
Kejadian yang terjadi pada pagi itu, ternyata membawa dampak besar pada Gavino dan keluarganya. Sebab pihak orang tua dari temannya, tidak menerima perlakuan dan tindakan Gavino. Yang dianggap telah mempermalukan martabat mereka sebagai orang kaya di daerah tersebut.
Bahkan ada polisi yang datang ke rumah Gavino, untuk meminta keterangan dan penjelasan tentang keadaannya sekarang.
Polisi tersebut mendapatkan laporan dari pihak keluarga temannya, yang pasti itu dilawan oleh Gavino. Padahal temannya itulah yang memulai terlebih dahulu, bahkan supirnya juga ikut campur.
Saat itu Gavino hanya mempertahankan harga dirinya, tanpa ada maksud lain.
Tapi laporan tersebut membesar-besarkan masalah, sehingga keluarga Gavino mendapatkan cemooh dan sindiran dari orang-orang disekitarnya.
Hal ini membuat Mirele khawatir dengan keadaan anaknya, yang tentunya masih labil. Dan belum memiliki prinsip sendiri.
"Tidak apa-apa Ma. Biarkan saja mereka berbicara sesuka hatinya. Suatu hari nanti, Gavino akan membungkam semua mulut mereka. Yang sekarang ini dengan bangga meremehkan dan merendahkan keluarga kita." Tekad Gavino, dengan merapatkan rahangnya hingga mengeras.
Hal ini membuat Mirele khawatir, karena dia merasa takut jika anaknya itu justru kenapa-kenapa. Sebab akan mendapatkan permasalahan dari orang-orang yang berpengaruh di daerahnya ini.
"Cosa è successo veramente a Gavin? Perché tutti si sentono sotto pressione e spaventati?"
"Apa yang sebenarnya terjadi Gavin? kenapa semuanya seperti rasa ketakutan dan penuh tekanan?" tanya Mirele, ingin mendapatkan penjelasan dari anaknya.
Dia tentu merasa takut, jika anaknya itu akan mendapatkan celaka. Dari ancaman orang-orang yang tidak menerima perbuatannya Gavino.
Sedangkan papanya, Giordano, bekerja di luar daerahnya. Dan pulang hanya seminggu sekali, pada saat weekend tiba.
Jadi untuk kesehariannya, Mirele memang hanya hidup berdua bersama dengan anaknya, Gavino. Yang masih kecil, dan belum bisa menerima kenyataan bahwa, keluarga mereka hidup dibawah kekuasaan orang-orang yang kuat dan banyak harta.
"Gavin mi sto solo difendendo mamma. Gavin si sbagliava? Gavin hanya membela diri saja. Apakah dengan seperti itu Gavin salah?"
Untuk anak seumuran Gavino, memang tidak tahu permasalahan orang-orang dewasa. Yang nyatanya lebih kompleks, bukan hanya sekedar dilihat dari kekayaan atau kekuasaan saja. Tapi ada faktor-faktor lain, yang lebih tinggi. Yaitu sebuah gengsi, dari orang-orang kalangan atas.
"Biarkan saja Ma. Gavin pasti bisa melawan mereka!"
Begitulah kira-kira tekad Gavino, yang tidak mau selamanya ditindas dan diremehkan oleh orang-orang di sekitarnya.
Dia ingin membuktikan pada mereka semua bahwa, dia bisa melawan dengan kekuatannya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Tekad Gavino ini dibuktikan dengan cara melawan keluarga temannya, yang pada akhirnya datang kembali ke rumahnya. Dengan maksud untuk memberikan tekanan secara moral, agar dia tidak punya keinginan untuk keluar dari rumah.
"Un tale perdente! su cosa conti?"
"Dasar pecundang! memangnya apa yang Kamu andalkan?" tanya papa dari teman sekolahnya, dengan sikapnya yang arogan.
Hal ini membuat Gavino tidak suka, dengan mengepalkan tangannya dengan kuat.
__ADS_1
Dia bersiap dengan segala sesuatu yang akan terjadi nanti, jika dia sudah tidak bisa menahan diri. Sehingga memberikan pelajaran dengan cara menghajar papa dari teman sekolahnya.
"Cihhh! Lihat saja keadaan rumahmu yang tidak ada apa-apanya ini?"
"O vuoi che compri?"
"Atau Kamu mau Aku beli?"
Perkataan tamu yang tidak diundang tersebut, benar-benar sudah keterlaluan. Sehingga membuat Gavino tidak bisa menahan diri lagi, kemudian dia maju untuk menantang tamunya tersebut.
"Il discorso di una persona rispettabile è come sterco di vacca?"
"Apa Tuan sadar, jika sudah bicara keterlaluan? Atau cara bicara orang yang hormat itu seperti kotoran sapi?"
Ucapan yang keluar dari mulut Gavino, tidak pernah disangka oleh tamunya itu. Bahkan Mirele juga tidak pernah menyangka, jika anaknya yang pendiam itu berani dan mampu berkata-kata sedemikian rupa.
