Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Perdebatan Dante Dan Lorenzo


__ADS_3

Tiga mobil memasuki gerbang taman bermain. Satu persatu penumpang mobil tersebut keluar.


Lorenzo dan Jeffrie, merentangkan kedua tangannya. Mengambil udara sebanyak-banyaknya, untuk mengisi paru-paru mereka.


Madalena lain lagi.


Dia tampak melompat-lompat kegirangan, karena bisa bebas dari kewajibannya untuk belajar dan terus belajar.


Bianca tersenyum, melihat tingkah laku dari teman-temannya itu. Dia juga sebenarnya ingin melakukan hal yang sama, untuk melupakan perasaannya sendiri.


Tapi karena dia bukanlah gadis yang mudah mengekplorasi suasana hati, akhirnya dia hanya bisa tersenyum dan menghela nafas panjang. Kemudian berjalan menyusul Madalena, yang sudah terlebih dahulu sampai di pintu masuk taman hiburan.


Di samping Madalena, ada Dante dan Lorenzo. Mereka berdua justru berdebat mengenai pembelian tiket masuk taman hiburan.


Dante ingin membayar tagihan untuk tiket masuk semua teman-temannya.


Tapi Lorenzo juga menginginkan hal yang sama juga. Karena dia sedang banyak uang, hasil pemberian paman dan bibinya. Yang kemarin kebetulan datang ke rumahnya.


"Aku yang traktir tiket masuk Dante. Aku ada uangnya kok," ujar Lorenzo sambil memamerkan uangnya.


"Tabung saja Lorenzo. Kamu masih banyak keperluan untuk acara perpisahan sekolah nanti." Dante memberikan penjelasan dan alasan, yang memang ada benarnya.


Tapi sepertinya Lorenzo sedang tidak mau mengalah. Dia tidak mau diberi nasehat. Padahal jelas-jelas, apa yang dikatakan oleh Dante ada benarnya juga.


"Ihhh... kalian berdua ya! Bisa gak sih gak usah berantem!" desis Madalena kesal. Dia cemberut karena ulang kedua temannya itu.


Dan untuk itulah, Madalena mengeluarkan kartu kredit miliknya.


"Pakai ini aja Pak!" kata Madalena, dengan menyerahkan kartu kredit tersebut pada petugas pintu karcis.


Sekarang, Dante dan Lorenzo saling pandang tanpa bicara apa-apa lagi. Mereka berdua merasa malu, karena pada akhirnya, justru Madalena yang membayar karcis masuk untuk mereka semua.


"Ini gara-gara Kamu ini!"


"Kamu lah, masak Aku!"


Keduanya justru kembali berdebat. Dan yang lebih parahnya, menyalahkan satu sama lain. Karena mereka berdua harus kalah dengan Madalena tanpa mereka sadari.


"Kalian mau masuk gak?" tanya Bianca sambil mengelengkan kepalanya. Melihat tingkah laku kedua temannya itu.


Akhirnya mereka semua masuk ke dalam arena taman bermain, tanpa menunggu Dante dan Lorenzo berdamai.


Karena teman-temannya sudah masuk semua, akhirnya mereka berdua, Lorenzo dan Dante, menyusul masuk juga. Dengan berlari-lari kecil agar tidak tertinggal jauh.


"Semua ini gara-gara Kamu Dante!"


"Kok Aku sih?"


Dante tidak terima, karena dimarahi Lorenzo. Soal di depan pintu masuk tadi.


"Hai Kalian berdua!"


"Dante, Lorenzo. Tunggu!"

__ADS_1


Dante dan Lorenzo, segera menolehkan kepalanya ke belakang. Di saat mendengar suara orang yang sedang memanggil.


Ternyata itu adalah Cardi. Dia masih ada di belakang, dan tidak ikut bersama dengan temannya yang lebih dulu masuk ke taman bermain.


"Lho, Kamu masih di sini!" tanya Dante heran.


Begitu juga dengan Lorenzo, yang merasa penasaran. Kenapa Cardi justru masih ada di belakang.


"Kamu dari mana?" tanya Lorenzo ingin tahu.


"Emhhh... Aku... Aku..."


"Apa sih? gak jelas."


"Ngomong yang bener Cardi. Ada apa?"


Dante dan Lorenzo gemas sendiri, karena Cardi bicara dengan putus-putus.


"Sebenarnya... sebenarnya Aku... tadi Aku nembak Madalena sebelum masuk ruangan untuk ujian akhir."


Dante dan Lorenzo membelalakkan matanya, saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Cardi barusan. Mereka berdua tidak percaya, dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Maksudnya... Kamu, Kamu nembak Madalena untuk jadi kekasihmu?" Lorenzo memperjelas maksud perkataan Cardi.


