
Setelah sang Kapten mendapat copyan rekaman cctv yang diperlukan, dia langsung pamit untuk pergi ke kantor. Sedangkan Gavino dan Lorenzo, memilih untuk tetap berada di mall ini, sambil menikmati makanan ringan dan kopi.
Mereka berbincang dengan temuan mereka ini. Karena sebelumnya, tidak pernah menyangka jika, Verdi akan mengunakan pemeran pengganti untuk dirinya di lapas.
"Tapi Kamu yakin, jika itu Verdi pengganti yang ada di lapas, bukan yang di sini?"
Lorenzo bertanya tentang keraguannya, terkait dua Verdi yang sekarang ada di lapas dan yang pernah dia temui.
"Kita lihat saja nanti, bagaimana hasil dari penyidikan Kapten."
"Oh ya Gavin. Kamu kenal kapten di mana?" tanya Lorenzo yang merasa penasaran dengan sosok sang Kapten.
"Adalah Aku kenal, tapi aku juga lupa di mana, hehehe..."
Gavino menjawab pertanyaan dari Lorenzo, dengan terkekeh sendiri. Karena dia memang lupa, bagaimana awalnya dia bisa mengenal sang Kapten yang sering membantunya itu.
Akhirnya mereka berbincang dengan hal-hal yang biasa, tentang masa lalu di sekolah mereka. Hingga pada akhirnya, Lorenzo membicarakan tentang Bianca. Yang saat ini ada di Paris.
"Kemarin Kamu pergi ke Paris. Sempat bertemu dengan Bianca tidak?" tanya Lorenzo ingin tahu.
"Aku bertanya seperti ini karena, Dante sempat cerita denganku, jika Kamu mencari kontaknya Bianca saat berada di paris kemarin."
Gavino tersenyum tipis, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Lorenzo.
Bukannya tersinggung, tapi Gavino memang belum bisa menceritakan tentang Bianca, yang sekarang ini sudah berhubungan dengan Alano. Bahkan menjadi kekasihnya Alano juga.
"Pulang yuk! Aku mau ada kerjaan di rumah."
Lorenzo hanya menurut saja. Tapi dia juga sadar jika, Gavino sedang menghindari pembicaraan tentang Bianca, meskipun dia tidak tahu apa penyebabnya.
Tapi dia juga tidak bertanya lagi. Karena dia tidak mau memperkeruh suasana hati Gavino.
Sekarang, mereka berdua berjalan bersama-sama menuju ke tempat parkir sepeda motornya Gavino, yang ada di lantai lima.
Tapi langkah Lorenzo terhenti karena dia melihat bayangan seseorang yang sedang keluar dari lift menuju ke sebuah mobil.
"Itu sepertinya Verdi." Lorenzo yang melihatnya, bergumam seorang diri.
"Gavin. Gavin, itu lihat!"
Lorenzo memanggil-manggil Gavino, dengan menunjuk ke arah lift yang baru saja terbuka. Tapi sayangnya sudah tidak ada orang, bahkan disekitar mereka juga sudah sepi. Tidak terlihat satu orangpun disekitar mereka.
Mobil ataupun motor, tidak ada yang bergerak. Itu tandanya, Verdi tidak masuk ke salah satu mobil di tempat parkir ini.
"Apa yang Kamu lihat tadi benar-benar Verdi? tapi kenapa tidak ada di mana-mana?"
__ADS_1
Mereka sudah berkeliling area parkiran, tapi tidak menemukan siapapun.
"Aku melihat Verdi di sana.Tapi saat Aku memanggil mu, entah kenapa langsung tidak ada dia."
Gavino kembali memperhatikan sekeliling sekali lagi. Tapi tetap saja tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan, pergerakan sebuah bayangan juga tidak ada.
"Kalau begitu, ayo kita lihat ke ruangan cctv lagi! Di sana pasti ada tangkapan layar yang lebih jelas lagi."
Akhirnya mereka kembali ke ruangan IT di mall ini, sama seperti yang tadi mereka lakukan bersama dengan sang Kapten.
Gavino meminta kepada petugas IT, untuk mencari jejak rekam cctv beberapa menit yang lalu di lantai lima yang ada di tempat area parkir.
Untungnya petugas itu masih percaya, sehingga mau memperlihatkan rekam jejak cctv yang diminta Gavino dan Lorenzo, sehingga keberadaan Verdi bisa diketahui.
