Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Tidak Tahu


__ADS_3

Tut... tut... tut...


Suara alat deteksi detak jantung terdengar normal. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Selang infus juga sudah disetting dengan aliran uang seharusnya. Tidak terlalu cepat ataupun lambat.


Selang oksigen juga sudah terpasang di kedua lubang hidung pasien.


Di samping tempat tidur, seorang laki-laki dewasa sedang menunggui pasien tersebut. Yang baru saja selesai ditangani oleh dokter. Dia melihat bagaimana keadaan pasien tersebut dengan tatapan kagum.


"Kamu masih sangat muda Gavin. Tidak seharusnya Kamu lemah. Aku tahu, Kamu kuat. Kamu pasti bisa cepat bangun dari keadaanmu sekarang ini."


Ternyata pasien tersebut adalah Gavino, yang sedang dalam keadaan pingsan.


Sedang laki-laki dewasa itu adalah Sang Kapten. Yang terus mendampingi Gavin pada saat datang ke lokasi yang ditentukan oleh Verdi.


Sang Kapten langsung terjun ke tempat Gavin, karena asap yang diledakkan di gedung tersebut adalah asap beracun.


Untungnya, Sang Kapten membawa masker khusus. Sehingga dia tidak menghirup asap tersebut. Dan ternyata, dia juga sudah mempersiapkan satu tim khusus. Tanpa sepengetahuan Gavino sendiri ataupun Verdi.


Itulah sebabnya, dengan cepat semua kawanan Verdi cs di tangkap oleh pihak kepolisian. Yang dipimpin langsung oleh sang Kapten.


Sayangnya, Gavino yang dijadikan umpan untuk geng Verdi jatuh pingsan. Setelah menghajar semua anak buahnya saat itu, sehingga membuat Verdi harus meledakkan asap beracun yang sudah dia persiapkan. Agar Gavino celaka, sehingga dia bisa pergi melarikan diri.


Tapi ternyata Gavino pun berhasil merebut mesin yang seharusnya dia jual ke pihak lain. Sebelum asap beracun itu diledakkan.


"Eghhh..."


"A.... Aku..."


"Gavin. Gavin! Kamu sadar?"


"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Sang Kapten, dengan rasa khawatir.


"Aku panggilkan dokter dulu!"


Sang Kapten langsung pergi memangil dokter, pada saat Gavino sadar dan mengeluarkan suaranya.


Tapi Gavino sudah kembali tidak sadarkan diri. Sehingga dia tidak mendengar apapun.


"Dokter! Dokter!"


"Sus, pasien Gavino sadar. Cepat panggil dokter dan periksa dia!"


Dengan cepat, sang Kapten menyuruh salah satu perawat jaga untuk memanggilkan dokter. Dan dia pun kembali lagi ke ruangan Gavino, setelah perawat tersebut menganggukkan kepalanya mengiyakan.


Tak lama kemudian, dokter datang bersama dengan perawatnya.


Mereka berdua, memeriksa keadaan Gavino dengan seksama. Mencatatnya dan juga melakukan kajian yang diperlukan untuk menentukan obat serta perawatan selanjutnya untuk pasien.


"Sepertinya dia baik-baik saja Sus. Berikan saja dia multi vitamin dan pantau saja denyut jantungnya. Yang penting gas beracun yang tadi ada di dalam paru-paru sudah keluar.


"Baik Dok."


Sekarang, dokter sudah selesai memberikan instruksi kepada perawat. Kemudian dia beralih pada sang Kapten.


"Dia baik-baik saja Kapten. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Saat ini dia sedang tidur. Jadi, biarkan saja dia beristirahat."

__ADS_1


"Baiklah. Terima kasih Dok," ucap sang Kapten dengan menganggukkan kepalanya.


Sekarang, dia mengontak dua anak buahnya yang ada di luar.


..."Kalian berdua ke sini!" ...


..."Siap Kapten!"...


Klik!


Sang Kapten harus segera bersiap-siap pergi ke kantor. Untuk membuat laporan atas semua kejadian tadi. Dia juga akan mengurus semua anggota geng yang tertangkap saat itu juga di tahanan.


Sayangnya, Verdi bisa meloloskan diri pada saat dia harus menyelamatkan Gavino. Yang pada saat itu sedang mempertahankan mesin pencetak uang palsu dari orang-orang yang merebutnya.


"Kalian berdua jaga di sini. Di ruangan ini!"


"Siap Kapten!"


"Jika ada sesuatu yang mencurigakan, kalian berdua harus waspada. Dan segera hubungi Saya!"


"Siap Kapten!"


