Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Keinginan


__ADS_3

Semua permasalahan yang terjadi tadi malam, sudah diselesaikan oleh anak buah Gavino. Sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Gavino sendiri.


Dia tidak mau, jika penyerangan yang dilakukan oleh anak buahnya ke markas besar kepolisian kota. Akan menjadi pusat pemberitaan dan juga perhatian orang-orang. Sehingga pergerakan dirinya orang-orangnya, di kegiatan umum, atau keseharian mereka nanti, akan menjadi penghambat atau sesuatu hal yang menimbulkan konflik.


Dan semua kini sudah dibereskan. Baik dari departemen keamanan dan kepolisian, maupun dari semua stasiun televisi dan pemberitaan media lainnya.


Semua itu dilakukan oleh King Black secara baik, untuk menekan semua orang dan badan yang terkait.


Saat ini, Gress juga sudah sadar dari pingsannya. Meskipun keadaannya masih lemah, dan masih berada di ruang perawatan. Yang ada di pavilium sebelah rumah.


Dia melihat dengan sayu ke arah Gavino.


"Sayang... Aku, Aku ada di mana?"


Gress bertanya dengan lemah, di saat Gavino menyadari bahwa, dia sudah sadarkan diri.


"Kamu ada di klinik rumah Sayang. Apa masih pusing? atau, ada yang Kamu keluhkan?" tanya Gavino balik, setelah memberikan jawaban kepada Gress.


Gress menggelengkan kepalanya beberapa kali, setelah mendapat pertanyaan tersebut.


Dia hanya tidak pernah menyangka bahwa, dia akan mengalami penculikan. Yang menurutnya itu sangat menakutkan.


"Apa Kamu ingin bertanya sesuatu?" tanya Gavino, yang ingin memancing reaksi dari Gress. Sebab, dia melihat jika gadisnya ini, masih dalam keadaan yang tidak stabil secara mental.


Gress kembali menggelengkan kepalanya beberapa kali, sambil memejamkan mata.


Dia memang sedang tidak ingin berkata-kata ataupun bertanya-tanya, tentang kejadian yang kemarin dia alami.


Saat ini, dia hanya ingin beristirahat dan menenangkan diri. Agar bisa melupakan segala sesuatu yang terjadi padanya.


Dan ini sangat disadari betul oleh Gavino. Tapi dia juga tidak mungkin bisa meninggalkan gadisnya itu sendirian, meskipun saat ini sedang berada di klinik rumahnya. Juga ada beberapa orang pengawal, yang tentunya menjaga rumah ini.


Tapi Gavino mulai tidak percaya, jika mereka bisa menjaga Gress dengan baik.


Karena pada kenyataannya, kemarin Gress di culik anak buahnya sang Kapten. Saat berada di area kampus, dan ada supir atau pengawal, yang selalu menjaganya.


"Tidurlah Sayang. Aku akan tetap berada di sini menjagamu," ujar Gavino, dengan menggenggam tangan Gress, yang tidak dipasangi jarum infus.


Gadisnya itu, memang mendapatkan bantuan cairan infus. Karena keadaannya yang lemah.


Cup cup cup!


Gavino mengecup kening Gress beberapa kali, untuk memberikan kenyamanan pada gadisnya itu.


Dia tidak mau jika, Gress memiliki banyak pikiran dan merasa terabaikan. Apalagi, semua yang terjadi pada Gress, ada kaitannya dengan dirinya juga.

__ADS_1


Gress memejamkan kedua matanya, sambil menghirup udara dengan perlahan-lahan.


Tak lama kemudian, Gress mengatakan sesuatu yang membuat Gavino sedikit terkejut. Karena ternyata, Gress ingin pulang ke kampung halamannya. Yaitu Amerika.


"Aku, Aku mau pulang ke Amerika," terang Gress mengatakan keinginannya.


Gavino terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia balik bertanya, "Jadi, Kamu ingin pulang ke amerika ini untuk menghindar dari masalah, menenangkan diri atau Kamu ingin menjauhiku?"


Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Gavino padanya, Gress tidak bisa langsung menjawab. Dia tampak terdiam dan hanya memejamkan matanya sebentar. Hingga pada akhirnya dia berkata, "Aku ingin menenangkan diri dulu Sayang."


Cup!


Gavino mengecup punggung tangan gadisnya itu, kemudian mengatakan sesuatu. "Aku akan menemani mu ke Amerika. Kamu mau kapan ke sana?"


Mata Gress membola, mendengar jawaban dan juga pertanyaan. Yang diajukan oleh Gavino sekaligus.


Dia tidak pernah menyangka jika, kekasihnya itu justru ingin ikut menemaninya pulang ke amerika sana. Padahal, dia juga tidak mungkin mengajak gavino, yang kesibukannya di kota ini sangatlah padat.


"Tidak Sayang. Aku, Aku ingin pergi sendiri. Aku tidak ingin mengganggu semua pekerjaan, yang Kamu lakukan di sini."


Jawaban yang diberikan oleh Gress, membuat Gavino menyipitkan matanya.


