
Gavino langsung menghubungi sang Kapten, begitu dia sudah menerima ponselnya.
Tut... tut... tut...
..."Hai Gavin?"...
..."Ya Kapten."...
..."Syukurlah. Ini emhhh... Aku mau bertanya. Apakah Kamu sudah dapat info tentang Bos laboratorium itu?"...
..."Maaf Kapten. Saya tidak tahu. Nanti, jika ada kabar, Saya akan kasih kabar."...
..."Oh, baiklah. Terima kasih ya."...
..."Sama-sama Kapten."...
Klik!
Gavino menutup panggilan telponnya dengan sang Kapten. Kemudian kembali masuk ke dalam kelas.
Dia masih ada dua kelas lagi hari ini.
Sebenarnya, Gavino memang tidak ingin memberikan penjelasan dan informasi kepada sang Kapten. Karena urusan pemilik laboratorium yang baru saja datang dari luar negeri, sudah diurus oleh anak buahnya bersama dengan king Black.
Dia tidak ingin menjerumuskan anak buahnya sendiri ke dalam jalur hukum.
Pada malam hari, kelas Gavino baru berakhir. Sedangkan kelasnya Gress sendiri sudah selesai sore harinya. Tapi dia menunggu kekasihnya itu di perpustakaan kampus.
"Hai Sayang!"
Sapa Gavino, begitu dia menemukan keberadaan Gress yang menunggunya dengan memanfaatkan waktu dengan membaca.
"Oh, sudah selesai ya Sayang?"
Sekarang keduanya keluar dari perpustakaan, untuk segera pulang.
Tapi baru saja keluar, dan ada pada jarak beberapa meter, mereka berdua mendengar sepertinya teriakan yang ada di dalam perpustakaan.
"Aaa..."
"Hai! Siapa itu yang jatuh?"
Gavino dan Gress akhirnya kembali ke dalam, untuk mencari tahu, ada apa gerangan di dalam sana.
Ternyata, di dalam perpustakaan ada mahasiswa yang tergeletak tak bernyawa. Dan sedang dikerubungi oleh teman-temannya sendiri, yang tadi ada di dalam bersama dengan korban.
Petugas perpustakaan juga panik, dan segera menghubungi pihak keamanan kampus, untuk membuat laporan kepada kepolisian untuk menyelidiki kasus ini.
Gavino melihat ke arah korban, yang sudah tergeletak tak bernyawa.
Dari keadaan korban, yang terlihat secara sekilas, tidak ada luka ataupun tanda-tanda keracunan pada korban.
Gress menutup matanya, karena tidak mau melihat keadaan korban yang seperti itu.
Akhirnya Gavino memeluk gadisnya itu, dengan maksud menyembunyikan wajah Gress agar tidak melihat korban.
__ADS_1
Sepertinya korban yang sudah tidak bernyawa itu, mendapatkan serangan jantung atau penyakit lain yang membuatnya meninggal secara mendadak.
Tapi dari keterangan beberapa temannya yang ditanyai pihak keamanan kampus, temannya yang meninggal itu tidak memiliki riwayat penyakit jantung maupun dengan penyakit dalam lainnya.
"Sepertinya dia mengkonsumsi obat atau apapun itu yang berjenis mematikan, dalam jangka waktu yang panjang. Maksudnya, korban meninggal tidak langsung meninggal pada saat mengkonsumsi obat tersebut."
Tiba-tiba Gavino mengatakan pemikirannya setelah melihat beberapa tanda yang ada pada kulit korban yang dia lihat.
Banyak dari mereka yang mendengar perkataan Gavino, langsung menatapnya meminta penjelasan.
"Kita lihat saja nanti hasil otopsi," sahut petugas perpustakaan, yang ikut mendengarkan perkataannya Gavino.
"Ya sudah," sahut Gavino.
Setelahnya, dia mengajak Gress untuk segera pulang. Karena polisi dan pihak medis udah datang.
"Sayang, kenapa tadi Kamu mengatakan seperti itu? memang Kamu melihat tanda-tanda, jika korban mengkonsumsi sesuatu yang mengandung racun," tanya Gress saat mereka sudah berada di dalam mobil yang sedang berjalan.
Gavino langsung menjawab pertanyaan Gress. Tapi dia hanya tersenyum tipis, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
"Sayang..."
