
Masih flashback malam perpisahan sekolah.
Di dalam mobil, Bianca justru aktif menyulut api di dalam tubuh Gavino yang gemetaran. Selain belum terbiasa, Gavino juga tidak ingin membuat Bianca kecewa, dengan melakukan apa-apa yang sebenarnya diinginkan oleh Bianca sendiri.
Tapi karena tangan Bianca yang lembut terus membuatnya semakin bergairah, akhirnya Gavino hanya bisa mengikuti pergerakan tubuhnya yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan.
Selain pergolakan batin yang tidak bisa dilakukan oleh Gavino, semua ini adalah pengalaman pertamanya menyentuh bagian-bagian tubuh cewek.
Tentu saja tangannya suka asal.
Namun itu membuat Bianca semakin beringas. Dengan menaikkan kaki Gavino, berusaha untuk membuka celana panjang yang dikenakan oleh Gavino malam itu.
Gavino pasrah, di saat tangan halus Bianca mencapai senjatanya yang telah berdiri sejak tadi. Dan itu membuat Bianca tersenyum senang. Karena ternyata, Gavino normal. Tidak seperti dugaannya selama ini.
"Vin..."
Suara parau yang keluar dari mulut Bianca adalah pertanda bahwa, dia sudah sangat terpengaruh oleh suasana di dalam mobil.
Dengan menganggukkan kepalanya, Gavino memberikan ijin pada Bianca. Untuk melakukan sesuatu yang dia inginkan pada senjatanya yang saat ini ada di dalam genggaman kedua tangan Bianca.
Hangat menyelimuti seluruh tubuh Gavino.
"Sssttt... huhhh..."
Suara yang terdengar dari mulut Gavino, membuat Bianca semakin cepat me_maju mundurkan tangannya.
Bahkan, bibirnya berusaha untuk mencapai bibir Gavino, agar tidak banyak mengeluarkan suara gaduh.
"Vin..."
Satu tangan Gavino yang masih berada di atas dada Bianca, di tuntun untuk ke arah bawah inti dari tubuhnya.
Bianca juga menginginkan Gavino melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada senjatanya saat ini.
Anggukan kepala Bianca, membuat Gavino tidak bisa menolak permintaan tersebut.
Dan jadilah mereka saling memuaskan keinginan mereka berdua, hanya dengan tangan yang bekerja. Karena Gavino tidak mau melakukannya dengan benar.
Dia tidak mau terjadi sesuatu pada Bianca yang akan segera pergi untuk kuliah ke Paris. Seperti hamil misalnya. Karena itu bisa menghancurkan masa depan Bianca sendiri.
Itulah malam panjang dan panas yang dilalui Gavino bersama dengan Bianca di dalam mobilnya. Dan setelah itu, mobil Gavino terparkir di dalam garasi di rumahnya. Tidak pernah dia pakai lagi, karena takut kenangan itu akan membuatnya mengenang Bianca.
Flashback end.
__ADS_1
*****
Pluk!
"Gavin. Hai Gavin!"
Gress memanggil nama Gavino beberapa kali. Bahkan dia juga menepuk lengan Gavino. Karena saat ini, justru Gavino yang ganti melamun. Sama seperti yang tadi dilakukan oleh Gress.
"Eh..."
"Apa yang Kamu lamunkan?" tanya Gress, setelah Gavino tersadar dari lamunannya.
"Huhfff... tidak ada."
Gress tersenyum tipis, mendengar jawaban yang diberikan oleh Gavino barusan. Karena dia tidak mungkin bisa percaya begitu saja. Karena jelas-jelas Gavino memang sedang melamun tadi.
Akhirnya Gress mengajak Gavino untuk pergi dari kafetaria kampus ini.
"Ayo pulang saja. Kelas juga tidak lagi. Hanya tugas saja yang ada. Kita kerjakan di kamarku saja ya Gavin!"
Gavino menatap Gress dengan memicingkan matanya, karena mendengar kata kamar.
"Jangan salah paham. Kamu kan tahu sendiri, flat ku kecil, jadi ruang tamu ya... sama aja ada di kamar itu juga." Gress memberikan penjelasan, supaya Gavino bisa mengerti dengan keadaan dirinya yang hidup di flat.
