Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Menyalahkan Takdir Tuhan


__ADS_3

"Ayo kita segera berangkat ke rumah sakit. Aku mau lihat Gavino!" ajak Mirele pada suaminya. Yang masih diam saja, karena rasa terkejutnya yang belum juga bisa hilang.


Dengan mengangguk mengiyakan ajakan istrinya, Giordano mengikuti langkah Dante. Kemudian masuk ke dalam mobil.


Mereka bertiga, berangkat ke rumah sakit untuk melihat keadaan Gavino.


"Apa dia terluka parah?"


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Gavino?"


"Kenapa dia bisa sampai koma?"


"Pa. Bagaimana anak kita itu?"


"Aku tidak mau kehilangan Gavino Pa!"


"Perché dovrebbe succedere ai nostri figli?"


"Kenapa ini terjadi pada anak Kita?"


Pertanyaan demi pertanyaan diajukan oleh Mirele. Karena dia tidak menyangka kalau anaknya itu akan mengalami hal seperti ini.


"Tenang Ma, tenang! Papa juga tidak tahu, bagaimana mungkin ini terjadi pada anak kita," cicit Giordano, menyahuti pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh istrinya.


Baru beberapa hari kemarin, dia dan istrinya di kabari oleh anaknya. Jika anaknya itu sudah sukses di kota besar, Roma. Sehingga meminta pada mereka berdua, untuk ikut menyusul Gavino ke kota. Dan meninggalkan rumah mereka yang ada di Monte Isola.


Awalnya, Giordano dan Mirele tidak percaya dengan ajakan anaknya itu. Tapi pada saat Gavino membuktikan ucapannya, dengan mengirimkan sejumlah uang yang besar untuk bekal mereka ke Roma, mereka berdua pun akhirnya percaya dengan ajakan anaknya itu.


Mereka berdua semakin percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya, saat melihat sendiri bagaimana keadaan rumah Gavino yang besar dan mewah.


Apalagi rumah tersebut juga ada di kawasan komplek perumahan elit.


"Selamat datang Papa, Mama."


"Sekarang kalian berdua tidak perlu bekerja keras. Gavin akan membahagiakan Papa dan juga Mama."


Mirele dengan mata berkaca-kaca, memeluk anaknya. Yang tersenyum penuh keharuan. Karena membuat mamanya merasakan kebahagiaan dan kebanggaan baginya.


"Kamu dapat semua ini dari mana Gavin?"


"Kamu gak ikut-ikutan teman atau geng-geng yang melakukan tindak kejahatan kan? Yang sering ada di berita-berita setiap harinya?"


Mirele banyak mengajukan pertanyaan kepada anaknya, karena dia tidak mau jika, anaknya itu melakukan semua hal. Hanya demi harta dan kekayaan.


"Tidak Ma. Gavin tidak melakukan semua itu."


"Lalu, Kamu dapat semua ini dari mana?"

__ADS_1


Sekarang, yang bertanya ganti Giordano. Karena sebenarnya, dia juga merasa penasaran. Dengan apa yang saat ini ada di depan matanya.


Dia bersama dengan isterinya, tidak mungkin bisa percaya begitu saja. Dengan semua yang dikatakan oleh Gavino. Karena anaknya masih sekolah. Belum bekerja atau melakukan sebuah pekerjaan untuk bisa menghasilkan uang.


"Masuklah dulu Pa, Ma. Nanti Gavin beritahu. Gavin akan cerita semuanya pada Papa dan Mama."


Begitulah akhirnya, mereka bertiga masuk ke dalam rumah besar, yang sudah dipersiapkan oleh Gavino untuk kedua orang tuanya.


Semua perabot rumah, juga sudah lengkap tersedia. Dengan beberapa pelayan dan penjaga rumah tersebut.


Hal yang tidak bisa dipercaya oleh siapapun. Termasuk Giordano dan Mirele sendiri. Jika semua yang mereka lihat ini adalah rumah anaknya sendiri. Yang kemarin itu hanya pamit untuk pergi ke Roma, karena mendapatkan beasiswa untuk bisa bersekolah.


Tapi kini, semuanya bagaikan sebuah mimpi. Untuk Giordano dan Mirele sendiri.


*****


Mobil Dante memasuki halaman rumah sakit. Kemudian segera mencari tempat parkir yang ada.


