
"Kemana mereka berdua?"
Gavino bertanya pada dirinya sendiri, karena kedua asisten pribadinya tidak ada yang bisa dia hubungi satu orang pun.
Akhirnya Gavino meletakkan kembali ponselnya di dasbor mobil. Kemudian menghidupkan mesin mobilnya, dan meninggalkan halaman rumahnya untuk pergi ke kampus.
Tak butuh waktu lama, mobil Gavino sudah sampai di depan kampus.
Tin tin!
Bunyi klakson mobil Gavino, mengagetkan Gress. Yang sedang berjalan menuju ke gerbang kampus.
"Hai, ayo masuk!" ajak Gavino pada Gress.
Pintu gerbang kampus menuju ke area parkir gedung untuk kelasnya, memerlukan waktu sekitar lima menit. Sebab kampusnya ini memang luas dan besar. Dengan letak-letak gedung yang dilengkapi dengan area parkir sendiri-sendiri.
Gress dengan senang hati menyetujui ajakan Gavino. Dia segera masuk ke dalam mobil, kemudian Gavino kembali menjalankan mobilnya. Menuju ke arah gedung yang biasa digunakan untuk belajar mereka berdua.
"Tumben telat?" tanya Gavino, yang sudah hafal dengan kebiasaan Gress.
Gadis itu tidak pernah telat, dan selalu on time. Bahkan sering datang lebih awal, dari pada jam yang seharusnya.
Gress tidak langsung menjawab pertanyaan dari Gavino. Dia justru menundukkan kepalanya, malu untuk memberikan penjelasan kepada cowok yang sudah tidur bersamanya semalam.
"Hai! Ada apa Gress?" tanya Gavino lagi, setelah sampai di tempat parkir.
"Tidak apa-apa," jawan Gress dengan mengelengkan kepalanya.
Tangan Gavino menangkap pergelangan tangan Gress, memintanya untuk segera memberikan penjelasan.
"Aku... Aku ketiduran lagi, setelah... setelah Kamu pulang."
Wajah Gress menunduk malu, karena ketahuan jika sedang dalam keadaan lelah dengan kegiatan mereka berdua semalaman. Bahkan terulang lagi di pagi hari ini.
Cup!
"Maaf," ucap Gavino pendek, setelah mengecup singkat bibir Gress.
Kini, keduanya sama-sama keluar dari dalam mobil, setelah Gavino melepaskan pelukannya.
*****
Sekitar pukul setengah tiga siang, Gavino mengajak Gress ke kios.
"Aku bisa sendiri Gavin." tolak Gress, yang tidak mau merepotkan teman dekatnya itu.
"Aku tidak menerima penolakan Gress. Sudahlah, ayok!"
__ADS_1
Gavino menarik tangan Gress, supaya mengikuti apa yang dia katakan tadi. Karena dia juga ada perlu dengan George. Yang sedari tadi tidak bisa dihubungi.
Akhirnya Gress tidak bisa lagi menolak. Dia juga tidak mau menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka, di kampusnya ini. Sebab mereka berdua memang baru saja selesai dengan kegiatannya di kampus.
"Silahkan masuk tuan putri..."
Wajah Gress memerah, saat Gavino membukakan pintu mobil, dengan membungkukkan badannya. Sama seperti para pelayan yang sedang memberikan salam hormat untuk putri tuannya.
"Gavin. Jangan buat Aku malu. Liat, mereka pada liatin kita tahu!" cicit Gress, dengan melirik-lirik ke sekeliling.
"Tidak usah perhatian mereka. Cukup Aku saja!" tegas Gavino memperingatkan Gress.
Gress tidak mau berdebat dengan Gavino. Jadi, dia segera masuk ke dalam mobil, supaya bisa cepat mengindari tatapan curiga dari orang-orang yang ada di tempat parkir.
Setelah Gress masuk ke dalam mobil, Gavino tersenyum puas. Dia berjalan memutar, kemudian masuk ke dalam mobil, pada posisi supir. Dia akan membawa Gress ke kios. Sesuai dengan perkataannya yang tadi.
"Gavin. Aku sebenarnya bisa pergi sendiri ke kios. Kan sudah ada alamatnya," ujar Gress, yang sebenarnya protes dengan sikap Gavino yang mulai posesif terhadap dirinya.
Tapi Gavino hanya diam saja, dan tidak menyahuti perkataan yang diucapkan oleh Gress, dengan niatan protesnya itu.