"Apa, Kamu mau pulang ke Amerika sendirian? Tidak-tidak. Aku tidak akan ijinkan Kamu pergi sendiri!"


Hal ini membuat Gavino tidak akan membiarkan Gress, untuk kembali ke amerika sendirian.


"Tapi Sayang, Aku..."


"Pokoknya Aku tidak akan ijinkan Kamu untuk pulang ke sana Sayang! jadi, jika Kamu mau ke Amerika, Kamu harus mau jika Aku ikut ke sana juga!" Gavino tegas, memberikan pengertian dan pilihan kepada Gress.


Akhirnya, Gress tidak lagi mengatakan apapun. Dan dia hanya mengubah posisi tidurnya dengan posisi miring. Untuk membelakangi Gavino.


Dia tidak ingin berdebat lagi. Sebab itu justru membuatnya semakin pusing.


Gress akan mencoba untuk bicara dengan Gavino nanti. Seandainya kondisinya sudah tidak seperti ini lagi.


Dia ingin pulang ke Amerika, karena merasa bahwa di sini dia sudah tidak aman. Baginya, menjalin hubungan dengan Gavino, adalah sebuah kebagian dan anugrah baginya. Tapi, itu juga sama dengan menyerahkan nyawa.


Hal yang sangat beresiko tinggi, karena nyatanya, Gavino, yang merupakan kekasihnya, bukanlah pemuda biasa.


Menurut Gress, semua hal bisa dengan mudah dilakukan oleh kekasihnya. Bahkan, dengan sekali tunjuk saja, Gavino bisa menghancurkan sebuah kota.


Tentu saja hal itu membuat Gress merasa takut. Karena selama ini, dia dibesarkan dalam suasana yang tenang nyaman dan penuh kasih sayang. Meskipun sebenarnya keluarganya bukanlah keluarga yang sebenarnya. Karena mereka, tidak pernah terikat secara gen atau darah.


Dia ingin menjalani kehidupannya seperti dulu. Yang tidak harus mewah dan penuh kekhawatiran. Bahkan, selalu merasakan rasa was-was sepanjang waktu.

__ADS_1


Gress benar-benar tidak bisa, jika harus menjalani kehidupan yang seperti itu.


Mungkin, saat ini dia harus mengalah. Dan tidak membiarkan Gavino tahu atas semua rencananya nanti.


Drettt drettt drettt!


Drettt drettt drettt!


Ponsel Gavino bergetar. Tanda jika ada seseorang yang sedang menghubungi dirinya. Dan memintanya untuk segera menerima panggilan yang dilakukan.


Ternyata, yang yang melakukan panggilan adalah Thomas Bryan, alias king Black. Yang ingin bertanya tentang keadaan anaknya.


"Aku terima telpon dulu ya Sayang," pamit Gavino, karena harus menerima panggilan telepon tersebut.


Gress hanya diam memandanginya, tanpa mengatakan apa-apa. Dia juga tidak mau tahu, karena merasa jika telah diabaikan oleh kekasihnya sendiri.


Tapi Gavino tidak bisa menunggu lama, untuk menunggu jawaban yang diberikan oleh Gress Sebab, Thomas Bryan alias king Black, sedang menunggunya di seberang sana, untuk menerima panggilan teleponnya.


..."Ya halo Tuan Besar!"...


..."Syukurlah, Kamu masih mau menerima panggilan telpon dariku. Apa, dan bagaimana keadaan Gress?"...


..."Dia baik-baik saja. Saat ini, dia sedang beristirahat di klinik pavilium sebelah rumah. Lalu, apa Tuan Besar ingin menjenguknya?"...


..."Hhh... Aku ingin sekali melihat keadaannya. Tapi... Aku tidak tahu, apa dan bagaimana reaksinya nanti, setelah tahu siapa sebenarnya Aku."...


..."Semuanya perlu dicoba Tuan Besar. Seandainya Anda tidak segera bicara, apakah Anda juga akan tenang?"...


..."Hemmm... entahlah. Aku hanya ingin menitipkannya padamu. Tolong jaga dia. Aku, Aku tidak bisa menjaganya selama ini."...


..."Anda bisa Tuan Besar. Anda tidak perlu merasa khawatir, jika dia akan menolak mu sebagai seorang ayah."...


..."Apakah dia tidak marah? Apa dia akan terasa senang, setelah tahu siapa sebenarnya aku? Aku rasa tidak! Semua anak, terutama anak perempuan, tentu saja akan merasa marah, jijik atau tidak suka, jika tahu kebenaran tentang papanya selama ini."...


..."Tapi apa salahnya mencoba Tuan Besar?"...


..."Tidak Tuan Muda. Aku belum siap untuk saat ini Tuan Muda"...


..."Hhh... baiklah. Terserah Kamu saja Tuan Besar. Aku akan mendukungmu, kapanpun Kamu sudah siap."...


..."Terima kasih Tuan Muda."...


Klik!


Gavino kembali ke dalam, setelah selesai menerima panggilan telpon dari king Black alias Thomas Bryan. Papa kandungnya Gress sendiri. Yang tidak pernah diketahui oleh gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2