
"Aku sudah memberi tahu Gavin, jika kita sudah bertemu dan saling bicara tentang dia. Bagaimana hubungan dia dengan Kamu dan juga Aku. Semua tentang hal ini, dan Aku mengatakan jika hubungan kita baik-baik saja sama dia."
Bianca membulatkan matanya, di saat mendengar perkataan Gress tadi.
Dia tidak pernah menyangka, jika gadis dari kekasihnya Gavino, ternyata bisa se_terbuka itu dengan Gavino. Dan Gress juga mengatakannya dengan datar, seolah-olah tidak punya perasaan cemburu atau sakit hati sama sekali.
"Kamu, Kamu tidak berusaha untuk meyakinkan Vin untuk memilihmu saja?" tanya Bianca, yang merasa jika tidak semua cewek, menerima gadis lain dari kekasihnya.
"Mau bagaimana lagi. Kamu tentunya juga tahu, jika Aku tidak mungkin bisa kehilangan dia. Begitu juga dengan Gavin, yang tidak bisa meninggalkan Kamu. Jadi, kenapa Aku tidak bisa mengalah untuk bisa menerima keadaan kalian berdua. Dia juga bisa membagi waktunya untuk kita berdua selama ini."
Akhirnya Bianca menganggukan kepalanya, setuju dengan apa yang dikatakan oleh Gress. Gadis dari kekasihnya itu, yang ternyata memiliki jiwa yang besar. Dengan menerima dirinya sebagai gadisnya Gavino juga.
"Tapi Aku tidak akan pernah mau mendukung, jika dia memiliki gadis lain lagi." Gress menyatakan menolak dengan tegas. Seandainya kedepannya nanti, Gavino akan memiliki, atau punya gadis lain selain mereka berdua.
Dan hal itu diangguki juga oleh Bianca.
"Aku juga tidak mau!" tegas Bianca mengatakan, jika dia juga tidak setuju.
"Kita tidak egois kan?" tanya Gress, atas pendapat mereka berdua ini.
"Tentu saja tidak! Kita sudah bisa menerima keadaan kita yang menerima dia seperti ini. Tapi jika untuk satu orang lagi, Aku tentu akan menolaknya." terang Bianca, dengan mengatakan alasannya. Tentang situasi yang mereka hadapi.
Gress mengangguk setuju, dengan apa yang dikatakan oleh Bianca.
Itulah pertemuan mereka untuk yang kesekian kalinya, di saat mereka sudah bisa menerima keadaan masing-masing. Sebagai gadisnya seorang Gavino.
Gress melakukan semua ini bukan tanpa alasan. Dia bisa menerima Bianca sebagai gadisnya Gavino, karena dia tidak mau menerima nasib yang sama, seperti nasib mendiang mamanya.
Menurut penuturan papanya, Thomas Bryan, sang mama terlalu egois dan mengekang Thomas Bryan. Yang pada saat itu, memiliki dua kekasih lain. Satu seorang gadis dan satu lagi seorang laki-laki.
Jadi, kelainan yang dimiliki oleh papanya itu memang sudah sejak dulu. Dan mamanya tidak menyukai hal tersebut, sehingga menolak dengan tegas dan berlaku kasar pada kandungannya. Yang baru diketahui setelah hamil tiga bulan.
Dan untuk keamanan calon bayi tersebut, yaitu Gress, Thomas Bryan memperlakukan gadisnya itu seperti seorang tahanan. Kemudian dia segera memisahkan Gress yang baru saja lahir, dengan sang mama. Yang pada saat itu sudah seperti orang yang hilang ingatan. Karena diperlakukan sebagaimana layaknya seorang tahanan.
Akhirnya setelah melahirkan, dengan terpaksa Thomas Bryan menyuruh anak buahnya untuk mengeksekusi mantan gadisnya. Yang baru saja melahirkan anaknya. Yaitu Gress.
Demi keamanan sang anak, dia meminta pada anak buahnya untuk membawa bayi tersebut ke Amerika, untuk diamankan di sana saja.
Sebenarnya Gress merasa sedih, mendengar cerita tersebut. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan papanya, yang memiliki profesi dengan dua kategori. Yaitu seorang pengusaha dan juga ketua mafia.
Gress juga baru tahu jika papanya itu adalah seorang ketua mafia, setelah papanya mengakuinya sendiri. Selesai bercerita tentang keadaannya sewaktu baru lahir.
Awalnya Gress juga marah, tapi lama-lama dia berpikir bahwa, semua sudah menjadi nasibnya. Jadi tidak perlu ditangisi atau disesali untuk semua yang sudah terjadi.
Itulah sebabnya, sekarang ini dia berusaha untuk bisa berpikir panjang. Pada saat mengalami nasib yang hampir sama seperti mamanya. Yaitu menjadi gadisnya seorang Gavino, yang ternyata juga berprofesi sama seperti papanya.
