
"Apa yang Aku tidak bisa Bi?"
Gavino bertanya pada Bianca, karena perkataan Bianca yang terkesan meremehkan dirinya. Sebab dikatakan tidak mampu menolong gadis tersebut.
"Aku... lepaskan Aku dari Alano."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Bianca, kening Gavino mengeryit heran. Karena dia bisa melihat cinta di mata Alano, untuk gadis yang saat ini berbaring di depannya.
Lalu, kenapa sekarang Bianca minta tolong padanya. Supaya bisa melepaskan diri dari ikatan cinta kekasihnya sendiri. Meskipun sebenarnya, Gavino sendiri juga tahu. Bagaimana cara Alano memperlakukan Bianca selama ini.
"Tapi Bi, dia..."
Gavino tidak melanjutkan kalimatnya, karena melihat Bianca yang sedang berusaha untuk bisa merubah posisinya. Yang semula berbaring, untuk bisa menjadi posisi duduk.
"Hati-hati," ucap Gavino, seraya membantu Bianca untuk bisa duduk.
"Vin. Aku... Aku..."
Grep!
Bianca tidak melanjutkan kalimatnya, tapi dia langsung memeluk Gavino. Cowok yang sedari dulu dia harapkan bisa menjadi kekasih hatinya.
Pelukan Bianca, belum direspon oleh Gavino. Dia hanya mematung, membiarkan Bianca dengan sebuah yang diinginkannya.
Tapi ternyata, diamnya Gavino justru membuat Bianca semakin menjadi.
Dia memeluk Gavino dengan erat. Mendongakkan kepalanya, berharap agar Gavino mau menciumnya. Jika mungkin, Gavino akan melakukan apa-apa yang pernah mereka lakukan saat berada di Paris dulu.
Melihat sikap Bianca yang seperti ini, Gavino tidak bisa menahan diri lagi. tangannya yang sedari tadi diam, kini berada di belakang leher Bianca. Menahan kepala Bianca, supaya dia bisa melakukan ciuman yang dalam. Sesuai dengan keinginan gadis tersebut.
Mendapatkan lampu hijau dari Gavino, Bianca tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan.
Dia mengalungkan kedua tangannya di leher Gavino, dengan mata terpejam. Menikmati perlakuan Gavino yang lembut, dan membuatnya menjadi pasrah. Dengan apa yang akan dilakukan oleh cowok yang dia idamkan ini nantinya.
Melihat reaksi Bianca yang seperti ini, Gavino tidak bisa menahan diri. Untuk tidak menyentuh bagian dari anggota tubuh Bianca yang lainnya. Apalagi, dia juga sudah pernah melakukannya dengan Bianca di Paris.
Akhirnya, sekarang ini mereka melakukannya di rumah Dante. Tanpa berpikir tentang apapun.
__ADS_1
Mereka berdua seakan-akan lupa, jika mereka telah memiliki pemikiran yang berbeda kemarin-kemarin.
Gavino jadi lupa dengan komitmen yang ada pada Gress, karena merasa kasihan dengan Bianca. Yang nyatanya memenuhi sebagian ruang di hatinya.
Sedangkan Bianca sendiri, memang ingin membuat dirinya merasa nyaman dengan berada di sini Gavino.
Dia ingin melupakan kekasihnya sendiri, yang memberinya banyak perhatian dan juga cinta. Sayangnya, cinta yang dimiliki oleh Alano termasuk cinta yang buta, alias crazy love. Sehingga dia sering merasa tidak nyaman.
Satu jam kemudian. Kegiatan mereka berdua baru saja selesai. Bianca memeluk tubuh Gavino dengan erat, dengan menciumi dada bidang milik Gavino.
"Bi," panggil Gavino, dengan menarik dagu Bianca. Agar bisa melihat ke arahnya.
"Ya Vin," sahut Bianca, dengan mata berbinar-binar senang. Dia sudah tidak merasa khawatir lagi, jika Gavino akan meninggalkan dirinya.
Cup!
"Apa Kamu benar-benar ingin lepas dari Alano?" tanya Gavino, setelah mengecup bibir Bianca sekali.
Mendapatkan perlakuan yang manis seperti ini, Bianca semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Gavino. Sehingga dia bisa merasakan detak jantung dari tubuh yang sedang dia peluk.
