
Keadaan di dalam gedung, tak jauh dari tempat Gavino berada.
"Kita pastikan dia datang atau tidak, karena keadaan di rumah sakit juga mengharuskan dia tidak mungkin bisa meninggalkan kedua orang tuanya di sana."
Tenyata semua kekacauan yang terjadi di rumah sakit, terutama pada Giordano dan Mirele, adalah ulah kawasan Verdi dan kawan-kawannya. Yang sengaja membuat ulah, agar Gavino gagal datang ke tempat transaksi.
Mereka salah. Karena pada kenyataannya, saat ini Gavino sudah ada di luar gedung tempat mereka berkumpul.
"Bos, ternyata cecunguk itu sudah tidak ada di rumah sakit Bos!"
"Maksudnya, dia sudah datang ke sini?"
"Bisa jadi Bos," jawab anak buahnya Verdi.
"Ya sudah, ayo semua bersiap!"
"Baik Bos!"
Mereka pun akhirnya menempatkan diri masing-masing, sesuai dengan formasi yang sudah direncanakan sedari awal. Untuk menghadapi Gavino.
Sedangkan di sebuah kamar, di salah satu gedung terdekat, ada seseorang yang mengamati semua tindakan mereka dengan mengunakan teropong kecil. Tapi tentunya dengan kecanggihan yang tidak biasa.
"Ternyata benar kata Gavino. Geng sekecil ini tidak bisa diremehkan begitu saja. Kegiatannya saja sudah level tinggi. Bagaimana dengan geng yang ada di atasannya?"
"Ck ck ck... benar-benar mereka ya!"
Sang Kapten mengelengkan kepalanya beberapa kali, melihat semua persiapan yang ada di tempat yang sedang dia pantau.
"Tapi... Gavino di mana?"
Teropong yang ada di tangannya, di alihkan ke beberapa tempat disekitar orang-orang yang tadi sedang dia intai. Dia ingin mengetahui keberadaan Gavino. Pemuda yang sudah banyak membantunya, dalam pekerjaannya selama ini.
Dan pada saat dia melihat sekelebat bayangan dengan gerakan cepat, sang Kapten merasa yakin. Jika bayangan tersebut adalah Gavino.
"Ternyata perhitungan waktu yang dia lakukan tidak meleset."
Kini, dia pun mengaktifkan alat komunikasi yang tidak bisa dilacak dan dilihat oleh orang lain.
..."Gavin, halo! Kamu sudah ada di tempat?" ...
..."**Halo. Sudah Kapten. Kita ikuti saja kemauan mereka terlebih dahulu." ...
..."Iya-iya siap**!" ...
Alat komunikasi itu akan terus aktif, untuk komunikasi mereka. Dan itu akan lebih memudahkan mereka berdua, untuk saling tahu, mendengar suara satu sama lain. Untuk keberhasilan mereka malam ini.
..."**Hati-hati Gavin. Mereka semua sudah ada dalam formasi yang sudah mereka persiapkan."...
..."Di luar gedung ada berapa Kapten?" ...
__ADS_1
..."Sepertinya ada lima orang. Aku bereskan yang ada di balkon lantai atas. Kamu bersiap ya masuk ya!" ...
..."Siap Kapten**!" ...
Setelah melakukan persiapan dalam waktu singkat, Gavino membuka gerbang besi, yang ada di depan bangunan tua di depannya.
Kriettt!
Dia pun dengan langkah tenang masuk ke dalam bangunan.
Plokkk plokkk plokkk!
Suara tepukan tangan terdengar, begitu Gavino masuk ke dalam bangunan besar tapi menyeramkan.
"Wah-wah hebat! Ternyata pemberani juga dia datang ke sini. Sendirian lagi."
Sekarang, suara Verdi menyambutnya. Tapi keberadaan Verdi tidak bisa dilihat dengan jelas oleh Gavino. Karena di dalam gedung justru lebih gelap lagi keadaannya.
Mereka, Verdi dan kawan-kawannya, mengunakan kacamata khusus, yang membuat pemakainya bisa melihat dalam keadaan gelap tanpa penerangan.
Tapi mata, telinga dan perasaan awas Gavino, bisa mengira-ngira sendiri. Di mana mereka berdiri saat ini.
"Terima kasih atas undangannya Verdi."
Gavino justru menimpali perkataan Verdi dengan tenang, dan tidak terdengar sedang dalam keadaan takut sama sekali.
"Cihhh! Sok jagoan!"
