Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Aku Jujur


__ADS_3

Ting tong Ting Ting!


Pintu kamar Gress terbuka dari dalam, dan tampak Gress yang sudah siap untuk berangkat.


Cup!


"Kamu sudah siap berangkat ya Sayang?" tanya Gavino, setelah mengecup bibir Gress sekilas.


"Kamu liat sendiri kan, Aku sudah siap."


Gress memperlihatkan penampilan dirinya, dengan berputar-putar. Memamerkan pakaian yang sudah dia kenakan dengan rapi.


"Jangan menggodaku Sayang! Aku bisa..."


"Hai! Aku tidak menggoda mu Sayang!"


Gress tidak terima, karena dituduh menggoda Gavino. Padahal, dia memang tidak ada bermaksud untuk menggoda kekasihnya itu.


"Tapi dengan kamu berputar-putar seperti itu, seakan-akan kamu menggoda untuk segera melahapnya."


"Hahaha... maaf, maaf Sayang. Oh ya, apakah temanmu sudah siap? atau kamu datang menjemput ku terlebih dahulu ini?" tanya Gress yang tidak tahu bahwa, Lorenzo dan Magdalena justru sudah ada di bawah sana.


"Mereka ada di mobil. Ayo!" ajak Gavino, yang sempat melupakan keberadaan kedua temannya yang menunggu di dalam mobil.


"Mereka sudah ada di sini? Aku pikir Kamu menjemputku terlebih dahulu, baru kemudian menjemput mereka."


Gress lupa jika, sebenarnya tadi sudah diberitahu oleh Gavino. Bahwa dia akan di jemput terakhir kali, karena Lorenzo itu tidak mau jika, Magdalena menunggu terlalu lama di bandara.


"Apakah Kamu lupa? Aku kan sudah mengatakan, jika Kamu Aku jemput setelah dari bandara. Nah, yang Aku jemput di bandara inilah, kekasih temanku, Lorenzo."


"Magdalena itu nama kekasih temanmu itu?" tanya Gress memperjelas keterangan yang diberikan oleh kekasihnya itu.


"Iya. Dia kasih temanku, tapi dia juga temanku sewaktu masih sekolah."


"Oh... jadi keduanya temanmu juga?" tanya Gress lagi, yang akhirnya paham, dengan hubungan kekasihnya ini dengan kedua temannya itu.


"Iya seperti itulah."


Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju ke mobil, setelah Gress mengunci pintu kamarnya.


Mereka berdua menuju ke mobil, di mana sudah ada Lorenzo dan Magdalena yang yang sedang menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


Gavino mempersilahkan Gress untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, baru kemudian dirinya yang masuk.


Gavino memerintahkan kepada supir, melalui alat penghubung antara depan dan belakang pada bagian mobilnya. Karena pembatas sekat dalam mobil tertutup, sehingga dia harus menghubungi supir untuk memintanya jalan lagi.


"Hai Gress! Aku Lorenzo, temannya Gavino."


"Hai, Aku Magdalena. Kekasihnya Lorenzo, tapi temennya Gavino juga.


Tanpa diminta, Lorenzo dan Magdalena justru memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, sebelum Gavino memperkenalkan mereka bertiga.


Gavino merasa senang, karena ternyata, Gress bisa berbaur dengan Magdalena dan juga Lorenzo. Dia bisa mengimbangi, apa yang mereka bicarakan


"Oh ya Gress, katanya Kamu kan orang Amerika. Kok bisa sampai ke sini? bukanya di Amerika sana, universitasnya juga banyak yang terkenal dan besar, ke seluruh dunia."


Magdalena tiba-tiba bertanya tentang latar belakang Bianca, yang mendapat bisa mendapatkan beasiswa ke kota Roma ini.


"Tadinya Aku juga ambil beasiswa di Amerika. Tapi ternyata aku mendapatkan panggilannya yang ada di Roma, sedangkan yang di Amerika Aku gagal. Ya sudah, Aku ambil saja mana yang bisa Aku jalani."


"Maksudnya bagaimana?" Magdalena yang tidak tahu bagaimana keadaan Gress justru bertanya lagi.


"Sayang, kita belum makan minum lho sedari tadi. Jadi ini mau makan di mana?"


Lorenzo bertanya pada Magdalena, untuk mengalihkan perhatian Magdalena dari pertanyaan yang tadi belum di jawab oleh Gress. Dia tidak mau jika Magdalena terus menerus mengajukan pertanyaan kepada Gress.


