
Gavino mencengkeram kuat kerah baju yang dikenakan oleh George. Tapi dia tetap memelankan suaranya, agar tidak terdengar sampai di luar rumah.
"Hai! Kamu pikir Aku orang seperti itu? Jika Aku berniat untuk mencelakai dirimu, sudah sejak awal bertemu Aku menembak lehermu!" George tak mau kalah. Dia juga berusaha untuk melepaskan diri dari tekanan Gavino.
"Hah!"
Akhirnya Gavino melepaskan kerah baju yang dia tarik. Kemudian melangkah ke arah pintu rumah, untuk mengintai keadaan di luar rumah.
"Mau apa mereka?" gumam Gavino bertanya, saat melihat lima orang di luar sana. Sedang mengitari mobilnya.
"Mungkin mereka berpikir bahwa, rumah reyot ini tidak mungkin memiliki mobil seperti itu." Gavino menoleh cepat, di saat George menjawab gumamam nya yang sedang bertanya.
"Sudah. Tidak usah menatapku seperti itu," ucap George lagi, dengan senyuman mencibir.
Mata Gavino melotot kaget, saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh George.
"Cihhh! Narsis."
"Shuttt!"
George meletakkan jari telunjuk tangannya di depan mulutnya. Meminta Gavino supaya tidak bersuara lagi. Apalagi dengan perkataan yang mengumpat.
"Lihat! Mereka mendekat," cicit George, di saat ke lima orang di luar sana mulai berjalan ke arah pintu rumah.
Mereka berdua, saling pandang dengan sikap waspada. Bahkan George mengeluarkan senjata api miliknya, yang ternyata selalu dia simpan di pinggang, di tutup dengan bajunya.
Mengantisipasi jika terjadi sesuatu pada dirinya sendiri, yang notabene adalah buruan king mafia.
Tok tok tok!
"Ada orang di dalam?"
Tok tok tok!
Pintu di ketuk dari luar, dengan suara orang yang bertanya pada penghuni rumah.
"Bagaimana?" tanya Gavino pada George.
Yang di tanya memerhatikan kondisi orang-orang yang ada di luar.
"Buka saja pintunya. Mungkin mereka hanya kebetulan lewat, dan mencari penginapan. Tapi tidak ada di sekitar sini."
"Sekarang sudah memasuki musim dingin. Mungkin mereka takut, jika tiba-tiba turun salju saat perjalanan."
Gavino mengangguk mengiyakan. Karena sekarang ini, cuaca sedang tidak menentu. Perubahan musim panas ke musim dingin.
Tok tok tok!
__ADS_1
Sebelum Gavino membuka pintu, terdengar suara ketukan pintu lagi.
Kriettt...
Pintu di buka Gavino dari dalam.
Tampak Lina orang dewasa usia yang hampir sama, di depan rumah Gavino.
"Permisi Tuan. Apakah kami diperbolehkan untuk menginap malam ini?"
"Menurut perkiraan cuaca, malam ini akan turun salju untuk pertama kalinya. Jadi, kami tidak mungkin melanjutkan perjalanan kami yang masih jauh."
"Kami tidak menemukan penginapan sepanjang perjalanan dekat sini. Makanya kami mencoba untuk mengetuk pintu rumah ini tadi."
Salah satu dari mereka, bicara tentang maksud dan tujuan mereka datang ke rumah ini. Karena keadaan di luar jauh lebih berbahaya dengan cuaca yang tidak bisa diprediksi.
"Tapi rumah ini tidak sebaik yang Anda bayangkan," ujar Gavino, memberikan penjelasan tentang keadaan rumahnya ini.
Orang tersebut memperhatikan bagaimana kondisi rumah Gavino secara sekilas. Kemudian berkata, "tidak apa-apa Tuan. Yang penting, ini jauh lebih baik daripada kami melanjutkan perjalanan."
Akhirnya, Gavino mempersilahkan mereka berlima untuk masuk ke dalam rumah.
George hanya diam saja sedari tadi, di belakangnya Gavino. Dia memperhatikan, bagaimana orang-orang yang datang untuk ikut bermalam di rumah ini. Malam ini.
