
"Arghhh..."
Gavino mengerang kesakitan, pada bagian kepalanya. Sehingga kedua tangannya memegangi kepalanya, yang terasa sangat sakit. Seakan-akan tertimpa batu yang besar.
Melihat kondisi Gavino yang sedang kesakitan seperti ini, membuat Gress panik.
"Gavin, Kamu tidak apa-apa?" tanya Gress, yang tampak jelas jika dia merasa khawatir. Karena bagaimanapun juga, Gavino tetaplah satu-satunya pemuda, yang dia cintai.
Thomas Bryan merasa ada yang salah, dengan apa yang terjadi pada anaknya itu. Sebab tadi dia baru saja mendengar, jika Gress tidak peduli lagi dengan Gavino. Bahkan anaknya itu juga tidak mau ikut bersama dengan Gavino, yang akan pergi ke Amerika sana bersama dengan Bianca.
Tapi sekarang ini, Thomas Bryan menemukan kenyataan yang lain. Di mana dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika Gress masih begitu peduli dengan keadaan Gavino. Yang sedang merasakan kesakitan.
"Apa ini hanya sebuah rekayasa, sandiwara Gavino. Untuk bisa mendapatkan perhatian dari Gress?" tanya Thomas Bryan, yang merasa bahwa pemuda tersebut tidak benar-benar sedang kesakitan.
"Papa. Gavin sedang sakit. Tapi Papa justru menurunnya yang bukan-bukan!"
Gress tidak terima dengan perkataan Papanya, yang mengatakan bahwa, Gavino hanya berpura-pura sakit. Demi untuk mendapatkan perhatian darinya.
Dia mengenal Gavino dengan sangat baik, dan Gavino bukankah seseorang yang suka mencari perhatian. Dengan cara berpura-pura seperti itu.
"Tapi Sayang, tadi dia baik-baik saja!"
Thomas Bryan coba untuk memperlihatkan keadaan yang sebenarnya, pada Gress. Sebab dia berpikir bahwa, anaknya itu masih terpengaruh dengan perasaannya sendiri pada Gavino.
Sebab bagaimanapun juga, antara Gavino dan Gress memiliki hubungan yang sudah terlanjur jauh. Dan itu udah terjadi dalam jangka waktu yang lama.
Sedangkan untuk Gavino sendiri, saat ini sudah tidak sadarkan diri. Karena kenyataannya dia telah kalah, atau gagal. Dengan tantangan yang harus dia kerjakan dari sistem. Untuk bisa mempengaruhi keputusan Thomas Bryan, agar bisa mendukungnya. Dan bukannya memusuhi dirinya.
Sayangnya, Thomas Bryan tidak tergoyahkan dengan pendiriannya. Melepaskan Gress yang seharusnya mengikuti rencananya, untuk pergi ke negara Paman Sam.
"Angkat dia!"
Dua orang security yang baru saja datang ke tempat mereka berada, diminta oleh Thomas Bryan, untuk mengangkat tubuh Gavino yang sedang tidak sadarkan diri.
"Bawa dia ke klinik kantor! Aku tidak mau jika dia sampai mati di sini."
"Papa!"
Gress memperingatkan papanya, supaya tidak berkata sembarangan. Tentang keadaan Gavino, yang sedang tidak sadarkan diri.
Dia sendiri sebenarnya juga tidak mau, jika terjadi sesuatu pada kekasihnya itu. Karena bagaimanapun juga, dia masih mencintai dan menyayangi Gavino. Sama seperti dulu.
Dua orang security sudah mengangkat tubuh Gavino, kemudian membawanya ke klinik kantor. Yang ada di lantai 3.
Gress dan Thomas Bryan, juga mengikuti dari belakang. Karena bagaimanapun juga, mereka berdua harus mengetahui tentang keadaan Gavino.
Setelah beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di klinik. Sehingga Gavino langsung mendapatkan perawatan medis dari dokter jaga.
Thomas Bryan duduk terdiam di ruang tunggu. Begitu juga dengan Gress, yang duduk dalam keadaan gelisah.
"Gress. Apa Kamu merasa, jika apa yang dilakukan oleh papa ini kelebihan?" tanya Thomas Bryan kepada anaknya.
Suasana sunyi. Gress tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan oleh papanya. Sebab dia memang sedang melamun, dengan memikirkan kondisi Gavino. Yang menurutnya tidak biasa.
Selama ini Gavino adalah seorang pemuda yang sehat dan kuat. Tidak pernah mengeluhkan apapun tentang kondisi kesehatannya sendiri.
'Tapi kenapa tiba-tiba Gavin jatuh pingsan dan kesakitan pada bagian kepalanya ya?' Gress membatin dalam hati, dengan pertanyaan-pertanyaan seputar keadaan Gavino barusan.
Dia tidak pernah melihat Gavino yang tiba-tiba seperti ini, sehingga dia menganggap Gavino tidak ada kelemahan. Sama seperti manusia pada umumnya.
