
"Iya Gavino. Bukankah ada beberapa berkas yang Kamu sembunyikan dari dunia luar? apa kamu lupa Gavino, dengan berkas berita kematian dari rumah sakit, atas kematian kedua orang tuamu, dan juga asal-usul keluarga kalian yang berasal dari Monte Isola?" terang George memberikan penjelasan pada Gavino.
"Bukankah Kamu menyembunyikan semua itu, agar musuh-musuhmu tidak menemukannya. Terutama adalah teman-teman waktu masih sekolah dulu?"
Gavino akhirnya ingat, jika teman-temannya memang tidak ada yang tahu tentang kematian kedua orang tuanya, yang diakibatkan oleh Verdi. Teman dari Alano.
Dalam hati Gavino berkata, "apakah ini yang disembunyikan oleh George dariku? yang merupakan misi ini sistem. Tapi sepertinya tidak juga."
"Kenapa Kamu harus menyembunyikannya di situ, dan sejak kapan pintu itu dibuat?" tanya Gavino ingin tahu. Karena dia tidak pernah mengetahui kapan pintu itu dibuat.
"Aku pikir Kamu tidak akan mempermasalahkannya, karena ini juga demi kebaikanmu," kata George santai.
"Tapi Aku minta maaf, jika Aku melakukannya tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Dan..." George menjeda kalimatnya.
"Silahkan buka saja, jika Kamu ingin tahu apa yang ada di dalam sana," ujar George melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus tadi.
Dengan hati-hati Gavino membuka pintu itu, setelah George memberinya ijin. Bahkan George juga berada di belakang Gavino, untuk memberikan penjelasan pada Tuan mudanya.
"Sebenarnya Aku sudah membuatkan ruangan khusus untukmu. Jadi kapanpun Kamu siap untuk ke sini, sudah ada ruangan yang bisa Kamu tempati. Bukan hanya ke ruangan ku dan keriangannya Robert saja."
Sambil membuka pintu, Gavino mendengarkan perkataan George yang memberikan penjelasan kepadanya, tentang ruangan yang sudah disediakan untuknya.
"Di mana," tanya Gavino ingin tahu.
"Ada di belakangku. Dan ini dia adalah pintu penghubung ke ruangan yang akan Kamu tempati. Terhubung juga dengan ruangannya Robert. Jadi, Kamu ada di tengah-tengah ruangan kami."
"Apa Robert tahu dan setuju?" Gavino kembali bertanya.
"Iya dia tahu. Dia juga setuju, karena bagaimanapun juga, ini adalah usahamu."
Gavino ingin melihat ruangan tersebut, dan pada saat George menganggukkan kepalanya, Gavino memintanya untuk ikut menemani dirinya melihat ruangan yang katanya disediakan untuknya.
Sepertinya teka-teki misi yang diberikan oleh sistem pada Gavino sudah terpecahkan. Meskipun sebenarnya Gavino masih ragu, apakah itu benar atau tidak.
__ADS_1
Akhirnya sebuah pintu dibuka. Dan pintu itu adalah sebuah ruangan yang lebih luas dibandingkan tempat George maupun tempatnya Robert.
Ruangan ini belum terisi apa-apa, hanya sebuah meja dan kursi dan lemari. Semuanya dindingnya berwarna putih, tanpa adanya motif atau ornamen lain yang menghiasi.
Gavino berkeliling untuk melihat sudut demi sudut ruangan, dan membuka pintu kamar mandi. Ternyata cukup luas juga kamar mandinya. Bahkan ada bath tub juga.
"Ini seperti sebuah kamar hotel, bukan ruang kerja George," kata Gavino mengomentari.
"Hahaha... Aku pikir Kamu akan lebih sering menggunakannya, daripada Kamu harus mencari sebuah hotel." George justru tertawa, mendengar perkataan Gavino yang mirip sedang protes.
"Apa maksudmu?" tanya Gavino ingin tahu.
Dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan George yang baru saja selesai dia ucapkan.