Sang Kapten memberikan beberapa instruksi kepada kedua orangnya, yang dua tugaskan untuk menjaga Gavino.


Untungnya, mereka semua juga mengunakan pakaian sipil biasa. Sehingga mereka tidak menjadi pusat perhatian, hanya karena pakaian dinas yang seharusnya dikenakan.


Setelah selesai memberikan penjelasan kepada kedua anak buahnya itu, sang Kapten segera pergi.


Ada pekerjaan yang harus dia lakukan. Dan itu tidak bisa dia berikan pada orang lain.


Di rumah Bianca.


Dia kesal sendiri, karena tidak bisa menghubungi Gavino sedari jam delapan malam.


"Dia ke mana?" tanya Bianca sendiri.


"Apa Aku datang saja ya ke rumahnya?"


Bianca mempertimbangkan sendiri keinginannya untuk pergi ke rumah Gavino. Karena selain dia adalah seorang cewek, hari juga sudah malam.


"Apa Aku minta tolong pada Dante ya? Siapa tahu, ternyata dia juga sedang bersama dengan Gavino saat ini.


Akhirnya Bianca memutuskan untuk menghubungi sepupunya, yaitu Dante.


..."Ada apa Bi?" ...


..."Kamu ada di mana sekarang ini Dante? Ada di rumah atau sedang di luar?" ...


..."Hai! Kamu ini bertanya, atau menebak apa yang sedang Aku lakukan?" ...


..."Hehehe... sorry. Aku hanya ingin bertanya padamu. Juga minta bantuan darimu." ...


..."Sepertinya Aku bisa menebaknya..." ...


..."Tidak usah banyak bicara!" ...

__ADS_1


..."Hahaha... Aku belum bicara Bi!" ...


Dante justru menggoda sepupunya itu, yang dua ketahui jika memiliki perasaan khusus untuk Gavino.


Dia menebak jika, Bianca menghubungi dirinya saat ini, juga dikarenakan ingin bertanya tentang Gavino.


..."Katakan! Aku ada di mana sekarang?" ...


..."Aku ada di rumah. Kenapa? Apa Kamu tidak percaya dengan jawabanku?" ...


..."Ihsss... aku belum bicara lagi Dante. Berhentilah untuk menggodaku!" ...


..."Hahaha... siapa yang menggoda? kenapa Kamu merasa Aku seperti itu? ...


..."Ah, sudahlah. Percuma saja bicara dengan Kamu, yang saat ini sedang patah hati." ...


Deg!


Klik!


Dante tidak lagi menyahuti perkataan Bianca. Dia memang sengaja mengajak Bianca bercanda, supaya kesedihan hatinya sedikit terobati.


Tapi perkataan Bianca, justru menorehkan luka baru.


Dante memutuskan sambungan telpon darinya. Sehingga kini Bianca pun merasa bersalah.


Dan untuk meminta maaf pada Dante, akhirnya Bianca mengirim pesan. Supaya sepupunya itu membacanya.


Bianca merasa yakin jika dia kembali menghubungi Dante, panggilannya akan diabaikan begitu saja oleh sepupunya yang sedang patah hati, sebelum memiliki hubungan percintaan.


Dante tidak akan mau mengangkat panggilan telpon darinya lagi karena kejadian tadi.


^^^"Maaf. Aku tidak bermaksud mengolok-olok dirimu Dante. Aku hanya ingin bertanya tentang si Vin. Ponselnya tidak bisa dihubungi sedari tadi. Coba Kamu cek. Apakah dia menerimanya atau tidak." ^^^


Bianca menghela nafas panjang, setelah selesai mengirim pesan pada Dante.


Sekarang, dia mencoba membaringkan tubuhnya sambil menunggu pesan balasan. Dari sepupunya yang tadi sedang marah padanya.


Tapi hingga lima belas menit lamanya, Dante tidak juga mengirimkan pesan balasan. Bahkan pesan darinya juga hanya di read saja.


"Apa dia benar-benar marah padaku?"


"Ah, kekanakan sekali dia. Pantas saja Madalena tidak mau mencinta dia."


Bianca justru bicara sendiri, menilai sepupunya yang dia pikir masih kekanak-kanakan.


Tapi baru saja dua selesai berbicara seorang diri, ponselnya berdering. Ada Dante yang sedang calling.


..."Ya Dante? Bagaimana?" ...


Dengan cepat Bianca menerima panggilan telpon tersebut, kemudian bertanya pada sepupunya di seberang sana.


..."Ponsel Gavin tidak aktif." ...


..."Hum..." ...

__ADS_1


__ADS_2