Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Misteri


__ADS_3

'Siapa sebenarnya orang yang sedang menelpon ku ini. Dia sepertinya sangat tahu bagaimana keadaanku saat ini.'


Pertanyaan demi pertanyaan, muncul dibenaknya Gavino. Karena situasi yang sedang dia hadapi sekarang.


..."Bagaimana bocah?" ...


..."Aku tidak peduli!" ...


Klik!


Gavino memutuskan hubungan telpon sepihak, tanpa mau peduli kemauan orang di seberang sana. Dia tidak tahu, siapa orang tersebut. Dan apa yang diinginkan.


Jika terus meladeni telponnya, Gavino bisa kesal sendiri dan tidak bisa berkonsentrasi pada setir.


"Lebih baik Aku cepat pulang. Dari pada memikirkan banyak hal yang bukan urusanku juga. Jika orang tadi ingin hanya iseng, itu akan lebih tidak berguna lagi."


Dan begitulah akhirnya. Gavino melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Karena sedari tadi hanya pelan-pelan saja.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil Gavino memasuki halaman rumahnya. Setelah mobil dia parkir, dia masuk ke rumah dengan setengah berlari.


"Hai... hai! Apa yang terjadi? kenapa lari-lari?" tanya George terlihat khawatir. Karena Gavino berjalan tergesa-gesa dengan berlari kecil.


George sampai berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan mendekati Gavino yang hampir saja melewati tempanya tadi duduk. Bersama dengan Robert dan yang lain.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin ke belakang." Ucap Gavino, dengan tersenyum simpul.


Dia berkata seperti itu, agar George tidak mengkhawatirkan keadaan dirinya. Karena dia juga tidak mungkin membebani George atau yang lainnya, dengan permasalahannya di kampus barunya itu.


"Ya sudah saja buruan. Aku pikir ada apa," ketus George kesal.


Mungkin George merasa kesal, karena ternyata rasa khawatirnya tidak pada tempatnya. Sebab, pada kenyataannya Gavino tidak dalam masalah apapun.


Sekarang, George kembali ke tempat duduknya yang tadi. Bergabung lagi dengan yang lainnya.


"Dia sudah dewasa George. Bukan anak kecil yang selalu harus bicara jika sedang ada masalah." Robert ternyata punya pemikiran sendiri, dengan sikap Gavino tadi.


"Maksudmu?"


"Hhh... setiap anak laki-laki, tidak ingin dikatakan lemah. Jika hanya karena masalah kecil dengan teman harus mengadu pada orang tuanya atau meminta perlindungan."


Sepertinya Robert justru lebih paham dengan situasi ini.


"Kenapa Kamu bisa bilang begitu?" tanya George lagi penasaran.


"Aku... Aku pernah mengajar anak-anak George. Dan sedikit banyak Aku tahu, bagaimana karakter anak-anak tentunya."

__ADS_1


"Ohhh, Kamu seorang guru?"


George justru penasaran dengan pekerjaan Robert di masa lalu. Karena selama ini, mereka memang tidak pernah membicarakan tentang pekerjaan yang mereka lakukan pada waktu yang lalu.


"Ah, tidak apa-apa."


Jawaban yang diberikan oleh Robert, tidak memuaskan keingintahuan George tentang temannya, yang sekarang ini jadi asistennya.


"Sudahlah. Aku lapar, mau makan. Kamu tidak lapar?" tanya Robert mengalihkan perhatian.


Yang lain tampak berdiri. Tapi George mendengus kesal. Karena keingintahuan tadi tidak mendapatkan jawaban apa-apa.


Dengan terpaksa, George pun akhirnya berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan menyusul yang lain ke meja makan. Dan ternyata, Gavino sudah ada di antara yang lain. Duduk dan siap untuk makan malam.


*****


Di sebuah kamar apartemen.


Ketua senat mendapatkan kiriman video dan rekaman, yang saat ini di tangani oleh pihak keamanan kampus.


Rekaman tersebut dia dapatkan dari pihak keamanan, untuk mengajaknya bekerja sama dan mengusut kasus ini. Karena pihak keamanan merasa yakin, jika mahasiswa baru yang bernama Gavino itu bukan mahasiswa biasa. Sama seperti mahasiswa baru yang lain. Apalagi, beberapa hari yang lalu, pihak keamanan juga mendengar berita. Jika Gavino terlibat cekcok dengan beberapa senior saat perkenalan kampus.


