Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Tidak Ingat


__ADS_3

Selang infus Gavino tiba-tiba macet, dan tidak bisa mengalirkan cairan infus dengan baik. Begitu juga dengan alat bantu deteksi denyut jantung, yang tiba-tiba saja tidak berfungsi dengan baik. Sehingga layar monitor menampakkan grafik yang tidak seharusnya.


Hal ini tentu saja membuat Gress panik, karena keadaan Gavino yang baru saja sadar justru tidak kondusif.


"Dokter! Dokter!"


Gress berteriak memanggil dokter, untuk memeriksa keadaan Gavino barusan. Keadaan yang tentu saja membuatnya merasa khawatir, karena teriakan kesakitan yang dialami oleh kekasihnya itu. Justru membuatnya semakin merasa ketakutan.


Akhirnya, tak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa keadaan pasien.


"Sebaiknya Nona menunggu di luar," pinta dokter memberikan saran. Agar Gress menunggu di luar saja.


"Tapi..."


"Sudah ayok!"


Thomas Bryan menarik tangan Gress, yang tidak segera keluar. Menuruti saran dari dokter barusan.


"Tapi Pa..."


"Kamu tidak mendengar apa kata dokter? Kamu juga tidak bisa berbuat apa-apa di sini Gress. Jadi lebih baik kita menunggunya di luar saja!" ajak Thomas Bryan, mencoba untuk memberikan pengertian kepada anaknya.


Akhirnya Gress menuruti ajakan papanya, karena dia juga tidak mau ribut dengan Papanya itu. Sehingga membuat gaduh, dan mengganggu aktivitas dokter. Yang sedang berusaha menyelamatkan nyawa Gavino.


Gavino sendiri sudah tidak bisa menyadari apapun, sebab pengaruh sistem. Yang pada kenyataannya memberikan kabar bahwa, keberhasilannya itu tidak berdampak pada sistem. Karena semuanya atas pengaruh Gress, tapi dia juga tidak dinyatakan gagal dalam misi tantangan kali ini.


Tapi pada kenyataannya, tubuhnya tidak bisa menerima kenyataan. Jika dia tidak bisa menyelesaikan misi tantangan tersebut.


Meskipun sistem tidak mengurangi poin maupun jumlah kesempatan hidupnya, tapi itu mempengaruhi kesehatannya. Bahkan jika kondisi tubuh Gavino tidak kuat, bisa saja dia kehilangan nyawanya saat ini.


Untungnya tadi Gress membawanya ke rumah sakit dengan cepat. Sehingga keadaannya tidak semakin parah, meskipun saat ini terlihat mengenaskan.


"Apa yang harus Aku lakukan? Apa Aku perlu menghubungi Bianca?" tanya Gress sendiri, begitu dia tiba di luar ruangan.


"Bicara apa Kamu?" tanya Thomas Bryan, yang merasa curiga dengan pertanyaan anaknya yang tidak jelas.

__ADS_1


"Tidak. Gress tidak bicara apa-apa kok Pa," sahut Gress cepat, supaya papanya itu tidak bertanya-tanya lagi. Sebab dia tidak mau jika, papanya itu justru semakin menyalahkan Gavino. Yang pada kenyataannya tidak tahu apa-apa.


"Hemmm... pokoknya Papa tidak setuju, jika Kamu ingin ikut bersama dengannya ke Amerika sana. Papa juga bisa membawamu ke sana, jika hanya untuk jalan-jalan saja."


Gress hanya mengangguk saja, tanpa menyahuti ucapan papanya. Dia sendiri juga tahu, jika papanya itu bisa pergi kapan saja ke negara Paman Sam sana. Karena papanya itu memang memiliki tempat tinggal di sana, dengan banyak kenalan dan teman juga.


Itu semua tidak pernah diketahui oleh Gress sejak dulu, sebab dia memang baru mengetahuinya beberapa hari, setelah dia pindah tinggal di rumah Papanya itu.


Sekarang Gress menggelengkan kepalanya, meminta kepada papanya itu supaya tidak membahas hal tersebut. Di saat keadaan yang tidak menentu seperti saat ini.


Sebab Gress lebih memikirkan keadaan Gavino, dan tidak mau memikirkan hal lain terlebih dahulu.


Tapi papanya itu tetap tidak menginginkan anaknya menghubungi bianca, yang bermaksud untuk memberikan kabar tentang keadaan Gavino pada gadis lain.


Pada kenyataannya, sisi egois Thomas Bryan sebagai seorang papa tetap tidak bisa hilang begitu saja. Meskipun Gress sendiri udah memberikan pengertian sedari tadi, jika dia tidak apa kenapa.


