Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Kenangan Malam Itu


__ADS_3

"Apa, Kamu mau pergi ke mana?"


Gress bertanya dengan rasa terkejut, saat mendengar pembicaraan Gavino dengan seseorang. Sayangnya, dia tidak begitu mendengar perkataan Gavino lewat panggilan telpon tersebut.


Tapi Gavino juga tidak menjawabnya, karena masih berbincang-bincang dengan orang yang saat ini sedang berbicara dengannya melalui telpon.


Akhirnya Gress tidak bertanya lagi. Dia menunggu sampai Gavino selesai menelpon, kemudian barulah dia akan bertanya nanti.


Gress sibuk mengaduk-aduk gelas jus buah yang ada di depannya saat ini. Sedangkan Gavino, yang tadi menemani dirinya berada di kafetaria kampus, sekarang ini berdiri di dekat pagar pembatas tanpa peduli dengan dirinya.


Bukan. Bukannya tidak peduli. Tapi Gavino sedang fokus pada pembicaraannya di telpon. Dan entah siapa yang sedang dia berbicara di telpon tersebut. Gress juga tidak mengetahuinya.


Beberapa saat kemudian, barulah Gavino kembali ke tempat duduknya, yang berhadapan dengan Gress. Dan hanya terpisah dengan meja kecil, di mana ada dua gelas jus buah, sepiring kentang goreng dan pizza yang sudah tidak utuh lagi. Karena sudah ada beberapa potong yang di makan.


"Huhfff..."


Gavino sudah duduk kembali ke tempat duduknya semula, dengan membuang nafas panjang.


"Gavin. Tadi Kamu bicara dengan siapa?" tanya Gress tidak sabar, untuk mendapatkan penjelasan dari Gavino.


"Dengan temannya Papaku. Kenapa?"


"Emhhh... maaf. Tadi... tadi Aku sempat mencuri dengar Kamu berkata bahwa, Kamu mau pergi ke Paris. Apa itu benar?"


Pertanyaan yang diajukan oleh Gress, membuat Gavino terkejut. 'Apa Aku bicara begitu keras? sehingga dia bisa mendengarkan pembicaraanku tadi?' batin Gavino bertanya.


"Hai Gavin! Aku bertanya kok Kamu malah melamun. Jika Kamu tidak bisa menjawabnya, tidak apa-apa."


Gress berusaha untuk menetralkan suasana yang tampak sedikit tegang di antara mereka berdua, karena pertanyaan yang dia ajukan.


"Ehmmm... bukan. Bukan begitu maksudku Gress. Tapi... tapi ini belum pasti."


Akhirnya Gavino bisa memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Gress padanya, meskipun itu bukanlah jawaban yang sebenarnya.


Tapi ternyata Gress pun tidak meminta penjelasan lebih. Dia cukup dewasa, untuk tidak mencampuri urusan Gavino secara individual. Karena antara dirinya dengan Gavino memang tidak ada hubungan apa-apa, selain sebuah pertemanan biasa. Sama seperti yang lainnya juga.


Meskipun demikian, di dalam hatinya Gress tetap mempunyai harapan. Supaya Gavino bisa menjadikan dirinya sebagai seorang kekasih.

__ADS_1


Dia begitu mendamba Gavino, yang terkesan ramah, lembut, tapi juga misterius untuk bisa didekati dengan mudah. Karena pada kenyataannya, Gavino tidak semudah cowok lainnya. Untuk hal kedekatan antara cewek dan cowok, sebagaimana mestinya di negara sebebas ini.


Menurut Gress, hubungan pertemanan dan yang lebih, di negara asalnya, Amerika sana, dengan Itali tentu tidak jauh berbeda.


Ada banyak hal yang bisa dijumpai untuk sebuah hubungan yang lebih intim, meskipun tanpa adanya ikatan cinta atau pernikahan. Karena sudah menganut paham kebebasan.


Tapi ternyata itu tidak dijumpai pada Gavino.


Pada saat Gavino mencium bibirnya pun, itu hanya sekilas saja. Karena Gress yang sudah menginginkan sebuah ciuman panjang, ternyata tidak mendapatkan kesempatan tersebut.


Nyatanya Gavino justru pamit, sehingga dia pun terpaksa harus segera turun dari dalam mobil Gavino malam itu.


Ctik!


Jari Gavino dijentikkan di depan wajah Gress, yang membuat Gress tersadar dari lamunannya.


