
..."Yakin jika tidak bisa?"...
..."Kenapa?"...
..."Sampai di rumah tidak akan ada makanan untukmu paman Robert. Soalnya, Aku sudah menghubungi rumah, untuk tidak menyiapkan makanan untukmu."...
..."Hah! Kamu pemaksa ini namanya."...
..."Hahaha... cepatlah datang!"...
..."Baiklah Tuan Muda Gavino."...
Klik!
Gress baru saja melihat, bagaimana cara Gavino memberikan perintah kepada pamannya sendiri. Meskipun sebenarnya Robert adalah anak buah. Dan itulah cara yang dilakukan Gavino, untuk bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya.
"Ternyata Kamu pemaksa juga, sebagai seorang Tuan Muda."
Sepertinya Gress baru melihat sisi lain dari seorang Gavino, yang selama ini dia kenal.
"Hahaha... Sayang, Aku hanya tidak ingin membuat Robert kelaparan, seandainya dia sampai di rumah. Karena dia tidak akan menemukan makanan untuknya. Daripada dia harus memasak sendiri di dapur, lebih baik Aku ajak dia ke sini. Karena Aku sudah memberikan kabar kepada kepala maid, agar tidak memasak untuknya. Juga untukku. Itu artinya, tidak ada makanan yang tersedia di meja makan malam ini."
Lorenzo dan Magdalena yang mengetahui keadaan Gavino, hanya tersenyum tipis. Sedangkan Gress membuang muka, karena perlakuan Gavino yang dianggap tidak pantas, karena memaksakan kehendaknya sendiri.
"Seharusnya Kamu tidak seperti itu Sayang. Setidaknya, hormatilah paman Robert sebagai orang yang lebih tua darimu." Gress mengatakan ketidak sukaanya, atas apa yang dilakukan oleh Gavino ini.
"Aku hanya ingin mengajak paman Robert makan malam bersama kita Sayang. Daripada dia kelaparan nanti di rumah."
"Aku tahu maksud baikmu, tapi setidaknya... ah sudahlah, Aku juga tidak tahu, bagaimana tanggapan dari paman Robert, yang bisa saja sudah terbiasa dengan sikapmu ini."
"Kenapa Kamu jadi merasa seperti itu? sudahlah, ini tidak seperti yang Kamu pikirkan. Kamu akan tahu, apa maksud ajakan ku pada paman Robert."
Ternyata apa yang dilakukan oleh Gavino, membuat kesalahpahaman antara Gress dengan dirinya.
Padahal Gavino hanya ingin menunjukkan kepada Robert, jika dia sudah menceritakan tentang kebenaran dirinya pada kekasihnya.
Sedangkan Gress merasa bahwa, Gavino terlalu arogan sebagai seorang anak muda pada orang yang lebih tua.
Tak lama kemudian, Robert datang dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Dia juga menyalami Lorenzo dan Magdalena, sebagai temannya Gavino. Begitu juga dengan Gress sendiri.
__ADS_1
"Selamat malam semuanya," sapa Robert sambil tersenyum saat menyalami tangan mereka semua.
"Selamat malam Paman," jawab mereka semua, dengan tersenyum juga.
"Silahkan duduk Paman!"
Gress mempersilahkan Robert untuk duduk di sebelahnya, karena memang ada kursi yang kosong disebelahnya.
"Maaf Paman Robert. Aku mengajakmu kesini bukan karena apa, tapi Aku ini ingin mengajakmu makan malam, sekalian memberitahu bahwa, Aku sudah memberitahu Gress, tentang identitas diriku yang sebenarnya. Jadi, tidak akan untuk kesalahpahaman lagi kedepannya nanti."
Ternyata Gavino ingin memberitahukan kepada Robert, dan kedua temannya itu, bahwa sekarang ini, Gress sudah tahu siapa sebenarnya dirinya. Sehingga mereka tidak ada yang mendesaknya untuk bicara jujur lagi pada kekasihnya itu.
Akhirnya Gress paham, dengan memandang Gavino lembut. Seakan-akan sedang meminta maaf, karena dia merasa bersalah, dengan maksud ajakan Gavino kepada Robert.
Tangan Gavino yang tadinya berada di atas meja, akhirnya dia turunkan ke bawah meja, untuk mengambil tangan Gress yang ada di atas lutut. Dia meremas jemari tangan tersebut, seakan-akan meminta maaf kepada kekasihnya itu, tanpa harus banyak bicara.
