
"Iya, itu mungkin kekasihku. Sebentar ya, Aku mau buka pintu dulu," pamit Bianca sambil beranjak dari tempat duduknya.
Gavino hanya mengangguk saja, kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Yang saat ini sedang dia duduki.
Tak lama kemudian, Bianca sudah kembali bersama dengan seorang cowok yang atletis, yang berjalan di sampingnya.
Tapi sedetik kemudian, Gavino terkejut melihat siapa cowok yang datang bersama dengan Bianca.
Ternyata kekasih Bianca adalah Alano. Musuh mereka berdua, sewaktu masih SMA dulu.
"Hai Gavin. Apa kabar Kamu? tidak ku sangka, kita bisa bertemu lagi. Tapi maaf ya, sekarang Bianca adalah kekasihku. hahaha..."
Bianca tampak tersenyum canggung, saat mendengar Alano mengatakan kebenaran tentang hubungan mereka berdua kepada Gavino.
Tapi Gavino merasa ada sesuatu di antara mereka yang disembunyikan oleh Bianca, sehingga Bianca sampai mau menerima Alano menjadi kekasihnya.
Itu karena Gavino tahu, jika Bianca sangat mengenal siapa Alano, sebagai seorang cowok yang brengsek. Jadi tidak mungkin Bianca menerima begitu saja tanpa alasan yang jelas, sehingga mau menerima Alano sebagai kekasihnya sekarang ini.
Tapi karena mereka sudah lama tidak bertemu, dan Gavino juga tahu diri untuk tidak mencampuri urusan privasi mereka berdua, akhirnya Gavino pamit untuk pulang.
Meskipun dia kecewa karena ternyata kekasihnya bianca adalah Alano, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Mungkin besok-besok, dia bisa mendengar keterangan dan penjelasan yang diberikan oleh Bianca sendiri, mengenai hubungan mereka yang tidak wajar menurut Gavino.
Gavino kecewa dengan Bianca. Tapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk bisa membuat keduanya putus, karena sudah sama-sama dewasa dalam menjalani sebuah hubungan. Serius atau tidak.
"Ke mana ya George pergi mencari kesenangan? agrhhh... sialll! Aku jadi sedih karena melihat mereka yang tadi berpegangan tangan."
"Bukan, bukan berpegangan tangan. Tapi Alano yang mengengam tangan Bianca, seolah-olah pamer kemesraan denganku. Dia tidak tahu, jika beberapa jam yang lalu Aku bisa puas bersama Bianca. Hehehe..."
Gavino tersenyum miring, mengingat kembali kejadian yang tadi dia alami bersama dengan Bianca. Sebelum kedatangan Alano.
"Meskipun Bianca sudah tidak virgin, tapi... entahlah. Aku merasa ada yang lain dengan merasakan kepuasan yang berbeda saat bersama dengan Gress."
Gavino akhirnya teringat dengan gadisnya, yang dia tinggalkan di Roma.
"Aku akan menghubunginya sebentar."
Tut tut tut!
Tut tut tut!
__ADS_1
Sayangnya ponsel Gress sedang tidak aktif, sehingga dia tidak tidak bisa melakukan panggilan telpon dengan gadisnya di sana.
Untuk mengurangi rasa tegang yang tiba-tiba datang, Gavino berhenti di depan sebuah minimarket. Dia ingin membeli minuman untuk membuatnya lebih rileks.
Baru saja Gavino keluar dari minimarket, dia melihat sepasang kekasih yang sedang bertengkar, dengan posisi gadis tersebut sedang menangis dan memegangi pipinya. Sedangkan darah keluar dari sudut bibir gadis tersebut.
Mungkin pipi gadis tersebut baru saja ditampar atau dipukul oleh kekasihnya itu.
Gavino tidak mau ambil pusing dan ingin masuk ke dalam mobil, karena itu bukan urusannya.
Tapi begitu melihat cowok tersebut kembali memukul gadis tersebut, Gavino juga tidak tinggal diam. Dia tidak tahan dan merasa kasihan dengan gadis itu.
"Hai! jangan kasar Bro dengan cewek!" Gavino memberi peringatan pada cowok tersebut.
"Ini bukan urusanmu, pergi!" bentak cowok tersebut dengan mata melotot tajam.
"Tapi kamu bisa membunuhnya, jika Kamu terus memukulinya," terang Gavino memperingatkan lagi.
