begitu kebingungan yang sedang dirasakan oleh Madalena. Karena semua keuangan, selama dua tahun terakhir ini, sejak mamanya sakit dan meninggal, memang diatur oleh papanya seorang.


"Nona muda mau ke mana?" tanya ketua pelayan di rumah.


"Aku mau pergi ke kamar papa. Aku ingin melihat keadaan kamar tersebut," jawab Madalena, pada orang yang sudah bekerja di rumah nya ini, sebelum dia dilahirkan. Bahkan dari mulai kakak tertuanya masih kecil dulu


Jadi ketua pelayan ini sudah bekerja di rumahnya ini hampir dua puluh lima tahun.


Itulah sebabnya, dia dipercaya oleh papanya untuk mengatur semua pekerjaan di rumah. Dengan beberapa maid dan pekerja lainnya. Termasuk supir.


"Mari Saya antar Nona. Apakah Nona tahu pin pintu kamar tersebut?" tanya ketua pelayan, yang membuat Madalena tersadar. Jika dia memang tidak tahu bagaimana cara untuk bisa masuk ke kamar tersebut.


Akhirnya Madalena mengelengkan kepalanya beberapa kali. Membuat ketua pelayan tersenyum tipis.


"Mari Saya antar Nona. Saya hafal dengan pin pintu kamar tuan besar," ujar ketua pelayan memberitahu.


Klik, klik, ting!


Pin pintu kamar orang tua Madalena, dibuka oleh ketua pelayan. Membuat Madalena sedikit mengerutkan keningnya, memikirkan banyak kemungkinan.


'Dia kan ketua pelayan. Pasti tahu semua kode pintu yang ada di rumah ini.' batin Madalena memaklumi.


Ini karena Madalena sendiri, hanya hafal dengan pin pintu kamarnya sendiri. Tapi tidak dengan yang lainnya.


Sekarang, dia masuk ke dalam kamar. Setelah ketua pelayan masuk terlebih dahulu.


"Apa yang ingin Nona muda cari?"


"A_aku ingin mencari buku tabungan dan ATM papa. Bagaimana cara Aku membayar kalian semua? dan itu, kakak-kakak yang ada di luar negeri juga. Bagaimana keuangan mereka berdua, jika papa sudah tidak bisa melakukan semuanya seperti kemarin-kemarin."


Dengan sedikit ragu, akhirnya Madalena mengutarakan maksud dirinya untuk masuk ke dalam kamar papanya sendiri.

__ADS_1


"Nona muda tenang saja. Semua sudah diwenangkan kepada Saya. Jadi, semua urusan keuangan dan lain-lainnya di rumah ini, menjadi tangung jawab Saya semua."


"Oh ya, ini juga ATM dan kartu kredit milik Nona muda. Saya kembalikan lagi," tutur ketua pelayan.


Madalena pun mengangguk mengiyakan. Dia merasa sangat senang, karena ketua pelayan yang akan mengatur segalanya. Ini tidak akan membuatnya pusing dengan segala urusan rumah.


Dia bisa tenang, sama seperti dulu lagi.


*****


Pagi harinya di sekolah.


Madalena tetap terlihat sama. Tidak ada yang berubah dari perilaku dan sikap yang tampak. Jadi, tidak akan ada yang melihat keadaan yang sebenarnya pada Madalena.


Begitu juga dengan Gavino dan Bianca. Mereka berdua pun bersikap seperti biasanya, sehingga Madalena tidak menaruh curiga jika kejadian di rumahnya semalam adalah karena mereka berdua juga.


"Hai Gavin. Pulang sekolah pergi jalan lagi yuk!"


"Kali ini Aku yang traktir. Tenang saja, Aku gak akan merepotkan orang kok. Hehehe..."


Gavino hanya diam, dan tidak langsung menjawab.


Berbeda dengan Bianca, yang langsung tersenyum sinis terhadap perkataan Madalena.


Tapi karena dia melihat bagaimana Gavino yang tidak terpengaruh dengan permintaan dari Madalena, akhirnya Bianca yang tadi ingin membuka mulutnya untuk bicara, mengurungkan niatnya.


Dia pun ikut diam. Sama seperti yang dilakukan oleh Gavino.


'Ah sudahlah. Vin aja diam. Kenapa Aku yang repot.' Bianca membatin, dan sadar dengan apa yang dia lakukan sendiri.


Tapi karena dasarnya Madalena yang tidak pantang mundur, dia pun kembali berkata. "Gavin. Mau ya? Please..."


"Lena. Kita belajar saja ya!"


Dan Madalena pun merapatkan kedua bibirnya lagi, saat ingin membuka mulutnya. Untuk menyahut perkataan yang diucapkan oleh Gavino.

__ADS_1


Karena jari telunjuk Gavino, yang ditempatkan di depan mulutnya sendiri. Memintanya untuk tetap diam dan tidak lagi bicara.


__ADS_2