
Tut... tut... tut...
Tut... tut... tut...
Panggilan telpon yang dilakukan oleh sang Kapten untuk Gavino tidak terjawab.
"Tumben pagi-pagi sudah tidak bisa dihubungi dia?" gumam sang Kapten bertanya kepada dirinya sendiri.
Dia menghubungi Gavino, untuk mencari tahu. Apakah Gavino sudah mengetahui keberadaan Bos yang menghilang tersebut atau belum.
Tapi ternyata, panggilan telpon yang dia lakukan tidak terjawab.
"Aku kirim pesan saja. Jadi, begitu dia melihat notisifikasi pesan atau panggilan tidak terjawab, dia akan segera menghubungiku."
Akhirnya, sang Kapten mengirimkan pesan kepada Gavino. Mengenai pertanyaan yang dia miliki.
Tapi ternyata, sampai siang hari Gavino tidak membalas pesan maupun menghubunginya. Sehingga membuat sang Kapten harus menghubungi Gavino lagi.
Tut... tut... tut...
Tut... tut... tut...
Sang Kapten masih menunggu, hingga Gavino yang akan mengangkatnya panggilan telpon tersebut. Meskipun harus menunggu lama. Karena dia tidak mau jika Gavino yang harus menghubunginya nanti.
Dia sedikit tidak sabar, untuk mengetahui informasi selanjutnya.
Tut... tut... tut...
Tut... tut... tut...
..."Ya halo!"...
..."Bisa bicara dengan Gavino?"...
Sang Kapten bingung, karena suara orang yang menerima panggilan telponnya bukan suaranya Gavino sendiri. Melainkan suara orang lain.
..."Oh, maaf. Tuan Muda sudah pergi ke kampus tadi sekitar jam 09. 00 dan ponselnya ini kebetulan ketinggalan di atas meja makan. Apakah ada yang bisa Saya bantu?"...
..."Oh begitu. Ya sudah tidak apa-apa. Biar nanti saja kalau ponselnya sudah ada pada Gavino sendiri. Terima kasih."...
..."Sama-sama."...
Klik!
"Huhfff..."
Sang Kapten membuang nafas panjang, karena ternyata, ponsel Gavino, tertinggal di rumah. Sedangkan Gavino sendiri sedang pergi kuliah.
"Aku harus lebih sabar. Dan tetap mencari informasi. Siapa tahu, Aku bisa mendapatkan informasi terlebih dahulu, sebelum dapat dari Gavino juga. Jadi, Aku tidak perlu berpangku tangan dengan Gavino."
Sang Kapten akhirnya memutuskan untuk tetap mencari informasi sendiri. Karena Gavino sedang tidak bisa dihubungi secepatnya.
*****
Di kampus.
Gavino tidak sadar jika dia tidak membawa ponselnya. Apalagi dia sudah merasa tenang, setelah selesai berurusan dengan Bos laboratorium. Yang sudah ditangani oleh king Black dan anak buahnya.
__ADS_1
Dia bisa mengikuti kelas kuliah dengan tenang, bersama dengan gadisnya itu.
"Ehhh..."
Gavino terkejut, saat menyadari bahwa dia tidak membawa ponselnya di dalam saku celana.
"Ada apa?" tanya Gress yang menyadari jika kekasihnya itu berhenti berjalan.
"Ponselku ketinggalan di rumah."
Gavino ingat, jika dia tadi membawa ponselnya ke meja makan. Tapi setelah itu dia tidak ingat lagi.
"Mungkin ketinggalan di meja makan Sayang," ujar Gavino menduga.
"Bisa jadi Sayang. Coba telpon rumah, atau langsung telpon ke ponselmu," usul Gress dengan memberikan ponselnya sendiri, agar Gavino bisa menghubungi rumah.
Tut... tut... tut...
Tut... tut... tut...
Gavino menghubungi kepala Maid, untuk bertanya tentang ponselnya yang ketinggalan.
..."Ya, halo. Siapa ini?"...
..."Gavino Depp."...
..."Oh, Tuan Muda. Apa Tuan Muda bertanya tentang ponsel?"...
..."Oh, apa ponselku ada di rumah?"...
..."Ya Tuan Muda. Baru saja tadi Saya minta pada supir untuk mengantarkannya ke kampus Tuan Muda."...
..."Baik Tuan Muda."...
Klik!
Gavino memutuskan sambungan telpon, dan memberikannya kepada Gress.
"Ternyata memang ada di rumah. Tapi supir sudah mengantarnya ke sini." Gavino menjelaskan pada Gress, tanpa di minta.