"Shittt!"


Ketua senat mahasiswa, geram sendiri. Di saat mengenali beberapa suara yang dia kenal, dari rekaman yang dia dengar.


"Tapi, jika Aku menegurnya lagi, apa dia akan mengaku dan tidak lagi berbuat ulah?"


"Hhh... tapi jika tidak, kampus akan terkena masalah juga. Jika si Gavino dan kedua temannya yang dikerjai itu melaporkan masalah ini ke pihak berwajib."


"Untungnya, dia hanya melapor pada pihak keamanan kampus. Masih punya toleransi mereka. Atau, mereka ingin tahu. Bagaimana pihak kampus mengusut masalah ini?"


Berbagai macam pertanyaan dan praduga, membuat ketua senat mahasiswa itu menjadi pusing sendiri.


Hingga akhirnya dia pun mencari data mahasiswa baru, yang menjadi korban teman-temannya itu.


Daniel Huston, umur 20 tahun. Asal Italia. Pekerjaan orang tua, bekerja di departemen kesehatan di kota Roma.


Herry, umur 20 tahun. Asal Italia. Pekerjaan orang tua, bekerja di kejaksaan agung, bagian penasehat di kota Roma


Melihat data dua mahasiswa yang menjadi korban, ketua senat mahasiswa tersebut geleng-geleng kepala. Karena pada kenyataannya, korban bukanlah anak dari keluarga sembarangan.


Dan yang lebih menarik, sekarang ini dia melihat ke layar laptopnya. Memperhatikan informasi tentang Gavino.


Seorang mahasiswi cerdas, masuk dari jalur prestasi tanpa syarat apapun. Tapi menolak untuk menerima beasiswa dari yayasan. Dan melimpahkan beasiswa tersebut pada orang lain. Yang bahkan Gavino sendiri tidak mengenal mahasiswa tersebut.

__ADS_1


Gavino. Usia 18 tahun.


"Wow... ternyata masih sangat muda untuk ukuran mahasiswa. Pantas saja masih imut."


Ketua senat justru memuji Gavino tanpa sadar. Saat tahu identitas Gavino saat ini.


Gavino. Usia 18 tahun. Asal Italia, dari kota Monte Isola. Tinggal di kota Roma. Anak tunggal. Yatim piatu.


"Dia tidak punya orang tua lagi? Atau dia tidak tahu identitas asli nya, sehingga hanya dicantumkan sebagai anak yatim-piatu?"


"Jika memang yatim piatu, kenapa tidak dicantumkan nama ayah dan ibunya?"


Ketua senat justru tertarik dengan sosok Gavino, dengan identitas yang tidak biasa. Apalagi Gavino bukan asli dari kota Roma


"Aku harus mencari tahu, siapa sebenarnya Gavino ini."


Setelah mempelajari ketiga identitas mahasiswa yang membuat laporan. Dia menghubungi temannya, yang ada di antara salah satu tersangka.


..."Halo Jhon. Apa Kamu sedang ada di rumah? Maksudnya Kamu sedang tidak berada di luar dengan teman-temanmu?" ...


..."Aku sedang di luar rumah. Ada apa?" ...


..."Ada yang ingin Aku bicarakan denganmu. Dan ini sangat serius." ...


..."Heh Ketua senat! Tidak usah berbelit-belit. Bilang aja di sini, Kamu kan sedang menelpon ku. Bicara saja." ...


..."Tidak bisa Jhon. Harus ketemu." ...


..."Ahhh! Aku tidak bisa!" ...


..."Ini penting Jhon. Cepatlah datang ke apartemenku ya!" ...


Klik!


*****


Pagi harinya, sekitar jam 11 pagi, pihak apartemen dihebohkan dengan adanya penemuan mayat di atap apartemen.


Mayat tersebut ditemukan pihak cleaning servis, yang ingin membersihkan penampungan air di atas gedung.


Untuk sementara waktu, polisi menduga bahwa, korban melakukan bunuh diri. Karena ada senjata tajam yang ada di genggaman tangan korban sendiri.


Tidak ada jejak apapun, yang bisa mengarah pada kasus pembunuhan.


Tapi praduga ini masih dalam proses penyidikan lagi. Karena kamar sewa korban, ada di kamar yang lumayan jauh dari atap gedung apartemen ini.

__ADS_1


__ADS_2