"Mari Om, Tante."


Dante mempersilahkan kedua orang tua, yang tadi dia jemput. Untuk melihat keadaan anaknya.


Dengan berpegangan tangan, keduanya sama-sama berusaha untuk bisa saling menguatkan satu sama lain. Untuk menghadapi segala sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


"Ikuti Saya Om, Tante!"


Tapi tetap saja, yang namanya rumah sakit tidak diinginkan oleh sebagian besar masyarakat. Karena masuk ke rumah sakit, identik dengan sebuah penyakit. Apapun jenis penyakit tersebut.


Giordano dan Mirele berjalan bersisian di belakang Dante. Memasuki sebuah ruangan besar, dan ini bukan untuk rawat inap umum.


Ternyata, ruangan ini khusus untuk pasien-pasien dalam keadaan kritis. Sama seperti keadaan Gavino. Karena tak jauh dari tempat tidur Gavino, ada Lorenzo dan juga Cardi. Yang terluka cukup parah juga.


"Om, Tante," sapa Bianca, yang masih setia berada di dekat Gavino.


Giordano dan Mirele tidak menghiraukan sapaan Bianca. Mereka berdua langsung fokus pada anaknya, yang tidak bisa bergerak sama sekali. Dengan beberapa alat bantu kesehatan yang memang diperlukan oleh Gavino.


"Gavin. Hiks hiks hiks... Huuuuu..."


Mirele langsung menubruk tubuh anaknya sambil menangis tersedu-sedu.


Sedangkan Giordano, tampak menghela nafas panjang, saat melihat keadaan anaknya itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Gavin seperti ini?"


Giordano kalap. Dia berteriak keras, bertanya tentang keadaan anaknya saat ini. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.


"Dia baik-baik saja semalam. Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Giordano lagi.

__ADS_1


Dia melihat sekeliling. Mencari keberadaan dokter atau siapapun yang bisa menjawab pertanyaannya.


"Jelaskan! Apa yang terjadi"


Kembali Giordano bertanya. Tapi tentu saja tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Karena mereka juga tidak mau, jika Giordano semakin marah, jika tahu kebenaran yang sesungguhnya terjadi malam tadi.


"Tuhan! Apa yang Kamu lakukan pada anakku?"


"Apa masih kurang, Kamu buat kehidupan kami sengsara?"


"Tuhan! ambil saja nyawaku. Tapi jangan nyawa anakku ini!"


"Sialllan Kau Tuhan!"


"Bagaimana Kamu membuat kehidupan kami lebih sengsara, dengan kehilangan anak kami?"


"Apa tak cukup kemiskinan dan ketidakberdayaan kami selama ini?


"Tak puas kah Kamu, membuat kesengsaraan bagi Kami?"


"Aku tak perlu harta dan kekayaan yang Kamu berikan pada Gavino kemarin."


"Ambil lagi, dan terkutuk_lah Kamu!"


Giordano mulai hilang akal. Dia bertanya pada Tuhan, dengan memaki-maki. Dia mengumpat takdir Tuhan yang harus dia jalani, bersama dengan istri dan anaknya.


Dia mengutuk jalan takdir, yang dia anggap tidak adil.


Dan teriakannya ini, membuat kegaduhan dalam ruangan tersebut.


Tak lama kemudian, Giordano jatuh tersungkur. Dalam keadaan lemas. Dia tidak kuasa menahan rasa marah, kecewa, sedih dan penyesalan yang ada di dalam hatinya saat ini.


Mirele hanya bisa terus menangis. Dan tangisannya semakin keras, saat melihat perbuatan suaminya.


Apalagi tak lama kemudian, suaminya juga terjatuh tak sadarkan diri.


"Giordano... Jangan tinggalkan Aku sendiri!"


"Gavin pasti sembuh. Kamu tidak boleh seperti ini."


Mirele menubruk tubuh suaminya yang terbaring di lantai.


Dante segera memangil dokter, untuk mengurus papanya Gavino.


"Bianca. Tolong jaga Tante Mirele dan Gavin. Aku akan menunggu Om Giordano di IGD sebentar."


Setelah mengatakan itu, Dante menyusul perawat yang sudah membawa tubuh Giordano ke ruang IGD. Untuk mendapatkan pertolongan.

__ADS_1


__ADS_2