"Jadi?" tanya Gress dengan memiringkan kepalanya untuk memperhatikan bagaimana kekasihnya itu akan memberikan penjelasan lagi.
"Ya... Aku nungguin."
"Jadi gak masuk kelas?" tanya Gress lagi.
"Nanti jika supir sampai bagai..."
"Ah, Aku telpon ke nomor handphoneku sendiri, untuk kasih tahu supir ya!"
Sekarang Gress tersenyum, sambil mencubit lengan kekasihnya itu. Karena melupakan sesuatu yang simpel.
Akhirnya Gavino menghubungi ponselnya sendiri, untuk bisa melakukan panggilan pada supir yang menghantarkan ponselnya.
Dia meminta kepada supir, untuk menunggunya terlebih dahulu. Karena dia ada kelas yang harus segera diikuti.
"Terima kasih ya Sayang. Kamu sudah mengingatkan Aku."
__ADS_1
Gavino ucapkan terima kasih kepada Gress, setelah selesai melakukan panggilan telpon dengan supirnya.
*****
Di Paris.
Bianca berniat untuk kembali ke rumah karena dia sudah sudah tahan dengan kelakuan kekasihnya Alano.
Tapi sayangnya, rencananya itu justru diketahui oleh Alano sendiri. Sehingga dia justru mendapatkan siksaan dari kekasihnya yang kejam itu.
"Ini apa?" tanya Alano dengan tatapan mata yang tajam.
Alano memegang surat keterangan pindah kampus, yang diajukan oleh bianca pada pihak universitas.
"Itu... itu mau..."
"Kamu mau lari dariku!"
Alano memotong perkataan Bianca yang terbata-bata. Dengan mencengkeram dagu kekasihnya itu.
"Bukan... Bukan begitu Sayang. Ini... ini tidak seperti yang Kamu pikirkan." Bianca berusaha untuk menutupi rencananya yang sudah ketahuan, supaya Alano tidak bertambah marah.
"Lalu apa?" tanya Alano cepat.
Dia tidak akan membiarkan Bianca kembali ke Roma. Karena dia tidak mau jika Bianca berhubungan lagi dengan Gavino.
"Kamu tahu Sayang. Aku mencintaimu lebih besar dibandingkan dengan siapapun. Aku akan menjagamu, asalkan Kamu patuh dengan apa yang Aku minta."
Kalimat yang diucapkan oleh Alano, semuanya penuh tekanan. Karena dia memang sedang memberikan pengertian dan peringatan kepada Bianca.
Cinta Alano pada Bianca, bisa diartikan sebagai cinta yang membabi buta, alias cinta yang buta.
Artinya, Alano sangat mencintai Bianca, sampai rela melakukan apa saja demi dirinya, supaya Bianca tetap berada di sampingnya. Tanpa memedulikan perasan Bianca sendiri.
Memang terkesan memaksa, karena memang pikirannya untuk melindungi dan mengayomi kekasihnya itu, hanyalah pikirannya sendiri. Kemauannya, tanpa perhitungan perasaan dari pasangannya.
Kini, Alano justru mengungkung tubuh Bianca agar tidak bisa melakukan apa-apa. Sama seperti biasanya.
Karena dengan seperti ini, Bianca akan menurut dan melakukan apa saja yang dia inginkan. Meskipun cara bercinta dengan cara yang ekstrim sekalipun.
Meskipun pada akhirnya bianca juga mengakui bahwa, dia merasa terpuaskan dalam hal hubungan badan. Tapi dia merasakan rasa was-was yang kadangkala datang tanpa dia inginkan.
Jadi, Bianca bingung dengan hubungannya ini. Begitu jangan dengan perasaannya sendiri.
"Argh..."
Alano melepaskan hasratnya, dengan rasa puas yang selalu datang setelah dia selesai melakukannya.
Cup!
"Kamu puas Sayang?" tanya Alano, dengan mengecup bibir Bianca, sebagai penutup permainannya kali ini.
Bianca yang masih mengatur nafasnya yang memburu tadi, hanya bisa mengangguk saja.
"Jika Kamu ingin lebih puas lagi, berjanjilah untuk tetap berada di sisiku. Jangan pernah berfikir untuk pergi. Kamu bisa kan berjanji padaku?"
Mendapatkan pertanyaan seperti ini, Bianca terdiam. Dia tidak bisa menjawabnya dengan cepat, karena masih memikirkan banyak hal. Dengan segala pertimbangan yang ada.
__ADS_1
Cup cup cup!"
"Tidak perlu repot-repot berpikir. Kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku Sayang"