
Di dalamnya alam yang berbeda itu, Gavino juga tidak mengingat apapun. Atas apa yang terjadi padanya. Sebab dia hanya mengingat masa sekolahnya dulu.
Saat itu, dia di bully teman-temannya. Tapi dia hanya diam saja, tanpa mau melakukan perlawanan apapun. Sebab dia merasa tidak memiliki apa-apa, yang bisa membuat teman-temannya itu takut. Baik itu berupa kekuatan pada dirinya sendiri, maupun kedudukan orang tuanya di dalam tatanan kehidupan masyarakat. Yang memang hanyalah buruh kasar biasa, dan bukan orang-orang terhormat dengan kekayaan dan kedudukan yang mereka miliki.
Tapi sekarang ini, Gavino tidak mau menyerah.
Dia segera berdiri dari posisi duduknya di lantai, kemudian menyebarkan pandangan dengan tatapan tajam. Untuk melihat situasi dan kondisi di ruangan tersebut.
"sebenarnya siapa yang sudah mengurungku di sini? Aku, kenapa Aku tidak ingat, siapa orang yang sudah membawaku ke sini?"
Tapi Gavino masih merasa penasaran, karena pada kenyataannya dia tidak bisa mengingat apapun. Yang membuatnya berada di ruangan gelap ini.
"Ahhh! qualunque cosa sia, non mi interessa! Di sicuro, mi assicurerĂ² di vendicarmi per il modo in cui mi hanno trattato."
"Br3ngs3k! Terserah siapapun orangnya yang sudah membawaku ke sini, memperlakukan Aku seperti ini. Aku pastikan akan membalas dendam pada mereka."
Begitulah tekad Gavino, yang memang berbeda dari pada saat dia usia sekolah.
Dia tidak mau mengulangi kesalahannya sendiri yang dulu-dulu, dengan merasa takut dan hanya bisa pasrah saja. Saat mendapat perlakuan yang tidak baik dari teman-temannya.
Sekarang inilah Gavino menggunakan hatinya, untuk bisa melakukan bales dendam. Dengan semua teman-temannya, yang sudah memperlakukannya dengan buruk.
Gavino mencoba untuk memejamkan matanya, supaya bisa berkonsentrasi. Dengan demikian, dia bisa merasakan ketenangan, sehingga bisa menyelami makna arti dari ruangan gelap yang menurunnya saat ini.
Dia yakin, jika akan menemukan jalan keluar dari ruangan gelap tersebut. Dengan cara melihat keadaan dalam keadaan tenang.
Setelah berusaha untuk bisa lebih tenang dan tidak terburu-buru, akhirnya Gavino melihat sebuah cahaya yang masuk. Dan kemungkinan besar itu adalah jalan keluarnya.
"Aku harus bisa keluar dari sini, dan membuat perhitungan dengan mereka!"
"Aku tidak mau ditindas terus! Non voglio essere vittima di bullismo!"
Gavino ternyata benar-benar lupa dalam keadaan yang sebenarnya. Jika dia sudah tidak lagi pada jaman sekolah, dan sudah menjadi ketua mafia yang juga ditakuti.
"Itu cahayanya tampak semakin jelas, Aku harus bisa keluar dari sini secepatnya!"
"Torno subito a saldare i conti con tutti voi!"
__ADS_1
"Tunggu saja, Aku akan segera kembali untuk memberikan perhitungan pada kalian semuanya!
Bless!
Tinggg!
"Arghhh..."
"Gavin, Gavin! Bangun Sayang!" Suara mamanya Gavino, Mirele, terdengar di telinga Gavino. Membuat Gavino segera sadar, kemudian berusaha untuk membuka mata.
"Ma... Mama?"
Gavino kaget, mendapati dirinya berada di rumah. Dan mamanya sedang duduk di tepi tempat tidurnya, dengan tersenyum lembut.
"Bagaimana lukanya? Apakah ada yang masih terasa sakit?" tanya Mirele, memperhatikan beberapa luka yang dimiliki oleh Gavino. Baik ada di tangan maupun punggungnya.
"Arghhh... ini masih terasa sakit Ma. Tapi, yang tangan sudah tidak terasa sakit."
Gavino menunjukkan tangannya, dengan cara menggerak-gerakkan tangannya sendiri, yang sudah tidak terasa sakit. Sedangkan yang masih terasa sakit, adalah yang ada di bagian punggungnya.
"Kamu makam dulu ya! Setelah itu minum obat. Biar lebih enakan dan tidak terasa sakit lagi?" usul Mirele, dengan mengambil piring yang tadi dia letakkan di meja kecil sebelah tempat tidurnya Gavino.
Tapi di saat Gavino makan dengan di suapi oleh mamanya, Mirele, tapi penuh drama. Karena Gavino yang tidak bersemangat untuk makan, papanya datang dengan membawa bungkusan makanan.
