
Kenapa George dan Robert tidak mengatakan yang sejujurnya, pada dua orang yang melakukan pembahasan soal kerjasama mereka. Jika Giordano dan Mirele, sebagai pemilik usaha warabala tersebut sudah meninggal dunia.
Bahkan, George mengatakan bahwa, Giordano dan Mirele sudah pensiun dan hidup jauh di luar kota. Supaya lebih tenang dalam masa pensiun yang mereka jalani.
Sebenarnya itu bukan kemauan dari mereka sendiri, tapi atas permintaan dari Gavino. Sebagai pewaris tunggal dari semua usaha dan kekayaan keluarganya.
Meskipun yang sebenarnya adalah, semua itu memang miliknya Gavino sendiri. Berkat sistem mafia yang juga memberikan kekuatan dan kekuasaan. Karena pengaruh harta dan kekayaan, sangat besar untuk kehidupan seseorang di mata masyarakat pada umumnya.
Dan untuk tetap menjaga rahasia kematian kedua orang tuanya, Gavino pun meminta pada kedua orang kepercayaannya itu, George dan Robert, untuk mengatakan hal tersebut. Seandainya ada yang bertanya pada mereka tentang pemilik warabala yang sebenarnya.
Jadi, kematian Giordano dan Mirele, tetap tidak diketahui oleh siapapun. Dan hanya orang-orang tertentu saja, yang hadir di saat pemakannya hari itu.
Kesepakatan mengenai kerjasama sudah selesai. Tapi George hanya memberikan waktu untuk uji coba kerjasama ini selama tiga bulan ke depan.
Jika dalam jangka waktu tersebut bisa terlihat kemajuan dan keuntungan yang diperoleh, mereka sepakat untuk meneruskan kerjasama tersebut.
Tapi seandainya tidak ada kemajuan, kerja sama akan dihentikan
Dengan demikian, kedua belah pihak tidak perlu menunggu waktu yang lama. Hanya untuk sekedar mencari tahu apakah kerjasama mereka ini bisa diteruskan atau cukup pada masa uji coba tersebut.
"Baiklah. Terima kasih atas waktunya ini."
"Sama-sama."
"Kami permisi dulu."
"Silahkan."
Kedua tamu tersebut pamit untuk pulang terlebih dahulu. Sedangkan George dan Robert, masih berada di tempatnya yang tadi.
"Apa kita perlu lapor ini pada Gavino?" tanya Robert, yang memang menjadi asistennya George.
"Tidak perlu. Semua urusan usaha, sudah diserahkan pada kita. Dia tidak perlu repot-repot untuk bekerja. Yang penting keuntungan tetap ada. Dan untuk laporan, siapkan saja. Karena sewaktu-waktu mungkin, jika ada permasalahan akan bisa dijadikan patokan untuk bisa mengambil keputusan."
Robert hanya mengangguk saja. Karena dia juga tahu jika, George tentunya lebih berpengalaman dalam hal apapun. Di banding dengan dirinya.
"Apa Herry dan yang lain bekerja dengan baik?"
George bertanya mengenai teman-temannya Robert, yang sekarang ini bekerja mengawasi beberapa tempat usaha warabala. Yang memang sudah dibuka di beberapa tempat.
"Iya tentu saja. Mereka semua adalah orang-orang terbaikku, yang dulunya juga teman sekolahku."
"Apa Kamu sudah berkeluarga?"
Pertanyaan yang diajukan oleh George kali ini, tidak ada hubungannya dengan pekerjaan mereka. Tapi George hanya berusaha untuk bisa lebih mengenal teman barunya itu.
"Kamu sendiri bagaimana?"
Robert justru balik bertanya pada George, kemudian meminum sampai habis sisa minuman yang ada di gelasnya.
"Tidak perlu repot-repot untuk bertanya tentang kehidupan pribadiku."
__ADS_1
Jawaban yang diberikan oleh George, tampak dingin. Acuh dan terkesan ada kemarahan yang tidak bisa dia keluarkan.
"Hum... begitu juga dengan Aku."
Mendengar perkataan yang diucapkan oleh Robert, membuat George tersenyum sinis. Seakan-akan mentertawakan keadaan dirinya sendiri. Yang ternyata tidak jauh berbeda dengan Robert.
Setelah di rasa cukup, mereka berdua pergi dari restoran tersebut. Mereka berdua kembali ke pusat kota, di mana ada kios Giordano, yang juga menjadi kantor usahanya sekarang ini.
*****
Di kampus Gavino.
