
Satu tahun kemudian.
Waktu terus berjalan. Kegiatan dalam kehidupan manusia juga tidak ada hentinya. Semua, sudah menjadi rutinitas sehari-hari yang memang harus dilakukan. Untuk kelangsungan hidup manusia itu sendiri.
Begitu juga dengan Gavino. Dia terus belajar untuk masa depannya kelak.
Meskipun sekarang ini dia tidak lagi miskin. Tapi, karena pendidikan itu sangat penting untuk kelangsungan hidup dan masa depannya nanti, Gavino tetap menomor satukan pendidikan dan sekolahnya.
"Besok ujian akhir Gavin Ma. Doakan Gavin bisa tetap mempertahankan nilai yang baik."
Gavin meminta restu dari mamanya, Mirele, malam ini. Setelah mereka selesai makan malam.
"Oh iya. Cepat sekali waktu berlalu. Mama tidak menyangka, jika Kamu akan segera masuk universitas nantinya." Mirele tersenyum, setelah mengatakan pikirannya. Ya g tidak mempercayai bahwa, kini Gavino sudah bukan lagi remaja yang lemah.
Anaknya itu sudah cukup populer, meskipun Gavino tidak biasa tampil dalam acara sekolah. Jika bukan karena ditunjuk oleh pihak guru atau pendidik di sekolahnya tersebut.
Sifat pemalu nya di depan umum, belum bisa dia hilangkan begitu saja. Sehingga orang yang belum mengenalnya dengan baik, masih ada yang meremehkan dirinya.
"Apakah Kamu ingin melanjutkan kuliah di tempat yang Kamu impikan dulu?"
Sekarang, ganti Giordano yang bertanya pada anaknya. Karena dulunya, Gavino pernah bermimpi untuk bisa kuliah. Di mana nantinya dia bisa menjadi seorang ahli peneliti teknologi dan sains.
"Semoga Gavin bisa masuk ke sana Yah."
Gavino bukannya pesimis dengan kemampuannya. Tapi dia juga tidak tahu, apakah dia bisa terus atau tidak di bidang tersebut.
"Ya sudah, pergilah tidur. Besok kerjakan tugas dengan baik dan bersemangat."
"Iya Pa," jawab Gavino pendek, mengiyakan perintah dari papanya.
Setelahnya, dia beranjak dari tempat duduknya. Kemudian pamit untuk pergi ke kamarnya sendiri.
"Gavin pergi tidur dulu Pa, Ma."
Giordano dan Mirele, mengangguk mengiyakan. Gavino pun berjalan menuju ke kamarnya sendiri, untuk beristirahat lebih awal. Karena esok harinya, dia akan melaksanakan tugas ujian akhir sekolah.
Tiba di dalam kamar. Sistem mafia Gavino aktif, meskipun tidak dia kehendaki sendiri.
( Ting )
( Selamat malam Good Father )
'Ada apa? kenapa tiba-tiba aktif?'
( Selesaikan misi, tidur tanpa melakukan apapun bisa mendapat kekuatan dan hadiah )
'Heh! bagaimana bisa itu terjadi?'
( Good father adalah ketua mafia. Apapun bisa dilakukan oleh good father )
'Hem...'
( Ting... misi di mulai )
( Level : 1 )
__ADS_1
( Hasil : Kepercayaan diri meningkat 2 level )
( Senjata : tangan kosong )
( Waktu misi : 1 menit )
( Inventari : kekuatan sistem bertambah )
'Maksudnya Aku harus cepat tidur tanpa melakukan apa-apa?'
( Ting... benar good father )
'Baiklah. Ayo kita lakukan!'
( Misi diaktifkan )
10%
20%
40%
60%
80%
100%
( Ting... misi selesai )
Tentunya itu tidak diinginkan oleh Gavino. Karena dia masih membutuhkan sistem mafia tersebut untuk dirinya.
Dia sendiri tidak pernah tahu, entah akan seperti apa dirinya. Jika dia tidak memiliki sistem mafia tersebut.
Akhirnya, setelah tiga menit sistem aktif dan memberikan misi. Gavino tertidur. Dan sistem menunjukkan hasil dari misi tersebut.