Gress masih berharap agar Gavino bisa memberikan penjelasan kepadanya.
"Kita lihat saja besok, jika hasil otopsi jenazah korban diumumkan. Pihak kampus pasti tidak mau, jika disalahkan atas kematian korban."
"Maksudnya?" tanya Gress lagi, meminta penjelasan yang lebih jelas.
Akhirnya Gavino menerangkan kepada Gress bahwa, bisa jadi korban mendapatkan makanan yang beracun itu dari salah satu kafetaria yang ada di dalam kampus ini.
"Berarti, makanan itu..."
"Bisa iya bisa tidak."
Gavino memotong perkataan Gress, yang sedang membuat kesimpulan dari keterangan yang dia buat.
Akhirnya mereka berdua sudah tidak ada yang bicara lagi. Mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing, dengan kejadian yang baru saja mereka melihat tadi.
*****
Pada malam harinya, sebelum tidur, Gavino mengaktifkan sistemnya. Dia ingin mengetahui dan mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi di kampusnya.
( Ting )
( Selamat malam Good Father )
'Aku ingin mencari informasi tentang korban yang meninggal di kampus tadi.'
( Ting )
( Pencarian informasi dilakukan )
1%
10%
__ADS_1
20%
30%
40%
50%...
Sampai selesai menjadi 100%.
( Ting )
( Informasi didapatkan )
Ternyata, korban yang tadi meninggal dunia di perpustakaan kampus, adalah satu mahasiswa senior, yang mendapatkan perhatian banyak cewek.
Jadi bisa dikatakan bahwa, korban adalah idola kampus. Sehingga banyak dari cewek-cewek yang mencari perhatian dan bersaing secara tidak langsung.
Dari salah satu cewek tersebut adalah, mantan kekasihnya pada waktu masih sekolah dulu.
Cewek tersebut, ternyata adalah keponakan dari salah satu dosen di kampus, dan keluarganya, menjadi salah satu pengelola dari kafetaria yang ada di dalam kampus juga.
Jadi bisa disimpulkan bahwa, korban yang tidak tahu jika mantan kekasihnya itu masih punya dendam padanya. Sehingga rencanakan pembunuhan yang tidak diketahui oleh orang lain, sampai mengakibatkan hilangnya nyawa dari orang yang masih dia cintai.
Untuk saat ini, cewek tersebut sedang menyesali perbuatannya, dan meninggalkan kota Roma. Untuk menyembunyikan dirinya dan menenangkan pikirannya juga.
Dia beralasan kepada keluarganya bahwa, dia ingin menjenguk keluarga temannya yang sedang sakit di rumah sakit. Dan ada di kota lain. Yang tidak terlalu jauh dari kota Roma.
Karena orang tuanya tidak tahu apa-apa, akhirnya memberikan ijin kepada anaknya itu.
"Oh... jadi begitu motifnya."
Akhirnya Gavino mengetahui alasan dari meninggalnya mahasiswa senior, yang tadi berada di perpustakaan kampus.
Tapi dia tidak akan membocorkan rahasia ini, dan membiarkan pihak polisi untuk bekerja.
*****
George yang masih dalam pengawasan anak buahnya Gavino, tidak bisa melakukan apa-apa untuk saat ini.
Dia banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah, daripada keluar. Karena untuk sementara waktu, perusahaan yang sudah menjadi tanggung jawabnya, diambil alih lagi sama Thomas Bryan.
Dan semua pekerja yang ada di rumahnya, adalah anak buah dari kakaknya itu.
"Benar-benar bocah itu! Hhh..."
George mengeram kesal, karena sekarang ini, dia justru seperti seorang tahanan, yang tidak merasa bebas setelah lepas dari Gavino.
"Seharusnya Aku lebih bersabar sedikit lagi, agar dia tidak melakukan semua ini padaku."
George menyesali keputusannya, yang pergi dari rumah Gavino, dan melakukan dengan cepat rencananya.
Sekarang di harus memikirkan rencananya kembali untuk jangka waktu yang panjang.
Dia tidak mau jika, rencananya itu akan gagal, bahkan mengakibatkan dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk kedepannya nanti.
__ADS_1
"Aku pasti bisa Gavin. Kamu hanya anak kemarin sore, yang belum punya banyak pengalaman seperti Aku."