"Emhhh...."
Ciiittt...
Mobil terpaksa dihentikan oleh Gavino ke pingin jalan, dengan mengeremnya secara mendadak. Sehingga suara ban mobil yang ber_decit, terdengar memekakkan telinga orang yang ada disekitarnya.
Gress tentu saja terkejut dengan sikap Gavino, yang tiba-tiba saja berubah.
Dia takut, jika Gavino akan marah. Karena perkataannya yang tadi, yang seakan-akan keberatan Gavino yang mengantar dirinya. Padahal bukan itu maksud perkataan Gress.
Dia hanya tidak mau merepotkan Gavino. Apalagi Gavino juga sedang mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Paris.
"Berhenti merasa jika Kamu merepotkan ku. Tidak Gress. Aku sendiri yang ingin mengantarkan ke kios. Karena Aku juga ada keperluan dengan pamanku yang bekerja di sana. Kamu paham kan?"
"Jadi berhentilah merengek!"
"Dan satu lagi! Mulai sekarang, panggil Aku dengan sebutan Sayang. Aku pun sama. Aku akan panggil Kamu dengan sebutan Sayang."
Gress membelalakkan matanya, saat mendengar perkataan Gavino. Yang panjang lebar memberikan penjelasan kepadanya.
"Tapi..."
Cup!
"Tidak ada tapi-tapi Sayang. Biasakan mulai dari sekarang. Ok!"
Gavino memotong kalimat Gress yang belum selesai, dengan mengecup bibir Gress secara singkat.
__ADS_1
Memberikan kecupan singkat seperti itu, ternyata manjur untuk membuat Gress diam. Sehingga Gress hanya mampu menganggukkan kepalanya. Mengiyakan permintaan dari Gavino, yang memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan Sayang. Tidak hanya sekedar Aku dan Kamu.
Setelah Gress menganggukkan kepalanya setuju, Gavino kembali menjalankan mobilnya. Menuju ke arah kios Giordano dan Mirele. Di mana ada kantor warabala milik papa dan mamanya juga.
Tak butuh waktu lama, mereka berdua telah sampai di depan kios.
Setelah keduanya sama-sama keluar dari dalam mobil, Gavino meminta Gress untuk masuk sendiri. Karena dia harus menelpon seseorang terlebih dahulu.
"Sayang masuk saja, cari tuan Robert atau George ya! Aku mau menelpon paman terlebih dahulu."
Gress hanya mengangguk saja, kemudian berjalan menuju ke pintu kios.
Di luar kios, Gavino bersandar pada pintu mobil. Sambil menelpon George, yang sedari pagi tidak bisa dia hubungi.
Tut tut tut!
..."Halo Gavino. Ada apa?" ...
..."Di mana Kamu sekarang?" ...
..."Aku ada di kios. Bukannya Aku sudah ada janji untuk bertemu dengan teman gadismu itu. Kenapa bertanya lagi?"...
..."Sialll Kamu George! Sedari pagi Aku menghubungi Kamu. Tapi tidak bisa."...
..."Hahaha... maaf Tuan Muda! Ponselku dalam keadaan silent, dan ternyata low batt. Ini baru saja Aku aktifkan, karena selesai di cas." ...
..."Hahhh! Alasan saja Kamu. Sekarang dia sudah masuk ke dalam kios." ...
..."Siap Tuan Muda! Apa dia juga perlu Aku tes yang lain?" ...
..."Awas saja Kamu berani!"...
..."Hahaha... ampun anak Muda. Mana berani yang tua ini berlaku tak sopan dengan yang lebih muda. Hahaha..." ...
..."Terus saja tertawa! Eh ingat George! Jangan sampai Gress tahu, jika kios dan warabala ini adalah milikku. Ingat itu!" ...
Klik!
*****
Di dalam kios.
George menghela nafas panjang, setelah sambungan telpon dari Gavino ditutup secara sepihak oleh Tuan Muda_nya itu.
"Ck! Dasar anak muda yang baru saja merasakan hal yang baru juga."
George justru bergumam sendiri, dengan tingkah dan sikap berbeda dari Gavino. Karena dulunya, Tuan Muda nya itu tidak seperti itu, jika berurusan dengan seorang gadis atau wanita.
__ADS_1
Tapi untuk beberapa hari terakhir ini, sikap itu baru terlihat. Dan George sangat tahu, apa penyebab utama perubahan Gavino.