Dante menelan ludahnya sendiri, mendengar kejujuran Cardi.


"Iya Lorenzo. Tapi..."


"Tapi apa?"


"Tapi... itu,kata Madalena... dia, dia sudah menyukai cowok lain." Cardi akhirnya bisa mengatakan jawaban Madalena. Meskipun dengan kalimat yang terputus-putus.


"Maksudnya, Madalena sudah punya kekasih?" tanya Lorenzo meminta penjelasan.


"Bukan. Bukan begitu maksudnya Lorenzo."


"Lalu?" tanya Lorenzo lagi, menuntut penjelasan yang lebih.


"Hahhh!"


Cardi justru membuang nafas kasar, baru kemudian melanjutkan kalimatnya. "Dia sudah punya cowok idaman sendiri. Gak mau sama Aku."


Dante dan Lorenzo, jadi saling pandang. Karena sebenarnya, mereka berdua juga punya rasa suka dengan Madalena. Dan itu sudah sejak lama.


Lorenzo tidak berani mendekat lebih pada Madalena, karena dulunya, Madalena adalah temannya Alano.


Sedangkan Dante, tidak mau mengakui perasaannya sendiri. Yang menaruh perhatian pada Madalena, yang sebenarnya adalah temannya sedari dulu, di saat dia masih berteman dengan Alano juga.


"Siapa cowok yang disukai Madalena?"


Pertanyaan ini diajukan oleh Dante. Meskipun sebenarnya, dia sudah tahu. Jika Madalena sedang menyukai Gavino.


"Apa itu Gavino?" tanya Lorenzo menebak.

__ADS_1


Tapi ternyata Cardi mengelengkan kepalanya beberapa kali. Karena bukan Gavino, cowok yang disukai oleh Madalena.


"Bukan Gavino? lalu siapa?" Dante bertanya kepada Cardi dengan cepat. Karena dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Cardi.


Dia yakin jika, Madalena sedang menyukai Gavino. Temannya yang dulu pernah mereka bully bersama-sama. Tapi pada kenyataannya sekarang ini, justru Gavino adalah teman yang terbaik.


"Kata Madalena..."


"Hai! kenapa masih berdiri di sana? buruan!"


Dari kejauhan, Madalena berteriak memanggil mereka bertiga.


"Ahhh sudahlah ayok!"


Cardi akhirnya meminta pada kedua temannya, Dante dan Lorenzo, untuk segera melanjutkan perjalanan mereka. Di mana temannya yang lain sudah menunggu.


"Kalian bertiga ngapain sih? lama banget tau gak!"


Madalena merasa kesal, karena harus terlambat untuk ikut naik kincir angin. Dan di loket masuk, sudah ada Gavino, Jeffrie dan Bianca. Yang masih berdiri menunggu mereka semua.


"Ini lho Bi, sepupu Kamu!"


Bianca menolehkan kepalanya, melihat kedatangan teman-temannya.


"Kenapa Kamu Dan?" tanya Bianca, pada sepupunya.


"Aku? gak, bukan. Aku."


"Hiliihhh... sedari masih ada di pintu masuk tadi, Kamu sama Lorenzo selalu berdebat kan? Apa coba itu?" desis Madalena, memojokkan Dante.


"Iya-iya. Aku."


Dante tidak ingin berdebat lagi. Dia tidak mau mengacaukan acara mereka ini, karena waktu seperti ini tidak akan bisa dilakukan lagi kedepannya nanti.


Setelah selesai sekolah, mereka akan berpisah dengan meneruskan ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Dan itu tidak mungkin ada di tempat yang sama. Karena impian mereka juga berbeda-beda.


Tak lama kemudian, kincir angin sudah berhenti. Para penumpang yang lama, keluar terlebih dahulu. Baru kemudian diisi dengan orang-orang yang sudah mengantri.


"Vin, ayok!"


Lorenzo mengagetkan Gavino, yang belum juga beranjak dari tempatnya berdiri. Padahal, temannya yang lain sudah naik ke tempat yang sudah disediakan.


"Eh... udah semua ya?"


Mendengar perkataan Gavino yang gugup, membuat Lorenzo mengerutkan keningnya. Memikirkan apa yang sedang terjadi pada temannya itu.


"Kamu sedang mikirin apa Gavin?"


Akhirnya, untuk membuang rasa penasaran yang ada di dalam hati, Lorenzo bertanya pada Gavino. Yang kebetulan saat ini duduk bersama dengan dirinya, di kincir angin yang sedang berputar.


"Aku?"


"Iya," sahut Lorenzo dengan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Hemmm..."


Gavino tidak menjawab. Dia justru membuang nafas panjang, dan memejamkan mata. Sebelum akhirnya membuka mulutnya untuk berbicara.


__ADS_2