
Setelah memarkirkan sepeda motornya, Gavino langsung berlari menuju ke kamarnya Gress. Tanpa mempedulikan keadaan sekitar, termasuk keberadaan Robert yang sedang berada di ruang tengah.
"Kenapa itu anak?" tanya Robert bergumam seorang diri, melihat bagaimana Gavino yang sedang berlari-lari masuk.
Tapi Robert tidak juga berdiri menyusul Tuan Mudanya itu. Dia hanya melihat ke arah mana Gavino berlari masuk.
Dan setelah dia melihat bahwa, Gavino berlari ke atas, kemudian menuju ke kamar Gress, Robert hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Huhfff... dasar darah muda. Tidak bisa apa bersabar sedikit?"
Robert justru salah paham, dan menyangka jika Gavino tidak bisa menahan diri dari hasratnya. Sehingga membuatnya berlari-lari, untuk bertemu dengan gadisnya.
Gavino sudah berada di depan pintu kamarnya Gress. Tanpa mengetik pintu kamar tersebut terlebih dahulu, Gavino langsung masuk ke dalam mencari keberadaan Gress.
"Sayang, honey! Kamu di mana?"
Dia cukup panik, disaat tidak menemukan keberadaan gadisnya, yang tadi mengirimkan pesan padanya. Dengan kata-kata yang tidak bisa dia terima dengan mudah.
"Honey! Gress Sayang!"
Gavino membuka pintu kamar mandi,
Walk-in closet, dan balkon.
Tapi Gress tetap saja tidak dia temukan. Bahkan, Gavino beli membuka ruangan walk in closet, untuk memeriksa lemari yang besar-besar itu.
Dia berpikir bahwa, Gress sedang bersembunyi di salah satu lemari tersebut.
Tapi ternyata, dia tetap tidak menemukan keberadaan Gress di sana.
"Kamu di mana Sayang?" teriaknya frustasi.
Dia merasa khawatir dengan keberadaan gadisnya, yang tidak ditemukan.
Akhirnya, Gavino kembali ke luar dari kamarnya Gress. Kemudian menuju ke ruang tengah, untuk bertanya kepada Robert.
"Robert, apa Kamu tahu di mana Gress sekarang?" tanya Gavino dengan panik.
Robert tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, tapi menyipitkan matanya, melihat dan memperhatikan keadaan Gavino yang sedang dalam keadaan cemas.
"Memangnya, Kamu masih peduli terhadapnya?"
Robert justru memberikan pertanyaan balik pada Gavino. Karena beberapa hari terakhir ini, Gavino memang jarang ada di rumah atau bersama dengan Gress.
Dia justru berpikir bahwa, hubungan keduanya sedang renggang, atau sudah tidak ada kecocokan lagi. Sehingga Gavino terus menghindar.
Robert salah paham dengan apa yang dia perhatian dari kedua anak muda yang hidup bersama dengannya di rumah ini.
"Robert, Aku ditanya padamu bukan meminta pertanyaan lagi!"
"Lalu?"
Gavino mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian duduk di samping Robert.
"Aku mendapatkan pesan dari Gress. Dia ingin pergi dari rumah ini, makanya Aku mencarinya sekarang!" terang Gavino memberitahu kepada Robert.
"Coba telpon baiklah, tanya dimana dia sekarang," sahut Robert memberikan jalan keluar agar Gavino pisang mencari keberadaan Gress.
__ADS_1
Setelah mendengar perkataan Robert, Gavino menggaruk pelipisnya sendiri. Menyadari kepanikannya sendiri, sehingga dia tidak berpikir dengan jernih, di saat mencari keberadaan gadisnya itu.
Sekarang, dia langsung menghubungi Gress. Dengan harapan, supaya gadisnya itu mau memberitahukan keberadaannya sekarang.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
Tapi ternyata, Gress tidak menjawab teleponnya.
Dia melihat ke arah Robert, kemudian menaikkan kedua bahunya. Memberitahu bahwa, usahanya ini belum membuahkan hasil. Sehingga dia tidak tahu, di mana keberadaan Gress sekarang ini.
"Coba tanya beberapa maid, atau penjaga rumah. Mungkin mereka ada yang tahu. Atau... buka saja cctv rumah," ujar Robert memberikan usulan
Gavino memejamkan kedua matanya dengan menghela nafas panjang. Sebab, karena rasa panik dan khawatirnya, dia tidak berpikir sejauh itu.
Dan Robert kembali menggelengkan kepalanya beberapa kali, saat menyadari bahwa, kadangkala cinta memang membuat orang bodoh.
Dia tidak mau ikut campur dalam urusan cinta keduanya, karena itu hal yang sangat pribadi.
Robert hanya akan bicara, seandainya dimintai pendapat atau mendapatkan pertanyaan yang diajukan oleh Gavino saja.
Akhirnya, Gavino membuka semua rekaman cctv yang ada di rumahnya. Untuk mengetahui aktifitas apa yang dilakukan oleh Gress, saat terakhir kalinya. sebelum menghilang dari rumahnya ini.