Petugas IT, juga mau membuka beberapa rekaman cctv disekitarnya, agar bisa tahu, ke mana sebenarnya Verdi pergi. Karena rekaman cctv yang lain, menunjukkan bahwa Verdi pergi berjalan menuju ke lantai tiga. Ke sebuah outlet.
Dan ternyata apa yang tadi dilihat oleh Lorenzo, sudah berbeda lagi. Sosok Verdi sudah berjalan tanpa menggunakan topi ataupun jaket lagi.
"Itu Verdi!"
"Lalu... yang di lapas siapa?"
"Aku akan segera menghubungi sang Kapten, dan mengirim rekaman ini. Biar sang Kapten segera melaporkan semua ini pada pihak lapas. Dan menyelediki, siapa sebenarnya yang sedang berada di lapas."
"Iya Gavin. Cepatlah!"
Tut tut tut...
Tut tut tut...
..."Halo Gavin. Aku baru saja sampai di kantor. Ada kabar terbaru apa?" ...
..."Kami baru saja melihat Verdi lagi di mall ini. Dan kami sedang mencari keberadaannya. Sayangnya tidak bisa ketemu." ...
..."Benarkah?" ...
..."Iya. Kami masih berkeliling, tapi belum menemukan sosoknya lagi." ...
..."Apakah Kamu punya bukti yang terbaru?" ...
..."Saya akan segera kirimkan rekaman cctv yang terbaru, supaya Kapten bisa segera melaporkannya ke pihak lapas. Karena tugas IT sudah meng-copy tadi." ...
..."Kirim segera, biar Aku segera menghubungi pihak lapas. Untuk menyelidiki siapa sebenarnya Verdi yang ada di lapas."...
..."Bai Kapten."...
__ADS_1
Klik!
Dengan segera, Gavino mengirimkan semua rekaman cctv yang terbaru, pada sang Kapten. Supaya bisa segera dilaporkan pada pihak lapas, untuk bahan penyelidikan tentang Verdi yang ada di dalam lapas sana.
Selesai mengirimkan semua rekaman cctv tersebut, Gavino bersama dengan Lorenzo kembali berkeliling ke semua sudut Mall ZXX, untuk mencari keberadaan sosok Verdi.
Mereka berdua masih sangat penasaran, dengan pergerakan Verdi yang sangat cepat.
Tapi ternyata mereka tidak menemukan apa-apa. Keberadaan Verdi seperti sebuah bayangan yang cepat menghilang jika terkena sorotan sinar.
"Sebaiknya kita pulang saja. Seperti Verdi memang tidak mau keberadaannya diketahui oleh siapapun."
Lorenzo menganggukkan kepalanya, menyetujui usulan dari Gavino supaya mereka pulang saja.
Setelah mengantarkan Lorenzo pulang ke rumah, Gavino tidak langsung pulang ke rumahnya. Tapi dia pergi ke tempatnya Gress.
Dia juga membawa makanan untuk kekasihnya itu, agar tidak menyulitkannya saat sudah sampai di sana, hanya karena diharuskan memesan makanan.
Ting tong...
Ting tong...
Sambil menekan bel pintu kamar Gress, Gavino juga menelpon kekasihnya itu, supaya setelah membukakan pintu untuknya.
..."Halo Sayang, cepat bukalah pintunya."...
..."Baiklah. Berarti itu Kamu ya Sayang?" ...
Clek!
Tapi keduanya masih menegang handphone yang masih terhubung juga, sehingga pada saat pintu kamar terbuka, mereka masih bicara dengan telpon tersebut. Meskipun sudah saling berhadapan.
..."Apa yang Kamu bawa Sayang?" ...
..."Aku membawakan makanan untukmu, tapi Aku tidak menginap di sini ya." ...
..."Bagaimana Kamu bisa kembali lagi, sedangkan makanan ini belum juga Kamu sentuh. Mending tadi gak udah datang ke sini Sayang." ...
Kik!
Gavino memutuskan hubungan telpon, karena gemas dengan perkataan gadisnya.
Dia segera meletakkan bungkusan makanan yang dia bawa, kemudian memeluk gadisnya yang seakan-akan sedang mengusirnya tadi.
"Berani mengusirku ya!"
__ADS_1
"Hahaha... gak-gak! Hahaha..."
Gress tertawa kegelian, karena digelitiki Gavino. Dia juga berusaha untuk melepaskan dirinya, dari pelukan hangat kekasihnya itu