Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Kebebasan


__ADS_3

( Ting )


( Selamat siang Good Father )


'Selamat siang juga. Aku ingin memberikan hukuman yang pantas untuk Kapten. Jika menurutmu, kira-kira untuk orang seperti dirinya itu, hukuman apa yang pantas?'


( Ting )


( Good Father harus tetap berhati-hati )


'Maksudnya?'


( Ting )


( Selain Kapten, ada yang lebih besar lagi, yang perlu diwaspadai )


'Siapa?'


( Ting )


( Good Father hanya perlu tetap berhati-hati )


'Hhh... baiklah. Jadi, hukuman ini sudah pantas ya diterima Kapten?'


( Ting )


( Siap Good Father )


'Baiklah. Kira-kira, apa dan siapa yang harus aku waspadai? maksudnya ciri-cirinya.'


( Ting )


( Pencarian informasi terkait )


1%


10%


20%


30%


40%


50%...


Sampai selesai menjadi 100%.


( Ting )


Layar sistem memberikan informasi, tentang ciri-ciri dari orang yang harus diwaspadai oleh Gavino kedepannya nanti.


Gavino mengerutkan keningnya, melihat dengan seksama. Untuk memastikan penglihatannya itu.


'Itu seperti bayangannya...'


Kepala Gavino menggeleng beberapa kali, sebab dia tidak percaya dengan apa yang saat ini dilihatnya.


Sebab, Gavino mengenali seseorang. Yang saat ini sedang diinformasikan oleh sistem, karena hanya sebuah siluet bayangan. Dengan ciri-ciri tertentu yang bisa dikenali oleh Gavino sendiri.


Tapi sepertinya Gavino tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


'Ini tidak mungkin dia kan?'


( Ting )

__ADS_1


( Di dunia, apa saja bisa terjadi Good Father )


'Iya benar. Tapi, Aku masih tidak percaya, jika dia adalah orang yang seperti itu.'


( Ting )


( Tidak ada salahnya jika tetap berhati-hati )


'Iya benar. Apa saja bisa terjadi di dunia ini. Meskipun dia adalah orang yang dekat dan baik dengan kita. Dalamnya hati tidak seseorang, tidak ada seorangpun yang tahu.'


( Ting )


( Ada lagi yang bisa dibantu Good Father )


'Tidak. Aku, sepertinya tidak ada. Aku akan mengaktifkan mu, nanti jika aku memerlukan.'


( Ting )


( Selamat siang Good Father )


Layar sistem menghilang dari pandangan mata Gavino.


Kini, dia kembali fokus pada sang kapten. Yang berada di depannya, dan masih di dalam keadaan lemas.


"Hahhh! Sebenarnya Aku tidak tega, membiarkannya mati perlahan-lahan. Tapi ini adalah sebuah hukuman yang pantas untuknya, karena sudah berencana yang sangat jahat pada seorang gadis yang tidak tahu apa-apa. Meskipun gadis tersebut adalah orang yang terdekat denganku."


Gumamam Gavino, terdengar samar di telinga sang Kapten. Dia berusaha mendongakkan kepalanya, melihat ke arah Gavino yang melihatnya dengan datar.


"Ap_pa Kam_mu pua_as, jik_a sud_dah membu_buat Aku, Aku sep_perti in...i?"


Sebenarnya, pertanyaan tersebut akan terdengar sangat menakutkan, seandainya ditanyakan oleh orang yang sehat dan tidak dalam keadaan seperti sang Kapten ini.


Tapi karena ini dilakukan dalam keadaan seperti itu, akhirnya terdengar sangat menyedihkan dan miris.


"Hhh... Aku pikir, Kamu itu masih punya nyali. Tapi, tidak pada tempatnya!" bentak Gavino, meskipun dia tetap berdiri di tempatnya, dan tidak mendekat kepada sang Kapten.


Begitu juga dengan Gavino. Dia akan membiarkan sang Kapten dalam keadaan seperti ini. Karena dia memang tidak ingin memberikan hukuman apa-apa.


Dia juga sudah berpesan kepada anak buahnya, yang menjaga sang Kapten. Agar membiarkan sang kapten dalam keadaan seperti ini juga.


"Biarkan saja dia seperti itu. Tidak usah digubris, apapun yang dia katakan. Tapi, jika dia memang benar-benar sudah sangat lemas, beri dia sebotol air. Tapi tidak usah dikasih makan. Setelah itu, tidak usah dikasih minum lagi. Biarkan dia lemas lagi."


Ternyata Gavino memberikan sebuah hukuman yang sangat mengerikan. Yaitu dengan memberinya kematian secara perlahan-lahan, yang tentunya tidak pernah diinginkan oleh siapapun. Sehingga orang tersebut akan meminta dan memohon supaya secepatnya untuk dibunuh saja.


Orang yang menerima hukuman seperti ini, akan meminta sebuah kematian dengan cara yang cepat.


Dan Gavino merasa puas, melihat wajah sang Kapten yang sedang memelas ke arahnya. Seperti buah permohonan, supaya diberikan tembakan atau pukulan, yang bisa mengakibatkan dia mati seketika.


"Aku pergi. Jaga dia, dan pastikan untuk mematuhi apa yang Aku katakan!"


