
Hidangan makan siang yang sudah dipesan oleh Thomas Bryan akhirnya datang juga, dengan lima koki yang membawa pesanan tersebut. Kemudian menatanya di meja makan, yang tadi digunakan untuk mereka berbicara.
Tapi sebelum Thomas Bryan mempersilahkan Gavino untuk menikmati makanan yang sudah tersedia, salah satu dari pengawasnya mencicipi semua makanan yang terhidang di atas meja.
Gavino berpikir bahwa, ini adalah salah satu prosedur atau cara pengamanan yang ketat terhadap Thomas Bryan, yang tentunya tidak main-main. Karena begitu banyak musuh, sehingga mereka selalu curiga jika ada racun yang dicampurkan dengan makanan yang akan dimakan.
Mereka harus merelakan salah satu pengawal, untuk mencicipi semua makanan tersebut. Sebelum akhirnya di makan oleh Thomas Bryan.
Sebab, seandainya ada racun di dalam makanan yang sudah di cicipi pengawal tersebut, yang akan menerima akibatnya terlebih dahulu adalah pengawal itu juga.
Menurut Gavino, prosedur pengamanan ini sudah melebihi presiden saja. Tapi ternyata itu juga dilakukan untuk keamanan Gavino dari seorang Thomas Bryan.
"Pengaman Anda sudah lebih dari presiden saja Tuan besar?" komentar Gavino sebelum memulai makan.
"Ini untuk keamanan Anda juga Tuan Muda," sahut Thomas Bryan, yang ternyata memikirkan keselamatan Gavino juga.
"Terima kasih sudah memikirkan keselamatan ku." Gavino juga mengucapkan terima kasih atas kepedulian Thomas Bryan.
"Tidak perlu sungkan Tuan Muda."
"Saya tidak perlu dilayani Tuan Besar. Saya bisa mengambilnya sendiri," tolak Gavino, di saat Thomas Bryan mengambilkan makanan untuknya.
Semua pengawal Thomas Bryan tentu saja merasa heran, dengan perubahan sikap Tuan besarnya. Padahal jika dengan orang lain, sikap Thomas Bryan sangat kaku dan datar.
Mereka jadi terharu, bisa melihat Thomas Bryan yang sedang ramah.
"Oh ya, untuk para pengawal, kenapa tidak diberikan makanan juga? pesankan juga dan mintalah mereka untuk duduk."
Para pengawal menggelengkan kepalanya beberapa kali, menolak apa yang dikatakan oleh Gavino. Karena itu bukan kebiasaan mereka selama ini.
Mereka juga takut jika dianggap tidak bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Karena pasti Tuan besarnya itu tidak akan mengijinkan mereka.
__ADS_1
Tapi ternyata pikiran mereka salah. Karena Thomas Bryan mengikuti apa yang dikatakan oleh Gavino, yang dipanggil Thomas Bryan dengan sebutan Tuan Muda.
Rasa heran dan terkejut mereka semakin bertambah, saat Thomas Bryan menuruti perkataan Gavino, dengan menyuruh mereka mencari tempat duduk yang terdekat, kemudian memesankan makanan yang sama seperti makanan yang ada di meja depannya.
Awalnya para pengawal hanya diam saja, karena berpikir bahwa Thomas Bryan hanya bergurau saja dengan rekannya itu, untuk menguji mereka.
Tapi ternyata dugaan mereka salah, karena pada saat mereka tetap diam Thomas Bryan menatap mereka dengan tatapan tajam, dan memberikan perintahnya hanya dengan tatapan mata saja. Supaya mereka segera duduk dan memesan makanan.
Akhirnya mereka duduk, kemudian dipesankan makanan yang sama seperti yang akan dimakan oleh Thomas Bryan dan juga Gavino.
Hampir setengah jam kemudian, acara makan siang mereka selesai. Dan Govino pamit untuk kembali ke kios.
"Tuan Muda tinggal memeriksa email, karena berkas yang anda perlukan juga akan segera kami kirim lewat email Anda."
Gavino kembali berterima kasih, kemudian pamit pulang setelah mendapatkan semua yang dia perlukan. Selain chip yang memberikan informasi tentang George, ada juga beberapa dokumen penting yang dia perlukan dari Thomas Bryan. Untuk peralihan nama kepemilikan dari beberapa usaha Thomas Bryan yang akan menjadi miliknya.
