
Malam belum begitu larut, ketika Gavino tiba di depan gedung flat miliknya Gress.
Dia tidak membuang waktu lagi, sehingga langsung keluar dari dalam mobil, kemudian naik ke atas menuju kamar Gress.
Ting tong... Ting tong
Gavino memencet bel pintu kamar,supaya Gress segera membukakan pintu untuknya.
Dan memang tak butuh lama, Gress membukakan pintu untuk Gavino. Dengan wajah terkejut, di saat melihat kedatangan kekasihnya itu.
"Gav... Gavin!"
Gavino langsung memeluk gadisnya, yang dia dirindukan untuk beberapa hari terakhir ini.
Gress sampai tidak bisa mengeluarkan suaranya karena pelukan Gavino disertai dengan ciumannya yang bertubi-tubi di bibirnya. Sehingga membuatnya kesulitan untuk bernafas dan berbicara.
Setelah puas memeluk dan mencium gadisnya itu, Gavino melepaskannya. Kemudian mengajak Gress untuk duduk.
"Bagaimana kabarmu? Kamu tidak nakal kan, sewaktu Aku tidak ada disini?"
"Aku seperti yang Kamu lihat sekarang ini. Dan apa maksudmu dengan nakal? mungkin Kamu sendiri yang nakal ya di Paris?"
"Aku gak nakal Sayang. Oh ya, Aku punya surprise buat Kamu!" Gavino mengalihkan perhatian Gress, dengan apa yang akan diberikan sebagai surprise.
"Apa ini Sayang?" tanya Gress yang tidak tahu, apa hadiah yang diberikan oleh kekasihnya malam ini.
"Buka saja Sayang!"
Gress sampai berhati-hati, membuka bungkusan yang diberikan oleh Gavino padanya. Dan dia semakin terkejut, dengan hadiah yang diterima kali ini.
Yaitu sebuah handphone dengan model keluaran terbaru.
Tentu saja hadiah ini membuat Gress tidak percaya bahwa, handphone tersebut memang diperuntukkan olehnya
"Ini... ini benar untukku?" tanya Gress untuk yakinkan dirinya.
Gavino mengangguk saja, membiarkan Gress yang terlihat sangat senang. Dengan matanya yang berbinar-binar, serta senyumannya yang tak lepas sedari tadi.
"Terima kasih Sayang," ucap Gress sambil memeluk Gavino dengan erat.
"Sama-sama Sayang. Maaf ya jika terlambat Aku kasihnya, padahal handphone Kamu udah rusak sedari kemarin-kemarin."
"Gak apa Sayang, ini kan bukan salah Kamu. Tapi salahku sendiri kok." Gress tersenyum lagi, dengan mengelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa pekerjaanmu di kios membuatmu capek?" tanya Gavino dengan mengengam tangan gadisnya itu.
"Tidak. Paman Robert memberiku pekerjaan yang tidak terlalu melelahkan. Aku sangat berterima kasih kepadanya, karena dia juga memperlakukanku sangat baik."
"Syukurlah kalau begitu. Apa Kamu betah kerja di sana?" tanya Gavino lagi, tentang pekerjaan dan aktivitas Gress selama dia tidak ada kemarin-kemarin.
"Tentu saja Sayang. Aku bisa mendapatkan uang, untuk waktu liburanku yang tidak seberapa ini. Jadi Aku bisa mempunyai tabungan untuk kedepannya nanti."
Cup!
Gavino kembali mencium Gress. Dia sangat bangga dengan gadisnya yang lebih prihatin. Dengan perjuangannya dan tidak mengeluhkan apapun. Padahal sebenarnya dia adalah anaknya king Black. Meskipun Gress sendiri memang tidak pernah mengetahui seluk beluk darah yang mengalir dalam tubuhnya.
Tapi Gavino juga tidak mengatakan apapun yang diketahui, karena itu adalah rahasia yang tidak perlu diungkapkan. Yang penting Gress tetap aman. Itulah yang diinginkan king Black selama ini, sama seperti yang diinginkan Gavino juga.
Dia yang dulunya tidak begitu serius memperhatikan Gress dengan perasaannya, kini menjadi yakin bahwa dia tidak bisa jauh-jauh dari Gress. Meskipun Gress adalah anaknya king Black. Gavino tidak peduli. Karena Gress juga tidak tahu apa-apa tentang papanya, king Black.
Nyatanya Gress bisa lebih baik, tetap cerdas dan tidak mengandalkan siapapun. Dia bisa melakukan semuanya dengan kemauannya, tekadnya, dan usahanya sendiri.
