
Iklim di Italia sangat beraneka ragam, ini dipengaruhi oleh bentuk semenanjung yang besar, dan membujur, dan sebagian besarnya bergunung-gunung. Di sebagian besar pedalaman utara, dan tengah, iklim merentang dari subtropis basah sampai kontinental basah, dan iklim lautan.
Itulah sebabnya, negara Italia memiliki empat musim. sebagaimana diketahui kawasan daratan Eropa pada umumnya.
Dan pada saat ini, negara Italia sedang mengalami musim dingin. Dengan suhu yang sangat rendah, dan terasa sangat dingin. Musim ini disebut juga musim salju, karena sebagian besar negara-negara yang mengalaminya akan dituruni hujan salju juga.
Sebab itu juga, banyak warga yang mempersiapkan diri dengan berbelanja pakaian-pakaian hangat. Supaya mereka tetap nyaman saat musim dingin seperti ini.
Mereka membeli banyak pakaian yang tebal , seperti jaket dan coat. Fashion item lainnya yang wajib mereka siapkan untuk musim dingin seperti ini, adalah sweater.
Sweater yang dibuat dari bahan wol, sangat cocok diandalkan untuk menjaga tubuh agar tetap hangat setiap waktu. Sweater juga bisa membantu tetap bisa tampil dengan lebih gaya di musim dingin.
Tak ketinggalan, Beanie atau bobble hat untuk menghalau cuaca dingin pada kepala. Topi beanie ataupun bobble hat ini memilik bentuk layaknya topi kupluk, terbuat dari bahan cukup tebal. Dengan cara pembuatan yang biasanya dirajut secara manual.
Disarankan juga untuk memilih pakaian dengan warna gelap atau hitam, karena pakaian warna gelap tidak memantulkan lagi panas yang diserap. Hal kebalikannya juga berlaku untuk baju warna gelap. Di malam hari, warna pakaian ini justru membuat kita merasa dingin. Itu karena baju warna hitam atau gelap menyerap panas dari dalam tubuhnya.
Gavino juga sama.
Dia sedang bersama dengan Bianca, menuju ke sebuah Mall. Untuk mencari pakaian muslim dingin Bianca.
Tapi tanpa sepengetahuan Gavino, Bianca sudah menghubungi Gress. Dengan memberitahu lokasi Mall, yang akan dia kunjungi bersama dengan Gavino.
Bianca justru meminta pada Gress, supaya datang menemui mereka. Sehingga nantinya, mereka bertiga bisa sekalian makan malam bersama. Karena dia juga sudah lama tidak bertemu dengan gadis kekasihnya itu.
Apalagi mereka berdua, Bianca dan Gress, tidak mempermasalahkan Gavino. Seandainya ingin menemui dan menghabiskan waktu bersama dengan siapa saja, diantara mereka berdua.
Baik Bianca maupun Gress, sama-sama berpikir dewasa. Dan mereka memang tidak bisa berpisah, atau meminta pada Gavino untuk memilih antara mereka berdua.
Jadi, mereka menjalani hubungan cinta segitiga ini secara baik dan saling tahu. Mengerti satu sama lainnya, supaya tidak terjadi kesalahpahaman kedepannya nanti. Dan ini sangat disukai oleh Gavino juga, yang memang tidak bisa memilih diantara kedua gadis tersebut.
"Hai... Bianca!"
"Hai Gress!"
__ADS_1
Kedua gadis tersebut, saling menyapa. Di saat mereka bertemu di sebuah toko bagian baju untuk mantel.
Hal ini membuat Gavino terkejut, karena mereka saling sapa. Layaknya dua orang teman yang sama-sama akrab.
"Hai Gavin!" sapa Gress pada kekasihnya yang melongo.
Tapi sedetik kemudian dia segera sadar bahwa, kedua gadisnya itu memang katanya sudah sering bertemu. Sehingga mereka berdua sudah tidak canggung lagi.
"Hai... hai Gress!"
Akhirnya Gavino juga menyapa gadisnya itu, dengan senyuman yang canggung.
Tentu saja Gavino merasa aneh, pada saat dia berjalan bersama Bianca. Tanpa diketahuinya, ternyata bertemu dengan Gress juga. Sama seperti saat ini.
Dia belum bisa bicara apa-apa, tapi kedua gadis tersebut justru sudah saling bicara dengan akrab. Membahas tentang pakaian yang mereka inginkan.
"Aku ingin mantel bulu, yang seperti itu! Ya yang itu!" seru Gress pada Bianca. Sambil menunjuk ke arah mantel buku yang tertata di rak gantungan. Di sebelah kiri ruangan toko.
Bianca tersenyum dan mengangguk mengiyakan perkataan Gress, kemudian keduanya sama-sama berjalan ke arah rak mantel tersebut.