Dan ternyata, Gress sedang bicara dengan supir di luar rumah, kemudian pergi dengan supir tersebut.
Tapi, Gress hanya membawa tas kecil dan tidak membawa semua barang-barangnya. Sebab, Gavino masih bisa melihat semua barang-barang milik Gress, ada di tempatnya. Dan hanya ada koper kecil yang berada di dekat ranjang.
Sayangnya, Gavino tidak memperhatikan isi koper tersebut, karena dia tidak membukanya.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
..."Selamat malam Tuan Muda."...
..."Kamu ada di mana?" ...
..."Ada di restoran STEAK Brain Tuan."...
..."Apa Kamu juga pada di dalam bersamanya? Maksudnya, Kamu masuk ke dalam untuk makan juga kan?" ...
..."Iya Tuan. Saya tidak meninggalkan Nona sedetikpun. Sebab ini ada di tempat umum. Yang tentunya banyak pengunjung." ...
..."Dia sedang makan bersama dengan siapa?" ...
..."Nona sedang bertemu dengan teman-teman kampusnya, membahas tugas." ...
..."Baiklah. Tunggu Aku ke sana!" ...
Klik!
Gavino menutup panggilan teleponnya, sebelum supir menyahuti perkataannya.
Tapi sebelum Gavino pergi tangannya ditarik oleh Robert.
"Jangan memarahi Gress. Dia tidak salah."
__ADS_1
Mendengar pesan dari Robert, Gavino hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian segera berlalu untuk menyusul gadisnya itu.
"Anak muda selalu tergesa-gesa dan tidak mau berpikir panjang," kesah Robert, setelah Tuan Muda nya itu pergi dari hadapannya.
*****
Di rumah makan STEAK Brain.
Gress sedang menyantap hidangan yang sudah dipesan, bersama dengan ketiga teman kuliahnya.
Mereka sengaja datang ke restoran STEAK Brain ini, selain untuk menikmati makanan, mereka juga membahas tugas kampus.
Gavino memang tidak tahu, jika ada tugas kampus yang harus segera diselesaikan. Karena sudah beberapa hari ini dia tidak hadir di kelas. Bahkan, dia mengajukan cuti untuk semester depannya.
Dia ingin konsentrasi untuk menyelesaikan masalahnya di luar terlebih dahulu. Karena semua itu akan mengganggu konsentrasinya, dan semua kegiatannya di kampus.
Dia tidak mau jika, pada saat jam kelas, harus mendapat panggilan telpon karena laporan dari beberapa anak buahnya. Dengan semua kegiatan yang sedang mereka lakukan.
Gavino tidak mau mencampuradukan urusan pendidikannya, dengan dunia yang sangat ini dia miliki.
Tapi dia juga tidak tahu, apakah pengajuan cutinya itu disetujui oleh pihak kampus atau tidak. Sebab, dia baru saja mengajukannya kemarin, dan belum ada balasan.
"Hai Sayang. Hai semuanya!"
Gavino menyapa Gress dan ketiga temannya, setelah tadi menerima salam hormat dari supir. Yang sedang duduk di meja sebelah. Yang ditempati oleh Gress bersama dengan teman-temannya.
Kedatangan Gavino kali ini, membuat Gress sedikit terkejut.
Tapi sedetik kemudian, dia tampak tersenyum lega. Karena pada akhirnya Gavino datang mencari keberadaan dirinya.
Mungkin saja, semua ini dilakukan oleh kekasihnya itu. Setelah menerima pesan darinya tadi.
"Apa Aku boleh ikut bergabung?" tanya Gavino meminta ijin.
Gress lihat ke arah ketika temannya, untuk meminta pendapat.
"Tentu saja Gavin."
"Kamu ke mana saja Gavin? sudah cukup lama tidak terlihat ada di kampus."
"Apa Kamu datang mencari diriku?"
Ketiga temannya itu, justru memberikan jawaban yang berbeda. Dengan maksud yang berbeda juga.
Sebab, mereka semua sudah tahu, bagaimana hubungan antara Gavino dengan Gress. Yang sudah hidup bersama selama beberapa bulan terakhir ini.
Gavino hanya menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari temannya itu dengan datar.
Dia fokus pada Gress, yang belum memberikan jawaban.
Akhirnya, Gavino mengambil dan menggenggam tangan Gress, kemudian duduk di sebelahnya.
"Aku sangat mengkhawatirkan Kamu. Jadi, jangan pernah Kamu melakukan hal ini lagi."
Gavino mengucapkan kalimatnya itu dengan berbisik di dekat telinga Gress, sambil menghirup aroma gadisnya. Yang sepertinya sudah sangat dirindukan.
Sayangnya, saat ini mereka sedang ada di restoran. Sehingga dia tidak bisa melakukan apa-apa terhadap tubuh gadisnya itu.
__ADS_1