"Aku bilang pergi ya pergi! atau Kamu mau merasakan pukulan ku?" tantang cowok tersebut pada Gavino. Sebab Gavino masih tidak mau pergi juga.
Cowok tersebut akhirnya berusaha untuk memukul Gavino dengan melayangkan tinjunya dengan tenaga yang cukup besar.
Cowok tersebut kembali berusaha untuk memukul Gavino lagi.
Sayangnya, Gavino dengan cepat beralih posisi, sehingga bisa memiting kedua tangan cowok tersebut ke belakang.
"Pergi dari sini, atau Kamu mau mati!"
Dengan wajah ketakutan, cowok tersebut memilih untuk pergi.
"Ba.. baik. Ak... Aku akan pergi," ucapkan terbata-bata.
"Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi. Mengerti!" bentak Gavino mengancam.
Cowok tersebut cepat mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ancaman yang diberikan oleh Gavino padanya.
"Terima kasih. Anda sudah menyelamatkan saya," kata gadis tersebut mengucapkan terima kasih pada Gavino, yang sudah menyelamatkannya barusan.
Menurut penuturan gadis tersebut, ternyata cowok tadi adalah kekasihnya sendiri. Tapi suka melakukan kekerasan, sehingga gadis tersebut meminta untuk putus.
Sayangnya, cowok tersebut tidak mau memutuskan hubungan mereka. Tapi tetap berlaku kasar.
__ADS_1
"Cowok kayak gitu gak usah di dipertahankan. Dia bisa terus menerus menyiksa mu. Bahkan bisa jadi, dia akan membunuhmu suatu hari nanti." Gavino menasehati gadis tersebut.
"Iya terima kasih. Saya mau pulang dulu," pamit gadis tersebut, setelah mengucapkan terima kasihnya yang kesekian kali.
"Aku antar Kamu pulang." Gavino menawarkan tumpangan.
"Tapi, tapi kita belum saling kenal. Saya..."
"Jangan takut. Aku bukan orang jahat. Aku akan mengantarmu sampai rumah, supaya lebih aman."
Akhirnya gadis tersebut mengangguk setuju. Dia masuk ke dalam mobil, setelah dibukakan pintu oleh Gavino.
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit, mereka tiba di sebuah perkampungan padat penduduk.
"Itu rumahku!"
Gadis tersebut menunjuk ke sebuah rumah yang tampak sangat sederhana.
"Maaf. rumahku sangat kecil. Aku tinggal seorang sendiri, karena ibu dan ayahku telah berpisah. Mereka hidup bersama dengan pasangan masing-masing yang baru, dan aku tidak mau tinggal bersama salah satu dari mereka. Sehingga memutuskan untuk tinggal sendiri. Ini adalah rumah nenekku yang dulu." terang gadis tersebut pada Gavino.
Dia juga mempersilahkan Gavino untuk masuk ke rumahnya sebentar.
"Masuklah sebentar. Aku akan buatkan teh hangat untukmu."
Gavino hanya mengangguk dan memperhatikan keadaan ruang tamu yang sangat sempit setelah gadis tersebut masuk ke dalam.
"Aku pikir kota Paris itu tidak ada keadaan yang seperti ini. Semua serba mewah dan megah. Ternyata ada juga keadaan rumah seperti ini, di tempat yang padat penduduk. Sama seperti di kota lama ku Monte Isola."
Gavino tidak pernah membayangkan keadaan kota Paris, dengan gambaran yang sering diperlihatkan di media sosial. Yang ternyata tidak sama dengan kenyataan yang ada.
Tak lama kemudian, gadis tersebut keluar dengan membawa secangkir teh hangat.
"Maaf. Aku hanya punya teh. Silahkan diminum," ujar gadis tersebut mempersilahkan pada Gavino untuk meminum teh hangat buatannya.
"Terima kasih. Ini sudah cukup," sahut Gavino dengan tersenyum, kemudian mengambil cangkir yang ada di meja untuk di minum.
"Sebaiknya lukamu itu segera diobati." Gavino menasehati gadis tersebut, dengan menunjuk ke arah bibirnya sendiri.
"Iya, nanti Aku obati," ujar gadis tersebut, sambil memegang sudut bibirnya yang tadi terluka. Darah yang tadi keluar sudah sedikit mengering dia pun mengelap nya dengan tangannya sendiri.
Sebenarnya tadi Gavino sudah memberikan tawaran, untuk membawanya ke rumah sakit. Tapi gadis tersebut menolaknya dengan alasan, dia tidak merasakan rasa sakit.
__ADS_1