
"È vero, vuoi andare in America? stabilirti lì Gavino?"
"Apa benar, Kamu ingin pergi dan menetap di Amerika sana? Apa kurangnya kota Roma ini?" Thomas Bryan, yang baru saja datang dan masuk ke dalam ruangan rawat inap anaknya. Langsung mengajukan pertanyaan tersebut pada Gavino.
"Papa..."
Gress cukup terkejut juga, dengan pertanyaan yang diajukan oleh papanya barusan.
"Tidak Gress! Papa harus memastikan sendiri, jika putusan yang dibuat oleh Gavino ini, makan membuatmu bahagia."
Sepertinya Thomas Bryan menginginkan yang terbaik untuk anaknya, sehingga apa yang dia katakan, terdengar egois. Tanpa berpikir panjang bahwa, di dalam ruangan tersebut masih ada Bianca. Yang merupakan gadisnya Gavino juga.
Hal ini membuat Bianca merasa tidak nyaman, karena menganggap dirinya adalah orang lain. Yang sudah masuk dalam hubungan mereka berdua, sehingga harus dijauhi oleh Gavino dan juga Gress.
Tapi ternyata Gress justru memperingatkan papanya, "Pa. Ini hanya untuk sementara waktu saja, dan bukan untuk selamanya."
Gavino terlihat tenang mendengar semua pertanyaan dan perkataan dari Thomas Bryan, bersama dengan Gress.
Dari perbincangan keduanya, dia bisa menarik kesimpulan dengan memberikan penilaian. Bagaimana sebenarnya posisi dirinya, di mata Thomas Bryan dan Gress sendiri.
Dengan demikian, Gavino bisa membuat keputusan. Dengan berbagai pertimbangan, yang dia miliki, setelah mengetahui semuanya.
"Aku tidak setuju, jika Kamu terus mengikutinya ke Amerika. Sedangkan Gavino sendiri tidak bisa memberikan jaminan, untuk kebahagiaanmu Gress." Thomas Bryan mengatakan keberatannya. Jika Gress harus mengikuti Gavino ke Amerika sana.
Gress terkejut, mendengar perkataan yang diucapkan oleh papanya. Yang memberikan keputusan, tanpa bicara padanya terlebih dahulu.
"Pa!"
Tapi Thomas Bryan menggeleng cepat, disaat mendengar panggilan Gress. Yang sudah pasti merasa kecewa, dengan apa yang menjadi keputusannya.
Bianca sendiri juga kaget, karena yang dia tahu bahwa, Thomas Bryan selalu mendukung apapun yang menjadi keputusan Gavino. Apalagi saat ada sesuatu yang menyangkut Gress.
Meskipun Bianca juga sadar, jika seorang papa akan menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Sama seperti yang dilakukan oleh Thomas Bryan saat ini.
Sekarang Bianca melihat ke arah Gavino, yang sepertinya tidak terpengaruh dengan apapun. Karena Gavino musik tetap terlihat tenang, dan tidak ada yang dia lakukan serta ucapkan. Mengenai keputusan yang dibuat oleh Thomas Bryan tadi.
"Vin," pangil Bianca pelan.
__ADS_1
Lengkungan terbit di bibirnya Gavino, setelah Thomas Bryan dan Gress terdiam. Dan tidak lagi ada yang bicara apa-apa.
"Aku tahu, keputusan yang akan Aku ambil ini, akan ada halangannya. Meskipun sebenarnya halangan itu bukan dari kalian berdua. Tapi datang dari orang lain, yang tentunya sangat berpengaruh dan juga peduli, pada salah satu dari kalian berdua."
Gavino berhenti sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya lagi.
"Aku tidak perlu repot-repot untuk meminta persetujuan siapapun. Karena semua bebas memberikan keputusannya. Termasuk juga dengan Kamu Gress, dan juga Bianca."
Gress dan Bianca, sama-sama terdiam, dan saling pandang. Mencoba untuk mencari tahu, apa yang sebenarnya diinginkan oleh Gavino saat ini.
Semuanya yang tadi sudah mereka bicarakan, seakan-akan menjadi mentah. Setelah kedatangan Thomas Bryan, yang mengatakan pendapatnya. Jika papanya Gress itu, tidak setuju. Jika anaknya akan mengikuti Gavino ke Amerika, yang juga diikuti oleh Bianca.
Sepertinya Thomas Bryan tidak menginginkan Gavino, yang bermaksud mengajak bianca juga ke Amerika sana. Karena Thomas Bryan menganggap keberadaan Bianca, hanya membuat Gress tidak merasa bahagia.
Dia menginginkan anaknya itu menjadi satu-satunya gadis, yang akan dipilih oleh Gavino. Dan tidak ada yang lainnya lagi.
Thomas Bryan lupa, jika kebebasan untuk menentukan pilihan, ada pada privasi masing-masing. Termasuk dirinya juga, di saat dulu, sewaktu masih muda.
Padahal Thomas Bryan sendiri, memiliki puluhan gadis. Termasuk mamanya Gress, yang saat itu menjadi salah satu dari sekian banyak gadisnya Thomas Bryan. Yang masih muda dan berjaya pada saat itu, sebagai seorang ketua mafia king Black.
