Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Semua Sudah Dipersiapkan


__ADS_3

Tok tok tok!


Tok tok tok!


"Gavin! Gavino!"


Pintu kamar Gavino diketuk George beberapa kali. Tapi yang punya kamar, tidak segera membukakan pintunya.


Tok tok tok!


Sekali lagi George mengetuk pintu kamar tersebut. Bahkan kali ini dengan lebih keras.


Clek!


Pintu di buka, tepat di saat George mau mengetuk pintu lagi, sehingga tangganya masih berada di atas. Persis seperti mau memberikan sebuah jitakan untuk Gavino yang berada di ambang pintu kamar.


"Heh! Ayo bersiap. Kita akan segera berangkat ke bandara."


Gavino tertegun sejenak, mendengar perkataan George yang sudah rapi dengan jaket kulit berwarna hitam.


"Sekarang?" tanya Gavino terkejut.


Dia belum mandi dan bersiap-siap, meskipun koper sudah siap diangkut. Dan semua surat-surat yang diperlukan sudah dibawa oleh George sebagai asistennya.


George memutar bola matanya malas, mendengar perkataan Gavino barusan.


Ini sudah dia duga, jika anak seumuran Gavino ini, suka menggalau dengan perasaannya. Apalagi, ads gadis yang baru saja bisa dinikmati oleh Tuan mudanya itu.


Cepatlah bersiap dalam lima menit. Aku menunggu di depan!" ketus George tidak mau di bantah.


Setelah berkata demikian, George langsung pergi meninggalkan Gavino yang mau memprotesnya. Sayangnya, itu tidak jadi dilakukan oleh Gavino. Sebab George keburu pergi dengan wajah datar.


"Agrhhh... kenapa Aku bisa lupa!" gerutu Gavino pada dirinya sendiri, sambil menarik-narik rambut kepalanya.


( Ting )


( Selamat malam Good Father )


( Perlu bantuan sistem Good Father )


'Aku ingin bersiap-siap untuk berangkat ke Paris. Aku sudah ditunggu George dalam waktu lima menit saja.'


( Ting )


( Sistem membantu Good Father bersiap )


( Persiapan di mulai )


1%


10%

__ADS_1


20%


30%


40%


50%...


Sampai dengan selesai menjadi 100%.


( Ting )


( Selesai Good Father )


Kini, semua yang dilakukan oleh Gavino tidak terasa lagi. Dan penampilannya juga sudah rapi. Lengkap dengan jaket kulitnya yang berwarna coklat tua. Sepadan dengan celana jeans yang dia kenakan, bersama dengan sepatu boot dengan warna yang sama juga.


Sempurna!


Setelah mematut dirinya sendiri untuk terakhir kalinya di depan cermin, Gavino mengarahkan jari telunjuk dan jempol ke arah cermin. Sama seperti orang yang sedang melakukan penembakan.


Dengan bersemangat, Gavino keluar dari dalam kamar, menuju ke depan. Di mana George yang sudah menunggu dirinya, tiga menit yang lalu.


"Ayok!"


Gavino mengajak George yang masih duduk di kursi tamu.


Mendengar suara ajakan Gavino, George melihatnya dengan tatapan tidak percaya. Jika Gavino sudah rapi dalam jangka waktu yang dia tentukan sendiri. Yaitu cuma tiga menit saja.


George tersadar dari pandangan kagumnya pada tuan mudanya itu.


"Cihhh! Setampan-tampannya dirimu, Aku tidak doyan. Aku masih normal, meskipun harus melahap dua mangsa sekaligus dalam waktu yang bersamaan." George justru meledek Gavino dengan tabiatnya yang tidak perlu dicontoh.


"Wkwkwk... sombong sekali Anda Paman! apa Anda lupa, siapa Gavino Giordano Junior?" senyuman sinis terbit di sudut bibir Gavino.


Dan perkataannya kali ini, membuat George kembali membulatkan matanya.


"Hah, sudahlah! Ayok kita pergi sekarang juga!" ajaknya pada Gavino, kemudian segera masuk ke dalam mobil.


Semua barang-barang yang mereka perlukan di Paris, sudah ada di dalam koper. Yang berada di bagasi mobil ini. Sedangkan supirnya adakah Robert sendiri, bersama satu temannya. Yang akan mengawal Gavino bersama dengan George sampai di bandara.


*****


Di dalam kamarnya Gress.


