Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Upaya Pembebasan


__ADS_3

Sementara di luar bangunannya Gavino dan temannya mengatur rencana dan strategi, dari arah jalan tampak iring iringan mobil yang masuk. Dengan membawa banyak orang-orang yang berbadan besar dan kekar.


Mereka tampak seperti orang dewasa pada umumnya. Bukan lagi anak-anak sekolah, sama seperti Gavino ataupun Alano.


Melihat itu, Gavino langsung memberikan kode pada temannya yang lain untuk segera bersembunyi. Dan tidak melakukan apa-apa, yang bisa membuat mereka curiga. Karena ini bisa berbahaya bagi keselamatan mereka sendiri.


Lorenzo, Dante, Jeffrie dan Cardi, mengangguk patuh pada kode yang diberikan oleh Gavino.


Mereka langsung menyembunyikan tubuh mereka, agar tidak diketahui oleh orang-orang yang baru saja datang.


Apalagi, mereka juga membawa beberapa senjata. Yang kemungkinan besar, mereka akan melakukan suatu transaksi. Atau orang yang baru saja datang memang diminta oleh Alano, untuk membantunya dalam mendapatkan Gavino. Padahal ada Bianca yang sudah dijadikan sandra oleh kawanan Alano.


Tapi sepertinya, Alano tetap meminta bantuan pada geng lain untuk melindungi dirinya.


'Apakah sistem aktif dalam keadaan seperti ini?' batin Gavino, bertanya pada diri sendiri.


( Ting )


( Sistem informasi diaktifkan )


Dari layar yang tampak pada otak Gavino, di perkiraan ada banyak sekali orang-orang yang ada untuk melawannya. Seandainya dia datang sendiri untuk menyelamatkan Bianca.


( Good father bisa panggil pasukan )


"Hah, apa itu? Pasukan?"


( Ya benar )


( Pilih pasukan dalam jumlah )


"Hai, ini bukan main-main! Ini dalam keadaan darurat. Nyawa temanku sebagai taruhannya di dalam sana!"


( Pilih dan pasukan akan segera datang )


Gavino tampak menghela nafas panjang, kemudian membuangnya cepat.


"Huhfff!"


"Apa ini nyata?"


( Pasukan akan segera datang untuk membantu )


"Baiklah. Aktifkan pasukan."


( Pasukan akan segera datang )


( Ting )


( Ada yang mau diaktifkan lagi )


"Hahhh! Aku mau aktifkan kekuatan!"


( Ting )


( Pilihan kekuatan ditentukan )


"Aku mau level 10."


( Level 10 diaktifkan )


1%


5%


15%


25%


45%


70%


90%


100%

__ADS_1


( Sempurna )


"Aggrrr...."


"Agrhhh!"


Karena tadi teman-temannya ada di sebelah kiri dan kanan bangunan, tak ada yang tahu apa yang terjadi pada Gavino.


Tapi teriakan yang dilakukan oleh Gavino, tentu saja membuat orang-orang yang berjaga di pintu masuk dan sekitar bangunan mencari keberadaannya.


"Siapa itu di sana?"


"Sepertinya ada penyusup. Ayo kita periksa!"


"Laporkan pada Bos di dalam!"


"Baik, siap!"


Ada beberapa yang mengecek keberadaan orang yang tadi berteriak. Dan ada juga yang masuk ke dalam untuk memberikan laporan tentang kejadian di luar bangunan.


Namun pada saat posisi Gavino hampir ketahuan, dari arah luar ada banyak orang-orang yang datang dengan membawa senjata lengkap. Tanpa ada yang tahu, siapa dan dari mana mereka berasal.


Perkelahian pun akhirnya terjadi, tanpa bisa dicegah. Sama seperti ada dua pasukan geng yang saling serang.


Trang!


Crash!


Srettt!


Bughhh!


Adu senjata dan pukulan terdengar dari perkelahian tersebut. Sedangkan Gavino, melenggang masuk ke dalam bangunan.


Dante dan Lorenzo, ikut bergabung. Setelah mendengar aba-aba dari Gavino.


Begitu juga dengan Jeffrie dan Cardi.


"Dante! Gavin masuk ke dalam. Ayo ikuti!"


Lorenzo dan Jeffrie juga ikut berlari ke dalam, menyusul teman-temannya.


Mereka semua, ingin ikut membantu Gavino yang mau membebaskan Bianca.


Kekuatan yang tidak seimbang, membuat orang-orang yang berjaga kewalahan dan akhirnya kalah. Kemudian datang orang-orang yang juga siap menyerang dari dalam bangunan.


Dan akhirnya, Gavino harus melawan mereka terlebih dahulu, karena dua di hadang diperjalanan menuju ke dalam.


