
Sekolah berjalan dengan baik dan lancar. Sama seperti biasanya. Tidak ada sesuatu yang menjadi hambatan, saat terjadinya proses pembelajaran di kelas Gavino.
Begitu juga dengan para siswanya. Baik saat menerima pelajaran atau mengerjakan tugas, semua berjalan dengan lancar dan tenang.
Waktu istirahat tiba. Madalena pergi terlebih dahulu, dengan membawa kotak bekal dan minumannya. Tapi dia juga pamit terlebih dahulu kepada Gavino.
"Gavin. Aku mau makan bekal dulu. Apa Kamu mau ikut denganku?" tanya Madalena, dengan memberikan tawaran.
"Oh tidak, terima kasih Madalena. Aku juga bawa bekal sendiri untuk bisa di makan. Silahkan pergi lebih dulu. Aku masih perlu membereskan peralatan ini."
Gavino menolak tawaran Madalena, dengan alasan yang sudah dia rencanakan. Karena di atas meja, memang masih ada beberapa alat tulis yang belum rapi.
Dia tahu jika, Madalena tidak mungkin menunggui dirinya. Untuk bisa menikmati makanan yang dia bawa. Karena pagi harinya, Madalena tidak cukup untuk porsi sarapannya.
Gavino tahu dari laporan sistem informasi, yang dia aktifkan pagi tadi.
"Ok. Aku duluan ya!"
Gavino pun mengangguk mengiyakan, kemudian pura-pura sibuk dengan peralatan tulisnya. Supaya Madalena segera pergi dari hadapannya.
Di sekolah Gavino ini, meskipun sudah tingkat SMA. Siswa siswi tidak malu untuk membawa bekal makanan dan minuman dari rumah.
Meskipun sebenarnya ada kafetaria juga di sekolah ini. Namun yang sebenarnya tempat atau ruangan makan itu memang disediakan untuk makan pada sat istirahat.
Kafetaria hanya digunakan untuk melengkapi, atau jika ada yang melupakan bekal mereka di rumah, ketinggalan atau menang malas membawa bekal.
Tapi karena persediaan yang ada di kafetaria juga dibatasi oleh pihak sekolah. Akhirnya para siswa siswi memprioritaskan untuk membawa sendiri dari rumah masing-masing.
"Bianca. Bisa bicara sebentar?"
Bianca yang memang masih ada di dalam kelas, mendongakkan kepalanya. Melihat keberadaan Gavino, yang saat ini berdiri di depannya.
"Apa Kamu sudah baca pesan yang Aku kirim tadi pagi?" tanya Gavino lagi, karena Bianca hanya diam saja.
Mendengar pertanyaan yang kedua, Bianca mengelengkan kepalanya. Kemudian membuka tas miliknya. Dia memeriksa pesan yang ada di dalam handphone, yang katanya dikirim oleh Gavino tadi pagi.
"Maksudnya apa ini?" tanya Bianca, tapi tetap menatap ke layar handphone miliknya.
"Nanti Aku kasih tahu. Tapi kapan Kamu punya waktu luang?" Tidak mungkin Aku bicarakan ini di sekolah Bi."
Bianca menyipitkan matanya, mendengar perkataan Gavino yang terakhir ini.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti. Apa yang ingin Kamu bicarakan padaku?" tanya Bianca, tanpa menjawab pertanyaan dari Gavino padanya.
"Aku hanya ingin meminta sedikit pertolongan darimu. Tapi jika Kamu tidak mau, Aku juga tidak akan memaksa."
Setelah mengatakan itu, Gavino kembali ke tempat duduknya. Dia minum air yang ada di botol bekalnya. Tanpa ada keinginan untuk pergi ke kantin dan makan makanan yang dia bawa.
"Ayo kita pergi makan!" ajak Bianca, dari tempatnya duduk.
Dia tidak mau jika Gavino tidak makan. Karena sekolah mereka ini, pulang pada sore hari menjelang malam.
Gavino menoleh. Dia mengangguk dan tersenyum, melihat Bianca yang sudah kembali memperhatikan dirinya. Meskipun masih terkesan dingin. Tapi itu tidak menjadi masalah besar bagi Gavino sendiri.
Akhirnya mereka berdua pergi bersama-sama, dengan membawa kotak bekal dan botol minum masing-masing.
*****
Pada saat jam pulang sekolah, Madalena langsung pulang. Tidak sama seperti kemarin.
Begitu juga dengan yang lain.
"Vin. Apa yang ingin Kamu bicarakan?" tanya Bianca, pada saat kelas sudah sepi.
