
Alano jatuh terkapar, dengan banyak luka pada tubuhnya. Membuat Bianca mengalihkan pandangannya dari tubuh Alano yang dalam keadaan tidak berdaya lagi.
"Kamu tidak apa-apa kan Bi?" tanya Gavino, yang mengkhawatirkan keadaan Bianca.
Dengan cepat, dia membuka tali yang digunakan untuk mengikat kedua tangan Bianca.
Setelahnya, Bianca segera memeluk Gavino dengan penuh rasa terima kasih.
"Thank you Vin. Kamu sudah menyelamatkan diriku," ujar Bianca, masih dalam keadaan memeluk Gavino.
Tapi pada saat dia mau mundur, justru tubuhnya yang hampir saja terjatuh. Dia lupa, jika kedua kakinya juga dalam keadaan terikat. Dan Gavino memang belum sempat membukanya tadi.
Untungnya, dengan segera tangan Gavino menahan pinggang Bianca. Sehingga tubuhnya yang hampir terjatuh, kembali lagi ke dalam pelukan Gavino.
Sepersekian detik, mereka berdua saling pandang tanpa bersuara. Masing-masing hanya bisa terdiam, dengan pikiran dan perasaan mereka sendiri.
"Argh..."
Erangan amarah yang terdengar dari mulut Alano, menyadarkan mereka berdua.
Dengan cepat, Gavino mendudukkan kembali Bianca ke kursi yang tadi dia tempati. Memintanya untuk tetap tenang. Karena dia akan membuka tali, yang meningkat kakinya.
"Kamu tenang ya! Aku buka talinya dulu."
Dari luar, terjadi keributan. Dan beberapa orang masuk dengan mengunakan senjata lengkap.
Pergerakan mereka juga sangat cepat. Mereka sepertinya terlatih dalam keadaan genting seperti sekarang ini.
"Diam dan jangan melakukan apa-apa, jika ingin selamat!"
Senjata api yang ditodongkan di belakang kepala Gavino, membuatnya harus diam. Sesuai dengan instruksi dari orang tersebut.
Bianca juga mendapat todongan senjata api, tepat di di atas kepalanya.
Dengan demikian, Gavino pun menuruti permintaan mereka. Dia menahan diri untuk tidak melakukan tindakan yang bisa membuat semuanya kacau. Apalagi jika sampai membahayakan keselamatan Bianca.
Gavino memejamkan mata, untuk bisa mengaktifkan sistem mafia yang ada di dalam otaknya. Dia akan mengendalikan kekuatannya, untuk bisa menyelamatkan Bianca dari ancaman orang tersebut.
Karena sepertinya, orang itu tidak bisa diremehkan begitu saja oleh Gavino.
Apalagi senjata api yang dia gunakan juga berkekuatan besar, dan bukan senjata api biasa.
( Ting )
'Aku mau kekuatan 100%.'
( Kekuatan diaktifkan )
1%
10%
30%
50%
__ADS_1
75%
100%
( Sempurna )
Brukkk!
Tiba-tiba, tubuh Gavino memutar dengan tangannya yang siap menjatuhkan lawan.
Krakkk!
"Arghhhh!"
Terdengar suara jeritan kesakitan, yang diakibatkan patahnya satu tangan yang tadi memegang senjata api.
Dengan gerakan yang lebih cepat, Gavino membopong tubuh Bianca untuk dibawa keluar dari tempat ini.
"Ahhh..."
Bianca yang terkejut, jadi berteriak keras. Karena merasa jika tubuhnya tiba-tiba melayang.
"Vin," cicit Bianca yang tersadar dari keadaan dirinya yang sebenarnya.
Tapi Gavino tidak menyahut. Dia tetap berjalan dengan cepat menuju ke luar bangunan. Karena dia merasakan tubuh Bianca yang panas, dengan beberapa luka di tubuhnya.
Meskipun di perjalanan menuju ke luar bangunan banyak sekali rintangan, dari tubuh-tubuh yang tergeletak begitu saja. Tapi Gavino tidak memperdulikan keadaan tersebut.
"Dante! Cepat amankan Bianca!"
Bughhh!
Sekali lagi Dante memukul orang tersebut. Baru kemudian berlari mendekat ke tempat Gavino berada.
Dia menerima tubuh sepupunya yang tampak lemas.
"Bawa ke rumah sakit segera. Biar Aku yang membereskan semua ini!"
Dante mengangguk, kemudian berjalan dengan cepat menuju ke arah mobilnya berada.