"Ehh, emhhh... gimana-gimana? tadi kita bahas udah sampai di mana?" tanya Gress gugup. Karena ketahuan sedang melamun.


"Cosa stai sognand?"


"Kamu sedang melamun kan apa Gress?" tanya Gavino, dengan memperhatikan wajah Gress yang sedang gugup.


"Maaf. A_aku... Aku tidak mendengar Kamu bertanya apa tadi."


Gavino tersenyum tipis, mendengar perkataan Gress yang tidak sesuai dengan pertanyaannya.


Dia tahu, Gress sedang melamun tentang dirinya.


Gavino sadar, jika Gress mendamba dirinya juga. Sama seperti cewek-cewek yang sering melihatnya dengan tatapan lapar.


Tapi Gavino juga tahu diri. Bahwa dia tidak mau melakukan apa-apa, jika dia memang sedang tidak menginginkan cewek tersebut.


Dulu, Gavino hampir saja kebablasan dalam melakukan sesuatu pada Bianca. Untungnya, kesadarannya masih menguasai hatinya pada malam itu. Di saat malam perpisahan sekolahnya yang dulu.


Flashback ke malam perpisahan sekolah.


Bianca menjadi pasangan Gavino, dan Lorenzo berpasangan dengan Madalena. Sedangkan Cardi, Jeffrie dan Dante, juga bersama dengan pasangan mereka masing-masing.

__ADS_1


Mereka semua berpasangan, dan mengikuti semua acara perpisahan sekolah dengan khidmat. Sama seperti siswa siswi yang lain.


Pada saat acara dansa, mereka juga masih bersama. Ikut berdansa juga secara rame-rame.


Sayangnya, dipertengahan acara, pasangan demi pasangan menghilang satu persatu. Dengan berbagai macam alasan.


Ada yang pulang karena diberikan batasan waktu dari orang tua. Ada juga yang ingin menikmati malam perpisahan di sekolah, sehingga pergi dari acara tersebut sebelum selesai semuanya.


Bahkan, Lorenzo dan Madalena juga sudah tidak terlihat lagi. Entah ke mana mereka berdua pergi, karena tidak pamit pada Gavino atau yang lain.


"Gavin. Aku cabut dulu ya!" pamit Dante dan Jeffrie, yang ternyata bersama dengan pasangan mereka juga.


"Iya. Hati-hati," sahut Gavino mengangguk.


Tak lama kemudian, Cardi juga pamit pulang terlebih dahulu. Dan bersama dengan pasangannya juga.


Tak lama kemudian, Bianca pun mengajak Gavino untuk pulang. "Pulang yuk Vin! Aku sudah capek di sini. kakiku pegel semua."


Mendengar perkataan dan alasan yang diberikan oleh Bianca, Gavino pun mengangguk mengiyakan. Karena dia sendiri juga sudah tidak betah di acara perpisahan sekolah malam itu.


Gavino, yang baru saja ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, karena mereka meninggal dunia, masih mencoba untuk tetap tegar. Agar terlihat seperti biasanya, dan tidak ada kesedihan pada matanya.


Tapi ternyata itu menjadi perhatian Bianca sedari tadi. Dia bisa melihat pancaran mata Gavino yang sendu. Tidak teduh, meskipun tampak tajam.


Pancaran mata Gavino yang selalu menghipnotis bianca, tidak dia lihat pada malam perpisahan sekolah mereka. Tapi Bianca tidak juga bertanya tentang masalah yang mungkin pada teman dekatnya itu.


Di perjalanan, Bianca justru bertanya pada Gavino, "apa Kamu sedih dengan perpisahan kita ini Vin?"


Gavino yang memang sedang bersedih hati, hanya mengangguk saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Ternyata anggukan kepala Gavino diartikan berbeda oleh Bianca. Kemudian tiba-tiba saja Bianca mencium bibir Gavino tanpa permisi terlebih dahulu. Bahkan ciuman Bianca semakin menuntut dengan ganasnya.


Gavino yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja pun menuruti ciuman Bianca yang menuntut. Sehingga mereka berciuman dengan panasnya di dalam mobil yang ada di area parkir sekolah.


Hingga pada akhirnya, dress hitam Bianca terlepas dari tubuh bagian atasnya, membuat Gavino menelan ludahnya sendiri.


Tapi ternyata Bianca memang menginginkan sesuatu yang lebih, agar Gavino mau menyentuhnya.

__ADS_1


"Bi. Aku... Aku..."


"Lakukan Vin. Aku pun menginginkannya."


__ADS_2