Ternyata detak jantung Gavino sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri. Dan itu membuat dirinya merasa yakin, jika Gavino masih menginginkan dirinya hingga saat ini. Meskipun sudah ada Gress yang menjadi kekasihnya Gavino.
"Tapi, bagaimana dengan impianmu yang ingin menjadi desainer?" tanya Gavino, mengingatkan pada Bianca tentang cita-citanya yang dulu.
Mendengar pertanyaan Gavino yang kesekian kalinya, Bianca kini terisak-isak.
Dia tahu jika, impiannya untuk bisa menjadi seorang desainer akan gagal. Karena kuliahnya yang tidak dilanjutkan.
Tapi dia tidak mau, jika harus kembali ke Paris, dan berurusan dengan Alano lagi. Karena jika ada di sini, kota Roma, Alano tidak bisa datang dengan mudah. Sebab nama Alano telah di blacklist di negara ini. Kecuali dia datang dengan mengunakan identitas diri yang lainnya, alias menyamar.
"Apa Kamu mengusirku dari sini Vin?"
Pertanyaan yang diajukan oleh Bianca, seakan-akan mewakili perasaan hatinya yang kecewa dengan sikap dan pertanyaan yang diajukan oleh Gavino barusan.
"Bukan begitu Bi. Aku..."
"Apa Kamu takut, jika gadis yang bersamamu kemarin marah?" tanya Bianca menebak, apa yang sedang dipikirkan oleh Gavino saat ini.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Bianca barusan, justru membuat Gavino merasa bersalah pada Gress. Karena telah pergi dari rumah tanpa pamit pada gadisnya itu, dan telah bercinta dengan Bianca juga.
Padahal, semalam dia baru saja berjanji untuk selalu ada di sisi Gress. Apapun yang terjadi.
"Maaf Bi. Aku harus segera kembali!"
Dengan cepat, Gavino bangkit dari tempat tidur, kemudian mencari pakaiannya yang berserakan di lantai.
Dia ingin bertemu dengan Gress, dan juga meminta maaf pada gadisnya itu.
Tapi di saat Gavino baru saja mengenakan pakaiannya, Bianca memeluknya dari belakang. Dengan berjinjit, dia menciumi bagian belakang leher Gavino juga. Sehingga membuat Gavino tidak bisa menahan diri dari rangs4ngan yang diberikan oleh Bianca.
Dia tentu saja akan naik lagi, karena dia juga laki-laki normal. Yang masih muda dan punya gairah tinggi.
Begitulah akhirnya. Mereka berdua justru kembali mengulang kegiatan mereka yang tadi. Yang sudah membuat berkeringat mereka berdua jadi bercampur menjadi satu.
*****
Di kampus.
Tadi, setelah Gavino pergi tanpa pamit. Gress pergi ke kampus dengan diantar oleh supir.
Robert yang meminta dan memberikan perintah pada supir tersebut. Bahkan, Robert juga meminta pada supir, supaya menunggu Gress hingga selesai kuliah.
Ternyata Robert merasa khawatir dengan keadaan Gress, yang sedang kecewa dengan sikap Gavino pagi ini.
Untungnya, Gress masih bisa berkonsentrasi untuk mengikuti kelas yang lumayan padat.
'Gavin kenapa ya? kok tiba-tiba seperti itu tadi pagi padahal semalam dia baik-baik saja.'
Gress membatin dengan perubahan sikap kekasihnya itu, yang tiba-tiba tidak peduli dan juga tidak menghiraukan dirinya pagi ini.
'Apa ini ada hubungannya dengan gadis yang kemarin? jika iya kenapa Gavin tidak bicara denganku? seharusnya, dia membicarakan apapun permasalahan yang ada padanya, sehingga Aku tidak menduga-duga sendiri.'
Sayangnya, apa yang menjadi pertanyaan Gress, tidak bisa dia jawab sendiri. Sedangkan pesan dan juga panggilannya untuk Gavino, sedari tadi tidak dihiraukan.
Sekarang dia merasa sangat yakin, jika kekasihnya itu sedang bersama dengan gadis yang kemarin dia temui, saat pembukaan bengkel mobil Lorenzo.
__ADS_1
'Jika itu benar, apa yang bisa Aku lakukan kedepannya nanti? Sedangkan di luar sana, banyak sekali kejahatan, yang bisa saja mengancam keselamatan diriku.'