
Urusan dengan Bos yang bekerja sama dengan sang Kapten, sudah diselesaikan dengan cara yang biasa mereka lakukan.
Semua usaha Bos tersebut, sudah di akusisi oleh Gavino. Yang sudah diurus oleh anak buahnya.
Begitu juga dengan anak buahnya Bos tersebut, semua sudah dibereskan oleh anak buahnya Gavino juga. Sehingga villa ini, akhirnya bisa bersih dan di tempati olehnya. Untuk beristirahat sejenak sebelum kembali ke pusat kota Roma.
Gavino juga meminta kepada anak banyak, untuk beristirahat sejenak di villa ini. Sambil membahas rencana mereka selanjutnya. Yaitu mengenai rencana dari Bos yang sebelumnya, dalam kegiatan mereka yang akan segera dilakukan. Sebab, semuanya jelas tertulis pada agenda. Yang ada dalam laptop sang Bos, yang ditemukan di sebuah kamar private.
Para wanita, ada tiga orang, yang memang berada di villa ini. Yang biasanya menjaga dan melayani Bos yang sudah tidak ada lagi, untuk diberikan kebebasan. Apakah mereka masih ingin berada di villa ini, atau pergi mencari pekerjaan yang lain.
Tapi ternyata, mereka bertiga masih menginginkan untuk berada di villa ini, daripada harus mencari pekerjaan di luar sana. Yang belum tentu akan lebih baik, daripada bekerja di sini.
Gavino tidak mempersoalkan tentang hal itu, yang penting, mereka mengikuti aturan yang dibuat oleh Gavino. Karena sudah berbeda dengan Bos yang sebelumnya.
Mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sebab, siapapun bos-nya, mereka tetap saja sebagai pekerja.
Dan Gavino menyetujui untuk tetap memperkerjakan mereka, dengan aturan yang dia buat. Sama seperti markas-markas nya yang lain juga.
Setelah menyelesaikan beberapa hal, dan beristirahat serta menikmati jamuan makan, yang disediakan oleh pelayan, Gavino berniat untuk meninggalkan villa di V Lounge Beach.
Dia akan segera mengurus sang Kapten, yang kemungkinan besar saat ini telah mengetahui keberadaannya. Dan juga apa yang sudah dia lakukan pada bos-nya.
Gavino belum mendapatkan kabar apa-apa tentang gadisnya, yaitu Gress. Yang saat ini sedang berada di suatu tempat, karena telah disembunyikan oleh sang Kapten. Untuk menekan Gavino, supaya tidak membuatnya jatuh dalam hal apapun.
Sang Kapten tidak tahu jika, saat ini Gavino jauh lebih berkuasa, dibandingkan bos-nya yang tadi.
Selama ini, dia juga tidak tahu, jika setelah kepergian kedua orang tuanya, Gavino bukan lagi seorang pemuda yang harus menyembunyikan segala sesuatunya dari orang lain. Termasuk pengaruhnya terhadap dunia mafia. Meskipun Gavino sendiri belum menampakkan diri sebagai seorang ketuanya.
Gavino melajukan sepeda motornya di jalanan, sedangkan beberapa orang anak buahnya mengikuti dari arah belakang dengan menggunakan mobil.
Semua orang, yang mungkin melihat keberadaannya saat ini, tentu saja tidak akan pernah menyangka jika, dia adalah ketua mafia yang sesungguhnya.
Apalagi, Gavino tetap patuh pada peraturan lalu lintas. Dan dia juga tidak arogan, sama seperti para preman pada umumnya.
Penampilannya juga sama seperti style anak muda pada umumnya. Dengan atribut yang tidak berlebihan.
Drettt drettt drettt!
Gavino merasakan ponselnya yang sedang bergetar, menandakan jika ada orang yang menghubunginya.
Tapi dia tidak bisa menerima panggilan tersebut, sebab dia masih berada di tengah perjalanan pulang. Dan dia tidak mau jika sampai di rumah tengah malam.
Hal itu cara membuat Gress marah, sebab merasa diabaikan oleh Gavino lagi.
Tapi panggilan telepon yang terus-menerus, membuat Gavino merasa jengah. Sehingga dia memberikan tanda-tanda kepada mobil yang mengikutinya di belakang, untuk menepi terlebih dahulu.
Dia ingin tahu, siapa yang saat ini sedang menghubunginya. Dan tidak sabar untuk segera diangkat.
Ternyata, itu adalah panggilan telpon dari supir. Yang biasanya bersama dengan Gress.
Dengan cepat, Gavino segera menerima panggilan telpon tersebut. Sebab, dia merasa ada sesuatu yang sedang terjadi pada gadisnya. Yang tidak diketahui.
..."Ada apa?" ...
