Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Telpon Dari Bianca


__ADS_3

"Saya minta maaf untuk itu."


Ketua senat berkata dengan suara lirih. Dia tahu, jika temannya yang salah dalam kasus ini. Sehingga mengakibatkan kekacauan dan banyak yang terluka.


Dan akhirnya membanjiri klinik kampus untuk menangani korban.


"Tapi tolong, jangan di lanjutkan lagi hingga kekar area kampus. Kita sudahi semuanya sampai di sini."


Gavino tersenyum tipis, mendengar permintaan ketua senat yang merasa khawatir. Jika semuanya akan kembali terulang di luaran sana. Sehingga mengakibatkan kasus tindak penganiayaan, atau pengeroyokan. Yang sering terdengar di beberapa berita di media.


"Saya tidak akan bertindak, jika diperlakukan sebagaimana mestinya. Tapi, jika ada yang ingin membuat perhitungan dengan Saya. Apa boleh buat? Saya akan dengan senang hati menyambutnya juga."


Ketua senat melihat ke arah Gavino dengan tatapan mata yang sulit untuk diartikan.


Tapi Gavino tidak ambil pusing. Dia tidak mau menerima perlakuan yang sama seperti dulu-dulu, di saat orang lain merendahkan dirinya.


'*Aku bukan Gavino yang dulu. Lemah dan penakut. Itu juga karena keadaan yang tidak bisa mendukungku waktu itu.'


'Tapi, sekarang tentu saja berbeda. Aku tidak mau ditindas. Apalagi dengan cara kekerasan seperti tadi*.'


"Maaf. Semoga saja tidak akan ada hal yang sama seperti ini di kemudian hari, dan dalam keadaan apapun itu."


Gavino hanya mengangguk saja, menanggapi perkataan yang diucapkan oleh ketua senat.


Setelah dirasa cukup, Gavino dipersilahkan untuk pulang. Karena kegiatan mereka sebagai mahasiswa baru, sudah dihentikan sedari kekacauan yang tadi terjadi.


Langkah Gavino pelan tapi pasti, menuju ke area parkir kampus.


"Gavin, tunggu!"


Tap tap tap!


Drap drap drap!


Suara langkah dua orang mendekat ke tempat Gavino berdiri, sebelum dia sampai di tempat mobilnya berada.


Saat melihat siapa yang datang dengan tergesa-gesa sambil memangil namanya, Gavino hanya bisa tersenyum tipis. Karena mereka berdua adalah teman barunya, yang satu barisan bersamanya juga.


"Hosh hosh hosh..."


Mereka terengah-engah, ketika tiba di depannya Gavino.


"Kamu gak apa-apa kan?"


"Ketua senat hak macem-macem kan sama Kamu Gavino?"


Mereka berdua, bertanya dengan tidak sabar. Sambil memutar-mutar tubuh Gavino. Untuk memeriksa keadaan tubuh Gavino. Ini karena mereka merasa takut jika, Gavino ada luka atau bekas penganiyaan yang dilakukan oleh ketua senat di dalam ruangan yang tertutup tadi.


"Hai, hai... hentikan! apa yang kalian lakukan ini?" tanya Gavino bingung dengan kelakuan kedua temannya itu.

__ADS_1


"Kamu gak apa-apa?" tanya salah satu dari mereka lagi.


"Ya... gak apa-apa."


"Ada apa sih? kan ini Aku gak kurang suatu apapun." Gavino merentangkan kedua tangannya, memperlihatkan bahwa dia memang benar-benar dalam keadaan baik.


"Ah, syukurlah."


"Iya. Aku udah cemas mikirin Kamu, yang sedari tadi ada di dalam sana Gavino."


"O..."


"Terima kasih kawan. Tapi Aku tidak apa-apa."


"Ya sudah, ayok kita balik!" ajak mereka, yang akhirnya pergi ke arah mobil masing-masing.


Begitu juga dengan Gavino. Yang melanjutkan langkahnya menuju ke tempat mobilnya terparkir tadi pagi.


Dia ingin segera pulang, dan beristirahat.


Menurutnya, seminggu menghadiri acara perkenalan kampus cukup melelahkan. Tapi dia juga merasa senang, karena bisa mengenal teman baru dan situasi lingkungan yang baru juga.


Tin tin!