"Siapa? cewek-cewek yang biasa antri buat liatin Kamu? ogah!"
Jawab tegas Gress membuat Gavino membuang nafas panjang. Karena itu memang benar adanya.
Jika mengajak mereka, atau salah satu dari mereka, yang ada bukannya tugas kuliah selesai. Tapi mereka yang ribut sendiri dengan cara mereka yang ingin mendapatkan perhatian dari Gavino.
Akhirnya Gavino menurut saja, apa yang dikatakan oleh Gress.
Dan sekarang, mereka berdua pun pergi meninggalkan kafetaria kampus. Untuk pergi ke area parkir mobil.
Sekarang, mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Menuju ke flat miliknya Gress.
Tak butuh waktu lama, mobil Gavino sudah berada di depan bangunan flat yang ditempati oleh Gress selama ini.
"Ayo!" ajak Gress membuka pintu mobil.
Gavino pun melakukan hal yang sama. Dia keluar dari dalam mobil, kemudian mengekor di belakang Gress menuju ke arah kamarnya yang ada di di lantai tiga.
Flat yang tidak terlalu buruk.
__ADS_1
Kamar Gress yang kecil, ada satu tempat tidur yang hanya bisa ditempati satu orang saja.
Ada satu sofa panjang, meja belajar yang menjadi meja rias juga. Dengan satu kursi yang bisa diputar. Sama seperti kursi-kursi yang ada di kantor.
Di sebelah kiri, ada pintu lainnya, yang merupakan pintu kamar mandi.
Ada lemari pakaian dan lemari pendingin berukuran sedang, yang mejadi pemisah antara kamar dan dapur mini, karena hanya digunakan untuk memasak makanan ringan, seperti mie atau kopi. Karena semuanya mengunakan listrik. Dengan satu microwave kecil untuk menghangatkan makanan juga.
Semua yang ada di dalam kamar tersebut, tidak luput dari perhatian Gavino.
"Aku pergi ke kamar mandi sebentar. Duduklah!" pamit Gress, dengan mempersilahkan Gavino untuk duduk di sofa, yang memang satu-satunya ada di dalam kamar ini.
Gavino hanya mengangguk saja, kemudian mendudukkan dirinya di sofa tersebut.
Dari dalam kamar mandi, terdengar suara air keluar dari dalam kran. Membuat Gavino berpikir yang tidak-tidak.
'Sialll! Ada apa dengan pikiranku ini? Sejak mengingat Bianca, pikiranku jadi kacau begini.' batin Gavino, mencoba untuk membuang pikirannya sendiri tetang hal-hal yang tidak dia inginkan.
Tak lama kemudian, akhirnya Gress keluar juga dari dalam kamar mandi.
Wajahnya tampak segar dengan tetesan-tetesan air yang ada di wajahnya. Meskipun sudah di lap dengan handuk kecil, yang masih berada di tangan Gress sekarang.
Gavino menelan ludahnya sendiri, melihat pemandangan yang ada di depan matanya.
Apalagi sekarang, Gress hanya mengunakan kaos oblong longgar, yang sepertinya tidak mengunakan bra_nya.
Tentu saja ini membuat gunung kembarnya terlihat menggantung dengan sempurna di depan dada.
"Gavin. Mau kopi apa teh?"
Gress menawari Gavino, sebelum dia berjalan menuju ke arah dapurnya.
"Su... susu," jawab Gavino dengan suara yang terdengar tidak jelas ditelinga Gress.
"Apa Gavin?" tanya Gress berbalik. Membuat mereka berdua saling berhadapan, meskipun dengan posisi yang berbeda.
Gavino sedang duduk di sofa, sedang Gress berdiri di depan lemari pendingin. Ada di dekat pintu kamar mandi.
Gavino tidak langsung menjawab pertanyaan dari Gress. Dia justru berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke tempat Gress berada.
Tatapan mata Gavino tajam mengarah pada bibir Gress yang ranum sempurna, tanpa polesan lipstik. Sebab dia baru saja selesai mencuci mukanya.
Gress bingung dengan sikap Gavino yang tidak biasa ini.
__ADS_1
'Apa yang ingin dilakukan Gavino padaku?' batin Gress bingung. Di saat tangan Gavino memegang dagunya, supaya bisa sejajar dengan muka Gavino sendiri.