"Silahkan duduk. Tapi, kami tidak punya apa-apa untuk jamuan. Sedangkan kami juga baru tiba sore tadi, setelah lama meninggalkan rumah." Gavino memberikan penjelasan kepada tamu-tamu yang datang.
Setelah berkata demikian, orang tersebut menyuruh salah satu dari temannya. Untuk pergi ke luar rumah. Mengambil barang-barang yang tadi dia sebutkan, yang ada di dalam mobil.
George kembali menghidupkan perapian, untuk menghangatkan tubuh tamu-tamunya. Karena api perapian sudah dipadamkan, sebelum mereka berangkat tidur.
Tak lama kemudian, orang yang tadi keluar rumah kembali masuk. Dia juga membawa dua kotak. Yang kemungkinan besar berisi makanan dan minuman anggur.
Tapi sepertinya George tetap waspada. Dia menyusupkan tangannya ke dalam pinggangnya, siap dengan senjata api untuk berjaga-jaga.
Begitu juga dengan Gavino. Dengan kemampuan sistem mafia yang dia miliki, dia menganalisa orang-orang yang ada di depannya kali ini. Bersama dengan dua kotak yang sekarang sudah ada di atas meja.
( Ting )
'Siapa mereka sebenarnya?'
( Orang-orang ini hanya musafir biasa good father. Mereka semua sedang dalam perjalanan ke kota Roma. Umur mereka kisaran 30 sampai dengan 35 tahun )
'Lalu, apa isi dua kotak yang mereka bawa?'
( Ting )
( Makanan dan minuman )
__ADS_1
( Tapi mereka juga punya senjata, yang digunakan untuk berjaga-jaga. Seandainya ada sesuatu yang terjadi )
'Apa tidak berbahaya, jika mereka menginap di rumah ini?'
( Ting )
( Sepertinya tidak. Ada George yang akan siap melindungi Anda good father )
'Hemmm... baiklah.'
( Ting )
Gavino membuang nafas lega. Dia tidak perlu cemas, dengan adanya orang-orang yang ada di rumahnya kali ini.
George melihat Gavino dengan menyipitkan matanya. Dan dia pun menganggukkan kepala, di saat Gavino memberikan kode. Jika keadaan aman.
"Ini makanan dan anggur yang kami bawa. Mari, ikut menikmatinya. Sebagai perkenalan kita. Saya sendiri adalah Robert. Dan ini..."
Robert memperkenalkan satu persatu dari mereka berempat, yang ternyata adalah teman-temannya semua.
Mereka berlima ingin datang ke kota Roma, dan ternyata mereka juga bukan dari kita Monte Isola ini. Tapi dari kota sebelah, yang ada di dekat perbatasan negara.
*****
Pukul sembilan pagi, Gavino baru saja bangun. Ternyata George sudah bangun lebih dulu dari dirinya. Sedangkan Robert dan teman-temannya, masih tertidur pulas di ruangan depan.
Mereka tidur dengan menggelar karpet tua di rumah ini. Kemudian diatasnya di gelar lagi beberapa karpet bekal yang di bawa mereka dalam perjalanan.
"Sepertinya mereka benar-benar kecapekan," gumam Gavino memperhatikan bagaimana kondisi mereka saat tertidur.
George hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar gumaman gavino yang sebenarnya tidak ditujukan padanya.
Kriettt...
Pintu terbuka. Gavino melihat timbunan salju tipis di depan rumah. Karena ternyata, semalam memang sudah turun salju. Meskipun tidak disertai angin yang kencang.
Udara dingin langsung masuk ke dalam rumah. Membuat hawa di dalam juga terasa dingin. Sehingga membuat Robert dan teman-temannya terbangun.
"Ternyata benar turun salju."
Robert langsung berkata demikian, di saat matanya melihat keluar. Karena memang tampak jelas, jika mobil yang terparkir di depan pintu, tertutup salju. Meskipun tidak tertutup dengan sempurna.
Kini mereka semua, termasuk Gavino dan juga George, kembali duduk di depan perapian.
Menikmati minuman yang disediakan Gavino. Yaitu teh hangat tanpa gula, bersama sisa makanan semalam. Karena dia tidak bisa pergi ke mana-mana, di musim dingin pertama kali ini.
"Kita nikmati apa yang ada saja."
__ADS_1