Mungkin perasaannya sebagai seorang papa, yang pembuatnya menjadi posesif. Dan mementingkan kepentingan anaknya saja.
"Aku tidak masalah, seandainya pergi sendiri ke sana, Amerika. Atau hanya bersama dengan Bianca saja."
Gavino mencoba untuk mencari tahu, bagaimana sebenarnya perasaan Gress. Seandainya dia membuat keputusan seperti itu. Karena pengaruh dari papanya sendiri.
Ternyata Gress terkejut juga, mendengar perkataan Gavino. Yang mengatakan bahwa dia bisa pergi sendirian atau hanya bersama dengan Bianca saja.
"Pa! come mai Papà prendere una decisione del genere? una decisione che Gress chiaramente non può accettare!" Gress protes dengan marah pada Thomas Bryan.
"Papa, kenapa Papa bisa membuat keputusan yang jelas-jelas tidak disetujui dan disukai oleh Gress. Apa ini maksud Papa?"
"Hahhh! Papa hanya ingin Kamu bahagia tanpa ada perempuan lain."
Akhirnya Thomas Bryan mengatakan alasannya, yang tentu saja membuat keris tersenyum sinis. Mentertawakan diri sendiri, dengan keputusan yang dibuat oleh Papanya.
"Apa papa lupa, siapa Gress? Siapa mamanya Gress? jika Papa menjadi egois karena Gress, Gress juga bisa egois. Karena dendam pada kelakuan Papa di masa lalu, terhadap mama. Apa Papa melupakan semuanya itu?"
__ADS_1
Kini Thomas Bryan terdiam.
Mungkin dia baru saja sadar, jika kelakuannya di masa lalu cucu lebih buruk dibandingkan dengan Gavino saat ini.
Tapi sisi gengsi dan egoisnya Thomas Bryan sendiri, dia tetap tidak menyetujui dengan diam. Kemudian melenggang pergi dari ruangan tersebut.
"Papa!"
Gress berteriak memanggil Thomas Bryan, karena pergi begitu saja. Tanpa memberikan jawaban atas pertanyaannya, ataupun merubah keputusannya yang tadi.
"Sudah Gress. Papamu memiliki alasan yang tepat sebagai seorang papa. Semua orang yang berstatus papa, tentu akan melakukan semua hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh papamu. Yaitu memprioritaskan perasaan dan kebahagiaan anaknya."
Bianca, mencoba untuk memberikan ketenangan dengan menjelaskan pada Gress. Tentang alasan papanya melakukan semua itu. Karena Bianca tahu, bagaimana perasaan orang tua terhadap anaknya.
"Tapi papa egois seperti itu. Aku tidak suka!" Gress menggeleng beberapa kali, mengingat keegoisan papanya.
"Tidak perlu menangis Gress. Semua keputusan ada di tanganmu. Kamu mau mengikuti papamu, atau Aku?"
Sekarang Gavino justru memberikan dua pilihan, yang membuat Gress merasa dilema.
Dia tidak bisa memilih suatu diantara dua, karena ini berkaitan dengan perasaannya cintanya pada Gavino. Dan juga kasih sayangnya terhadap sang papa, yaitu Thomas Bryan. Yang ternyata bisa sangat egois, jika menyangkut soal perasaan dirinya. Karena dia adalah anak kandungnya.
"Tidak Gavin. Aku tidak bisa memilih diantara kalian berdua. Dulu, seandainya Aku tidak tahu statusnya, mungkin Aku akan mudah untuk memilihmu saja. Tapi, semua itu kini telah berubah."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Gress barusan, membuat Gavino menganggukan kepalanya paham.
"Baiklah. Aku akan memberikan waktu padamu untuk membuat keputusan. Tapi, jika Kamu memang tidak bisa ikut denganku, jangan pernah membenci Bianca. Meskipun sebenarnya Aku juga tidak bisa kehilangan dirimu. Tapi Aku juga tidak bisa memaksamu, hanya untuk ikut bersamaku. Jika Kamu tidak bisa melepaskan papamu di sini sendiri."
Bianca merasa bersalah, dengan adanya pertengkaran di antara mereka berdua.
"Vin. Apa tidak sebaiknya rencana pindah ke Amerika itu ditunda? Mungkin saja, rencana pindah ke Amerika untuk saat ini tidak tetap."
Gavino mendengarkan pendapat yang diungkapkan Bianca, yang ingin menjadi penengah antara mereka berdua. Sehingga tidak lagi bertengkar, dan mendapatkan solusi dari masalah mereka saat ini.
Padahal sebenarnya semua bisa diatasi dengan mudah, jika mereka tidak saling mengedepankan keegoisan masing-masing.
Tapi begitulah jiwa muda, yang saat ini ada pada mereka semua. Dan juga sisi lain dari seorang Thomas Bryan, yang ada pada posisi sebagai seorang papa bagi Gress.
__ADS_1
Thomas Bryan sendiri, menginginkan anaknya itu bisa selalu berbahagia.