Tengah malam, dua mendapat kabar dari Gavino, jika pesawatnya akan terbang lebih awal dari pada jadwal keberangkatan yang sebelumnya.


Jadi, rencana awalnya untuk terbang adalah jam dua malam atau dini hari. Tapi ternyata di majukan menjadi jam setengah satu malam.


..."Untungnya Sayang pulang lebih cepat tadi. Ternyata udah filing ya!" ...


..."Ya mungkin. Maaf ya Sayang. Aku gak bisa menemanimu untuk liburan semester tahun ini. Malah membiarkan Sayang bekerja juga untuk mengisi liburan." ...

__ADS_1


..."Tak apa Sayang. Aku justru senang dengan pekerjaan di kios. Setidaknya Aku punya kegiatan selama liburan dengan tidak adanya Kamu Sayang." ...


..."Ah iya. Kalau begitu berhati-hatilah. Jika ada sesuatu yang Kamu butuhkan, Kamu bisa menghubungi Aku, atau paman Robert. Dia adalah asisten paman George." ...


..."Iya Sayang. Terima kasih. Dan berhati-hatilah di Paris. Jangan tergoda dengan gadis-gadis cantik di sana ya!" ...


..."Hahaha... Aku masih menginginkan dirimu Sayang. Jadi, tidak perlu khawatir dengan ku yang ada di antara pada gadis-gadis yang ada di Paris sana!" ...


..."Hemmm..." ...


..."Ya sudah. Aku berangkat dulu Sayang. Love You. Muachhh... Cup cup!...


..."Love You to Sayang... Cup!" ...


Klik!


Gavino mematikan panggilan telponnya, setelah mendengar jawaban Gress yang menyahuti perkataan terakhirnya tadi.


"Ayo Gavin! Pesawat sudah menuggu kita."


George dengan cepat menarik tangan Gavino, persis seperti seorang ayah yang sedang menarik tangan anaknya karena tidak patuh.


"Ck! Aku bisa jalan sendiri paman George." eram Gavino kesal.


Mulai sekarang, Gavino belajar untuk memanggil George dengan embel-embel paman. Demi keamanan mereka berdua selama perjalanan dan di Paris juga.


Ini adalah inisiatif dari Gavino sendiri, supaya mempermudah perkenalan mereka pada orang-orang baru yang akan mereka temui besoknya di kota Paris sana.


Begitu pesawat mulai berjalan dan terbang, Gavino dan George bersikap seperti layaknya pesawat pada umumnya. Tanpa membicarakan tentang Thomas Bryan ataupun king Black


Mereka berdua tidak melakukan apa-apa, yang bisa membuat awak pesawat ataupun penumpang lainnya merasa curiga. Jika mereka ada misi terselubung dengan keberangkatan mereka berdua ke kota Paris.


Karena bisa jadi, di dalam pesawat ini ada anak buahnya king Black. Sehingga mereka berdua harus tetap berhati-hati dan waspada, di setiap tempat dan kesempatan.


*****


Di kota Paris.


Hotel yang akan di tuju Gavino bersama dengan George, sudah disibukkan dengan kegiatan mereka. Dalam rangka pagelaran busana tahun ini.


Apalagi, pagelaran fashion kali ini akan dihadiri oleh Thomas Bryan juga. Sebagai seorang pengusaha sukses dan terkenal di seluruh negara-negara benua Eropa. Apalagi hotel ini juga salah satu hotel yang dia miliki.


Kamar khusus dengan keamanan yang khusus juga, sudah dipersiapkan oleh pihak hotel. Untuk menyambut kedatangan tuan besar nya nanti.


Setiap sudut jalan dan lorong hotel, di pasang cctv rangkap. Jadi bisa dilihat dari beberapa sisi, untuk antisipasi sesuatu yang bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Sebab tuan besar nya itu bukanlah orang sembarangan. Yang tentunya punya banyak musuh, yang juga mengincar keselamatan tuan besar nya itu.


"Di bagian atap hotel, apa sudah aman?" tanya seseorang, yang bertugas sebagai koordinator di hotel tersebut.


"Sudah Tuan. Bahkan landasan helikopter yang akan digunakan untuk pendaratan helikopter tuan Thomas Bryan juga sudah di cat ulang dengan cat terbaik."


"Good! Lanjutkan pekerjaanmu!"

__ADS_1


"Siap Tuan!"


__ADS_2