"Aku membuatnya mirip dengan ruangnya kerja CEO, yang butuh private juga. Siapa tahu, besok-besok Kamu ajak gadis-gadis mu ke sini untuk... hahaha..." George kembali tertawa terbahak-bahak.
"Dasar otak mes_sum!" umpat Govino pada George yang masih tertawa terbahak-bahak.
"Sudah cukup George. Aku kembali," pamit Gavino yang akhirnya keluar dari ruangan tersebut.
"Tidak. Sepertinya Aku harus pergi, Aku mau ada urusan. Bolehkah aku menitipkan Gress padamu?" tanya Gavino, yang membuat George menyatukan alisnya.
"Hai apa maksudmu? Kamu mau pergi kemana?" George justru memberikan pertanyaan.
"Ada yang harus Aku urus juga George. Dan ini sangat penting. Jadi Aku menitipkan Gress padamu."
Setelah berkata demikian, Gavino langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari George.
"Dasar anak muda arogan," gerutu George dengan mengelengkan kepalanya.
Gavino tidak pamit pada Gress yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga dia langsung pergi dari kios, untuk mengurus pekerjaan yang harus dia lakukan di luar kios.
Tak lama kemudian, Gavino sudah berada di jalan menuju ke suatu tempat. Di mana dia sudah punya janji dengan seseorang untuk melakukan pekerjaan.
__ADS_1
Ternyata hari ini ada janji temu dengan Thomas Bryan. Yang sudah dia hubungi tadi pagi, di saat dia baru saja bangun tidur.
"Selamat siang Tuan muda," sapa Thomas Bryan, saat bertemu dengan Gavino.
Saat ini mereka berdua ada di sebuah restoran mewah, yang berada di pusat kota.
"Selamat siang juga tuan Thomas, apa kabarmu?" Gavino bertanya setelah mengucapkan salam juga.
"Terima kasih. Kabarku baik-baik saja. Bagaimana perjalanan anda kemarin Tuan muda?"
"Cukup menyenangkan, terima kasih atas fasilitas yang sudah disediakan untukku," Gavino mengucapkan terima kasih kepada Thomas Bryan, yang sudah memberikan semua fasilitas hotel dan helikopter yang digunakan untuk keperluannya ke bandara waktu pulang dari Paris kemarin.
"Sama-sama Tuan muda."
Lima orang pengawal Thomas Bryan, sebenarnya merasa heran juga. Karena tidak biasanya Tuan besarnya itu ramah pada orang lain, apalagi yang masih sangat muda.
Apalagi mereka belum pernah melihat Gavino sebelumnya, sebab para pengawal yang ada di sini tidak ikut ke Paris kemarin.
Tapi karena melihat Bos besarnya begitu baik terhadap Gavino, mereka tampak lebih baik dan tidak memberikan tatapan tajam seperti biasanya jika ada orang yang tidak mereka kenal dekat-dekat dengan Bos nya itu.
"Apakah identitas dari George yang Aku minta sudah Kamu siapkan?" tanya Gavino pada Thomas Bryan.
Ternyata Gavino meminta data George, yang merupakan ketua mafia di Norwegia pada Thomas Bryan.
Sebab, Thomas Bryan adalah king Black, yang merupakan ketua umum dari geng mafia mereka. Jadi, dia pasti akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi tentang identitas diri dari George.
"Sudah Tuan muda. Semua data-datanya ada di ini, sudah saya siapkan semuanya."
Thomas Bryan menyerahkan sebuah chip yang merupakan informasi data tentang identitas George yang sebenarnya.
Gavino mengucapkan terima kasih, setelah menerima chip tersebut. Kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk pamit.
"Tunggu Tuan muda! sebaiknya Anda makan dulu. Karena sekarang sudah waktunya makan siang." Thomas Bryan menahan Gavino supaya tidak segera pergi dari tempatnya.
__ADS_1
"Oh iya, sudah jam satu siang. Apa sudah memesan makanan?" tanya Gavino, saat sadar jika waktunya memang sudah siang.
"Sudah Tuan muda. Sebentar lagi akan datang," jawab Thomas Bryan mempersilahkan pada Gavino supaya duduk kembali di tempat duduknya yang tadi.