
Semua orang boleh tidak mencurigai siapapun yang ada dalam kasus papanya Madalena. Karena mereka menganggap bahwa, padanya Madalena memang sedang dalam keadaan gangguan mental.
Rasa putus asa dan tidak bisa menerima kenyataan, membuat dirinya mudah untuk dipengaruhi oleh orang-orang yang dia anggap paling bisa dipercaya.
Papanya Madalena tidak sadar jika, kadang kala ada orang-orang terdekat kitalah yang mendorong kita, untuk melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Sama seperti yang saat ini terjadi pada papanya Madalena sendiri.
Meskipun dia bukan orang yang bodoh dan mudah untuk ditipu, tapi dari pengaruh perkataan seseorang yang dia percaya itulah, yang membuat dirinya melupakan semua hal. Termasuk dengan anak-anaknya sendiri.
Dari penyidikan yang dilakukan oleh sistem informasi Gavino, kepala pelayan di rumah Madalena lah yang membuat depresi papanya semakin besar.
Kata-kata yang diucapkan oleh kepala pelayan, seakan-akan mencuci otaknya. Sehingga papanya Madalena merasa tidak berguna, dan harus jauh-jauh dari sebuah orang. Termasuk Madalena sendiri, sebagai anak satu-satunya yang ada di rumah saat ini.
Kepala pelayan ingin menjadi seseorang yang nomor satu di rumah besar Madalena. Dia ingin menguasai segalanya, karena merasa dia juga yang sudah mengatur segala urusan di rumah ini. Bahkan sejak mamanya Madalena masih hidup dan sehat.
Semua kunci rumah, dia yang tahu kodenya. Dari kamar utama milik kedua orang tuanya Madalena, hingga ruangan yang ada di bawah tanah. Yang digunakan untuk gudang. Semua dia yang atur.
Gavino geleng-geleng kepala, melihat semua informasi dan data yang dia lihat saat ini.
Akhirnya malam ini juga, Gavino menyerahkan semua bukti itu pada pihak yang berwajib.
Tapi tentu saja bukan Gavino sendiri yang melakukannya. Ada orang suruhan yang dia tugaskan untuk pergi ke kantor polisi. Menyerahkan semua berkas-berkas tindak kejahatan kepala pelayan di rumah Madalena.
Pihak kepolisian tentang saja merasa terkejut, melihat semuanya sudah disusun sedemikian rupa. Sehingga memudahkan pihak terkait untuk melakukan penyidikan lebih lanjut.
Dan ternyata, pihak pengacara dan notaris keluarga Madalena, yang dipercaya oleh papanya Madalena mengurus semua hal tentang harta mereka, melakukan kerja sama dengan kepala pelayan tersebut.
"Ini tindakan kriminal. Meskipun mereka tidak melukai siapapun, tapi hasil dari apa yang mereka lakukan sudah membuat orang-orang rugi secara mental."
Begitulah pihak kepolisian mendalami kasus ini.
Akhirnya, mereka bergerak dengan cepat. Supaya para penjahat yang tidak memakai senjata api atau senjata tajam ini bisa dibekuk.
__ADS_1
Tapi senjata mereka justru lebih mematikan, karena tidak tampak dari luar.
Beberapa anggota polisi, mengunakan seragam sipil untuk melakukan pekerjaan mereka. Yaitu meringkus pelaku yang diduga ikut terlibat dalam segala tindak penipuan dan kejahatan di rumah Madalena.
Dan tanpa disadari oleh orang-orang yang menjadi target, mereka akhirnya bisa ditangkap. Karena pada saat itu, mereka bertiga, kepala pelayan, notaris keluarga dan pengacara sedang berkumpul bersama, untuk membicarakan tentang langkah selanjutnya yang akan mereka ambil.
Mereka bertiga, bertemu di salah satu restoran yang mewah di kota Roma. Hal yang biasa di lakukan oleh orang-orang kaya pada umumnya.
Tapi tentu saja tidak akan sama, jika dilakukan oleh pelayan yang bekerja di rumah Madalena. Meskipun dia adalah kepala pelayan sekalipun.
"Angkat tangan kalian bertiga!"
Tanpa mereka sadari, beberapa anggota polisi yang berpakaian sipil menodongkan senjata api kearah mereka, tanpa diketahui oleh orang lain.