"Dasar anak kecil bodoh!"
"Stupido ragazzino!"
"Non hai mai pensato di cambiare il tuo destino hadi andare prima Ti abbiamo cacciato!"
"Sebelum Kamu sadar dan mendapatkan hukuman dariku, lebih baik kamu segera pergi dari kota ini. Dan jangan berpikir untuk kembali dan menempatkan diri kalian!"
Bughhh!
Tiba-tiba tangan Gavino yang sedari tadi memang sudah terkepal kuat, mendarat di pipi mulus Tuan kaya tersebut.
Dia tidak peduli lagi, dengan segala resiko yang bisa saja dia terima nanti.
Gavino hanya berpikir bahwa, saat ini dia harus memberikan pelajaran pada orang tersebut. Agar kedepannya nanti tidak melakukan hal yang sama seperti saat ini.
"Spero che la tua bocca possa ancora parlare in un buon linguaggio."
"Semoga saja mulutmu itu masih bisa mendapatkan peringatan yang baik, dan perlu dihajar oleh orang lain. Termasuk Aku sendiri."
Tapi tamunya tersebut tidak terima, dengan perlakuan Gavino padanya.
"Sial!"
"Kamu pantas untuk mati anak kecil! Hiyattt!"
Tiba-tiba orang tadi menyerang Gavino dengan sembarangan. Tapi sayangnya, semua pergerakan yang dia lakukan bisa diprediksi oleh Gavino. Sehingga Gavino bisa meloncat ke sana kemari, untuk menghindar dari serangan lawan.
__ADS_1
Lawan yang sebenarnya tidak seimbang, karena dia masa kecil sedangkan lawannya itu adalah laki-laki dewasa.
Tapi Gavino tidak peduli. Begitu juga dengan tamunya yang sok berkuasa dan kuat, sehingga pertandingan beda usia tersebut ingin membuktikan. Siapa yang paling kuat kuat diantara mereka.
"Maaf Tuan. Maaf, tapi dia masih kecil Tuan?"
Mirele berusaha untuk meminta maaf pada tamunya itu, dengan harapan bahwa orang tersebut mau melepaskan Gavino. Dan tidak jadi memberikan pelajaran atau kekerasan.
Sayangnya, tamu tersebut tidak peduli. Bahkan menepis tangan Mirele yang disatukan, untuk meminta permohonan maaf.
Hal ini membuat Gavino tidak suka, dan melainkan sebuah pukulan sekali lagi. Untuk memperingatkan pada orang tersebut, bahwa dia bisa membela diri.
Bughhh bagh bugh!
Rumah Mirele yang tidak seberapa besar, bahkan bisa dibilang sangat kecil, akhirnya berantakan. Karena Gavino dan tamunya tadi akhirnya berkelahi.
Tangan Gavino dengan gesit melakukan pergerakan apapun, untuk mempertahankan diri, melindungi, dan menyerang lawan.
Hal yang tidak pernah diketahui dan disangka oleh Mirele, jika anaknya itu bisa dan mampu melawan laki-laki dewasa yang datang bertamu. Dengan tujuan yang tidak baik, karena pingin memberikan pelajaran dan perhitungan atas apa yang dilakukan oleh Gavino pada anak dan supirnya.
Peristiwa ini akhirnya terdengar sampai keluar rumah, membuat orang-orang yang ada di sekitar rumah mereka berdatangan. Demi bisa melihat kejadian yang sebenarnya.
Dan semua sangat terkejut, sebab tidak betah menyangka. Jika Gavino memiliki kemampuan, yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sebab Gavino mampu mempertahankan diri, bahkan hajar orang tersebut.
Krakkk!
Begh srekkk!
"Kyaaa... awww!"
Sekarang, tubuh tamunya itu sudah tidak berdaya. Di saat mendapatkan pukulan telak pada bagian perutnya, tepat pada ulu hati.
Gavino benar-benar tidak memberinya ampun, dengan memberikan gambaran pada orang lain, bahwa dia sudah tidak mau ditindas lagi.
"Apapun yang ingin Kamu lakukan, silahkan saja! Tapi jangan sampai Kamu melibatkan keluargaku, bahkan memegang ujung rambut saja, Aku tidak takkan pernah memaafkan mu!" terang Gavino, memberikan ancaman kepada laki-laki tersebut, yang merupakan papa dari temannya.
Orang yang cukup berpengaruh besar di daerah tempat tinggalnya ini.
"Enyahlah Kamu dari sini!"
Tanpa banyak menunggu waktu lagi, tamu tersebut berusaha untuk bangkit, dengan tertatih-tatih, berjalan menuju ke arah mobil yang tadi dia kendarai.
Beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Mirele memeriksa keadaan anaknya, yang tentu saja memiliki sedikit banyak memar pada bagian-bagian tertentu dari tubuhnya. Yang tadi mendapatkan pukulan dari lawan.