Gavino berjanji untuk tidak menyakiti Gress. Apalagi ternyata Bianca sudah memiliki kekasih, dan kekasihnya itu adalah Alano.
Sekarang Gavino justru membandingkan antara Gress dengan Bianca.
Meskipun mereka sama-sama cantik, nyatanya Gress bisa membuktikan bahwa, dia lebih baik daripada seorang Bianca. Meskipun itu hanyalah penilaiannya sendiri, bukan orang lain.
"Tidak. Aku... Aku pulang."
Gavino tersadar dari lamunannya, hanya menjawab pertanyaan Gress pendek.
Gress tersenyum canggung. Sepertinya dia kecewa dengan jawaban Gavino yang ternyata tidak ingin menginap bersamanya. Tapi dia juga memaklumi karena Gavino baru saja pulang.
"Iya tidak apa-apa. Salam buat paman George." Akhirnya Gress hanya tersenyum.
"Kamu tidak menahan ku untuk menginap di sini?" tanya gak vino sambil tersenyum menggoda.
"Aku tidak mau memaksamu, jika Kamu memang capek. Soalnya baru pulang perjalanan jauh."
"Sebenarnya Aku ingin menginap, tapi paman George maupun Robert mengingatkan bahwa, selain Aku capek, Kamu besok kerja. Jadi Aku tidak mau mengganggu waktumu."
Gress mengangguk sambil tersenyum. Meskipun ada rasa kecewa dalam hatinya.
Tapi itu tidak luput dari perhatian Gavino, sehingga Gavino langsung memeluknya kemudian menciumi sekali lagi.
"Apa Aku boleh meminta sesuatu? Aku sangat menginginkannya."
__ADS_1
Gress mengangguk setuju, karena sebenarnya dia juga sangat menginginkannya.
Mereka akhirnya berciuman kembali, dan melakukan apa-apa yang seharusnya mereka lakukan untuk melepas rasa rindu mereka.
Hampir satu jam lamanya mereka bergumul, menyalurkan perasaan rindu mereka.
Setelahnya Gavino pamit untuk pulang, karena dia tidak memang tidak menginap. Karena itu tidak memungkinkan dirinya maupun Gress sendiri, bisa memejamkan mata semalaman ini.
Setelah berpamitan Gress menutup pintu, kemudian membuka handphonenya. Karena ada notifikasi pesan. Dan ternyata, di situ sudah ada pesan dari Gavino.
Mungkin Gavino berjalan menuju mobil sambil mengirim pesan padanya.
Akhirnya, untuk membuktikannya, Gress membuka pintu kemudian melihatnya dari pinggir pembatas yang ada di depan pintu kamarnya.
Dia melihat Gavino bersandar pada mobil sambil melambaikan tangan, sebelum akhirnya masuk setelah dia ikut melambaikan tangannya.
Namun ternyata, Gavino tidak segera menghidupkan mesin mobilnya sehingga Gress harus menghubungi kekasihnya itu, supaya segera pulang karena jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
..."Halo Sayang. Pulanglah, sudah tengah malam ini."...
..."Apa Kamu mengusirku Sayang?"...
..."Tidak. Tapi Kamu pasti sangat capek. Berhati-hatilah, dan cepat pulang. Nanti dimarahi paman George ataupun paman Robert. Dan jangan sampai Aku Kamu jadikan alasan ya!"...
..."Hahaha... Kamu tahu saja, jika Aku akan memberikan alasan pada mereka dengan nama Kamu Sayang. Setelah Kamu tadi menahan ku, sehingga tidak bisa pulang dengan cepat."...
..."Awas aja sampai Kamu berani memberikan alasan seperti itu, hum..."...
..."Hahaha..."...
..."Jangan membuat alasan seperti itu. Aku tidak mau paman Robert ataupun paman George memarahiku besok. Aku masih ingin bekerja di kios. Sampai liburan semester selesai Sayang."...
..."Hahaha... tenang saja Sayang. Aku akan segera pulang. Selamat malam sayang, cepatlah tidur ya!"...
..."Ya Sayang, hati-hati ya. Awas jangan ngebut!"...
..."Siap Sayang. Tenang saja!"...
..."Tapi Kamu masuk dulu, Aku gak mau pergi, sebelum Aku melihatmu masuk ke dalam kamar dan menguncinya."...
..."Baiklah. Aku masuk dulu."...
Klik!
__ADS_1
Tak lama setelah Gress masuk ke masuk ke dalam kamar, telpon di tutup oleh Gavino.