"Oh ya, paman Robert!"
Gress justru teringat dengan Robert, yang harus dia hubungi. Supaya bisa menjemput Gavino, dan membawanya pulang saja.
Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada Gavino, dengan keadaannya yang sekarang.
"Hai Gress! Papa sedang mengajakmu bicara, tapi Kamu justru bicara sendiri, tanpa peduli dengan Papamu ini?" Thomas Bryan merasa diabaikan oleh anaknya sendiri, karena mendengar gumaman Gress yang lebih mengkhawatirkan keadaan Gavino.
"Papa mau bicara apa? Sepertinya waktu untuk bicara soal pekerjaan atau yang lainnya, ditunda dulu."
__ADS_1
Gress menghadang keinginan papanya, supaya tidak membicarakan hal lain. Sebab dia sendiri sedang tidak bisa berfikir tentang hal lainnya juga, karena memikirkan kondisi Gavino yang masih dalam penanganan dokter.
Mendengar pernyataan anaknya, Thomas Bryan terdiam.
Sekarang dia bisa menyimpulkan bahwa, anaknya itu memang tidak bisa meninggalkan Gavino. Apalagi dalam keadaan seperti ini.
Itu artinya, dia mau tidak mau, harus mengalah. Dan mengikuti keinginan anaknya.
"Sayang. Jika Kamu mau ikut bersama dengan Gavino ke Amerika sana, Papa tidak akan melarang lagi."
Thomas Bryan akhirnya memberikan keputusan, yang membuat Gress menoleh dengan cepat ke arahnya. Karena tidak percaya begitu saja, dengan apa yang baru saja dia dengar.
"What? Papa memberikan ijin pada Gress?" tanya Gress dengan cepat.
Dia tentunya tidak percaya begitu saja, dengan apa yang baru saja dia dengar barusan. Mengenai ijin papanya, yang memperbolehkan dirinya untuk mengikuti rencana Gavino ke Amerika.
Tapi ternyata Thomas Bryan mengangguk pasti, yang membuat anaknya itu langsung memeluknya dengan cepat.
"Aaa... benarkah Papa?"
"Thanks Pa. Love you Pa!"
Hipporia Gress atas restu yang diberikan oleh papanya, membuatnya tidak percaya, sangking senangnya.
Gress segera memeluk papanya, dengan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
"Terima kasih Pa!"
"Very tengyu Pa!"
"Amo papà!"
"Aku Sayang Papa!"
Bahkan Gress sampai meloncat-loncat kegirangan, di depan papanya.
Melihat anaknya yang katanya berbahagia dengan keputusan yang dibuat, menyadarkan Thomas Bryan, jika dia tidak bisa memaksakan keinginannya. Meskipun Gress adalah anaknya.
Begitulah akhirnya, Thomas Bryan yang memberikan ijinnya pada Gress. Jika anaknya itu mengikuti Gavino, yang berencana untuk tinggal di negara Paman Sam.
*****
Dalam keadaan tidak sadarkan diri, Gavino berhasil mengaktifkan sistem.
( Ting )
( Selamat sore Good Father )
'Apakah Aku sudah mati?'
( Ting )
( Belum Good Father )
'Lalu apa yang terjadi padaku sekarang?'
( Ting )
( Good Father sedang dalam keadaan pingsan. Dan sekarang ini berada di klinik kantor Thomas Bryan )
'Aku pingsan?'
( Ting )
( Benar Good Father )
( Tapi meskipun Good Father dalam keadaan tidak sadarkan diri, tapi Good Father berhasil )
'Maksudnya Aku berhasil meyakinkan Thomas Bryan?'
__ADS_1
( Ting )
( Tapi semua itu adalah karena Nona Gress )
'Jadi, Aku berhasil dalam hal apa?'
( Ting )
( Good Father berhasil mempengaruhi pikiran Thomas Bryan, melalui keyakinan Nona Gress )
'Lalu Aku tidak mendapatkan apa-apa?'
( Ting )
( Tentu saja tidak Good Father )
( Tapi Good Father juga tidak kehilangan apa-apa )
'Emhhh... jadi, semuanya masih sama seperti kemarin?'
( Ting )
( Benar Good Father )
( Ting )
( Menampilkan brangkas sistem )
1%
10%
20%
30%
40%
50%...
Sampai selesai menjadi 100%.
( Ting )
( Tampilan brangkas sistem terakhir kalinya )
# Tampilan on
# Hadiah utama : 739. 725 poin
# Hadiah bonus : 0 poin
# Kemampuan : 90%
# Keahlian Khusus \= Mempengaruhi pikiran, menaklukkan hati
# Sisa umur \= 2.520 hari
# Kecepatan sesuai dengan permintaan
( Ting )
'Ohhh...'
( Ting )
Layar sistem menghilang, persamaan dengan dirinya yang juga sadar dari pingsannya.
"Eghhh... arghhh..."
__ADS_1
"Gavin! Gavin!"
"Kamu tidak kenapa-kenapa kan?"