Dalam waktu dua puluh menit Gavino sudah memasuki kios lagi. Dan ini membuat Gress bertanya-tanya.
"Kamu dari mana saja Sayang? aku mencarimu sedari tadi. Untungnya paman George memberitahu Aku bahwa Kamu ada pekerjaan keluar."
"Apa Kamu sudah makan siang?" tanya Gress pada kekasihnya, karena dia takut Gavino melupakan makan siangnya karena pekerjaan.
"Sudah. Aku sudah makan siang Sayang. Apa Kamu juga sudah makan siang?" Gavino balik bertanya pada Gress.
"Iya. Aku sudah makan siang bersama dengan paman Robert dan paman George. Setelah paman George memberitahuku juga, jika sudah waktunya makan siang."
"Oh ya, Kamu tidak ambil kerja lembur kan? jadi kita bisa pulang bersama sore ini." Gavino berharap kali ini Gress bisa pergi bersama dengannya.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Gress justru bertanya.
"Iya sudah selesai. Aku juga sudah diperbolehkan pulang sekarang. Tapi aku akan menunggumu sampai jam empat nanti."
__ADS_1
"Maaf ya Sayang, Aku jadi tidak bisa menemani kemana-mana saat liburan semester ini." Gress merasa bersalah, karena liburan mereka seperti tidak punya kesan.
"Tidak apa-apa Sayang. Nanti kalau Aku sudah ada pekerjaan yang lebih baik, Kamu akan Aku berikan kartu sendiri," terang Gavino memberitahu.
"Kartu, buat apa?" tanya Gress bingung.
"Tentu saja untuk menarik uang Sayang, tidak mungkin kartu identitas diri kan?" tanya Gavino dengan tersenyum lebar, dengan jawaban dan pertanyaan yang penuh canda.
"Tidak Sayang. Kamu jangan membuat repot paman. Karena mereka juga punya tanggungan keluarga. Aku bisa menghidupi diriku sendiri dari beasiswa yang Aku dapatkan." Gress menolak tawaran Gavino, karena berpikir bahwa kartu yang ditawarkan padanya adalah dari paman George.
"Tidak apa-apa Sayang. Mereka sudah cukup dan bahkan berlebihan. Aku juga tidak ada dan tanggung jawab kepada orang lain. Sedangkan Kamu adalah kekasihku, jadi Aku juga tidak mungkin membiarkan Kamu dalam keadaan kekurangan."
Mereka berdua justru berbincang dan diperhatikan oleh beberapa karyawan di kios. Sehingga mereka berbisik-bisik.
Tapi karena sebelumnya mereka sudah dipesan oleh Robert maupun George, bahwa Gress adalah kekasihnya Gavino, yang tidak tahu bahwa Gavino adalah pemilik kios dan warabala ini.
Mungkin mereka berpikir jika Gress terlalu polos, sehingga tidak mengetahui bahwa Gavino adalah pemilik tempat mereka bekerja.
Tapi mereka juga tidak menyalahkan Gress, setelah mereka semua tahu, jika Gress adalah seorang pendatang.
Apalagi Gavino juga tidak pernah berpenampilan layaknya orang berada.
Maksudnya dalam keadaan rapi seperti setelan jas yang sering dikenakan oleh eksekutif muda.
Dia jutsu lebih nyaman dengan menggunakan kemeja pendek atau kaos dengan celana jins. Bahkan kadang memakai celana jins yang sobek di lutut maupun bagian bawah. Persis seperti anak muda kebanyakan di luar sana, yang tidak dalam kondisi acara resmi.
Satu jam kemudian, jam kerja Gress selesai.
"Ayo Sayang kita pulang!" ajak Gavino pada Gress, yang baru saja merapikan id card karyawan di depan dada_nya.
"Kamu tidak pamit pada kedua pamanmu?"
__ADS_1
Gress justru mengingatkan Gavino, agar pamit terlebih dahulu dengan George maupun Robert.
"Tidak perlu. Mereka sudah tahu jika Aku akan pulang bersama denganmu."