Dia merasa canggung, karena keadaan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya ini.
"Bagaimana caranya Aku memperlakukan mereka berdua?" tanya Gavino, dengan bergumam seorang diri.
Tapi dia membiarkan kedua gadisnya itu, yang sedang asik dengan kesibukannya. Yaitu memilih mantel bulu yang mereka inginkan.
"Ini pasti keduanya sudah janjian lebih dulu, tapi tidak bicara sama Aku," gumam Gavino, memikirkan situasi yang sulit bagi dirinya ini.
Apalagi kedua gadis tersebut juga tidak berikan penjelasan kepadanya, dengan situasi yang terjadi sekarang. Sehingga Gavino menyimpulkan sendiri, jika ini memang sudah direncanakan oleh keduanya juga.
Akhirnya dia hanya bisa mengikuti keduanya kemana saja, dengan membawakan apa yang sudah dipilih oleh kedua gadisnya itu.
Gavino juga yang membayar semua belanjaan keduanya, kemudian mengajak mereka pergi ke restoran yang ada di Mall tersebut. Untuk mengisi perut mereka yang sudah terasa lapar.
__ADS_1
Di restoran ini, akhirnya mereka bertiga bisa berbincang-bincang dengan lebih leluasa. Mengenai banyak hal. Termasuk dengan kejadian yang terjadi pada kedua gadisnya itu.
"Kamu ke sini bersama dengan siapa? Kamu di antar supir kan?" tanya Gavino, bertanya pada Gress. Yang sebelumnya tidak dia ketahui, jika akan datang ke Mall ini juga.
"Ya. Aku memang diantar supir tadi. Tapi setelah bertemu dengan kalian berdua, Aku meminta supir untuk pulang. Aku sudah menelponnya tadi."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Gress, Gavino meringis. Dia merasa bingung dengan keadaannya lagi.
Tapi ternyata, Bianca tidak menunjukkan perasaan cemburunya, atau apapun yang terkesan marah. Dia justru tersenyum pada Gress, yang duduk di sebelahnya. Sama-sama berhadapan dengan kekasih mereka berdua.
"Baiklah. Aku akan mengantar mu terlebih dahulu, sebelum Aku mengantar Bianca pulang nanti." Gavino mengutarakan niatnya, untuk mengantarkan Gress pulang.
"Kenapa dia tidak Kamu ajak pulang sekalian ke rumahmu saja Vin?" tanya Bianca, yang membuat Gavino mengalihkan perhatiannya dengan cepat.
"Maksud Kamu?" tanya Gavino bingung.
"Ini musim dingin dan sudah malam juga. Daripada Kamu mengantarkannya pulang, lebih baik Kamu menelpon papanya Bianca. Minta ijin untuk mengajak Bianca pulang ke rumahmu saja."
Mendengar usulan tersebut, Gavino mengerutkan keningnya. Memikirkan apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh gadisnya itu.
Tapi pada saat dia mengalihkan perhatiannya dari Bianca ke Gress, dia juga melihat Gress yang sedang tersenyum tipis. Melihat ke arah Bianca. Yang sudah memberikan usulan seperti itu tadi.
Sekarang Gavino tersenyum lebar, seakan-akan mendapatkan ide dan pemikiran bahwa, semua ini memang sudah diatur mereka berdua.
Mungkin saja kedua gadisnya itu sedang ingin berkencan dengannya bersama-sama. Di saat awal musim dingin ini.
"Hai! Apa yang sedang Kamu pikirkan Vin?" tanya Bianca aneh, karena melihat Gavino yang tersenyum senang. Setelah dia memberikan usulan seperti tadi.
"Emhhh... Aku saya sedang berpikir jika... kita bisa kan, menghabiskan malam ini bersama-sama. Jadi kalian berdua tidak perlu ada yang pulang ke mana-mana. Tapi pulang ke rumahku saja."
Sekarang Bianca dan Gress sama-sama saling pandang, kemudian sama-sama tertawa-tawa senang. Sambil menganggukkan kepala juga.
Jadi ternyata, mereka berdua setuju dengan apa yang dikatakan oleh Gavino barusan. Yaitu mereka bertiga pulang ke rumah Gavino, dan menghabiskan malam ini bertiga juga.
__ADS_1
Melihat kedua gadisnya itu mengangguk setuju dengan usulannya, Gavino justru yang ganti membelalakkan matanya tidak percaya. Karena dia berpikir bahwa, tidak mungkin mereka berdua akan menemaninya tidur secara bersamaan malam ini.
Tapi keraguan Gavino tidak berasalan. Karena pada kenyataannya, kedua gadis tersebut justru saling bisik-bisik dan terkikik geli. Membayangkan bagaimana keadaan mereka bertiga nantinya.