Tapi ternyata Magdalena melupakan cerita Gavino yang tadi, yang menceritakan tentang keadaan Gress, sehingga Magdalena justru melupakan pembicaraan mereka sebelumnya.


"Kita makan sekalian di mall saja nanti. Bagaimana Gress, Kamu setuju kan?" Magdalena meminta persetujuan dari Gress.


Gress hanya mengangguk saja, mendapat pertanyaan dari Magdalena. Tapi dia juga melihat ke arah Gavino, untuk meminta persetujuan kekasihnya itu.


"Iya. ditentukan saja sesuka kalian."


Gavino memberikan jawaban pasrah, supaya mereka tidak lagi banyak bertanya.


Dia meminta pada supir, untuk pergi ke sebuah mall terbesar yang ada di kota Roma ini, untuk mencari makan siang dan bermain.


Sekitaran lima belas menit kemudian, mobil memasuki kawasan gedung mall terbesar di kota roma, yang merupakan pusat kegiatan banyak orang. Termasuk anak-anak muda seperti mereka juga.


Setelah turun di depan pintu masuk, mobil dibawa supir ke area parkir. Sedangkan mereka menuju ke lantai tiga, di mana ada sebuah restoran lengkap dengan semua menu yang menggugah selera.


Mereka melakukan pesanan makanan, sesuai yang mereka inginkan. Kemudian berbincang dengan hal-hal yang biasa.

__ADS_1


Gress nyatanya bisa mengimbangi perbicangan mereka, meskipun ada beberapa yang bisa dia ikuti, di saat mereka membicarakan tentang teman atau sekolah mereka yang dulu.


"Lorenzo, Mahdalena, maaf ya. Aku mau ajak Gress untuk berbicara sebentar. Jadi Aku tinggal ke sana dulu."


Akhirnya Gavino mengajak Gress pindah duduk di sudut ruangan, agar bisa berbicara dengan Gress secara bebas. Apalagi, restoran ini belum begitu ramai.


Gress yang tidak tahu apa-apa, hanya mengikuti langkah Gavino yang mengajaknya.


"Sayang. Kenapa harus menjauh dari mereka? jika hanya ingin bicara denganku." Gress bingung dengan sikap Gavino kali ini.


"Aku mau mengatakan sesuatu, yang seharusnya sudah ada katakan sedari dulu. Tapi aku belum bisa mengatakannya, jadi Aku akan mengatakannya sekarang."


Guess merasa ini sangat serius, sehingga atensinya fokus pada Gavino seorang.


"Ada apa memangnya? apa yang Kamu sembunyikan?" tanya Gress, menunggu Gavino memberikan penjelasan.


"Sebenarnya... sebenarnya Aku adalah..."


Gavino menghela nafas panjang terlebih dahulu, kemudian baru melanjutkan kalimatnya yang tadi tidak dia teruskan.


"Kios dan warabala yang kemarin tempat Kamu bekerja itu, sebenarnya adalah milikku."


Deg!


Gress terkejut mendengar pengakuan Gavino.


"Maksudnya Kamu pemilik kios dan warabala itu?"Gresso mengulang pertanyaan yang tadi dikatakan oleh Gavino, karena dia belum yakin dengan apa yang dia dengar.


"Iya."


Gavino menjawab pendek pertanyaan Gress dengan menatap manik mata kekasihnya itu.


"Maaf Sayang. Sebenarnya Aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Aku hanya ingin meyakinkan diriku, bahwa kamu bisa menerima Aku apa adanya. Tanpa melihat keadaanku sebagai seorang Gavino yang memiliki segalanya."


Gress menghela nafas panjang, sambil memejamkan matanya. Untuk menerima kenyataan apa yang baru saja dia dengar ini.


"Jadi selama ini, Kamu tidak yakin dengan perasaanmu denganku, begitu maksudnya?"


Sepertinya Gress justru salah paham dengan maksud Gavino yang memberinya penjelasan kali ini.


"Bukan. Bukan begitu maksudku Sayang. Kamu jangan salah paham."

__ADS_1


"Gress, Sayang. Aku akan menjelaskannya padamu. Tapi dengarkan sampai Aku selesai bicara. Jangan Kamu potong atau bertanya sebelum Aku selesai bicara."


Gress mengangguk setuju, baru kemudian Gavino memulai ceritanya.


__ADS_2