Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Tidak Ada Yang Tahu


__ADS_3

Mendengar perawat pamit padanya, Gavino pun mengangguk mengiyakan. Dan tak lama kemudian, perawat tersebut keluar dan menutup pintu ruangan Mirele.


Tapi dua menit kemudian, tubuh Mirele kejang-kejang. Seolah menolak obat yang baru saja disuntikkan ke selang infus, oleh perawat tadi.


"Mama!"


Gavino panik dengan keadaan mamanya, yang sekarang ini tak bisa dia tangani. Perasaan Gavino menjadi was-was. Takut jika terjadi sesuatu pada mamanya.


"Dokter!"


"Arghhhh!"


Gavino memencet tombol merah pasien, untuk memberikan tanda bahaya pada pasien. Supaya dokter ataupun perawat segera datang.


Tak lama kemudian, dokter dan perawat datang juga ke kamar Mirele. Dengan membawa alat-alat kesehatan yang biasanya mereka gunakan.


"Apa yang terjadi?" tanya dokter pada Gavino.


Dengan rasa cemas dan khawatir, Gavino menceritakan tentang kejadian tadi. Pada saat dia baru saja datang ke mamanya ini.


Akhirnya, dokter meminta pada perawatnya, untuk mengambil darah Mirele. Supaya dilakukan penelitian di laboratorium. Agar bisa diketahui, apa saja obat yang tadi masuk ke dalam tubuhnya Mirele.


Sekarang, pihak keamanan rumah sakit melacak jejak cctv. Untuk menyelidiki, siapa yang tadi masuk dan berpura-pura menjadi seorang perawat.


"Hum... siapa yang ingin mencelakai mama dan papa ya? Apa ini ada hubungannya dengan Verdi dan semua rencananya?"


Berbagai macam pertanyaan dan praduga, muncul di dalam benak Gavino. Karena secara kebetulan, semuanya terjadi dalam waktu dekat. Bahkan, kasus papa dan mamanya terbagi di rumah sakit ini juga.


"Aku harus menghubungi Kapten. Memberitahukan tentang kejadian yang terjadi pada papa dan mama."


Begitulah akhirnya. Gavino kembali menghubungi sang Kapten. Memberitahu pada sang kapten, tentang kejadian yang terjadi pada Giordano dan Mirele tadi.


*****


Di rumah Lorenzo.


Madalena datang bersama dengan Jeffrie. Dia memang sengaja datang, tapi dengan alasan Jeffrie yang mengajaknya ke rumah Lorenzo. Sehingga dia tidak perlu merasa malu, jika ketahuan datang ke rumah seorang cowok sendirian.


"Tumben Kamu datang ke rumahku?"


Lorenzo bertanya pada Jeffrie, yang baru saja keluar dari dalam mobil. Dia tidak tahu jika, ada Madalena yang masih ada di dalam mobil. Belum ikut keluar.


"Ehhh..."


"Hai!"

__ADS_1


Madalena keluar, di saat Lorenzo hampir menyapanya. Membuat Lorenzo tidak meneruskan kalimatnya.


Mereka bertiga, akhirnya duduk di kursi yang ada di teras depan rumah Lorenzo. Berbincang-bincang tentang banyak hal, dari yang umum hingga melenceng ke semua arah. Termasuk rencana mereka setelah lulus sekolah besok.


"Kamu mau nerusin kuliah di mana Lena?" tanya Jeffrie pada Madalena.


Lorenzo menunggu jawaban dari Madalena dengan was-was. Entah apa yang sedang dia pikirkan dan rasakan saat ini. Dia sendiri juga tidak tahu, apa dan bagaimana perasaannya pada Madalena sekarang.


"Aku... Aku ingin menyusul kakak-kakak ku, yang sudah terlebih dulu ada di luar negeri sana."


Madalena menjawab pertanyaan tersebut dengan melirik-lirik ke arah Lorenzo. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


"Kalau Kamu bagaimana Lorenzo?"


Sekarang, Jeffrie ganti bertanya pada Lorenzo. Karena dari semua teman-teman yang biasa kumpul bersama Gavino, sekarang ini hanya Lorenzo yang tidak pernah membicarakan tentang kuliah setelah lulus nanti.


"Aku... Aku belum tahu."


Hanya itu saja jawaban yang diberikan oleh Lorenzo saat ini. Karena dia memang belum tahu, ke mana harus melanjutkan pendidikannya.


"Kalau Gavino bagaimana?" tanya Jeffrie lagi, yang ganti menanyakan tentang temannya yang lain, yaitu Gavino.


