
Pihak hotel ternyata sudah menerima pesanan yang dibuat oleh Gavino, sehingga mereka menyiapkan helikopter di atap gedung hotel ini. Untuk keperluan mengantarkan Gavino ke bandara besok pagi, meskipun tidak menggunakan pesawat pribadi milik Thomas Bryan. Karena Gavino hanya ingin naik pesawat komersil biasa.
Tapi pihak hotel memesankan tiket pesawat penumpang VVIP, dan bukan hanya bisnis biasa.
George tentu saja sangat kagum dengan kinerja Gavino yang luar biasa. Tidak seperti yang ada di dalam bayangannya sebelum ini.
"Ternyata dia sangat cerdas, tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Dia jauh lebih berpengaruh dibandingkan diriku sendiri, yang sudah lama bergelut di dunia mafia. Hebat sekali dia."
George benar-benar mengagumi seorang Gavino dalam hatinya. Tapi dia tetap tidak mau mengakuinya, karena dia merasa lebih tua dibandingkan dengan Gavino yang jauh di bawah umurnya. Gavino masih anak muda, dan belum punya pengalaman di dunia Mafia, sama seperti dirinya.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di kota Roma pada malam hari.
George dan Gavino langsung pulang ke rumah, karena sudah ditunggu oleh robert dan yang lainnya juga.
"Kita langsung pulang ke rumah. Besok aku langsung ada kegiatan," kata Gavino pada George, yang duduk di samping supir.
Mereka memang di jemput oleh supir rumah.
"Iya-iya. Aku tahu apa kegiatanmu." sahut George datar.
"Kamu sudah tahu, jadi tidak perlu Aku jelaskan bukan?" Gavino justru memberikan tanggapan datar, tanpa memberikan keterangan apapun tentang kegiatannya besok pagi.
George semakin mengagumi Gavino, yang ternyata memang layak untuk menjadi pimpinan tertinggi menggantikan king Black suatu hari nanti, sama seperti kakeknya yang dulu memegang tampuk kekuasaan di keanggotaan mafia mereka.
Begitu sampai di rumah, Robert juga sudah ada di rumah. Dia menyambut kedatangan Tuan muda dan rekannya itu, dengan senang hati. Merangkul keduanya secara bergantian.
"Selamat datang kembali Gavino dan George. Mari kita makan malam bersama. Aku sudah meminta koki untuk memasak spesial untuk menyambut kedatangan kalian berdua."
"Kamu sudah menyiapkan segalanya Robert, terima kasih ya," ucap Gavino pada Robert, yang juga menjaga Gress selama dia tidak ada kemarin-kemarin.
"Ayo George!" ajak Robert, melihat George yang hanya diam saja sedari tadi.
"Tentu saja Aku akan ikut. Aku juga lapar, tidak hanya kalian saja yang lapar! Sial_lan Kamu Robert!"
__ADS_1
Gavino dan Robert justru terkekeh, tapi tidak menanggapi umpatan George yang memang tidak serius.
Mereka akhirnya makan bersama dengan yang lainnya juga, karena memang itulah kebiasaan mereka selama ini.
Beberapa saat kemudian, mereka selesai menikmati makan malam bersama, untuk pertama kalinya, setelah Gavino dan George pulang dari Paris.
Mereka berbincang di ruang tengah seperti biasanya, jika sedang berkumpul.
"Kamu tidak istirahat Gavino, George. Soalnya kalian baru pulang dari perjalanan jauh. Pasti itu membuat kalian capek. Jadi silahkan beristirahat di kamar. Aku tidak apa-apa sendiri," terang Robert yang tahu kondisi mereka berdua.
Robert meminta Gavino dan juga George, untuk beristirahat saja. Dia tidak meminta mereka berdua untuk langsung berbincang-bincang bersama dengannya seperti dulu.
"Tidak apa-apa. kami tidak capek, karena pekerjaan di paris itu tidak melelahkan, tidak merepotkan seperti yang kita bayangkan sebelumnya." George memberikan penilaian.
Robert pun bingung mendengar perkataan George, yang mengatakan bahwa pekerjaan di Paris tidaklah berat dan juga rumit.
"Maksudmu, apa kalian berhasil?" tanya Robert ingin tahu.
"Kamu pikir kami gagal? tentu saja kami berhasil. Kalau tidak, kami tidak mungkin pulang dalam keadaan selamat. Mungkin kami sudah ada di neraka sekarang ini, jika gagal dalam pekerjaan kami kemarin."