"Kamu boleh ikut bersama dengan mereka ke Amerika besok-besok. Tapi saat ini, biarkan saja Bianca udah mengetahui apapun tentang Gavino!"


Gress menghela nafas panjang, saat mendengar perkataan papanya. Yang dia pikir terlalu berlebihan.


*****


Di alam bawah sadar, Gavino sedang berada di sebuah ruangan gelap. Tanpa adanya sinar sama sekali.


Dia merasa kebingungan karena tidak mengenal ruangan tersebut. Gavino terasa asing, dengan semua keadaan sekelilingnya. Yang tidak bisa dia kenali.


"Ini Aku ada di mana?"


Ruangan yang gelap ini, tampak tidak memiliki celah sekecil apapun. Sehingga bisa memberikan bayangan, jika ada ruangan lain selain yang ditempatinya saat ini.


"Tempat apa ini? kenapa sangat gelap? Aku tidak bisa melihat apapun, bahkan kakiku sendiri saja tidak terlihat."


Ini membuat Gavino benar-benar merasa aneh dan kebingungan. Bahkan dia juga tidak bisa mengingat apapun, dengan kejadian yang dialami terakhir kali.


"Aku, tadi bukannya Aku pergi ke sekolah?" tanya Gavino pada dirinya sendiri, dengan pertanyaan yang dia miliki.

__ADS_1


Ternyata ingatan Gavino kembali ke belakang, di mana pada waktu itu dia masih bersekolah.


"Aku bagaimana caranya ini kalau mau sekolah?" tanya Gavino lagi, karena mulai panik dengan keadaan yang terjadi padanya.


Gavino akhirnya mencoba untuk berlari, meraba-raba sekitarnya. Sebab dia berpikir bahwa sekitarnya ini terdapat dinding-dinding yang mengelilinginya, sehingga gelap gulita.


Tapi sayangnya, tangan Gavino tidak menemukan dinding apapun. Bahkan iya merasa sudah berjalan terlalu lama.


"Apa ini bukan sebuah ruangan? Tapi Aku ada di mana ini? kenapa sangat gelap? seperti sebuah ruangan yang tertutup rapat." Gavino kembali berpikir, bahwa dia dalam keadaan yang tidak seharusnya.


"Apa Aku jadi alam lain?"


Kini dia berpikir yang bukan-bukan, bahkan menganggap bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia nyata.


"Apakah itu artinya Aku sudah mati?" tanya Gavino lagi, tanpa ada yang bisa memberikan penjelasan dan sebuah jawaban.


Setelah tidak menemukan apapun, Gavino dengan perasaan was-was dan takut berteriak sekencang-kencangnya. Meluapkan emosi dan rasa kecewanya. Karena saat ini dia berpikir bahwa, dia masih seorang pelajar yang sering dibully oleh teman-temannya yang lain.


"Mereka sangat keterlaluan! mereka meninggalkanku sendiri di sini, tanpa tahu harus berbuat apa."


"Mama... Papa... hiks hiks hiks..."


Gavino justru menangisi keadaannya sendiri di masa lalu, yang ternyata sangat memprihatinkan.


Kini dia terduduk dengan lemas seorang diri, menutupi bagian wajahnya. Dengan mengunakan kedua telapak tangannya sendiri.


"Aku tidak berguna! Mama..."


Gavino belum menyadari keadaannya yang sekarang, dan masih berpikir bahwa, saat ini dia masih anak-anak sekolah.


Dia juga lupa, jika Mama dan papanya sudah tiada. Meninggal dunia pada suatu terjadi kecelakaan, yang menimpa keduanya di pagi hari. Pada saat mereka berdua mau pergi ke kios dan warabala milik mereka berdua.


"Mama, maafkan Gavin Ma! Maafkan Gavin Pa!" ucap Gavino sendiri, meratapi nasibnya. Yang tidak bisa melawan teman-teman yang sudah mem_bullynya.


"Jika Gavin punya kekuatan, Gavin ingin menjadi kuat. Sehingga bisa melawan siapapun yang sudah merendahkan diriku, dengan memperlakukan mereka jauh lebih buruk lagi!"

__ADS_1


Ternyata tanpa di sadari oleh Gavino selama ini, jika alam bawah sadarnya, memiliki dendam pada semua teman-temannya. Yang sering merendahkan dirinya dengan cara apapun. Yang tentunya membuat gavino menderita, karena kelakuan mereka semua.


__ADS_2