Polisi-polisi tersebut, menodongkan pistol mereka, sama seperti saat sedang memeluk teman, karena mereka baru saja datang.
Kata-kata perintah mereka, juga diucapkan dengan pelan. Tapi penuh dengan tekanan.
Tapi mereka tetap tidak mau terjadi keributan, hanya karena sedang melakukan tugasnya sebagai seorang polisi. Untuk menangkap para penjahat yang tampak seperti orang-orang yang baik, dan terhormat di mata masyarakat.
Pengacara, notaris dan kepala pelayan, tentu saja terkejut dengan kejadian ini. Mereka bertiga, saling pandang dengan tatapan tajam. Seakan-akan saling menuduh, jika ini adalah kerjaan salah satu dari mereka bertiga.
"Bukan Aku yang melakukan semua ini."
Kepala pelayan menghindar dari tuduhan kedua orang tersebut, yang bekerja sama dengannya.
"Aku juga tidak!" sahut notaris keluarga Madalena dengan cepat.
Dia juga tidak mau, jika dituduh sebagai pengkhianat. Dari kerjasama yang mereka lakukan.
Kini, kepala pelayan dan notaris sama-sama melihat ke arah pengacara. Sehingga membuat pengacara tersebut menatap wajah mereka berdua dengan tatapan yang tajam, silih berganti.
"Aku tidak mungkin melakukan semua ini bodoh!"
__ADS_1
Pengacara melakukan pembelaan diri, dengan memaki kedua rekannya. Dia tidak mau disalahkan, atas penangkapan mereka bertiga saat ini. Karena memang bukan salah satu dari mereka, yang melaporkan semua kejahatan mereka.
"Kalian semua diam, dan ikuti saja perintah dari kami!"
Satu diantara polisi yang menodongkan senjata api, meminta ketiganya untuk diam.
"Tapi kami tidak tahu, siapa kalian semua? apa kalian bisa menunjukkan identitas diri kalian?" tanya pengacara, yang tentunya tahu. Bagaimana cara yang baik untuk mencari jalan keluar dari permalasahan mereka ini.
Akhirnya, satu dari anggota kepolisian yang berdiri, dan tidak menodongkan pistol. Menyerahkan surat ijin untuk penangkap mereka bertiga.
Pengacara tersebut menatap surat perintah penangkapan tersebut dengan melotot. Karena jelas tertulis di sana, ada namanya yang menjadi target penangkapan.
"Apa-apaan ini?" tanyanya tidak terima.
Ini karena dia membaca keterangan dari surat penangkapan tersebut, dengan tuduhan penipuan dan rencana untuk melakukan penyalahgunaan wewenang dan kuasa. Yang diberikan oleh papanya Madalena.
"Kami bertemu hanya untuk membahas masalah selanjutnya. Tuan besar tidak ada di rumah, jadi semua urusan diserahkan kepada kami."
Seorang pengacara, tentu pandai bicara. Dan punya banyak alasan serta alibi. Untuk bisa keluar dari dalam tekanan seperti saat ini.
"Nanti kalian bisa jelaskan semuanya di kantor polisi. Jika sekarang kalian melakukan tindakan apa-apa, yang bisa membuat nama kalian buruk nantinya, itu bukan tanggung jawab kami."
Mendengar perkataan polisi tersebut, pengacara akhirnya diam dan tidak lagi membantah. Karena apa yang dikatakan tadi memang bisa membuat nama besarnya sebagai seorang pengacara bisa hancur.
Para pengunjung di restoran ini, bukanlah dari kalangan orang-orang biasa. Mereka tentu tahu, siapa dia.
Begitu juga dengan notaris keluarga Madalena. Dia tidak mungkin membiarkan nama baiknya tercoreng oleh tindakan yang dia lakukan di restoran ini.
Sedangkan kepala pelayan, hanya bisa diam dan mengikuti kedua rekannya itu.
Mereka bertiga, di bawa ke kantor polisi. Dengan menggunakan satu mobil, untuk satu orang tersangka.
Mobil yang digunakan untuk penangkap juga bukan mobil polisi. Tapi mobil pribadi, untuk para warga sipil pada umumnya.
__ADS_1