"Cardi, bantu Dante. Pastikan selamat sampai di rumah sakit!" Gavino memberikan perintahnya pada Cardi. Yang kebetulan terlihat dari tempatnya berada.
Cardi pun mengangguk patuh, kemudian berlari menyusul Dante. Yang membawa Bianca.
Tapi sepeninggal mereka tadi, ada banyak sekali orang-orang yang datang. Dan mereka semua adalah orang-orangnya Alano.
Sedangkan orang-orangnya Gavino, masih ada beberapa yang sudah jatuh karena kalah dengan jumlahnya juga.
Namun pada saat Gavino ingin mengaktifkan kembali sistem bantuan pada orang-orang, dia sudah tidak mampu lagi. Karena tiba-tiba, sistem itu menghilang dari otaknya.
"Hah! Hilang? Bagaimana bisa?" gumam Gavino, yang tidak menyadari bahwa, tadi dia sudah mengaktifkan sistem dengan kekuatannya yang melebihi batas fisiknya.
Meskipun kini dia bisa mengalahkan Alano dan kawan-kawannya yang ada di dalam, kekuatan orang-orang yang baru saja datang juga tidak bisa diremehkan begitu saja.
Akhirnya, dia dibantu oleh Lorenzo dan Jeffrie, melawan mereka semua. Dengan beberapa orang yang tadi datang untuk membantunya.
__ADS_1
Dengan kekuatan seadanya, tetap saja itu tidak seimbang. Akhirnya Gavino tumbang juga. Setelah sisa-sisa kekuatan yang dia miliki tadi, ikut berangsur-angsur hilang juga.
Dia jatuh tertelungkup, dalam keadaan terluka parah di sekujur tubuhnya.
Begitu juga dengan Jeffrie dan Lorenzo.
Mereka berdua, juga jatuh tak jauh dari tempat Gavino berada.
Dan hingga saat polisi datang ke tempat kejadian. Karena laporan yang dilakukan oleh Dante, bersama dengan Cardi. Tak lama setelah mereka membawa Bianca ke rumah sakit.
*****
Nguing!
Nguing!
Ninu...
Ninu...
Suara sirene dari mobil kepolisian dan ambulance, terdengar pada saat malam menjelang pagi.
Mobil-mobil tersebut hilir mudik. Tim kesehatan juga sibuk untuk membawa semua orang yang terluka ke dalam mobil ambulance, untuk segera di bawah ke rumah sakit.
Para polisi, mengecek dan melakukan investigasi. Serta mengamankan tempat kejadian.
Ternyata ada banyak sekali orang-orang yang terlibat dalam perkelahian semalam.
"Sebenarnya mereka kenapa?".
"Apa yang mereka rebut kan?"
"Kenapa kita bisa tidak tahu, jika ada perang besar di sini?"
Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut para polisi. Dan mereka semua akhirnya tidak lagi bertanya-tanya, pada saat melihat keberadaan Alano di sebuah ruangan yang hampir dalam keadaan setengah hancur.
"Apa ada bom semalam? Bagaimana bisa tempat ini hancur seperti ini?"
Mereka semua merasa heran dengan kondisi dinding dan lantai yang hancur. Padahal tidak ada senjata atau alat yang bisa digunakan untuk menghancurkan dinding dan lantai.
Tubuh Alano juga tidak kalah parahnya. Beberapa tulang yang menopang tubuhnya, tampak payah. Sehingga tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.
Di luar ruangan, Gavino juga tidak sadarkan diri. Dia tidak bisa merasakan apa-apa. Begitu juga dengan kedua temannya. Jeffrie dan Lorenzo yang sama-sama terluka. Hingga tim medis menemukan mereka bertiga, yang masih memperlihatkan jika ada tanda-tanda kehidupan pada tubuh mereka yang tidak berdaya.
"Di sini ada tiga korban yang sepertinya masih hidup!"
Mendengar teriakan tersebut, tim medis lainnya datang membantu untuk memeriksa.
"Iya. Denyut nadinya masih ada. Meskipun tampak lemah."
"Ayo cepat bawa ke rumah sakit!"
Akhirnya, tim medis membawa ketiga tubuh tersebut ke dalam mobil ambulance. Dan melarikan korban menuju ke rumah sakit, untuk mendapatkan pertolongan.
Tak kurang dari seratus orang, tidak bisa diselamatkan. Termasuk beberapa teman dekat Alano. Yang dia mintai bantuan dalam rencananya ini.
__ADS_1