Dia memang tidak langsung pulang, karena permintaan dari Gavino. Pada saat istirahat sekolah tadi siang.
Bianca menganggukkan kepalanya, menyetujui usulan yang dikatakan oleh Gavino.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua tiba di atap gedung sekolah.
Setelah mencari-cari tempat yang nyaman untuk berbicara, akhirnya Gavino memulai pembicaraan dengan bertanya pada Bianca.
"Kamu tahu tidak Bi, tentang keadaan keluarganya Madalena?"
Sekarang, Bianca menyipitkan mata. Dia merasa heran dengan pertanyaan yang diajukan oleh Gavino padanya saat ini.
Mengajaknya bertemu, hanya untuk bertanya tentang Madalena saja. 'Huhfff ...' batin Bianca kesal.
"Kenapa? Kamu mau mendekati Madalena dari keluarganya lebih dulu." Bianca justru balik bertanya, dengan kecurigaan yang dia miliki. Dia salah paham dengan maksud pertanyaan yang diajukan oleh Gavino barusan.
"Bukan Bi. Aku..."
"Lalu?" desak Bianca, memotong kalimat Gavino yang belum selesai diucapkan. Ini dia lakukan, supaya Gavino segera memberikan penjelasan padanya.
__ADS_1
Akhirnya, Gavino meminta pada Bianca. Supaya mendengarkan penjelasan yang akan dia berikan. Tapi sebelumnya, Gavino bertanya pada Bianca lagi.
"Dengarkan semua penjelasan yang Aku berikan. Tapi Kamu harus diam saja dan tidak memotong pembicaraan ini. Jika Aku bertanya, Kamu juga harus menjawabnya."
Gavino menatap ke arah netra Bianca, dengan mengintimidasi. Tapi ini dilakukan oleh Gavino, agar Bianca menurut. Tidak membuang waktu, hanya dengan pertanyaan demi pertanyaan terlebih dahulu.
Akhirnya Bianca menganggukkan kepalanya setuju. Dia juga merasa penasaran, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Gavino padanya. Dan ini tentang Madalena.
"Apa yang diketahui oleh orang lain tentang keluarga Madalena Bi?"
Sebelum Bianca menjawab pertanyaan tersebut, Gavino melanjutkan pertanyaannya lagi.
"Apa Kamu juga mengenal Madalena seperti yang diketahui oleh orang lain juga? Memberikan julukan Putri halu padanya?"
Tentu saja, semua pertanyaan yang diajukan oleh Gavino membuat Bianca pusing. Dia tidak pernah berteman dengan Madalena selama ini. Berteman dalam artian dekat.
Karena selama dia mengenal Madalena, ya seperti itulah orangnya.
Jadi orang-orang yang seperti Bianca, tentu saja menganggap Madalena memang seorang putri yang kurang perhatian. Atau terlalu berambisi, dengan semua keinginannya terhadap seorang pangeran.
"Kamu tahu Bi, semua yang tampak pada Madalena berkebalikan jika dia sedang berada di rumah."
Bianca kembali menyipitkan matanya, mendengar perkataan yang baru saja selesai diucapkan oleh Gavino.
"Maksud Kamu?"
Gavino menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Sebelum dia memberikan jawaban dan penjelasan yang diinginkan oleh Bianca sedari tadi. Tentang Madalena dan keluarganya.
"Kamu tahu dari mana? Tidak-tidak. Maaf tidak seperti itu. Dia adalah keluarga kaya. Dan dia tidak mungkin kekurangan apapun dalam keluarganya."
Gavino mengusap wajahnya sendiri dengan kasar.
"Tapi, itulah kebenaran yang sesungguhnya Bi. Awalnya Aku juga tidak mau percaya. Tapi semuanya itu memang benar adanya.
"Bukti apa yang bisa membuat Kamu berani membuat kesimpulan seperti ini Vin?" Bianca tidak mungkin bisa percaya dengan mudahnya, tanpa ada bukti yang kuat.
"Nanti malam, aku usahakan untuk bisa mendapatkan informasi tersebut.
"Apa maksudmu Vin?"
"Biar Kamu dan yang lain tahu juga, bagaimana keadaan Madalena yang sebenarnya. Tidak hanya menilai dari versi kalian semuanya kan?"
__ADS_1
Sekarang, Bianca terdiam. Dia juga ingin tahu, bagaimana keadaan Madalena yang sebenarnya. Yang tadi disingung oleh Gavino.
Apakah semuanya itu memang benar adanya, atau hanya karangan Gavino saja. Karena ingin dekati dirinya saja.