"Aku juga tidak tahu. Tapi beberapa minggu kemarin, ada universitas yang datang memberikan tawaran pada pihak sekolah. Untuk menunjuk siswa siswi yang bisa direkrut, untuk menjadi mahasiswa baru di universitas mereka."


Penjelasan yang diberikan oleh Lorenzo, membuat Jeffrie kembali bertanya. "Apa Gavino termasuk siswa yang dipilih pihak sekolah?"


Sedangkan Madalena, hanya diam menyimak pembicaraan mereka berdua sedari tadi.


"Wah... enak ya kalau jadi anak pintar!" seru Jeffrie, yang mengakui jika Gavino memang anak yang pintar.


"Kalau Kamu sendiri bagaimana?"


Tiba-tiba, Madalena mengajukan pertanyaan kepada Jeffrie. Karena sedari tadi dia hanya memberikan pertanyaan, tanpa memberikan keterangan dan penjelasan tentang dirinya sendiri.


"Aku?" tanya Jeffrie, dengan menunjuk ke arah hidungnya sendiri.


"Hum..."


Madalena hanya menjawab dengan gumaman tidak jelas. Karena dia juga tidak mau jika Lorenzo salah paham.


'Ah bodohnya Aku. Bagaimanapun juga, Lorenzo adalah cowok yang Aku taksir. Kenapa menanyakan tentang kuliah di hadapannya. Arghhh... semoga saja dia tidak tersinggung.'


Madalena berharap agar Lorenzo tidak mempunyai pikiran buruk tentang pertanyaannya yang tadi pada Jeffrie.


"Aku kuliah sambil kerja di perusahaan Papa. Bantu-bantu gitu deh. Belajar bertanggung jawab kaya papaku."

__ADS_1


"Ohhh, itu keinginan papamu?" tanya Madalena lagi, memastikan jawaban Jeffrie.


"Ya begitulah Len. Mau bagaimana lagi? Aku ini anak pertama, laki-laki satu-satunya juga. Harus bisa belajar bertanggung jawab dan serius dalam keadaan apapun nantinya."


"Itu juga kata papa sih. Hehehe..."


Jeffrie terkekeh sendiri, saat teringat dengan pesan yang disampaikan oleh papanya pada dirinya.


"Hahaha..."


Sekarang, Madalena ikut tertawa lepas. Karena perkataan Jeffrie yang sok bijak. Tapi ternyata itu adalah kutipan dari perkataan papanya.


"Hehehe..."


Lorenzo jadi ikut tertawa kecil, mendengar perkataan kedua temannya itu.


"Kalau Dante dan Bianca bagaimana?" tanya Lorenzo, yang selama ini tidak pernah bertanya pada kedua temannya tadi yang dia sebut.


"Aku tidak tahu," jawab Jeffrie mengeleng.


Begitu juga dengan Madalena. Dia juga tidak tahu, ke mana kedua temannya itu akan melanjutkan kuliahnya nanti.


"Weh, udah jam makan siang ini rupanya. Masuk yuk kita makan!" ajak Lorenzo menawari kedua temannya itu untuk makan siang di rumahnya.


"Eh, gak usah repot-repot. Kita mau balik kok ini," sahut Madalena, yang merasa tidak enak hati. Jika harus makan di rumahnya Lorenzo.


Akhirnya Madalena mengajak Jeffrie untuk pulang terlebih dahulu.


Sayangnya, Jeffrie justru mendapat telpon dari papanya. Meminta pada Jeffrie untuk datang ke kantor papanya sekarang juga.


"Bagaimana ini?" tanya Jeffrie dengan ragu.


Dia tidak enak jika harus pergi dan meninggalkan Madalena pulang sendiri ke rumah.


Tapi dia juga tidak ada waktu untuk mengantar Madalena untuk pulang atau ke halte bus.


"Biar nanti Aku yang antar dia."


Madalena dan Jeffrie, sama-sama menautkan kedua alisnya. Mendengar jawaban yang diberikan oleh Lorenzo.


"Beneran Kamu mau antar dia?" tanya Jeffrie dengan menunjuk ke arah Madalena.


"Eh, Aku gak apa-apa pulang sendiri." Sekarang, Madalena yang merasa tidak enak hati. Karena harus merepotkan Lorenzo. Sebab dia merasa jika tadi dia datang sendiri tanpa diundang oleh Lorenzo.


"Ck! iya gak apa-apa. Aku antar pulang sampai rumah juga, gak di tengah jalan."

__ADS_1


"Wah, sipppp kalau begitu!"


Akhirnya disepakati bersama, jika Jeffrie diperkenankan untuk pergi terlebih dahulu. Sedang Madalena, akan diantar pulang oleh Lorenzo nanti.


__ADS_2