Semua tampak seperti biasanya. Tidak ada apapun, yang ada kaitannya dengan peristiwa kemarin.
Gavino berjalan menuju ke arah gedung, yang merupakan kelasnya. Karena ada diantara deretan gedung-gedung yang berjejer rapi di dalam area kampus.
Setiap gedung ada namanya sendiri-sendiri. Sehingga tidak akan ada alasan lagi, jika ada mahasiswa yang salah masuk. Karena keliru untuk mendatangi gedung lainnya.
"Itu dia Gavino!"
"Ah iya. Itu dia mahasiswa baru yang pemberani."
"Apa semalam dia baik-baik saja?"
"Sepertinya begitu. Tidak terlihat ada sesuatu yang kurang dari dirinya."
"Cukup tampan juga dia."
"Aku tidak tahu. Tapi, mobil yang dikendarai termasuk mobil yang mahal."
"Tapi kenapa dia masuk dari jalur prestasi?"
Pembicaraan beberapa orang, mahasiswa baru ataupun lama tentang Gavino terdengar. Tapi tidak membuat Gavino canggung atau menghentikan langkahnya.
Dia tetap melangkah dengan pasti menuju ke arah gedungnya.
Gavino memang masuk melalui jalur prestasi. Tapi dia tidak menerima tawaran beasiswa. Dia full membayar biaya kuliahnya secara mandiri. Karena merasa jika, sekarang keadaannya sudah jauh berbeda. Tidak lagi sama seperti dulu.
Tapi untuk penampilan dan gaya, Gavino tidak terlalu jauh berbeda. Dia tetap sederhana. Tidak menunjukkan bahwa dia adalah orang yang kaya.
"Hai Bro!"
Salah satu temannya, yang semalam ikut menunggui dirinya saat di panggil ketua senat, mengajaknya TOS. Dengan tangan yang tergenggam. Hal yang biasa terjadi pada anak-anak muda.
"Hai," sahut Gavino dengan tersenyum tipis.
"Bagaimana? Siap dengan kelas pertama?" tanya temannya itu.
Mereka memang ada di kelas yang sama.
Gavino menjawab dengan anggukan kepala. Kemudian berjalan bersama temannya itu menuju ke ruangan kelas.
__ADS_1
Di dalam sana, sudah ada beberapa mahasiswi yang duduk-duduk sambil berbincang-bincang. Sepertinya sedang melakukan perkenalan.
"Bukannya itu yang kemarin ya?"
"Iya. Dia pemberani ya!"
"Harus ada yang begitu. Biar senior tidak berbuat seenaknya."
"Iya bener-bener."
Para mahasiswi itupun mulai membicarakan tentang Gavino.
Tapi Gavino hanya mengangguk samar, kemudian mencari tempat duduk yang masih kosong untuk dia duduki.
*****
Sore hari, kelas yang diikuti Gavino untuk kesekian kalinya baru saja selesai.
Dia pun bersiap untuk pulang.
"Hai! Emhhh... maaf. Apakah Aku bisa berkenalan denganmu?"
Seorang mahasiswi cantik, mendekat dan bertanya pada Gavino, yang baru saja mau meninggalkan tempat duduknya.
"Aku?" tanya Gavino, dengan menunjuk ke arah dirinya sendiri.
Mahasiswi tersebut mengangguk cepat, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Gavino padanya.
"Tentu saja, siapa lagi?"
Gavino hanya tersenyum tipis, mendengar jawaban yang diberikan oleh gadis cantik yang mengajaknya untuk berkenalan.
"Aku Gress. Aku orang Amerika. Jadi belum punya banyak teman di sini."
Gavino menyambut uluran tangan Gress, yang memperkenalkan dirinya sebagai orang pendatang dari Amerika.
"Gavino."
Dengan pasti, Gavino pun menyebutkan namanya sendiri.
"Nama yang bagus. Sesuai dengan karakter orangnya yang pemberani."
Gress dengan cepat bisa memberikan penilaian terhadap Gavino. Teman barunya yang juga baru dia kenal.
Tapi karena kemarin dia juga ikut melihat dengan mata kepalanya sendiri, dengan semua kejadian pada akhir perkenalan kampus, Gress pun akhirnya tertarik untuk bisa mengenal Gavino secara langsung dan lebih dekat.
"Kamu asli warga negara Italia?"
"Iya. Aku warga negara Italia sendiri. Tapi dari kota kecil Monte Isola. Bukan dari Roma."
Perkenalkan tersebut pun akhirnya terjadi, sebagai mestinya, bagi mereka yang baru saja kenal.
__ADS_1