Tapi tentu saja mereka tidak bisa melawan Gavino, yang sudah mendapatkan kekuatan sistem.


Apalagi dari arah belakang, ada empat temannya yang datang membantunya.


"Gavin. Kamu langsung ke dalam. Biar mereka kami urus!" Teriak Cardi, saat mereka sudah berada di tempat.


Gavino mengangguk paham. Dia segera melesat pergi, melanjutkan perjalanan menuju ke dalam. Dia pun berjalan dengan hati-hati, karena semakin ke dalam, ruangan semakin gelap. Tidak ada cahaya yang masuk.


Mungkin ini memang disengaja, atau dibuat sedemikian rupa. Apalagi, ini memang bangunan yang sudah tidak lagi digunakan.


*****


Di dalam bangunan, di mana Alano berada.


"Dammm!"


"Aku sudah bilang jangan melapor kepada polisi. Apa itu?"


Alano marah besar, karena mendapatkan laporan jika di luar ada banyak orang yang menyerang mereka.


"Tapi sepertinya mereka bukan polisi. Tapi geng atau semacamnya. Mungkin mafia yang kita tidak kenal."


Alano tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang yang datang melapor.


Teman-temannya yang tadi baru saja datang bergabung dengannya, langsung siap ke luar. Setelah diberikan kode untuk melakukan apa saja yang bisa dilakukan. Agar mereka tidak bisa merangsek masuk ke dalam.


"Cepat cegah mereka masuk. Aku akan pergi dengan sandra, dengan mengancam nyawanya. Biar Gavino tidak bisa melakukan apa-apa."

__ADS_1


"Ternyata dia benar-benar tidak bisa diremehkan begitu saja." gumam Alano, sambil meremas rambutnya sendiri.


Dia tampak sangat gusar.


Clek!


Pintu ruangan yang tadi baru saja dia tinggalkan, kembali dia buka.


"Hai lepaskan Aku!"


Bianca yang sudah tidak pingsan, langsung berteriak minta dilepaskan.


"Tidak semudah itu. Karena ternyata, Kamu sangat penting bagi si Gavino itu. Hahaha..."


"Apa maksudmu?" tanya Bianca cepat.


Dia tidak mengerti, apa yang dikatakan oleh Alano saat ini. Bianca berpikir bahwa, Alano hanya sedang mabuk dan tidak sadar dengan ucapannya sendiri.


"Ternyata, Gavino tidak se_lugu dan selemah perkiraanku. Dia ada banyak membawa pasukan mafia."


"Apa Kamu tidak tahu? Atau Kamu juga tertipu seperti seorang Alano juga?"


"Cihhh! Meskipun Vin seperti yang Kamu katakan, dia lebih baik daripada Kamu!"


Alano semakin merah padam, menahan marahnya. Apalagi, dia diremehkan begitu saja oleh Bianca. Cewek yang selama ini dia incar.


"Sialllan. Sepertinya Kamu harus diberikan pelajaran!"


"Aghhh..."


Bianca tidak bisa lagi mengeluarkan suara, karena mulutnya, disumpal dengan bibir Alano dengan kasar.


"Hahhh... Hahhh..."


'Firts kiss ku, kenapa harus dia yang ambil! sialll kamu Alano!' batin Bianca berontak dengan perlakuan yang dia terima dari Alano.


Nafas Bianca tidak teratur, karena ciuman Alano yang tidak memberikan kesempatan padanya untuk bernafas.


"Hemmm... manis juga!" kata Alano, menikmati ciumannya yang sepihak.


"Cihhh! Tidak berguna."


Bianca tidak peduli. Dia memaki-maki Alano, yang sudah melecehkan dirinya.


Bruakkk!


Pintu didobrak dari luar. Muncul Gavino yang tampak marah besar. Karena melihat keadaan Bianca yang terluka.


"Vin!"


Plokkk plokkk plokkk!


Alano bertepuk tangan, menyambut kedatangan Gavino.


"Sangat senang Aku menyambut kedatangan sang jagoan. Hahaha..."


"Kamu mau tahu, apa yang Aku lakukan dengan Bianca? Hahaha..."


"Kamu hanya bisa menganggu kesenangan kami saja."


Alano berkata sedemikian rupa, untuk memancing reaksi Gavino.


"Jangan dengarkan dia Vin. Cepat pergi! Dia gila!"


"Hahaha... apa Kamu malu Bianca? Atau Kamu tidak mau dia menyaksikan apa yang kita lakukan? Hemmm..."


Gavino tidak menggubris perkataan Alano maupun Bianca. Dia tetap berjalan mendekat ke tempat mereka berdua berada.


Dan sedetik kemudian.


Bughhh!


Bughhh!


Bughhh!

__ADS_1


__ADS_2