Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Gavino Menghilang


__ADS_3

Di dalam mobil.


Lorenzo yang sedang memegang setir, hanya diam saja mendengarkan ocehan Dante, yang sedang menggerutu sendiri.


"Sial banget sih!"


"È un peccato!"


"Voglio picchiare Gavino, rendendo difficile trovarlo! Aku pengen hajar itu si Gavin! Bikin orang susah saja dia!"


"Lorenzo! Kamu dengar gak sih, Aku bicara apa?" hardik Dante, yang semakin kesal dengan sikap Lorenzo. Sebab temannya itu tidak menanggapi apapun yang dia katakan.


Plak!


"Woiii! Aku ngomong sama tembok nih?" umpat Dante, sambil menepuk lengan Lorenzo.


"Hhh... apa sih?" sahut Lorenzo, tapi tetep berkonsentrasi dengan setirnya.


"Aku bicara sedari tadi, tapi Kamu cuma kayak patung. Lalu, ical sama siapa?" ujar Dante, yang tidak suka diabaikan.


Cittt!


"Ehhh ehhh! Apaan sih Kamu ini!"


Dante terkejut dan berteriak keras, saat mobil yang dikendarai oleh Lorenzo berhenti mendadak. Bahkan suara decitan rem yang bergesekan dengan aspal, sampai terdengar memekakkan telinga.


"Br3ngs3k Kamu!"


"Untung saja jantungku sehat dan kuat, sehingga tetap aman di tempat." Dante kembali mengumpat sambil melotot melihat ke arah Lorenzo, yang hanya membuang mukanya.


"Apa sih maksudnya ini?" tanya Dante, meminta penjelasan pada temannya itu.


"Turun!"


"Ke luar sana!"


Bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Dante, Lorenzo justru meminta menyuruh Dante untuk segera turun dari mobilnya.


"Kok turun? Kita masih ada di jalan!"


Dante bingung dengan permintaan temannya, sehingga dia bertanya tanpa menuruti permintaan dari Lorenzo. Untuk turun ke luar dari dalan mobil.


"Sei così loquace! Proprio come una ragazza."

__ADS_1


"Kamu itu cerewet sekali! sama seperti cewek-cewek yang sedang datang bulan."


Mata Dante membelalak, mendengar amarah Lorenzo. Yang sedari tadi diam, dan tidak sekalipun menyahuti semua perkataannya yang tadi.


"Lorenzo, Kamu masih sehat kan?"


"Sei ancora sano vero? Perché sei cambiato?"


Lorenzo berdecak kesal, mendapati Dante yang dia anggap banyak bicara. Padahal dia sedang berusaha untuk tetap bisa berkonsentrasi mencari Gavino.


"Ck! Sudah Dante. Kamu bisa diam atau silahkan pergi sendiri." Sekarang Lorenzo memberikan pilihan kepada Dante, tentang keinginannya saat ini.


"Kamu mengusirku?" Dante bertanya dengan menunjuk ke arah mukanya sendiri.


Tapi Lorenzo hanya menjawabnya dengan menggendikkan kedua bahu, sebagai tanda bahwa dia tidak peduli.


Hal ini membuat Dante bertambah kesal, dengan sikap dan tingkah Lorenzo yang dirasa kekanak-kanakan. Sebab sebenarnya dia tadi hanya bertanya, sedangkan Lorenzo juga tidak mau menjawab semua pertanyaan yang dia miliki.


"Bagaimana?" tanya Lorenzo meminta kepastian.


Tapi Dante bukannya menjawab pertanyaan tersebut, dia mengaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Sehingga rambutnya yang berwarna emas ke abu-abuan, dengan panjang sebahu, bergerak-gerak. Sebab tidak di kuncir seperti biasanya, dengan dibiarkan bergerai. Tapi siap dalam keadaan rapi.


"Sekali lagi Kamu berisik dan tidak mau diam, Aku terpaksa menendang mu keluar dengan paksa." Akhirnya Lorenzo memberikan keputusan terakhirnya, terkait sikap Dante yang tadi.


Dan Dante banyak bisa mengangguk saja, menuruti perkataan yang diucapkan oleh Lorenzo padanya.


Setelah di rasa cukup tenang, Lorenzo kembali melajukan mobilnya. Mencari-cari keberadaan Gavino ataupun Gress, yang tidak berkabar. Sehingga perbedaan mereka seperti hilang ditelan bumi, ada seorangpun yang tahu. Dimana sebenarnya mereka berdua sekarang ini.


Sebab pencarian anak buahnya Gavino, tidak mendapatkan hasil. Dan mereka juga tidak mendapatkan petunjuk, atau menemukan apa-apa. Untuk bisa menjadi pilihan dan kemudahan, dalam pencarian ini.


