
Keesokan harinya, Gavino pulang ke rumah dengan mengunakan taksi dari tempat Gress. Sebab, dia tidak membawa mobilnya, karena sore kemarin, dia meminta pada Robert untuk mengantar dirinya ke flat miliknya Gress.
Gavino baru saja masuk ke dalam rumah, di saat mobil George memasuki halaman rumah besary ini.
"Huhfff..."
George tidak langsung turun dari mobil, tapi justru tetap berdiam diri di dalam mobil terlebih dahulu. Dalam jangka waktu yang cukup lama.
Tok tok tok!
"George! Buka George!"
Robert mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil, dengan memanggil-manggil nama George.
Tak lama kemudian.
"Apa?" tanya George datar, setelah keluar dari dalam mobilnya.
"Kamu dari mana? Aku sudah sangat khawatir kemarin sore. Bahkan, Aku sampai menelpon Gavino dan memintanya mencarimu. Aku pikir Kamu di culik George!"
Nada suara Robert yang sedang marah-marah dan kesal, terlihat jelas jika dia juga merasakan kekhawatiran yang memang sudah dia rasakan sejak kemarin sore.
"Heh! Memangnya semudah itu menculik seorang George?" sahut George dengan berlalu meninggalkanku Robert begitu saja.
Sekarang, Robert mengejar George, kemudian mengumpat kesal. "Hai! Apa Kamu tidak berterima kasih padaku? Aku mengkhawatirkan keadaanmu bocah tua!" sarkas Robert mengatai George dengan sebutan bocah tua.
Akhirnya George membalik badannya, menatap Robert dengan tatapan tajam, yang menurutnya terlalu cerewet pagi ini.
"Terima kasih kakek tua! Karena sudah mengkhawatirkan keadaan cucumu yang sudah tua ini. Puas!"
Mendengar balasan yang diucapkan oleh George, sebenarnya Robert ingin membalasnya. Tapi kini keduanya sudah ada di dalam rumah, tepatnya di ruang tamu. Dan ada Gavino yang duduk bersandar, melihat tingkah keduanya yang sama-sama konyol.
"Lihat! Dia saja tidak mengkhawatirkan keadaanku, dia tidak seperti anak kecil yang mencari-cari ayahnya! Kamu?"
Gavino masih terdiam, menunggu Robert menyahut perkataan George. Tapi ternyata Robert tidak mau bicara lagi. Robert hanya mendengus dingin, mendengar George yang membandingkan dirinya dengan Gavino.
Setelah mereka berdua sama-sama terdiam dalam keadaan duduk di sofa yang berbeda, Gavino menghela nafas panjang.
"Hemmm... kenapa kalian ribut pagi-pagi? Apa tidak ada pekerjaan sehingga mencari keributan?" Gavino menyindir keduanya, yang sama-sama kekanakan menurutnya.
"Aku..."
"Cukup George!"
George akhirnya tidak lagi melanjutkan kalimatnya, karena di potong oleh Gavino.
Dalam keadaan seperti ini, aura Gavino tampak lebih menakutkan di mata mereka berdua. Tidak sama seperti biasanya.
"Aku tahu, Kamu bukanlah orang sembarangan George. Tapi, di mana pun Kamu berada, please, jangan pernah menonaktifkan radar mobil. Sebab itu adalah komunikasi teraman bagi kita, jika terjadi sesuatu yang tidak pernah kita duga."
"Wajar Robert mengkhawatirkan keselamatanmu, karena secara tiba-tiba, tanpa pemberitahuan sebelumnya, Kamu mematikan radar mobil. Kemudian ponsel Kamu juga tidak bisa di hubungi. Sedangkan Kamu juga tahu bahwa, Kamu adalah salah satu buronan kelompok king Black."
Mendengar semua penuturan Gavino, George akhirnya menundukkan kepalanya malu.
Dia lupa, jika dia masih belum lepas sepenuhnya dari kejaran king Black.
__ADS_1
"Maaf."
Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut George. Karena dia sadar, jika dia salah juga dalam hal ini.
Setelah selesai mendengar ucapan permintaan maaf yang diucapkan oleh George, Gavino berdiri dari tempat duduknya. Dia mau ke kamarnya sendiri. Dan membiarkan keduanya berbicara dengan baik-baik, tidak lagi dengan kekesalan dan kesalahpahaman seperti tadi.
*****
Di dalam kamar.
Gavino berbaring dengan membayangkan bagaimana keadaan dirinya semalam, yang menghabiskan waktu bersama dengan Gress.