Gress juga melihat ke arah Gavino dengan tersenyum senang.
Tak lama kemudian, pesanan makanan mereka datang, sehingga mereka mulai menikmati makanan tanpa banyak berdebat lagi.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah selesai menikmati makan malam mereka. Dan Robert pamit untuk pulang terlebih dahulu.
"Aku pergi pulang dulu," pamit Robert pada Gavino dan yang lainnya.
Tapi ternyata, Gavino meminta pada supir untuk mengantar Lorenzo dan Magdalena pulang terlebih dahulu.
"Antar mereka berdua pulang ke rumah, atau bisa ambil mobil Lorenzo ke rumah. Nanti, Aku akan kabari Kamu untuk menjemput ku di flatnya Gress yang tadi." Terang Gavino pada supirnya.
"Baik Tuan Muda."
Lorenzo dan Magdalena yang ingin bertanya, akhirnya terdiam karena mereka berdua paham. Jika temannya itu, akan menyelesaikan kesalahpahaman antara keduanya dengan cara mereka sendiri.
"Lalu Kamu bagaimana?" tanya Magdalena yang tidak merasa nyaman, karena harus membawa mobil Gavino untuk mengantarkannya terlebih dahulu.
"Kami naik taksi. Kamu pergilah bersama Lorenzo. Aku sudah memberitahu pada supir kok," jawab Gavino menjelaskan.
Akhirnya Lorenzo dan Magdalena hanya mengangguk saja. Memberikan kebebasan kepada Gavino dan Gress untuk menyelesaikan permasalahan mereka.
Padahal sebenarnya, antara Gress dan Gavino sudah tidak ada lagi kesalahpahaman.
__ADS_1
Gavino hanya ingin membuat Gress merasa nyaman saja, bersama dengannya tanpa harus ada orang lain diantara mereka berdua.
Setelah mobil yang membawa Lorenzo pergi, Gavino mengajak Gress untuk keluar ke jalan mencari taksi.
"Kita naik taksi ya Sayang," ajak Gavino memberitahu Gress.
Gress hanya mengangguk saja, karena dia sudah mendengar perkataan Gavino pada Lorenzo dan juga pada supirnya tadi.
Itu artinya, Gavino ingin pergi bersamanya untuk ke kamarnya. Yaitu yang ada di flat.
Dia juga paham, dengan apa yang ingin dilakukan oleh kekasihnya itu. Karena sebenarnya dia sangat tahu, apa yang dirasakan oleh Gavino sekarang.
Yaitu perasaan bersalah, dengan semua yang sudah dia katakan tadi atas kejujurannya.
Gress juga tahu, jika kasih itu ingin meminta maaf dengan cara memuaskannya.
Tak lama kemudian, mereka berdua menemukan taksi yang akan membawanya pulang ke flat.
Setelah beberapa hampir dua puluh menit kemudian, mereka berdua tiba di dalam kamar Gress.
"Sayang. Aku minta maaf ya!"
Gavino meminta maaf kepada Gress, dan langsung menciumi bibir Gress sebelum menyahuti permintaan maafnya tadi.
"Mmm... ssss..."
Gress sudah tidak bisa mengucap apa-apa lagi, karena Gavino tidak memberinya kesempatan untuk bisa berbicara.
Dan akhirnya, mereka berdua sudah tidak bisa menghindari hasrat yang saling berhubungan untuk disalurkan melalui penyatuan mereka, seperti biasanya.
Bahkan sekarang, Gavino lebih ganas lagi, karena merasa sudah terbebas dari rasa bersalahnya, dengan kejujuran yang dia lakukan tadi.
Dia juga meminta pada Gress, untuk mengatakan apa yang diinginkannya. Sehingga dia juga bisa memuaskan kekasihnya itu.
"Hhh..."
"Kamu mau dipuaskan dengan cara yang seperti apa lagi Sayang?" tanya Gavino, dengan mencium kening gadisnya itu.
Gress hanya menggeleng, karena apapun yang dilakukan oleh Gavino, sudah membuatnya puas.
__ADS_1
"Apakah setelah ini Kamu mau Aku belikan apartemen, atau rumah?" tanya Gavino meminta pada Gress, agar mengatakan apa yang diinginkannya.
Gress terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Gavino padanya.