( Ting... pemberitahuan hasil misi )
( Level : 3 )
( Hasil : Naik 2 tingkat kepercayaan diri )
( Senjata : mendapat senjata rahasia pisau terbang beracun )
( Waktu misi : selesai dalam waktu 3 menit )
( Inventari : kekuatan sistem bertambah 2 level dari sisa waktu yang ditentukan misi )
( Bonus : Ketenaran bertambah )
Tanpa disadari oleh Gavino yang sudah tertidur, misi dalam sistem berjalan dengan sendirinya. Dan itu memberinya kesempatan untuk terus meningkatkan kualitas dari sistem mafia minyak miliknya.
Meskipun dia juga tidak tahu, bagaimana cara kerja sistem mafia yang sesungguhnya. Karena kerja dunia sistem dengan dunia nyata, tentu sangat berbeda dan tidak sama.
*****
__ADS_1
Di sekolah.
Semua siswa-siswi sudah siap untuk melakukan tugasnya masing-masing. Tapi terjadi kekacauan yang tidak pernah disangka-sangka, karena ada kerusakan pada kabel penghubung antara komputer siswa dengan pusat. Yang menghubungkan data dan urutan tugas.
Selidik punya selidik, ternyata itu bukanlah tanpa sengaja. Tapi memang dilakukan oleh seseorang yang meng_hack cara kerja perangkat, agar soal yang keluar tidak berurutan antara siswa satu dengan yang lainnya.
Setelah semua dijelaskan, akhirnya kekacauan bisa dikendalikan. Meskipun ada beberapa siswa yang protes. Tapi itu semua tidak mempengaruhi berjalannya waktu tugas.
Gavino mengerjakan soal ujian sekolah dengan tenang. Begitu juga dengan teman-temannya yang lain.
Sepertinya mereka memang sudah mempersiapkan diri, untuk ujian akhir sekolah ini. Karena untuk beberapa waktu terakhir kemarin, mereka menang jarang melakukan kegiatan lainnya, di luar jam sekolah.
Mereka tidak ada yang mau gagal. Apalagi harus mengulang kembali ujian akhir sekolah pada tahun depan nanti.
"Permisi. Ada yang punya penghapus pensil tidak?"
Suasana ruangan yang sunyi, karena semua sedang berkonsentrasi pada tugasnya masing-masing, tiba-tiba dibuat ribut dengan pertanyaan salah satu dari mereka, yang ada di tengah kelas.
Pengawas ujian, yang ada di pojok ruangan memangil siswa tersebut. Yang bertanya soal penghapus.
"Ujian secara langsung online di komputer. Buat apa Kamu cari penghapus?" tanya pengawas tersebut heran.
"Huhuhu..."
"Cari perhatian aja sih!"
"Hahaha..."
Suasana ruangan akhirnya pecah.
Tok tok tok!
Pengawas memukul meja didepannya dengan spidol. Dia menenangkan semua peserta ujian agar kembali tenang.
"Kerjakan tugas kalian semua dengan baik, dan tidak usah membuat kekacauan."
"Dan untuk Kamu, kembali ke tempat. Jika sekali membuat ulah, terpaksa harus keluar dan dinyatakan gagal!"
Semua kicep. Tak ada lagi yang berani mengeluarkan suara.
"Jika ada lagi yang ingin membuat kekacauan, satu ruangan ini Saya nyatakan gagal."
Perkataan terakhir yang diucapkan oleh pengawas, membuat semua siswa siswi menciut. Tidak ada yang berani mengeluarkan sepatah katapun lagi.
Mereka kembali pada layar komputer masing-masing. Mengerjakan tugas ujian, yang tidak mungkin bisa ditanyakan kepada temannya yang lain. Karena setiap soal, tidak ada yang sama dalam urutan nomernya.
Jika mereka nekad mencontek atau bertanya pada temannya yang lain, bisa dipastikan akan salah.
Dan kemungkinan lain yang bisa terjadi, seandainya ketahuan, mereka terancam untuk mengulanginya lagi di tahun berikutnya.
Jadi, bisa atau tidak tetap harus mengerjakan soal ujian sendiri-sendiri.
"Waktu tinggal sepuluh menit lagi. Jika ada yang sudah selesai, jangan lupa untuk save and close. Sistem akan menyimpannya sesuai nomor ujian yang tadi kalian ketik di awal."
Tapi ternyata, waktu yang masih ada sepuluh menit itu dimanfaatkan oleh semua siswa-siswi untuk memeriksa kembali pekerjaan yang sudah mereka selesaikan.
__ADS_1