Dia tersenyum sendiri, mengingat semua kejadian yang terjadi hingga pagi tadi.
"Ah... Gress. Kamu membuatku ingin terus me_makanmu." kesah Gavino resah, jika mengingat gadisnya itu.
Sekarang, Gavino duduk di tengah-tengah tempat tidur. Dia ingin memeriksa keadaan hotel di Paris, yang akan dia datangi besoknya, bersama dengan George.
( Ting )
( Cek in harian )
'Ya.'
( Ting )
'Aku ingin mengetahui keadaan hotel di Paris, yang akan menjadi tempat tujuanku besok.'
( Ting )
1%
10%
20%
30%
40%
50%...
Sampai dengan selesai menjadi 100%.
( Ting )
Layar transparan sistem yang ada di depan mata Gavino, menampilkan gambar keadaan hotel di Paris untuk saat ini.
Ternyata, hotel tersebut bukan hanya digunakan jasa penginapan dan ruangan ballroom yang bisa disewakan untuk event-event besar. Tapi hotel itu juga digunakan untuk jasa prostitusi level tinggi.
Di hotel itu, semua wanita yang bisa di sewa adalah anggota dari satu kelompok, yang ada di bawah naungan kelompoknya king Black.
Pengusaha sekaligus ketua geng mafia terbesar di kota Roma ini, yaitu Thomas Bryan, alias king Black.
Selain menjadi wanita bokingan, mereka, para wanita itu, juga menjadi perantara untuk transaksi-transaksi ilegal yang dilakukan di hotel tersebut.
__ADS_1
Dengan kelihaian dari wanita-wanita cantik penggoda itu, tentunya sudah dibekali dengan pelajaran-pelajaran yang harus mereka kuasai di lapangan dan dunia mereka.
Jadi bisa diibaratkan seperti sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Atau bisa juga dengan peribahasa, sambil menyelam sekalian minum air. Yang artinya, mengerjakan suatu pekerjaan, dapat pula menyelesaikan pekerjaan atau masalah yang lain.
Kira-kira, seperti itu juga arti peribahasa yang ada di atasnya tadi.
Mungkin seperti itulah istilah yang tepat untuk kegiatan bisnis yang dijalankan oleh seorang Thomas Bryan, dengan anak buahnya selama ini.
Putih, tapi juga gelap, yang akhirnya menjadi abu-abu di mata masyarakat pada umumnya. Tapi tentu saja tidak ada yang berani melawannya juga.
"Ternyata dunia Thomas Bryan itu memang sempurna. Baik dalam bidang usaha yang memang benar-benar sebagai seorang pengusaha, dan juga kegiatan ilegalnya yang sangat kompleks."
"Pantas saja kekuasaannya melebihi para pejabat negara. Karena para pejabat negara itu justru ada di bawah kendalinya selama ini."
"Lalu, bagaimana caranya membuatnya bisa terpisah dari tempatnya berada, yang tentu saja, para pengawalnya selalu ada dan siap sedia di sekitarnya?"
Gavino bertanya-tanya sendiri, dengan permasalahan yang akan dia hadapi di Paris nantinya.
( Ding )
'Aku ingin tahu, orang-orang terdekat dan penting untuk Thomas Bryan.'
( Ting )
( Pencarian dilakukan )
1%
10%
20%
30%
40%
50%...
Sampai dengan selesai menjadi 100%.
( Ting )
Sekarang layar transparan sistem yang ada di depan mata Gavino, berganti dengan gambar dan nama-nama orang-orang yang mengelilingi Thomas Bryan.
Maksudnya, mereka adalah keluarga yang dekat dengan Thomas Bryan. Sebab dia tidak memiliki seorang istri ataupun anak secara resmi. Yang bisa dinyatakan sebagai anggota keluarga pengusaha sukses itu.
Tapi tentu saja itu hanya sebuah taktik yang digunakan oleh Thomas Bryan.
Nyatanya, dia mempunyai wanita-wanita cantik, yang juga sudah memiliki anak darinya. Tapi memang tidak pernah dipublikasikan pada umum.
Mungkin itu juga disengaja Thomas Bryan atau king Black, agar wanita-wanita_nya dan juga anak-anaknya terhindar dari target musuh-musuhnya, yang tidak terhitung jumlahnya di bagian benua Eropa, bahkan juga dunia.
Tapi ada satu gambar wajah yang membuat Gavino terbelalak kaget. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
__ADS_1