*****


Di sebuah tempat, yang letaknya ada di pinggir kota Roma. Ada sebuah rumah yang tampak sederhana dan biasa-biasa saja, tapi mempunyai fasilitas lengkap di dalamnya. Bahkan ruangan medis yang lengkap seperti rumah sakit.


Di sinilah ternyata Gavino berada, bersama dengan Gress. Setelah Gavino tidak juga penampakan kemajuan, untuk kondisi tubuhnya yang tidak bisa melakukan apa-apa.


Gavino bukannya sadar, tapi juga tidak pingsan. Sebab matanya terbuka, tapi sama sekali tidak merespon apapun yang ada di depannya.


Bahkan ketika Gress mengajaknya bicara, Gavino juga hanya bisa diam saja. Tidak menyahuti, ataupun menjawab.


Sebenarnya Gress ingin memberitahu kondisi Gavino ini pada Bianca, tapi dia juga dikawal dengan ketat oleh anak buah papanya sendiri. Yang memang ditugaskan oleh Thomas Bryan untuk menjaganya.


Padahal Gress ingin memiliki kebebasan seperti dahulu, sebelum dia mengenal Thomas Bryan sebagai Papanya.

__ADS_1


Dia juga menyesali keputusan yang diambil, pada saat diberikan pilihan untuk mengikuti Gavino atau papanya.


Sayangnya penyesalan Gress datang belakangan, dan bisa tidak mungkin bisa di ubah ke kembali ke masa lalu yang lalu.


Tapi yang membuat gadis tersebut tetap merasakan kebahagiaan adalah, karena pada kenyatannya, Gavino masih tetap berada di sampingnya hingga sekarang ini.


Meskipun demikian, Gress merasa bersalah juga dengan kejadian ini. Sebab tidak bisa menghubungi Bianca, yang tentunya juga sama takut dan cemasnya. Memikirkan bagaimana dengan nasib kekasihnya itu.


Mereka berdua, Gress bersama dengan Bianca, sebenarnya ingin saling terbuka dalam hubungan mereka bertiga ini. Tapi ada papanya Gress, Thomas Bryan, yang merupakan orang penting di kota Roma ini, Sehingga pergerakan Gress juga tidak bisa bebas. Sama seperti dulu, saat dia masih hanya mengenal Gavino saja.


"Aku harus bisa mencari cara, supaya bisa menghubungi Bianca."


Gress sedang berpikir keras, mencari cara yang aman. Agar tidak ketahuan oleh papanya. Sebab untuk saat ini, dua seperti seorang tawanan, yang hanya bisa menjaga Gavino saja.


Dua terpaksa harus mengikuti semua kemauan yang keras dari Thomas Bryan, sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Bianca. Maafkan Aku yang tidak bisa menghubungi dirimu saat ini."


"Aku berharap agar bisa secepatnya melakukan semua itu. Bisa memberitahu padamu, di mana kami berada. Bukan karena ingin melarikan diri sendiri, tapi keadaan yang sebenarnya tidak bisa Aku hindari."


Gress bicara sendiri, di depan Gavino yang sedang melihatnya. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan bicara saja Gavino tidak mampu lagi.


"Andiamo Gavin. Devi riprenderti!"


"Ayo Gavin! Kamu harus bisa sembuh dan menemukan cara, supaya kita bisa pergi dari sini. Dari pengaruh papa!"


Gress terus saja mengajak Gavino bicara, sedangkan dia sendiri tidak tahu, jika semua yang dia lakukan dan katakan, dipantau oleh papanya. Sehingga dia tidak bisa menyembunyikan sesuatu, dari penglihatan papanya yang sudah berpengalaman dalam memperlakukan tawanan.


*****


Di rumah Gavino.


Robert juga tidak bisa tenang sebelum bisa menemukan Tuan Muda-nya.


Dia sudah memberikan tugas pada anak buahnya yang ada di rumah, bukan markas yang bergabung dengan Thomas Bryan. Sebab semua anak buahnya yang tergabung bersama dengan king Black, justru sudah diambil alih semuanya oleh King Black. Tanpa persetujuan dari Gavino yang tidak berkabar.


Robert merasa yakin, jika semua yang dialami oleh Gavino berhubungan dengan Papanya Gress. Yang sebenarnya adalah musuh bebuyutan dari masa lalu keluarga Gavino sejak dulu kala.


Itulah sebabnya, Robert meminta kepada anak buahnya untuk memantau sebuah kegiatan dari Thomas Bryan bersama dengan orang-orang yang dekat dengannya. Serta memantau markas mereka juga.


"Awasi semua pergerakan dari rumah utama Thomas Bryan, dan rumah yang menjadi markas mereka."


"Jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera laporkan!" Robert memberikan pesan dan interupsi yang dia lakukan, untuk mendapatkan informasi secepatnya.

__ADS_1


"Aku pasti bisa menemukanmu Gavin!"


"Ti assicuro che tra non molto tutti i rancori contro re Black saranno vendicati!"


__ADS_2