..."Tuan Muda. Maaf, Nona... Nona tidak saya temukan di kampus. Bahkan sampai malam seperti ini, dia tidak kembali ke mobil." ...
..."Apa maksudmu? apa Kamu sudah jarinya ke seluruh area kampus?"...
__ADS_1
..."Sudah Tuan Muda. Saya juga sudah mencoba menghubunginya beberapa kali, mencarinya ke seluruh area kampus, dan bertanya kepada teman-temannya. Tapi tidak ada seorangpun yang mengetahui keberadaan Nona."...
..."Bodoh! Cepat lihat cctv yang ada di kampus! Semua cctv yang ada!" ...
..."Sudah Tuan Muda. Tapi, tidak ada satupun rekaman cctv yang menampakkan Nona sedang pergi, atau bersama dengan siapapun." ...
..."Cepat lacak keberadaan ponselnya! Aku akan mencarinya juga."...
..."Baik Tuan Muda!" ...
Klik!
Gavino menghela nafas panjang, kemudian segera mencari sinyal yang sudah dikaitkan dengan ponsel milik Gress. Setelah itu, dia mengaktifkan sistem untuk mencari tahu keberadaan Gress saat ini.
Semua anak buahnya, tadi mengikuti dari arah belakang, saat ini juga sudah mengelilingi dirinya siap untuk diberikan perintah apapun.
Tapi, di saat Gavino mengaktifkan sistem untuk mencari keberadaan Gress, mereka semua tidak ada yang pernah mengetahuinya. Karena waktu seakan-akan berhenti, dan mereka hanya diam seperti patung-patung.
Semua berhenti, saat layar sistem aktif.
( Ting )
( Selamat malam Good Father )
'Aku butuh bantuan untuk mencari keberadaan Gress saat ini.'
( Ting )
( Sistem akan membantu mencari informasi )
1%
10%
20%
40%
50%...
Sampai selesai menjadi 100%.
( Ting )
Layar sistem, memberikan informasi tentang keberadaan Gress. Yang sedang berada di suatu tempat, mirip sebuah ruang penyekapan.
Tentu saja ini membuat Gavino merasa sangat marah. Karena gadisnya, diperlakukan seperti itu.
'Shitt! Apa dia tidak takut, sedang berhadapan dengan siapa dia!'
( Ting )
( Apakah Good Father masih butuh informasi yang lainnya )
'Di mana tempat ini? Aku tidak bisa menunggu lama, jika harus mencari keberadaan tempat tersebut.'
( Ting )
__ADS_1
( Pencarian lokasi )
1%
10%
20%
40%
5%..
Sampai selesai menjadi 100%.
( Ting )
Layar sistem kembali menampilkan suatu gambar, dengan posisi letak geografis bangunan. Yang telah dijadikan sebagai tempat penyekapan Gress.
Gavino memperhatikan tempat tersebut. Dan ternyata, dia cukup familiar, karena mengenali tempat yang berada di layar sistem.
'Bukankah itu adalah markas besar kepolisian kota ini? Jadi, pelakunya adalah Kapten?'
( Ting )
( Benar Good Father )
'Arghhh! Dia menggunakan fasilitas negara, hanya untuk kepentingan pribadinya. Bahkan untuk menangkap seseorang, yang tidak bersalah. Hanya karena balas dendam, atau merasa nyawanya telah terancam.'
( Ting )
( Masih ada lagi Good Father )
'Aku rasa cukup. Nanti, jika ada yang Aku butuhkan, informasi atau bantuan apapun itu, Aku akan mengaktifkan mu lagi.'
( Ting )
( Siap Good Father )
( Ting )
Akhirnya, semua kembali normal.
Gavino segera memerintahkan anak buahnya, untuk mengerahkan yang lainnya, menuju ke markas besar kepolisian.
"Hubungi yang lain, dan minta segera bergerak ke markas besar kepolisian pusat! Nona ada di sana."
"Baik Tuan Muda!"
Setelahnya, Gavino kembali melakukan sepeda motornya menuju ke tempat Gress berada. Yaitu markas besar kepolisian, yang telah digunakan oleh sang Kapten, untuk menyekap gadisnya itu.
Hal ini membuat Gavino marah.
Dia akan melakukan apa saja, untuk bisa membebaskan gadisnya itu.
Apalagi, iya juga sudah berjanji kepada Thomas Bryan, atau king Black, yang merupakan papa dari Gress. Meskipun gadisnya itu tidak pernah mengetahui hal tersebut.
Dan Gavino, tidak pernah membahas hal ini pada Gress juga. Dia ingin meminta pada Thomas Bryan sendiri, yang akan menyampaikan hal tersebut kepada Gress. Sebagaimana seorang papa dan anak. Supaya hubungan antara mereka berdua bisa jadi lebih baik dan saling terbuka.
__ADS_1