"Apa yang Kamu inginkan Verdi? Kenapa Kamu melakukan semua ini pada papa dan mamaku?"
"Hahaha... ternyata Kamu peka juga dengan semua yang terjadi dalam seharian ini."
"Sorry Gavino. Seharusnya itu adalah Kamu yang berbaring di ranjang rumah sakit. Atau bisa juga, Kamu sudah ada di neraka saat ini."
"Sayangnya anak buah Ku salah sasaran, sehingga nyawamu masih bisa membawamu ke mari. Tapi tak apa, Aku tetap merasa senang. Karena masih bisa melihatmu untuk terakhir kalinya, sebelum Aku kirim Kamu ke neraka saat ini juga!"
"Hahaha..."
"Hahaha..."
Verdi dan anak buahnya, yang saat ini menyambutnya, tertawa terbahak-bahak saat selesai mengolok-olok Gavino.
Tapi Gavino tidak mau menanggapi perkataan Verdi ataupun olok-olok darinya.
Dia sudah tahu semuanya, jika apa yang terjadi pada Giordano dan Mirele tadi pagi adalah ulah orang suruhannya Verdi.
Begitu juga saat di rumah sakit.
Orang-orang yang menyamar sebagai perawat, dan penyusup yang memberikan obat pada papa dan mamanya adalah orangnya Verdi juga.
__ADS_1
Dan kini, semuanya sudah jelas. Bahkan Verdi mengatakannya sendiri.
"Mana mesin pencetak uang palsu itu?" tanya Gavino tanpa basa-basi.
Dia tidak mau membuang-buang waktu, untuk meladeni semua ocehan Verdi yang tidak ada gunanya sama sekali.
"Ck! Gak sabaran juga Kamu. Padahal sebagai teman yang sudah tidak lagi bertemu dalam waktu yang lama, Aku ingin berbincang-bincang terlebih dahulu," dengus Verdi kesal.
"Bukannya Aku ke sini atas undangan yang Kamu berikan? Dan itua hanya untuk mesin tersebut kan?" tanya Gavino mengingatkan pada Verdi.
"Hahaha... Kamu selalu to the point!" sindir Verdi mencibir.
"Tapi... Aku belum memegang mesin itu. Bagaimana jika kita menunggunya sebentar. Mereka masih dalam perjalanan ke sini."
Sepertinya, Verdi sengaja mengulur waktu. Supaya Gavino kesal dan menyerang dirinya terlebih dahulu.
..."Hati-hati Gavin. Mereka semua memegang senjata api. Kamu tidak bisa melihat mereka kan? Tapi mereka bisa melihatmu dengan jelas. Karena kacamata yang mereka pakai, kecanduannya sama seperti teropong yang Aku pakai ini." ...
Suara sang Kapten terdengar memperingatkan Gavino. Dia tahu situasi yang dihadapi oleh Gavino, karena dia bisa dengan jelas melihat ke seberang sana.
Gavino hanya diam, dan tidak mengeluarkan suara. Agar Verdi dan semuanya tidak curiga, jika dia sedang dalam pantauan sang Kapten.
..."Aku sudah membereskan anak buahnya yang berjaga-jaga di balkon lantai atas."...
Sang Kapten kembali memberitahu pada Gavino, dengan maksud untuk membuat Gavino lebih tenang.
"Sebenarnya Aku tidak banyak waktu Verdi. Karena Kamu tahu sendiri kan, semua kekacauan di rumah sakit. Jadi..."
"Ah, banyak baco.tan Kamu!"
Bug!
"Ahhh!"
Verdi mengumpat sambil melayangkan bogem mentah ke arah Gavino. Tapi dia juga yang ternyata menjerit keras karena kesakitan.
"Bos!"
Anak buahnya tentu bisa melihat dengan jelas, bagaimana cara Gavino melayangkan bogem yang sama pada Verdi. Karena mereka juga menggunakan kacamata khusus tersebut.
Mereka bisa melihat tangan Verdi yang belum sebelum sempat menyentuh badan Gavino. Tapi justru Verdi sendiri yang berteriak kesakitan. Saat bogem yang dilayangkan Gavino mengenai perutnya.
"Serang!"
Salah satu dari anak buah Verdi, memberikan aba-aba pada temannya yang lain. Karena melihat keadaan Bos_nya yang jatuh tersungkur di lantai.
Bag! Big! Bug!
Dug!
__ADS_1
"Arghhhh!"
Kekacauan dan perkelahian pun tidak bisa dihindari lagi.