"Siap Tuan Muda!"


"Gav_avin..."


Suara sang Kapten yang sedang memanggil Gavino, tidak bisa di dengar lagi oleh Gavino sendiri. Karena suara sang Kapten memang sangat pelan.


"Ak_ku ing_in mat_i sa_saja..."


Tapi, apa yang dikatakan oleh sang Kapten, juga tidak diindahkan oleh anak buahnya Gavino. Karena mereka akan patuh, dengan apa yang diperintahkan oleh Tuan Mudanya.


*****


Di perjalanan pulang, Gavino mencoba untuk berhenti sebentar di pinggir jalan. Karena dia ingin mengecek ponselnya.


Selama beberapa hari kemarin, ponsel Gavino memang tidak diaktifkan. Supaya dia tidak terpengaruh dan punya keinginan untuk pergi keluar dari rumah. Sebab dia memang sedang menunggui Gress.

__ADS_1


Dan sekarang, ada banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab dari beberapa orang. Termasuk dari Bianca yang paling banyak.


"Bianca?"


Sekarang, Gavino baru teringat dengan Bianca. Setelah dia membaca pesan yang dikirimkan oleh Bianca padannya.


Gavino memutar arah untuk menuju ke rumah dante setelah membaca pesan tersebut.


"Maaf Bi, Aku melupakanmu kemarin-kemarin."


Gavino bergumam seorang diri, saat perjalanan menuju ke rumah Dante. Sebab dia ingin bertemu dengan gadisnya yang kedua.


Gadis yang sebenarnya adalah cinta pertamanya, dan sekarang ini sudah menjadi dekat lagi dengannya.


Dia tidak mau kehilangan Bianca juga, sebab di dalam hatinya yang paling dalam, Bianca tetap memiliki ruang tersendiri selain Gress.


Meskipun dia tidak tahu, bagaimana seandainya kedua gadis tersebut mengetahui keadaan dirinya. Yang ternyata telah membagi perasaan kepada mereka berdua.


Tapi dia juga tahu, jika Bianca sudah mengetahui jika dia sudah bersama dengan Gress. Dan untuk bianca sendiri, tidak mempermasalahkan hal tersebut.


Berbeda dengan Gress, yang belum mengetahui sejauh mana hubungannya dengan Bianca.


Namun, Gavino tetap merasa tenang. Selagi dia masih bisa bersikap biasa saja, dan bisa membagi waktunya juga untuk keduanya.


Dia benar-benar tidak bisa melepaskan salah satu gadisnya itu, untuk mempertahankan salah satunya juga. Hal ini, sebenarnya membuatnya sedikit bingung. Tapi juga membuatnya merasa sangat senang, karena bisa mendapatkan perhatian dan kepuasan dari keduanya.


Clek!


"Bi," sapa Gavino, begitu dia tiba di kamar Bianca.


Bianca yang tidak menyangka jika Gavino akan datang menemuinya langsung ke dalam kamarnya ini, merasa sangat senang. Kemudian berlari untuk memeluk tubuh Gavino erat.


Dia tidak menyia-nyiakan waktu, untuk tidak melakukan apapun. Bibirnya langsung menyerbu bibir Gavino, yang sudah sangat dirindukan.


"Eghhh..."


Gavino juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, karena dia juga merindukan Bianca.


Sudah beberapa hari ini juga, dia tidak bisa melepaskan segala hasratnya. Karena meskipun berada di rumah bersama dengan Gress, tapi keadaan Gress sedang tidak stabil. Sehingga dia tidak mau melakukan apapun terhadap gadisnya itu.


Kini, keduanya sama-sama tidak bisa mengendalikan diri. Sehingga langsung melakukan apa-apa yang telah biasa mereka lakukan jika sedang berdua saja.


"Mmm... Aku merindukanmu Vin."


"Aku juga merindukanmu Bi. Maaf ya," ucap Gavino, disela-sela kesibukan dan kegiatan mereka berdua.


*****


Di rumah tahanan negara.


Hari ini Verdi bebas dari penjara. Dia sudah dijemput oleh supir, untuk dibawa pulang.


"Benvenuto giovane maestro."


"Selamat datang Tuan Muda."


"Terima kasih," ucap Verdi, setelah duduk di kursi belakang.


Sekarang, mobil tersebut meninggalkan halaman depan rumah tahanan tersebut, untuk menuju ke rumah besar Verdi.


Di rumahnya, sebuah pesta penyambutan telah dipersiapkan, dengan cara yang dia inginkan juga.


Sebab, dua hari sebelum dia dibebaskan. Verdi sudah mengirim pesan kepada orang kepercayaannya, untuk menyambutnya dengan sebuah pesta.


Sekarang, bibir Verdi tersenyum miring, membayangkan apa yang akan dia lakukan nanti. Dengan semua yang dia inginkan, untuk membalaskan dendam pada Gavino. Yang sudah membuatnya harus meringkuk di rumah tahanan. Untuk beberapa tahun lamanya.

__ADS_1


Dia sudah merencanakan banyak hal, untuk membuat perhitungan dengan mantan temannya itu.


Dan yang pasti, balas dendam ini tidak pernah dibayangkan oleh siapapun, termasuk Gavino sendiri.


__ADS_2