"Hai! Kamu sudah bangun Gavin. Ini Papa bawakan sup daging, supaya badanmu lebih hangat. Dan nafsu makan mau bertambah," terang Giordano, dengan menunjukkan bungkusan makanan yang dia tenteng.
"Wah Pa, itu pasti enak!" seru Mirele, dengan maksud supaya anaknya lebih tertarik dan mau makan lebih banyak.
Dan bener saja, Gavino tampak penasaran dan antusias. Di saat mamanya itu membuka bungkus makanan untuknya, yang tadi disebutkan papanya sebagai sup daging.
"Kamu mau makan sub ini?" tanya Mirele, setelah membuka bungkus makanan dan terlihatlah kepulan asap dari sup tersebut.
Sepertinya sup daging tersebut emang sangat lezat, sehingga menggugah selera makan Gavino.
"Gavin mau makan sup itu saja Ma!" punya Gavino, dengan menunjuk sup daging yang dipegang mamanya. Sehingga membuat kedua orang tuanya tersenyum puas.
"Ya sudah ini, makan yang banyak ya! Biar kenyang, sehingga bisa minum obat dengan lebih baik lagi nantinya."
__ADS_1
Gavino mengganggukan kepalanya cepat, karena sudah tidak sabar untuk menikmati sup daging yang di bawah oleh papanya tadi.
Giordano tersenyum senang, melihat keadaan anaknya. Yang sedang tertarik untuk segera menikmati sup yang dia bawakan.
"Papa mau ke kamar mandi dulu, papa juga mau kembali kerja. Kamu, lekas sembuh dan kembali sekolah ya!" ucap Giordano, penuh harap. Agar anaknya itu tetap bersemangat untuk bersekolah, bagaimanapun keadaannya.
Gavino hanya mengangguk saja, karena masih menikmati makanan. Sedangkan Mirele juga ikut mengangguk mengiyakan permintaan suaminya, sebenarnya ditujukan untuk anaknya itu.
Beberapa saat kemudian, setelah Gavino selesai makan.
"Ma. Gavin kelas berapa sekarang Ma?"
Ternyata Gavino lupa, bahwa saat ini dia berada di kelas berapa, dengan tingkatan sekolah yang jenjang apa.
Mendengar kebanyakan yang diajukan oleh anaknya, yang terdengar aneh. Membuat Mirele mengerutkan keningnya heran. Karena tidak menyangka jika, luka yang ada pada tubuh anaknya, ternyata membuat ingatan anaknya juga terganggu.
"Sayang. Kamu tidak perlu memikirkan banyak hal terlebih dahulu. Yang penting saat ini Kamu sembuh, baru pergi ke sekolah lagi. Besok-besok, Mama akan antar Kamu jika mau berangkat."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh mamanya, membuat Gavino mengganggukan kepalanya pelan. Karena sebenernya dia ragu, jika dia masih berstatus sebagai pelajar sekolah.
'Apa Aku sudah dikeluarkan dari sekolah? Sehingga tadi Papa bicara seperti itu, sedangkan Mama justru menjawab lain.'
Gavino justru memiliki pertanyaan yang berbeda, dengan kedua jawaban orang tuanya yang berbeda juga.
Sebab tadi Giordano dengan jelas memintanya untuk segera sembuh dan kembali sekolah. Tapi sekarang, mamanya justru mengatakan bahwa, dia tidak perlu memikirkan banyak hal tentang sekolahnya.
Tapi karena rasa lapar dan sup daging yang ada di depannya lebih menarik perhatian, akhirnya Gavino tidak lagi memikirkan hal tersebut.
Dia kembali menikmati makanan, yang tadi sempat tidak diperhatikannya.
Gavino ingin segera menghabiskan makanannya, kemudian minum obat dan beristirahat. Dengan harapan bahwa, nanti dia juga berpikir tentang banyak hal yang tidak diketahui saat ini.
Sepertinya ada banyak sekali teka-teki, dan rahasia yang tidak diketahui. Bahkan sengaja disembunyikan oleh ketua orang tuanya.
Gavino lupa dan tidak pernah menyadari, jika saat ini dia telah kembali ke masa lalunya. Di mana saat itu dia belum memiliki kekuatan sistem. Sebab dia memang belum mengaktifkannya, dan hanya selalu diam saja mendapatkan hinaan dan bully-an dari teman-temannya yang lain.
Tapi sepertinya saat ini waktu telah membawanya kembali ke masa lalu, untuk memberikan kesempatan padanya. Supaya bisa mengubah segalanya, sehingga keadaannya tidak memprihatinkan sama seperti dulu.
__ADS_1
Dan Gavino harus bisa memanfaatkan waktu ini, untuk mengubah segalanya agar bisa menjadi lebih baik lagi.
Mungkin ini adalah kesempatan yang diberikan oleh sistem padanya, sebelum keputusan sistem yang berkaitan dengan kegagalannya dalam menyelesaikan misi tantangan kemarin.