Gavino yang paham dengan maksud Robert, membenarkan perkataan George tadi.
"Kami berhasil Robert," terang Gavino sambil tersenyum tipis.
"Jadi benar kalian berhasil? lalu bagaimana king Black?" tanya Robert ingin penjelasan yang lebih lanjut.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, akhirnya George menceritakan tentang bagaimana keadaan king Black, yang sekarang ini justru sudah tunduk pada Gsvino. Dan tidak lagi seperti dulu, yang menjadi ketua Mafia paling ditakuti oleh siapapun.
"Tadi maksud dari perkataan yang mengatakan bahwa, sekarang yang memegang tampuk kepemimpinan mafia bukan lagi king Black tapi Gavino itu?" tanya Robert meminta penjelasan lagi.
Sebenarnya, Gavino tidak mau jika Robert tahu kebenaran tentang kejadian di Paris kemarin. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa George sudah pasti akan mengatakannya pada Robert. untuk memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Tentang apa saja yang terjadi di Paris.
Sebenarnya George sedikit kesal, karena Robert tidak paham juga dengan penjelasan yang dia berikan.
__ADS_1
Tapi George juga memaklumi, seandainya Robert tidak berlangsung percaya begitu saja. Karena dia sendiri juga tidak bisa percaya begitu saja, meskipun dia ikut bersama dengan Gavino ke Paris.
"Sudah-sudah. Kalian ini berdebat hal-hal yang tidak penting untuk diperdebatkan. Ayok Robert, George, beristirahatlah. Aku juga mau istirahat ini."
"Oh ya Gavino, Aku sudah menyampaikan bersamamu pesan mu, dan Gress bilang, dia menunggumu pulang."
Robert memberitahu Gavino tentang gadisnya yang kemarin-kemarin tidak bisa dihubungi. Karena ponsel Gress yang sedang rusak.
"Terima kasih Robert, Aku sebaiknya ke sana saja sekarang. Aku juga tidak mungkin bisa beristirahat dengan tenang, jika belum bertemu dengan Gress malam ini." Gavino justru memberikan tanggapan yang belum pernah dipikirkan oleh Robert.
"Tapi Kamu butuh istirahat Gavino!" Robert menasehati Gavino. Gress juga tadi kerja sampai malem, jadi mungkin dia juga baru istirahat," lapor robert pada Gavino.
"Tak apa, besok dia tidak usah berangkat kerja. Kamu kasih kerjaan Gress untuk orang lain. Aku mau ajak dia."
"Hai, Kamu tidak boleh begitu Gavino. Dia itu karyawan baru. Jangan Kamu manjakan. Nanti dia bisa tahu, siapa Kamu sebenarnya. Jika kamu bersikap seperti itu."
George berusaha untuk mengingatkan Gavino, agar tidak begitu terlihat berkuasa di kios warabala miliknya. Karena setahu Gress, Dia bukan siapa-siapa. Bukan pemilik kios, maupun warabala tersebut. Tapi Gavino hanya keponakan dari George, yang merupakan pemegang kios dan warabala di sana.
Robert ingin menengahi mereka karena George sudah keterlaluan mengatur Gavino, yang ingin mengajak kekasihnya saat dia pulang.
"George, mungkin Gavino ingin memberikan sesuatu kepada Gress. Biarkan saja."
Robert berusaha untuk memberikan nasehat pada George, agar tidak terlalu keras mengatur Gavino.
"Apa yang kamu katakan? Aku hanya mengingatkan dia!"
"Sudahlah, kalian diam. Aku akan pergi, tapi cuma sebentar. Nanti Aku pulang, dan Gress akan tetap berangkat kerja besok. Kadi kalian tenanglah."
Akhirnya George dan Robert sama-sama terdiam, setelah mendengar penjelasan dari Gavino. Karena pada akhirnya Gavino bisa bijak.
Sebenarnya, Gavino hanya ingin memberikan hadiah kejutan pada Gress. Yaitu handphone terbaru untuk pengganti handphone Gress yang rusak.
Untungnya, dia sudah menyediakan handphone tersebut. Jadi dia tinggal memberikannya kepada Gress nanti.
__ADS_1
Dengan bersemangat, Gavino menyetir mobil sendiri untuk pergi ke flat Gress.