__ADS_1
Dia tidak mau kehilangan Gavino juga, karena dia memang sudah terlanjur mencintai kekasihnya itu.
Untuk Bianca sendiri, dia juga tidak bisa menyalahkan Gavino. Yang sudah memiliki gadis lain yaitu Gress. Karena untuk hubungan mereka ini, dia adalah yang orang ketiga. Karena dia masuk ke dalam kehidupan Gavino, di saat Gavino sudah memiliki hubungan Gress.
Dia hanya beruntung, karena dia pernah menjadi gadis yang paling dekat dengan gavino di masa sekolah.
Itulah sebabnya, dia juga tidak permasalahkan jika Gavino masih tetap mempertahankan Gress, meskipun Gavino juga tidak bisa melepaskan dirinya.
Sebab karena itu juga, dua gadis itu memiliki sebuah kesepakatan. Bahwa mereka tidak akan menekan kekasihnya itu, untuk memilih diantara mereka berdua. Yang penting, tidak ada gadis lain, atau laki-laki lainnya, yang akan menjadi kekasih Gavino lagi.
Hal ini membuat Gavino merasa lebih lega, karena dia tidak perlu sembunyi-sembunyi. Di saat dia ingin berkunjung ke tempatnya Bianca ataupun Gress.
Keberuntungan bagi Gavino, karena memiliki dua gadis yang cantik, dan juga pengertian dengan keadaan dirinya.
Tapi mereka berdua juga tidak ada yang tahu, jika umur yang dimiliki oleh Gavino sudah ditentukan oleh sistem. Yaitu sekitar 6 tahunan.
*****
( Ting )
( Selamat malam Good Father )
'Apa ada berita yang penting, sehingga Kamu aktif sendiri tanpa Aku minta?'
( Ting )
( Hati-hati untuk dua hari ke depan )
'Ada apa dengan dua hari ke depan nanti?'
( Ting )
( Musuh lebih baik dalam strategi )
'Maksudnya, akan ada sesuatu yang terjadi dan itu berbahaya?'
( Ting )
( Benar Good Father )
( Asli dan palsu banyak beredar )
'Aku tidak tahu, apa maksud dari informasi yang Kamu sampaikan ini. Apa tidak bisa lebih jelas lagi?'
( Ting )
__ADS_1
( Good Father sudah pernah mengalaminya )
'Ini seperti sebuah misteri, dan Aku harus bisa memecahkannya sendiri. Sama seperti biasanya. Apa begitu?'
( Ting )
( Benar Good Father )
( Apa itu kira-kira? )
( Ting )
( Sistem tidak bisa mencarikan informasi )
'Hahhh! baiklah. Aku akan berusaha untuk mencarinya sendiri. Terima kasih sudah memberikan pesan ini.'
( Ting )
( Sama-sama Good Father )
( Ting )
Layar sistem menghilang dari pandangan mata Gavino, sehingga ia menghela nafas panjang.
Setelahnya, Gavino duduk di tepi tempat tidur. Dengan memegang handphonenya. Dia ingin menghubungi anak buahnya yang sedang menjaga Robert. Untuk bertanya tentang keadaan pamannya itu.
Tut tut tut!
..."Ya Tuan Muda!" ...
..."Apa tidak ada keluhan apa-apa dari paman? apa saat ini dia sedang tidur?" ...
..."Tidak ada Tuan Muda. Tuanku Robert juga sudah tidur sejak 1 jam yang lalu. Setelah meminum obatnya." ...
..."Baiklah. Tetap berjaga, dan waspada pada siapapun. Pastikan Kamu juga ada di dalam kamarnya,dan memperhatikan siapa saja yang masuk ke dalam. Jika ada dokter atau perawat yang datang menyuntikkan obat atau apa pun ke selang infus, segera konfirmasi dan catat namanya." ...
..."Baik Tuan Muda."...
Klik!
"Huhfff..."
Gavino membuang nafas lega, setelah memberikan arahan dan pesan pada anak buahnya. Yang saat ini sedang berjaga di rumah sakit.
Dia memberikan pesan seperti itu, karena mengingat kejadian yang pernah dialami oleh papa dan mamanya. Di saat berada di rumah sakit, kemudian ada dokter maupun perawat, yang menyamar untuk memberikan obat yang salah pada Giordano dan Mirele. Yang pada saat itu, baru saja mengalami kecelakaan. Sama seperti yang dialami oleh Robert kemarin.
__ADS_1
Gavino tidak mau kecolongan untuk kedua kalinya, sehingga bisa membuat Robert kehilangan nyawanya. Dan itu karena ulah dari musuh-musuhnya.