Gavino mengangkat tangannya, di saat satu mobil melewatinya. Begitu juga di saat ada satu mobil yang lain. Yang juga membunyikan klakson, untuk isyarat sebagai tanda menyapa.


Dan mobil Gavino juga segera melesat pergi, meninggalkan tempat parkir mobil di area kampus tersebut.


Di rumah Gavino.


George baru saja datang, bersama dengan Herry. Salah satu temannya Robert, yang memang datang dari satu kota.


Mereka berdua baru saja selesai mengadakan pertemuan dengan pihak perusahaan besar, yang ingin mengajak usaha waralaba Giordano untuk mereka rekrut.


"Apakah Gavino sudah pulang?" tanya George, pada kepala maid yang sedang melintas.


"Belum Tuan George. Tuan muda belum pulang dari kampusnya."


"Hemmm... biasanya, dia sudah ada di rumah jam 7 malam. Sedangkan ini, sudah hampir jam 9 malam."


"Apa dia ada mengabari sebelum ini?" tanya George lagi, dengan wajah yang cemas.


Tin tin!


"Itu mungkin dia!" seru Herry, yang membuat George segera berjalan dengan cepat menuju ke depan. George ingin memastikan, siapa yang saat ini baru saja datang.


Tapi ternyata yang dikatakan oleh Herry benar adanya. Karena begitu George tiba di depan pintu rumah, tampak Gavino yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Dari mana Kamu? jam segini baru saja datang?" tanya George tidak sabar, begitu Gavino tiba di depannya.

__ADS_1


Mata Gavino menyipit, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh George padanya.


"Apa Aku tidak salah dengar?"


"Lalu, dari mana saja Kamu. Kenapa baru pulang juga?" tanya Gavino, dengan melihat pakaian yang dikenakan oleh George. Yang belum berganti sejak berangkat tadi pagi.


"Aku..."


George tidak melanjutkan kalimatnya, karena melihat tangan Gavino yang digerakkan ke atas. Tanda jika sekarang bukan saatnya untuk berdebat.


"Aku mau pergi mandi dan beristirahat. Jangan ganggu Aku. Dan tolong, kasih tau pada kepala maid untuk menyiapkan makan malam ku ke dalam kamar."


Mendengar perintah tersebut, George hanya diam saja, dan tidak menyahut atau bertanya lagi pada Gavino.


Baru setelah Gavino benar-benar pergi dan tidak lagi tampak olehnya, George mendengus kesal.


"Huh! anak muda yang arogan."


Dia pun akhirnya meminta pada Herry, untuk memberitahu pada kepala mereka maid, tentang permintaan Gavino tadi. Sedangkan dirinya sendiri, langsung berjalan menuju ke arah kamarnya sendiri.


George juga ingin membersihkan dirinya dan beristirahat dengan cepat. Sebab besok masih ada dua pertemuan dengan pihak perusahaan yang lain.


Di dalam kamar, Gavino yang hampir saja pergi ke kamar mandi. Mengurungkan niatnya, karena dering handphone miliknya.


"Bianca?"


Di layar handphone tersebut, ada nama Bianca is calling.


..."Halo Bi. Bagaimana kabarmu di sana?" ...


..."Ah, Aku merindukanmu Vin." ...


..."Hai, di sana para cowok jauh lebih tampan dari pada Aku!"...


Gavino bermaksud untuk menggoda Bianca, supaya temannya itu bisa tertawa-tawa seperti biasanya.


..."Aku sedang tidak bercanda, dan ini adalah serius Vin. Apa Kamu tidak merasakan hal yang sama seperti yang Aku? Merasakan rindu ini juga Vin." ...


..."Aku... Aku..." ...


Klik!


Gavino tidak bisa mengerti dengan sikap Bianca, yang sekarang ini ada di negara Perancis.


"Hah! Ada apa dengan Bianca?" tanya Gavino pada dirinya sendiri.


Dia pun tidak bisa bertanya pada Bianca, karena di saat dia menghubungi balik cewek tersebut, nomer handphone milik Bianca tidak aktif.


Bahkan sepertinya nomer handphone Gavino sudah di blokir. Karena tidak bisa tersambung dengan benar.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Bi? Ada apa di sana?"


Pertanyaan demi pertanyaan, muncul di dalam hatinya Gavino. Yang membuatnya menjadi cemas, karena memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Bianca.


__ADS_2